Monday, March 22, 2010

Pembicaraan di sore hari

Saya adalah semi pengangguran yang bahagia dan menatap masa depan dengan penuh harapan. Jadi apa yang saya lakukan di sore hari yang cerah sehabis hujan di Semarang? Bukan, bukan nyapu halaman sambil kasih makan ayam. Saya minum teh sambil ngobrol bersama teman. Tapi, jangan bayangkan saya duduk di kafe yang berAC dengan wireless dan TV plasma yang acaranya fashion TV mulu dengan latar belakang lagunya Enya yang diputar berulang-ulang. Boleh dibilang saya punya selera (bagi saya murah meriah termasuk selera). Saya suka makan jagung bakar, minum teh dan bicara mulai dari politik (berapa prosen pemerintah akan menaikkan gaji PNS dalam 10 tahun ke depan? Halah ini mah ngarep, bukan masalah politik) sampai meteorologi dan geofisika (kenapa di Semarang sering hujan sore-sore? Hehe. Bukan pertanyaan yang rumit-rumit banget kan ya?). Intinya sih, apalagi kalo bukan bicara tentang keseharian dan masa depan bagi cewek-cewek lajang semacam kita ini?

Saya tidak menggarisbawahi kata lajang. Bagi saya nggak ada bedanya pikiran orang yang berumah tangga ataupun single, kalo cara pikirnya sama. Saya sama sekali bukan tipe 'cewek metropop' yang bersepatu tumit tinggi, bicara muncrat-muncrat tentang karir dan memandang rendah ibu-ibu yang bawa sekeranjang bayi (maksud saya, bayi dalam keranjang, bayinya gak banyak-banyak amat, bukan sekeranjang besar. Kecuali kalo hari itu bertepatan dengan Pekan Imunisasi Nasional). Saya orang yang beranggapan bahwa semua orang punya masanya sendiri-sendiri dan kita menikmati semuanya itu dengan sepenuh hati. Tapi memang susah dipungkiri bahwa pembicaraan saya dan sohib saya yang lajang, calon dokter spesialis kulit dan kelamin, hidup dari penghasilan sendiri dan hobi dari jalan-jalan sampe main gundu tentu beda dengan pembicaraan saya dengan mama saya, misalnya. Biasanya pembicaraaan kami lebih nggak bermutu, karena kamu selalu pakai kata, "Seandainya" atau "Kalau aku nanti..." alias idealisme yang tidak nyata. Konkritnya, waktu ada anak kecil di sebelah kami menangis meraung-raung hanya gara-gara minta sesuatu padahal semua orang sedang ngantri, kami tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar negatif.

"Dasar anak kebiasaan dimanja," celetuk sohib saya.
"Kalau aku nanti punya anak, aku akan biarkan saja anak yang kaya gitu. Nggak bakalan aku kabulkan permintaannya. Supaya dia tahu itu bukan cara yang benar untuk meminta," kata saya (perhatikan kalimat pengandaian pertama).
"Kalau kamu nikah nanti jangan sama Cina totok," tambah teman saya dengan agak tidak nyambung (perhatikan pengandaian lagi yang ada di sini) "Liat, matanya bakal kecil kaya gitu," katanya sambil menunjuk si anak yang meraung-raung. Teman saya emang rasis, berhubung dia Batak. Ha-ha. *Lihat siapa yang bicara sekarang?*
"Aku jelas nggak akan suka sama Cina totok. Cukup papaku aja, pelitnya minta ampun,"
"Iya, tapi keluargamu lebih senang kan kalo kamu dapet Cina?"
Saya ketawa.
"Untungnya nggak nikah dini itu, orang tua jadi lebih membebaskan pilihan kita. Daripada nggak nikah-nikah,"
"Betul juga," sohib memangut-mangut, "Orang tuaku sampai kasih insentif supaya aku cepet nikah,"
"Wah beneran??? Pasang iklan baris di koran aja biar dananya turun" sahut saya girang (otak pegawai negri)
"Sialan. Masalahnya cuman aku belum bisa memilih, bukannya kekurangan stok," sambar sohib.
Saya tersenyum mahfum. Sohib saya, seperti layaknya residen kulit yang identik dengan kecantikan, sangat jauh dari kesan tidak menarik. Dalam jarak sepuluh meter dia bisa menarik dari tambang sampai serangga dan benda-benda logam (emangnya Magneto?). Apalagi manusia.
"Betul. Dapat orang tua yang kaya papahku itu takdir. Tapi siapa yang kita nikahi itu pilihan," jawab saya sok diplomatis.
"Like this," jawab sohib saya sambil menyeruput teh manis.

Sulitnya jadi orang seperti saya dan sohib adalah: digodain abis sama mas-mas gak jelas homo atau manusia dan jelas tidak berkualitas ekspor non migas. Saya sama sekali nggak tahu apa yang ada dalam batok kepala mereka yang jarang bersinggungan dengan ilmu pengetahuan apalagi tata krama. Kalau kita jalan, kita dianggap unggas (dicuit-cuit), kalau kita naik sepeda, kita diklakson keras dari belakang lalu diliatin dengan mupeng begitu nyalip kita dari samping, kalo kita naik motor, direpet dan disenyumin mesum. Sebagai informasi, saya selalu pake celana panjang selutut dan kaos kegedean minimal dua nomor. Saya dan sohib mempertimbangkan untuk berbusana ala taliban yang kliatan matanya doang, tapi berhubung baju macam begitu bisa masuk ke roda dan bikin kami kesrimpet, kami pun menunda rencana brilian tersebut.

Berhubung tidak ingin merusak suasana sore hari saya yang cerah ceria dengan membicarakan mas-mas kurang kerjaan, saya lebih baik memikirkan hidup saya sendiri yang penuh kejutan. Jagung bakar kami datang.
"Apa rencanamu akhir pekan ini?" tanya saya pada sohib.
"Karimun Jawa, dari pelabuhan Tanjung Mas jam 8.30. Pulang Minggu siang, jam 14.00. Ikut?"
"Jelas!"
"Like this," jawab sohib saya sambil menggerogoti jagung bakar manis yang menteganya menetes-netes.

15 comments:

bandit™perantau said...

hahahaha...

iya, siapa yg bakal kita nikahin itu pilihan <---bisa pilihan sendiri, bisa pilihan orang tua, dan pilih-pilih dululah yg terbaik sebelum menikah... hehehe



di tunggu liputan ke karimun jawa nya... denger-denger alam bawah lautnya amazing kali...

:sekalian titip salam horas buat temanmu..
hehehe

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

hoi...iki sebenere intine opo yo...hahaha..tapi itulah gunanya blog..iso nggo nulis2 tanpa juntrungan.
acik acik dunk ke karimun jawa..seandainya aku bisa cuti hiks hiks...mo cuti aja kok susyah banget

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

eh klalen nanggepi seng kowe disuit2in mas2
emang paling nyebeli..aku juga paling sebel nek lagi jalan ada yang suit2..kaya ga pernah liat cewek aja..mending kalo aku pas pake baju seksi..aku juga jarang pergi2 pake baju seksi..karena ntar mengundang nafsu jahat. kadang2 aku misuh2 dalam hati..semoga yang suit2 tiba2 jatuh kesandung..or ketiban sial yang lain hiks hiks

Fanda said...

Berpikir positif sedikit, napa sih Ria? Kalo ada cowok suit-suit dan ngegodain kamu, kan berarti dia mengakui kalo kamu cewek yg cukup menarik buat disuitin? Jadi harus bangga dong!

So, next time ada yg suit-suit, think: "yah..emang gue cantik kok..". Tapi kalo ada yg sampe pegang2...gampar!!

Tapi soal ngobrol, aku kok ga pernah cocok sama teman yg udah menikah. Kalo diajakin ngeluyur, jawabnya: "Ga tau bisa apa gak. Kalo suamiku ga ngajak kemana2, ntar aku kabarin."

Kalo lg ke butik ada baju bagus dan kita ngepas bareng2: "Aku mesti tanya ke suami dulu, boleh gak beli baju lagi."

Sebel deh! Belum lagi kalo baru punya baby. Diajak dinner: "Aku jam 8 mesti nidurin anakku." Payah deh!!! Beruntunglah kita2 yg jojoba ini!

Sri Riyati said...

Hahaha. Halo Bandit Perantau! Salam kenal dan akan saya sampein horasnya. Saya terkesan dengan pilihannya, karena betul juga, bisa pilihan orang tua, ha-ha!Iya nanti saya bagi2 ceritanya, kalo ada tambahaan silakan menimpali.Barangkali jadi tertarik ke Karimun Jawa!
Kristina: makasih telah mendoakan yang suit2 kesandung....moga2 terkabul. Anu, aku bnr2 berharap kowe bisa cuti dan kita bisa ke mana gitu sama2 trus nulis blog. Semoga kowe berhasil cuti. Amin amin amin 2345678x

Sri Riyati said...

Mbak Fanda, tapi aku malah merasa dilecehkan huhuhuhu...andaikan aku bisa cuek kaya gitu. Biasanya memang aku cuekin, tapi mereka kadang parah banget. Ada yang gituin aku di tempat fitnes. Trus aku mikir nih orang yang dilatih otot doang, otaknya gak pernah tersentuh peradaban! Di jaman Flinstone, mungkin nganggep cewek itu binatang menyusui masih dianggap normal. Tapi sekarang? Huaaa.Mungkin lain kali aku akan berpikir postif, OK, ini risiko jadi orang keran (ha!)

Memang payah kalo yang sedikit2 ribut urusan suami dan anak, kita sendiri (teman2) di nomor sepuluhkan. Nggak asyik banget. Tapi aku kenal banyak ibu2 muda yang bisa menjaga keseimbangan antara waktu dengan suami-anak dan teman2 masa mudanya dulu (kesannya kaya ngomongin jaman sebelum kemerdekaan. hehe) Dan ibu muda yang hobi trekking. Jadi yah pinter2 aja milih teman. Tapi aku yakin, kalo mbak Fanda ngajak aku, hayuuuuk! Tarik mang! ^_^

wongmuntilan said...

Wah, diriku senasib dama Kristina, kalo disuit-suitin langsung bete, terus membayangkan alangkah baiknya kalo si mas-mas (kadang bapak-bapak!!!) ybs kesandung, terus mulutnya dower, gak bisa nutup selama seminggu, biar kapok...!!!
Lantas menghibur diri dengan berpikir... kuncinya adalah pendidikan... mungkin dia gak lulus SD... tidak dididik oleh orang tuanya... kasihan kan...???

jc said...

Huhuhu.. aku juga ibu-ibu lho... tapi aku masih bisa asoy geboy sama temen-temenku hehehe. Kalau diajak jalan biasanya aku bilang, "tunggu, lihat jadwal dulu" (maklum, wanita karir *jedogin ke tembok*), terus call hubby dan bilang: "Say besok malem aku diajak jalan sama temen, kau di rumah sama vinn, ok?"
Dan aku tetep bisa jalan-jalan sama mereka ;) Indahnya hidupppp!!!

Sri Riyati said...

SAnti: Iya SAn, mereka memang pantas dikasihani (dan didoakan semoga arwahnya diterima...hehe...lebay ah). Jessie: Iya kok Jess. Aku percaya. Kan aku bilang: ibu RT dan single sama saja kalau cara berpikirnya sama. Ada anak ABG di kostan temenku tiap malem minggu kerjaannya cuma di depan kompie atau belajar. Ough! Get a life! Kalo Jessie, aku yakin kita bakal asoy geboy digebuk ejoy. Mari kita ikut wtriter workshop di Hongkong tahun depan!!! ^_^

Fanda said...

Ria, namamu kesangkut-sangkut lagi di posting terbaruku, hihihi...

laurentina said...

Sudah nasib.. :-D

Aku pakai baju cantik, disuitin.
Aku pakai kerudung, disuitin.
Aku pasang tampang jutek, disuitin.

Jadinya mestinya gimana, pria-pria yang pantas disunat ulang?

Eh, gimana hasil petualangan sama M' Lidya ke Karimunjawa?

Sri Riyati said...

Mbak Fanda: Siap menuju blog Mbak Fanda! *Ciiiiuuuuuzzzz* (bunyi latar itu penting).
Vicky: Kok tahu sih kalo itu Lidya. Blog bukannya harus anonim? Hehe. Nanti aku posting ttg Karimun Jawa. My pleasure. Aduh nggak sabar nunggu besok =)

Fanny and Fanda said...

Ria... tadi sempat kekuncian pintu gak? hehehe... Dirimu n Kristina beken lagi loh. Kali ini di blog kolaborasiku: F2. Kamu dapet tag juga. Disini: http://blognyaf2.blogspot.com/2010/03/jawaban-tag-yang-membingungkan.html

emmy said...

duh duh baca blog ini sambil ngekek2.. enak nyantai dibacanya :)
nemu 1 blog bagus lagi nih!

"like this!"
salam kenal yaa :)

Sri Riyati said...

Salam kenal juga Emmy. Makasih buat kata2 pujiannya *ge-er* =)

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p