Tuesday, February 19, 2008

Menjadi Traveler Nggak Boleh Cuma Ngiler

Sebenernya nggak pernah punya cita-cita jadi traveler, orang dulu yang namanya traveling itu apa aja aku nggak ngerti. Waktu aku bilang sama mamiku tentang keinginanku backpacking, mamiku jawab, "Apa? Bebek Peking?". Ini bukan becanda. Seriussssss cuah (diberi aksen ludah yang mencurah supaya terkesan benar-benar keseriusannya). Aku dulu sama nggak ngertinya seperti mamiku. Apalagi aku tinggal di Jalan Raya no 100 Limpung Batang Jawa Tengah 51271 yang asal ada nama bokapku yang jelas, meskipun kita pindah rumah sepuluh kali akan tetep nyampe juga suratnya karena....semua orang saling kenal. Termasuk Pak Pos (siapa istrinya, anaknya sekolah dimana, kelas berapa) dan tetangganya Pak Pos (siapa namanya dan rumahnya ngontrak apa ngutang). Sebenernya aku sekarang sudah pindah rumah yang alamatnya aku nggak tahu yang jelas bukan jalan raya lagi tapi alamat itu tetap dipake karena toh nyampenya sama aja. Btw, aku jadi nggak tahu aku sebenarnya tinggal di jalan apa. OK, intinya, aku adalah orang ndeso. Lihat Kris, aku ngaku tuh....Jadi untuk menjadi traveler itu jelas "beyond my imagination" yang bahasa perancisnya kok nggumun-nggumuni men. Ini bermula dari satu kata: kesasar. Oya, aku kesasar dengan cool lho karena aku pura-pura ngerti padahal sih aku sebenernya udah loncat-loncat kaya orang berdiri di lantai penuh paku (wah kurang kerjaan banget ya?). Bermula dari sahibul hikayat. Seorang cewek dari kampung bernama Sri baru aja lulus kuliahnya dalam usia yang agak tua (kuliahnya ini bikin orang lebih tua dari seharusnya). Dia berpikir akan pergi ke negeri seberang (nyebrangnya tapi agak jauh) untuk belajar yang gampang-gampang saja karena sebelumnya dia merasa belajar yang susah-susah, seperti misalnya belajar menghitung kancing dengan tepat meskipun belum pernah tahu persis apa pertanyaannya tapi jawabannya harus tepat. Susah kan? Makanya dia berniat untuk belajar bahasa, karena dia kira itu gampang (tiap hari dia ngomong kan? Baik ngomong ama temen, ama anjingnya maupun ngomong sendiri, masing-masing dengan bahasa yang berbeda). Nggak tahunya, setelah main ji ro thik tai gethik bolak-balik ji thik (bagi orang-orang yang nggak se-ndeso aku, itu sama saja dengan main cap cip cup belalang kuncup, tapi dulu aku waktu kecil nggak main itu karena aku tinggal di kampung. Aku tahu belalang nggak bisa kuncup) dia memilih...eng ing eng...pergi ke London belajar bahasa Inggris (iyalah, masa bahasa Skandinavia?). Itu sama sekali nggak gampang. Seriuuuusssss cuah.Bukan bahasa Inggrisnya. Sebetulnya sejak SMP aku tahu apa artinya: What's your name? How are you? I'm fine thank you (wow, aku menakjubkan). Tapi ini bener-bener lain. Cobalah untuk tanya arah atau tanya gimana cara pulang ke rumah kontrakan di East Dulwich ketika kita nggak tahu bedanya Australia ama Austria. Intinya, aku mau bilang bahwa belajar ke luar negeri itu bukan sekedar jalan-jalan cari angin apalagi kalo di negara kita sendiri sudah banyak yang masuk angin. Ketika kita benar-benar berniat untuk traveling, yang ada di pikiran kita adalah: kita akan melihat dan belajar sesuatu yang baru. Traveling beda dari sekedar turis. Perbedaannya: (1) turis sekedar dateng, injak, foto-foto, beli suvenir, traveler ya bisa sama aja sih, tapi sambil beli srabi dari masyarakat lokal berpikir "aku bisa memajukan perekonomian rakyat kecil" haha. Jayus ah. Intinya, kita berkontribusi bagi orang sekitar dan diri sendiri. Misalnya belajar budaya lokal dan berinteraksi dengan orang dari negara lain. Kalau bisa kerja sukarela sambil menyelami lingkungan yang berbeda. Atau mengajar bahasa. Atau belajar bahasa. Bukan sekedar menggerombol dengan serombongan cewek gila dari Pekalongan yang pas di pantai Thailand malah sibuk mbanding-bandingin sama pantai Pasir Kencana alias ngeBom. Pokoknya, kalau kita traveling, pikiran akan terbuka bahwa ada dunia lain di luar sana yang beda ama dunia kita, bukan cuma Dunia Lain yang penuh penampakan aja lho. (2) turis kalau pulang akan bawa oleh-oleh suvenir tapi traveler bawa oleh-oleh segudang pengalaman dan teman baru, dari berbagai negara! Meskipun oleh-oleh ini nggak bisa ditukar kupon apalagi uang kembali, setidaknya, seperti kata mastercard:priceless. (3) turis cuma tahu dateng ke bandara, duduk, naik bis sambil ndengerin pemandu wisata dan puter-puter seharian tanpa tahu kehidupan yang sebenernya di tempat yang kita kunjungi. Traveler bisa terlibat dalam hidup sehari-hari negara yang dikunjungi, karena kita akan naik kendaraaan umum, menggunakan fasilitas umum dan makan di rumah makan yang menunya mungkin nggak bisa dibaca kecuali ada orang lokal yang nerjemahin. Bukankah ini lebih seru daripada tinggal di hotel dan memesan makanan lewat telepon resepsionis?Kembali ke soal kesasar. Jadi aku kesasar di London. Kalo pernah nonton film "George of the Jungle" atau filmnya Benyamin S. "Tarzan kota" pastilah bisa membayangkan seperti apa mukaku di sana. Bukan sekedar karena London itu kota besar di Eropa, tapi karena aku belum pernah pergi kemanapun lebih jauh dari Semarang dan kalaupun ke Jakarta bukan untuk tinggal, cuma untuk nebeng duduk di mobil sama keluarga (ini jelas bukan traveling, ini silaturahmi). Bahkan waktu itu aku belum pernah pergi ke Jakarta sendiri, masih terkagum-kagum sama monas. Jadi, aku baru tahu apa itu gegar budaya. Pertama, aku nggak tahu kalau bis harus berhenti di perhentian bis. Biasanya aku lari-lari mengejar bis atau cari-cari bis yang nge-tem di terminal. Kedua, kartu perjalanan. Apa itu??? Biasanya aku bayar bis sama kenek yang njawil-njawil trus goyang-goyang uang receh di tangannya supaya bunyinya gemerincing dengan tangan dibuka. Tanda minta kita bayar. Ketiga, aku nggak bisa pake toaster. Aku pingin nasi goreng, bukan roti panggang sialan yang gak bikin kenyang. Keempat, underground. Semacam bunker? Semacam tempat perlindungan? Nama jalan? Nama makanan? Berlemak atau enggak? Sialan. Mana aku tahu itu artinya kereta bawah tanah? Dan kemana perginya? Hal-hal yang gampang dalam hidup sehari-hari tiba-tiba jadi susah bukan main. Aku nggak akan menghitung lagi, cukup memberi bayangan kan?Akhirnya, "belajar hal-hal yang gampang" ternyata menjadi hal yang paling berat dan mengubah pikiranku selamanya tentang kehidupan di luar negeri yang konon cuma indah dan menyenangkan. Aku bahkan nggak cari uang, aku 100% buang-buang uang, tapi aku sama sekali nggak merasa itu gampang dan santai. Aku berusaha keras belajar. Sistem transportasi, fasilitas umum, baca peta, buka rekening di bank, sewa-menyewa kamar, cara komunikasi yang murah dengan keluarga di rumah, mengatur keuangan, menjalin pertemanan dengan orang-orang yang sama sekali tidak tahu latar belakang kita dan sama sekali tidak bicara dengan bahasa yang sama. Dari sinilah aku tahu tentang traveling. Cara yang lain dalam memandang kata "jalan-jalan ke luar negeri". Orang selalu berpikir tentang uang. Berapa banyak uang yang diperlukan? Dan kenapa ke luar negeri cuma dihubungkan ama orang-orang kaya yang kelebihan uang? Ini yang aku bilang, terserah mau percaya apa enggak (iyalah, masak kalo nggak percaya aku suruh push up?) : kita semua bisa coba kalau kita memang mau.Bukan mungkin atau tidaknya. Pertanyaan intinya bukan berapa duit. Pertanyaannya adalah : seberapa ngotot kita pengen ngelakuin hal ini. Nggak ada yang bisa ngelawan orang yang bener-bener berusaha mencapai sesuatu. Menurutku, traveling adalah hal yang layak dicoba, meskipun itu bukan berarti hal yang paling penting. Tidak bijaksana memaksakan pergi kalau kedaan memang tidak memungkinkan, tapi taruhlah traveling sebagai "list to do" dan aku akan menunjukkan bagaimana kita melakukannya. (bersambung)

1 comment:

xtina said...

Artikel yang sungguh menarik minat para bebek peking untuk travelling ke luar negeri. soalnya kalo bekpeking di dalam negeri sangatlah sengsara dan tidak aman. Untuk pengalaman bekpeking di dalam negeri ini aku ahlinya :p. Paling sering bekpeking dari jkt-jogja naek kreta ekonomi dan bawa ransel (bener2 bekpeking kan?). Harga tiketnya 38rb dan jelas di kreta ekonomi ga ada room service karena para pedagang asongan simpang siur. Dan dijamin ga usah pake buku menu pake bahasa daerah karena para pedagang asongan sudah berteriak-teriak pake bahasa daerah yang dilewatin...lewat cirebon ya ngomongnya..nasi bungkus anget anget....lewat kebumen..lanting lanting...gurih enak..lanting....Lewat purwokerto..keripik tempe garing enak...Jadi cukup menarik kan?
Sayangnya toilet di kreta ekonomi itu terburuk sepanjang masa dengan risiko bisa diintip karena pintunya ga bisa dikunci dan jendelanya terbuka. Ditambah lagi perlu waspada mengawasi tas jangan sampe berpindah tangan seperti nasib tasku yang hilang lenyap pas naek kreta ekonomi dan aku tinggal tidur.
Jadi intinya bekpeking boleh2 aja tapi liat2 negaranya...
Thanks untuk mbak ria yang sudah memberi wejangan tentang bekpeking ke luar negeri.

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p