Friday, March 19, 2010

Moga-moga saya tidak membuat orang dipecat...

Mau cerita sedikit tentang kejadian hari ini.

Berhubung sudah janji dari kemaren hari buat pergi berenang bersama temen saya, sebut saja namanya Neverita
(28), jam 18.00 saya sudah siap nyebur. Kebiasaan buruk saya adalah, saya suka tidur siang tanpa makan siang lebih dahulu. Jadi acara olah raga sore itu biasanya diakhiri dengan...yah, tepat sekali: makan-makan. Neverita selalu mengeluh bahwa berolah raga bersama saya bukan bikin berat badannya turun, justru jarum timbangan bergerak berlawanan arah dengan yang diharapkan. Oh sudahlah, kata saya, bagaimana mungkin kita berdiet kalo satu-satunya kegiatan berwisata di Semarang adalah nongkrong di warung nasi kucing? Lawang sewu sudah terlalu banyak dikencingi anjing (dan orang).

Kami selalu berenang di hotel daerah simpang lima berhubung kami punya keanggotaan fitnes yang sekaligus ada fasilitas kolam renangnya. Biasanya, kalau sudah terlalu lapar saya memesan makanan yang paling murah di sana, yaitu kentang kukus. Kami akan ngobrol lama-lama dan makan di tengah-tengah acara olah raga kami layaknya di warung nasi kucing. Jadi sambil berenang makan-makan, begitulah.

Hari ini, di kolam renang ada acara entah apa. Pokoknya, ada stand yang membakar aneka jenis ikan laut lengkap dengan sambal dan lalapnya. Saya yang lagi-lagi belum makan siang, datang ke kolam renang setelah lari beberapa saat di treadmill. Saya sangat lapar. Aroma makanan menari-nari di hidung saya, bikin kepala nyaris pusing menahan hasrat. Saya pesan makanan yang mampu saya beli, ya, kentang kukus. Sambil menghirup aroma ikan bakar, mungkin saja kentang kukus terasa lebih nikmat.

Tapi jreng2345x: dengan senyum sangat manis embaknya bilang,
"Maaf, tidak ada makanan sama sekali. Sudah habis Bu,"

Saya bisa saja cabut dari situ dan makan nasi kucing, tapi si Neverita masih sibuk berenang-renang ke tepian seperti kecebong. Saya juga yang salah, saya bilang nanti saja makannya selesai olah raga. Tapi sumpah, kadar gula darah saya sudah minim. Satu fakta lagi tentang saya, mood saya dipengaruhi oleh kadar gula darah. Kata orang, orang yang lapar adalah orang yang marah. Terlebih lagi saya melihat papan pengumuman dimana-mana, "Tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar," (tapi makanan juga tidak dijual, apa maksudnya?). Mengingat saya dikelilingi orang-orang yang ketawa-tawa sambil makan ikan bakar, sungguh membikin saya tambah merasa, hotel ini sama sekali tidak profesional (sebenernya cuman karena saya lapar sih, gak banyak hubungannya dengan profesionalisme bla bla).

Saya menuju meja resepsionis dan minta formulir untuk 'guest comments'. Bagi saya, menulis saran dan kritik untuk hotel bukanlah tindakan yang berlebihan, toh orang melakukan itu dimana-mana, termasuk di tembok Lawang sewu yang malang. Herannya reaksi orang di hotel sangatlah berlebihan. Salah satunya bahkan merepet duduk di depan saya, bagai marketing kartu kredit yang tak kenal putus asa, bilang, "Nanti serahkan ke saya ya Bu, jangan orang lain,"
"Ada nomor HP Bu? Biar nanti saya jelaskan duduk perkaranya,"
"Siapa sih Bu yang bilang begitu? Apa orangnya tinggi? Pakai baju putih?"
Sampai saya bingung mau nulis apa karena sudah direpet begitu. Saya bilang,
"Mas, saya cuma menulis saran. Saya bukannya menuntut di pengadilan atau apa. Saya tidak akan menyalahkan satu orang. Ini urusan seluruh dapur."
Dimana sih letaknya kebebasan mengkritik? Toh saya sopan dan nggak menunjuk orang. Saya tulis di situ, "Sebaiknya jika hotel melarang orang membawa makanan dari luar, hotel menyediakan makanan. Akan sangat menyedihkan melihat orang lain sedang ada acara makan-makan tapi saya tidak bisa pesan makanan, meskipun saya bermaksud membeli,"

Saya tidak rela kalau mbaknya yang jaga dapur di kolam renang dimarahin. Harusnya yang bertugas menyiapkan bahan itulah yang harus menyiapkan lebih banyak. Apa susahnya sih nyimpan lebih banyak kentang di lemari es? Dan tidak perlu lah semua orang bersikap, "Kenapa? Ada apa? Siapa?" hanya karena saya mau nulis 'guest comments'. Memangnya selama ini tidak ada ya yang pernah minta formulir pesan, saran dan kritik? Jadi formulir itu hiasan doang biar brosur-brosur hotelnya kliatan penuh? Bagaimana kalau saya mau menulis pujian atau terimakasih? Soalnya dari formulir itu sebetulnya bisa saja lho yang ditulis itu sanjungan. Tapi mana mungkin bakal menyanjung kalo minta formulir saja langsung diinterogasi ini itu bagai orang yang lapor ke KPK?

Harapan saya sih saya tidak bereaksi berlebihan. Apa pendapat teman-teman?

6 comments:

Fanda said...

Ini pasti curhatan orang yang lagi laper tapi kena iming2, hehehe...
Aku juga kok, kalo laper dan kepanasan bisa menambah kadar emosi hingga beberapa level lebih tinggi.

Sri Riyati said...

Haha. Untung masih ada yang belain saya. Makasih banyak mbak Fanda!

kristina said...

hahahaha..lucu nemen si..tapi aku juga nek laper mesti pengen marah. orang2 juga pada umumnya kaya gitu...kecuali orang yang biasa mati raga or orang2 yang emang punya penyakit ga selera makan. liat aja anak2 jalanan, pengemis, tukang parkir dll...mereka jadi berangasan karena laper.
soal hotel ga mo menjual kentang kukus..wajar aja..karena dia dah dapet orderan yang lebih gede jadi mana ada waktu buat ngelayani orang yang cuma mo beli kentang kukus. kalo ke restoran juga...orang yang beli makanan semeja penuh sama yang cuma beli nasi putih plus kentang kukus dan bawa minum sendiri...pasti para pelayan bakalan lebih ramah ama yang beli makanan segambreng ya. (or ini cuma perasaaanku aja?)

Vicky Laurentina said...

Ini hotel mana tho Ria, kok kolamnya nggak jual makanan? Yang sebelah Gramedia? Itu hotel favoritku! ^^

Jadi inget waktu aku ke sebuah simposium. Ada satu presentasi yang nggak ada di CD simposiumnya. (Biasa, mungkin profesornya belum ndaftarin makalah ke Sie Ilmiah.) Aku nanya ke seorang panitia di meja registrasi dan dia langsung panik. Aku berdiri nungguin di depannya dan nambah jadi tiga panitia yang panik. Aku tanya, apakah presentasinya memang belum ada di panitia, mereka langsung bilang, sebentar mau ditanyakan ke "kapten"-nya dulu.

Jadi, konsumen yang rada kritis sedikit selalu bikin para penyedia jasa panik. Seolah di jidat kita ada tulisan "Saya wartawan, nanti saya sebarin ke mana-mana". Padahal biasa ajalah, nggak usah parno.. :-P

Sri Riyati said...

Kristina: Bener juga yo. Tapi kan aku nggak bawa nasi sen diri karena diminta tidak bawa makanan dari luar. Kalo boleh mah aku udah bawa rendang, nasi tumpeng, opor ayam, kluban urap, sambel goreng pete dan ayam goreng kremesan. Persetan dengan kentang kukus.
Vicky: Untunglah, bukan hotel kesayanganmu itu. Hotel yang pas di simpang lima, di lantai atas pusat perbelanjaan, hurup depannya...hehe. Tambah jelas banget sih. Intinya sih emang gitu, orang gak bisa terima kritik atau saran atau keingintahuan. Begitu kita tanya sesuatu langsung blingsatan. Entah kenapa.

jc said...

Betul!! Lapar juga bisa bikin ga konsen mo ngapa-ngapain! Selain lapar, kebelet pipis juga ga bisa konsen apalagi kalau diributin hanya gara2 minta guest comment, bisa tambah ga konsen dan emosi lagi! Hehehehe..

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p