Monday, April 5, 2010

Cerita Seram (yang lebih tidak seram daripada Mr. Bean, menurut Kristina - Bagian 3)

Ringkasan cerita sebelumnya: Arum dan kebo dan Pak TMK (TeMennya Kebo) menuju dukuh Kerompeng. Hiiiiihiiiiihiiiiihiiiiihiiiiiiehek (ketawa serem ala kuntilanak Kali Code keselek biji kesemek).
==========================================================================================
Kerompeng adalah desa yang damai. Diberkahi dengan tanah yang subur akibat aliran sungai yang membawa unsur hara, dukuh ini hijau dan hidup. Penduduk dengan mudah menanam bahan pangan dan beternak segala macam unggas dan ikan. Saya disambut oleh barisan bebek yang melintas, domba dan kambing yang bebas merumput, ayam yang berkeliaran bersama anak-anaknya dan hamparan luas gabah yang mulai mengering. Di tambak-tambak kecilnya yang agak mirip kubangan kerbau, ikan air tawar berenang-renang. Tampaknya Kerompeng mengamalkan penuh lagunya Koes Plus "Kolam Susu". Di bak mandi umumnya saja banyak lele dumbo. Jadi kalau menciduk air jangan langsung dipake buat cebok. Lihat dulu apakah lelenya ikut terambil, karena dipercaya gigitan lele tidak baik untuk kesehatan alat reproduksi. Singkat kata, Kerompeng adalah desa yang mandiri dan berswasembada sehingga penduduknya nyaris tidak perlu berinteraksi dengan dunia luar. Ini mengingatkan saya pada film The Village-nya M. Night Shyamalan, jadi saya tengok kanan-kiri barangkali ada Joaquin Phoenix atau Adrien Brody. Saya kurang beruntung, tapi saya mendapatkan pemandangan terbaik kedua: cowok itu! Ia sedang mengayun kapak untuk membuat kayu bakar. Bergerak dengan santai dan lepas, sosoknya yang jangkung dan liat berkeringat di bawah terik matahari siang. Demi dewi kwan im, dia makhluk paling hot yang pernah saya lihat (hobi: jualan cabe). Pak TMK mengantar saya kepadanya, yang disambutnya dengan lebih dingin daripada kulkas ditumpuk sepuluh sekaligus. Jadi terbukti Arya tipikal cowok cakep di novel percintaan remaja picisan murahan yang kampungan: keren, misterius dan pura-pura tidak tertarik. Sesuai harapan, saya pun langsung suka padanya dengan cara yang menyedihkan, supaya komplitlah stereotipe ini dengan sinetron2 kejar tayang di Indonesia.

Pak TMK menerangkan, tamu selalu tinggal di rumah bidan Danuri karena itulah 'rumah terbaik' di sini. Terbaik artinya kita tidak berbagi kamar dengan ayam, kambing atau sapi dan kalo berak tidak perlu menggali lubang dulu. Saya sudah merasa aroma petualangan saya dimulai. Bidan Danuri menyambut saya dengan baik setelah saya menerangkan tujuan kedatangan. Tampaknya ini bukan yang pertama baginya, sehingga mudah bagi saya untuk memulai survey. Dimulai dengan mensurvey siapa cowok ganteng yang tinggal di sini^_^. Arya ternyata bukan mahasiswa. Ia antropolog. Dia bertugas menyusun tesis tentang desa terpencil yang terisolir dari dunia luar dan mempelajari budaya mereka. Dari percakapan pendek dengannya saya mengetahui bahwa perekonomian desa hanya digerakkan oleh perkebunan tebu, yaitu ketika warga bekerja sebagai buruh tebu lepas dan tebu dijual keluar dukuh lewat desa Kemusu. Lebih dari itu ia tak banyak bicara. Di waktu luang saya melihat ia berkutat dengan buku bersampul kulit cokelat miliknya, entah menulis apa. Ia sangat penyendiri dan selalu menampilkan wajah statis yang murung, emosinya tak terbaca.

Selepas magrib sore itu saya mendapatinya menatap tajam kepada saya, menggumam lirih,
"Seharusnya kamu jangan pernah datang ke tempat ini," Baru ingin menyanggah dan bertanya, saya dikejutkan dengan bunyi kentongan yang bertalu-talu.
"Kebakaran....kebakaran...kebakaran!!!!" teriak warga yang berlarian membawa buyung-buyung air. Saya blingsatan dan ikut lari. Tapi saya melihat Arya tidak bergerak. Matanya kosong menatap sesuatu di kejauhan.
"Kenapa tidak membantu??" teriak saya di tengah keributan serta gugusan asap dan langit yang terang di kejauhan.
Ia membisu.

Hanya beberapa menit, tanpa sempat melihat kejadiannya, saya melihat warga sudah berhasil memadamkan api. Sepetak kebun tebu gosong kehitaman, meninggalkan jejak abu yang terbawa angin.
"Syukurlah," saya berkata. Semua warga menghela napas lega dan bubar. Di tengah keramaian itu, sekilas saya melihat Arya lagi. Tapi sebelum saya mengejarnya, bidan Danuri sudah ada di belakang saya, mengajak saya pulang.

Malam itu saya melihat banyak orang berkumpul di kebun tebu. Mula-mula sedikit, semakin lama semakin bertambah banyak. Udara sangat panas. Langit membara. Api berkobar menjilat-jilat dahan tebu yang bergemeretak dilalap lidah-lidahnya. Saya berlari dan berlari, tapi api terus mengejar di belakang saya. Saya melihat anak-anak menangis digendongan ibunya, keduanya menyala dimakan api. Atap jerami membumbungkan asap hitam seperti awan menjelang hujan. Ternak-ternak berlarian. Debu dan abu beterbangan. Jeritan dan erangan membahana dari setiap sudut dan setiap rumah, tiap helaan napas tercium bau asap dan bau amis jasad yang terbakar. Seorang anak tiba-tiba merayap di bawah kaki saya, mencengkeramnya kuat-kuat. Tubuhnya sudah meleleh. Dagingnya nyaris lepas dari tulang, jatuh ke kaki saya. Wajahnya berkeropeng.
"Tolong," pintanya. Saya terlalu takut dan terus berlari. Orang-orang mengikuti saya. Saya ingin melepaskan diri, bebas dari semua ini. Tapi mata mereka menyiratkan sesuatu yang aneh. Seperti perintah untuk tetap tinggal. Dan entah kenapa saya diam mematung sementara mata mereka menarik saya semakin dekat dan semakin dalam...

Saya bangun dari mimpi buruk dengan terengah. Dari jendela terlihat langit di timur sudah mulai terang, sayup-sayup sudah terdengar ayam tetangga berkokok. Subuh menjelang. Semua di kamar ini masih sama; tidak ada yang runtuh, tidak ada yang hilang. Saya pergi ke sumur untuk cuci muka. Udara masih menggigit dan kabut masih kelihatan tipis di atas daun-daun tebu. Ketika mengeringkan badan dengan handuk, saya merasakan ada yang perih di kaki. Saya terperangah dengan sangat heran: Mungkinkah gara-gara nonton kebakaran kemarin? Api sudah padam waktu saya mendekat, tapi saya melihat luka itu dengan jelas. Luka bakar yang berkeropeng muncul di betis kiri saya.

BERSAMBUNG...

4 comments:

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

btw keropeng kuwi podo karo koreng rak si? aku bingung keropeng keropeng....aku ngertine keropong seng iso nggo ngintip arya lagi adus.
ahahahaha..iki cerita seram tapi kok aku malah pengen ngguyu mocone..wes daripada mumet2 mending diganti jadi cerita komedi wae..jadi keropeng di kaki arum ternyata tempelan koreng palsu. koyo pengemis2 di kota jakarta kae seng senenge nipu..pura2 korengan, pura2 sikile tugel siji, dll. jebule seng nempeli koreng kuwi adalah arya...nggon ngerjani si arum. asale arya ki wes naksir pada pandangan pertama..jadi mengko si arum lari2 cari pertolongan..ketemu si arya..akhirnya arya bilang...itu bukan koreng tapi plester ditempeli saus tomat. trus kata arya...ayo kita bersama tinggal di keropeng. besok kita bikin layar tancep dan kenduri buat pesta pernikahan. nanti kita bisa beli tanah bapak TMK buat dibikin hostel jadi kalo ada traveller nginepnya di situ..daripada di rumah bidan danuri...
bisnis yang lumayan menjanjikan ya

Ronney said...

Bukan maksud buat spam cuma kenalin blogku
http://zona-orang-gila.blogspot.com
Apa aja ada disini

alice in wonderland said...

lanjutannya dunk... penasaran neh!

Sri Riyati said...

Keropeng kuwi mnrt kamus bahasa Indonesia (taelalala) luka yang sudah mengering. Ketoke nek ning buku kedokterane disebut krusta.
Cerita selanjutnya: Arya mendaftarkan hostelnya untuk traveler yang mnginap. Mula-mula bisnis itu memang menjanjikan, tapi lama kelamaan tuh hostel banyak kejadian anehnya. Misalnya tiba-tiba aja kucingnya bunting, padahal Anji Drive tidak pernah datang berkunjung. Aneh sekali bukan? Semua tamunya jadi gila, bunuh diri atau jadi suka ngelamun sambil ngupil sendirian (ya iyalah, masa ngajak2 ngupil). Hostel ini anehnya kalo dibaca dari review hostelworld.com ratingnya sangat tinggi, jadi makin banyaklah yang datang bertamu. Apalagi haunted hostel malah jadi daya tarik tersendiri, semacam obyek wisata seperti hounted castle, hounted mansion, dsb. Terakhir, pemandu wisatanya jadi gila dan mulai mengoceh dalam bahasa Yunani. Dua orang turis jepag tiba2 berhara kiri di epan tukang bakso, persis setelah sehari menginap di hostel tersebut. Sebagai blogger dan traveler, Kristina diminta menginvestigasi. Untuk jaga2, sebelum berangkat tugas, dia makan bawang banyak2 (jadia ati2 ngomongnya jangan dekat2). Ketika Kristina datang, hostel itu tampak sangat wajar. Kecuali setelah dia menapakkan kaki di dalamnya. Semua orang berpandangan mata kosong dan bau bawang ada di mana-mana. Tiba2 semuanya gelap. (bersambung)

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p