Thursday, April 15, 2010

Hal-hal personal di forum publik. Menurutmu?


Dengan maraknya facebook, myspace, twitter, blog dan sarana social network lainnya kehidupan kita jadi dengan gampang bisa diintip orang lain. Tak apa, berbagi itu asyik. (kadang emang maksudnya malah biar ada yang liat). Apalagi kita juga mahluk sosial kan? Kita butuh perhatian dan tanggapan orang lain (e.g. saya sering malak orang biar baca blog, baru mikir2 apa kasih tugas mahasiswa ngeringkas isi blog saya, tapi takut dilaporin KPK=p. Internet marketing? Nggak nyampe otaknya. Hanya haus perhatian dan tanggapan orang saja!). Tapi- entah ini cuman saya saja yang aneh atau apa- kok saya heran ya begitu ada orang yang mengumbar terang-terangan urusan pribadinya di forum publik. Maksud saya, kalo saya sih tidak kepingin orang yang gak berkepentingan tahu masalah pribadi saya. Makanya kalo lagi down atau sedih, saya menghindari diri saya untuk menulis di tempat umum (misalnya jadi absen ngupdate blog, status, twitter dan sebagainya) lalu sebagai gantinya menulis di buku jurnal saya yang dari kertas asli dan orang yang berbudaya nggak akan berani membukanya.

Memang, ada perbedaan pendapat masing-masing orang tentang apa yang dimaksud "masalah pribadi" atau "hal-hal personal" sehingga ada kemungkinan apa yang gak bakal dibeberkan orang malah saya bicarakan (karena menurut saya OK2 aja) dan sebaliknya. Kalau menurut saya, yang tabu dibicarakan di forum publik adalah sesuatu yang besar pengaruh emosionalnya buat saya, yang memperlihatkan kelemahan saya, hal-hal yang saya imani/keyakinan saya dengan Tuhan atau tentang hubungan pribadi saya dengan orang lain. Bagi beberapa orang rupanya justru adalah tabu untuk bicara tentang upil (dan ipil), tentang nyabutin bulu kaki, tentang hal-hal yang bodoh dan konyol atau yang kesannya gak terhormat. Saya pernah dianggap norak karena saya bilang bahwa saya pergi berenang, tapi lupa bawa celana dalam ganti, lalu celana yang basah mau saya hairdryer biar bisa dipakai lagi. Atau karena saya bilang bahwa pete goreng di restoran Lembur Kuring enak banget, saya bisa ngabisin satu keris sendiri. Atau bahwa saya hobi berat ngupil sambil nonton you tube. Tapi menurut saya (OK, ini pendapat saya sendiri, seringnya nggak bener, ha-ha) hal-hal semacam itu justru tidak mengumbar privasi seperti status di bawah ini:
"I love you *nyebutin nama pacarnya*"
"Terserah mau dibilang apa. Aku yakin Tuhan akan membalasmu *nyebutin nama mantan pacarnya*
"miss you *nama orang* kok aku kangen berat sama orang ini, Mas cepatlah pulang"
"Malam minggu sendiri, terasa sepi..."
"Teganya kau berbicara seperti itu!" lalu diikuti ayat2 alkitab.
"Mungkin suatu saat Tuhan akan mengabulkan permintaanku, bahwa...*diikuti masalah yang sangat pribadi* misalnya akan bertemu jodoh, bisa melupakan seseorang, bisa hamil dalam waktu dekat, akan diterima kerja di tempat tertentu atau dibayar gajinya yang sudah nunggak lima bulan.
Dan, ada lagi seorang kenalan saya yang lagi patah hati, bikin beberapa puisi yang full ratapan pilu, "Mengapa engkau meninggalkan daku? Aku merana tanpa dirimu bla2" dalam bahasa Inggris di notes di facebook. Peringatan: menulis dalam bahasa lain tidak membuat inti pembicaraan kita berubah. Kalo gayus tambunan ya tetap aja garing dan memalukan. Dengan bilang "it's cheezy and pathetic" tidak membuat komentar negatif jadi sedikit lebih positif dari arti sebenarnya kan?

Memang, sama sekali nggak ada salahnya nulis status atau blog atau note yang bersifat agak terlalu pribadi. Orang itu hak si penulis kok. Yang dirugikan juga kan orang yang mengumbar, bukan pendengarnya eh pembacanya. Yang saya ingin kemukakan adalah, hati-hati dengan mengumbar karena publik kadang bisa jadi hakim yang kejam. Kata-kata yang terlalu berpengaruh pada kehidupan pribadi kita bisa jadi bumerang (ini tidak berarti bahwa saya selalu sukses untuk melindungi privasi saya sendiri). Di tiap orang, ada dorongan untuk berbagi. Ada dorongan untuk curhat dan didengarkan. Di forum publik, ini menyenangkan karena kita tahu akan ada banyak penonton yang mungkin menaruh perhatian dengan masalah pribadi kita. Tapi, teman yang sejati bukanlah penonton. Dan hanya teman sejati yang kita butuhkan untuk berbagi masalah pribadi kita: entah kita sedang jatuh cinta, patah hati, ditolak lamaran pekerjaannya, mempertanyakan keadilan Tuhan, marah pada seseorang atau sedang mengharapkan keajaiban terjadi dalam keluarga. Bedanya: mereka peduli pada kebaikan kita. Sementara penonton, seperti kata ibu saya, keplok ora tombok (bertepuk tangan tapi tidak bayar). Maksudnya mereka bisa senang kalo kita susah, susah kalo kita senang, dan mengambil keuntungan untuk kepentingan sendiri. Ok, itu spekulasi yang terlalu jauh. Gampangnya, kalo kita membual betapa kita rindu/cinta/memuja seseorang, lalu habis itu putus, lalu tiba2 pasangan jadian sama orang lain dan mereka menulis yang sama. Atau kita jadian sama orang lain dan menulis yang sama sekali lagi. Mungkin gapapa sih, tapi entah kenapa kalo menurut hemat saya hubungan yang diumbar di tempat umum sungguh tidak dewasa. Malah, mengutip kata teman saya, "sesuatu yang terlalu dilebih2kan (blow up) biasanya ada yang salah," Kalau menurut saya sih, yang namanya hubungan romantis dengan orang kan ya urusan kita dengan si dia, urusan pribadi berdua jadi ya nggak perlu lah minta second opinion dari orang lain dengan feedback di facebook. Ya nggak sih?

Di akhir tulisan yang nggak nyambung ini, saya masih bertanya-tanya: seberapa jauh sih masalah pribadi ada di forum publik? Kenapa ya saya merasa orang terlalu terbuka tentang kehidupan pribadinya? (mungkin tmsk saya sendiri)

8 comments:

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

menurutku...orang yang terlalu mengumbar masalah di depan publik karena butuh perhatian dan aktualisasi diri. mungkin ga ada yang mo denger curhatnya (karena dia menelpon orang yang salah kaya aku or kowe..jadi seringe nek ono wong pak curhat sengojo rak ngangkat telp. alasan laen dia pengen pamer (misal baru beli tv flat..beli mobil baru..dibeliin cincin berlian, dll). aku biasanya nulis status yang ga mutu misal baru naek busway yang bau ketek...(paling sering) karena pasti temen2 ga mo pada ngedengerin sejarah aku naek busway bau ketek..jadi mendingan aku tulis status aja di fb..paling nggak ada yang terpaksa membaca hehehe

BONI said...

pada dasarnya aku setuju sama pendapat Ria soal ...urusan pribadi berdua jadi ya nggak perlu lah minta second opinion dari orang lain dengan feedback di facebookmedia .. Jejaring sosial atau forum publik memang idealnya bukan untuk itu, Tapi berhubung orang indonesia itu latah maka semua-semua dimasukan. Akhirnya karena banyak orang melakukan hal itu jadi hal jamak apabila hal tersebut dilakukan. Jadi hal-hal personal jika mau dibawa ke ranah jejaring sosisal dkk itu kembali ke masing-masing individu. Tapi dibalik semua itu efek postitif dengan semakin banyaknya orang menggunakan jejaring sosial adalah secara tidak langsung mencerdaskan kehidupan bangsa :) ya paling tidak banyak orang yang bisa menggunakan perangkat internet.

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Kristina: jangan bilang keras2 soal nggak mau dicurhatin haha...bener juga, paling nggak ada yang kepaksa mbaca: bahwa hari ini aku ketinggalan CD, bahwa kowe kebauan ketek, bahwa ketek ternyata bau meskipun rexona sudah mencapai box office penjualannya dan bahwasanya busway tidak sewangi ketek yang diiklankan rexona. Menurutmu gmn kalo aku ikutan ganti status kaya gini: hari ini aku mbaca stautusnya Kristina bahwa busway bau ketek. Semangkin banyaklah orang yang terpaksa mengikuti sejarah buswaymu Kris khekhe...Boni: mnrtku gak jauh beda orang Indo ataupun orang barat, utara, selatan atau timur laut. Kaaknya banyak yang risih juga tuh yang mbaca status lebay. Tapi ya emang bener, facebook kan hiburn. Artinya boleh dong nonton opera sabun kehidupan orang lain ^_^ haha. Makasih, kali ini bnr2 komen lagi!!!

Fanda said...

Era web 2.0 (opo maneh iki?) memang menjadikan manusia semakin narsis. Sayangnya, sebagian orang malah kebablasan jd lebay.

Fanda said...

Cara ganti templete: yg jelas pertama2 cari template yg kamu suka. Aku sih biasanya ke btemplates. Trs download. Filenya harus di-extract buat ngedapetin file .xml nya, save.

Buka blog kamu, pilih Tata Letak -- Edit HTML. Klik Download Template Lengkap, itu untuk mensave template lamamu kalo2 ganti templatenya gagal, jd bisa dikembaliin ke template semula.

O ya, jangan lupa juga save HTML script widget2 kamu. Nantinya harus pasang lagi di template baru. Tapi kalo blogroll ga bisa disave, catet aja link-linknya.

Trs klik browse pd "Upload sebuah template dari sebuah file pada hard drive Anda:". Pilih file .xml template yg tadi kamu save. Trs klik Unggah.

Kalo ditanya semacam '...widget akan dihapus..? klik yes aja. Sampai dia upload dan....jreng..rumahmu jadi baru deh.

Moga2 sukses, dan jangan lupa bubur merah-putihnya (eh itu buat ganti nama ya, kalo ganti template bubur apa dong??)

Sri Riyati said...

Makasih banget ya Mbak Fanda. Kalo aku pikir ganti template itu pake bubur ketan item ato bubur kacang ijo (jadi iem-oji bukan merah-putih). Gak penting banget sih Ria ini ya, bukannya nyoba mbuat...thanksberat skali lagi ya Mbak Fanda!!!!

~ jessie ~ said...

welcome to this century, where most of the time people discuss whatever each other in social networking - even when they're together! Hehehehe..

Di fb-ku ada yg lebih lucu lagi, Ya. Di statusnya dia tulis: "Mau ke TMII lagi. Tapi nggak bisa bolos hari ini, takut kalau bolos ntar dilaporin mama. Huuhh..." Weleh, kl dia ga pengen dilaporin, gone dark dong, hp mati, engga usah lapor di facebook..

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Hahaha. Mungkin mamanya bukan temen di facebook? Iya Jess, skarang ini kalo mau update status di facebook juga jadi mikir2, soalnya dari cerita temenku yang aktip banget facebook-an (yang kaya aku ini masih terkesan gak terlalu aktip, padahal tiap hari ada kali 2-3 jam melototin facebook kalo dijumlah) banyak kasus terjadi hanya gara2 status facebook. Ada yang diremove dari friend list. Ada yang hubungan nyatanya berakhir gara2 kata2 yang kurang berkenan di FB. Ada yang reputasinya di tempat kerja terancam gara2 atasannya baca status/komentar teman si subyek. Ada yang jadi dicap so-op (tukang pamer, show off), ada yang dicap lebay dan basi karna ngumbar hubungan asmaranya, ada yang ketauan kalo pribadinya labil. Dan bayangkan kalo semua kasus diatas adalah tentang orang yang kita kenal sehari2 di kampus dulu!

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p