Monday, August 24, 2009

Fobia Teknologi?

Saya harus mengakui bahwa saya menderita gaptek kronis. Bukan cuma tidak sanggup mengutak-atik komputer atau tidak jago menjelajah dunia maya, saya bahkan tidak bisa mengoperasikan mesin cuci, tidak bisa mengganti kantong penyedot debu dan memecahkan rekor terlama dalam mengetik SMS! (yang bisa ngalahin saya mungkin cuma embah Dikir, kenalan satu RT yang baru punya HP tapi tangannya sudah buyutan). Alhasil saya terpaksa ngucek dengan tangan, mengusir debu dengan kemoceng dan sekarang latihan mengetik satu jari (pake jempol).

Waktu saya masih SD dulu, saya pernah mimpi buruk yang membuat saya bangun dengan napas ngos-ngosan
dan lari ke kamar ortu (akui saja, ini yang dilakukan kalau membalik bantal juga percuma kan?). Meskipun bete karena dibangunkan, orang tua saya sempat bertanya saya mimpi apa. Monster? Setan? Penjahat? Kuntilanak? Pocongan? Guru SD? Bukan, jawab saya, saya mimpi ada mesin yang besar, bunyinya memekakkan telinga dan lampunya berkedip-kedip. Saya menekan tombol off tapi mesin itu tidak mau mati. Saya menekan semua lampu hijaunya tapi mesin itu tetap hidup. Saya mencabut kabelnya tapi dia tetap menyala (waktu itu tidak ada HP ataupun laptop, setahu saya semua mesin akan mati kalau kabelnya dicabut). Saya merasa tidak bisa mengendalikan mesin itu. Suaranya makin keras, lampunya menyala makin terang. Saya ketakutan setengah mati. Jadi menurut saya sendiri, saya sudah takut sama yang namanya teknologi sejak masa kanak-kanak (kata Sigmund Freud sih, semua mimpi punya nilai psikologis).

Entah benar entah tidak, yang jelas saya paling tidak berjodoh dengan yang namanya HaPe. Pertama kali saya punya HP adalah 10 tahun yang lalu, ketika saya baru masuk universitas. Sejak it
u saya sudah kehilangan, merusakkan, ketinggalan atau kelupaan HP tak terhitung kali. Sampai teman saya bilang, "Apa sih yang tidak mungkin terjadi sama Ria?" gara-gara kisah hidup HP-HP saya yang tragis:
  • HP pertama saya rusak karena kelindes mobil. Bagaimana bisa? Anu, saat itu saya lagi parkir motor dan tas saya yang dijepit jatuh ke lapangan parkir. Pas waktu itu ada mobil juga lagi parkir dan terlindaslah tas saya. Isi yang lain tidak masalah, tapi HP saya tutup umur saat itu juga.
  • HP kedua saya kerendam air laut. Waktu itu saya pergi ke pantai dan main air. HP saya taruh jauh-jauh di dekat pohon kelapa. Tapi saya keasyikan sampai lupa waktu airnya pasang...
  • HP ketiga saya tiba-tiba hilang tak tahu rimbanya. Saya suka ketinggalan barang-barang. Ibu saya bilang, kalau hidung saya tidak nempel mungkin saya bisa lupa taruh. Nah HP ini hanyalah salah satu contoh barang yang semula ada, tiba-tiba tidak ada. Mungkin ini termasuk pengalaman saya yang 'supranatural'.
  • HP keempat saya kecuci di mesin dan waktu dipakai lagi layarnya rusak. Masih terbaca tapi tulisannya putus-putus seolah gambar hologram. Jadi waktu mau nelpon teman ujian malah nyambungnya ke tukang fotokopi deket kampus, pas mau ngucapin met ultah sama orang tua malah nyambungnya ke dosen pembimbing karya ilmiah. Akhirnya HP ini saya PHK dengan tidak hormat.
  • HP kelima, keenam, dan ke selanjutnya sih biasanya tertinggal di salah satu sudut bumi waktu saya traveling. Biasanya ini akibat saya men-charge HP di resepsionis atau tidak mengepak HP bersama barang lain karena dipakai sebagai weker! Saat-saat ini HP saya selalu seken dan berlayar monokrom (serius! HP bagi saya alat komunikasi, bukan gaya hidup, andai kentongan dan merpati pos sefleksibel HP pasti saya sudah pilih salah satunya).
Kalau saya begitu tidak berjodoh dengan HP, kenapa masih saja punya HP? Alasannya sederhana, orang tua saya selalu ingin bisa menghubungi saya dengan mudah. Kalaupun HP saya hilang/rusak/tertinggal untuk kesekian kalinya, orang tua saya akan memberi HP butut untuk saya pakai dengan setengah memaksa. Teman-teman saya mengeluh betapa susahnya menghubungi saya karena tidak ada HP yang pasti. Saya akui, kadang saya butuh HP kalau saya ingin janji bertemu dengan seseorang tapi waktunya belum jelas. Pernah suatu kali saya pulang kemalaman dan teman saya cemas bukan kepalang. Padahal saya cuma sedang dalam perjalanan. Dia sampai menitip pesan pada petugas kereta (Pak tolong kalau ada orang celingak-celinguk kebingungan baru turun dari kereta), lalu menulis papan petunjuk jalan tiap radius 10 meter bunyinya, "Ria, alamat saya 14 Warham Rd," lalu papan lain, "jalan terus, nomernya 14," lalu beberapa langkah kemudian, "lewat sini," dan "Ini rumah saya," Faktanya, saya ini buta arah dan tidak bisa baca peta. Saya hobi kelayapan sendirian. Dan saya nekat tidak punya HP.

Tapi ada untungnya juga jadi orang yang tidak kecanduan HP. Ini memungkinkan saya tinggal di daerah terpencil di daerah pegunungan Yahukimo, Papua. Di tempat ini, satu-satunya alat komunikasi adalah radio transistor yang hanya dibuka dua kali sehari selama satu jam, dan masih harus bergantian dengan penduduk dan pengurus gereja. Jadi kalaupun berinteraksi dengan dunia luar saya cuma bicara tentang minta obat, jadwal penerbangan (satu-satunya alat transportasi adalah pesawat baling-baling twin otter), dan kalau merujuk. Memang, saya agak kesepian. Tapi saya bisa bilang bahwa saya bisa hidup tanpa HP.

Ralat. Saya bukannya bisa hidup tanpa HP. Saya
menikmati hidup tanpa HP. Saya merasa memegang kontrol, kapan saya ingin dihubungi/berbicara dengan orang lain dan kapan saya ingin tinggal tenang sendiri. Orang bilang saya eksentrik. Alasannya, saya pilih yang susah meskipun ada teknologi yang mudah (saya suka menulis surat dan mengirimkannya lewat kantor pos). Benarkah teknologi itu mudah? Pernah suatu kali saya harus menulis surat resmi. Pertama harus diketik dengan komputer. Kedua diprint. Kedengarannya sederhana. Tapi, apa yang terjadi kalo printer kita ngadat? (konon head-nya rusak). Saya pergi ke persewaan komputer terdekat. Print tiap halaman seribu rupiah, berwarna tiga ribu. Okelah. Tapi begitu data saya dipindah, format dokumennya berubah. Saya harus edit lagi. Begitu di print, warna gambarnya tidak sesuai aslinya, karena salah satu warna tintanya menipis. Saya pindah ke tempat pengetikan yang lain dan malah format gambarnya yang berubah! Belum lagi kalau waktu dipindah malah data kita yang kena virus. Oke, memang saya gaptek. Tapi kalu saya dizinkan menulis dengan tangan, mencetak fotonya di percetakan foto biasa dan menempelnya di surat manual jadul saya, mungkin prosesnya sudah selesai sejak dulu. Dan saya tidak capek hati.

Bagaimana dengan blog ini sendiri? Ide menulisnya memang dari kami berdua, tapi perancang dan pembuat blognya adalah seorang manusia hi-tech bernama Kristina Melani Budiman (KMB). Saya cuma posting saja. Itupun, waktu dia kasih lagu tema yang bisa diganti-ganti, saya terkaget-kaget
setiap kali buka blog, karena ada lagu yang tiba-tiba keluar entah dari mana (tiap online saya buka beberapa file, antara lain: email, facebook, picasa dan sebagainya). KMB (28) adalah orang yang berkebalikan dari saya dalam hal teknologi. Dia sangat cepat mempelajari sesuatu yang baru, cepat terbiasa dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya bisa mengoperasikannya secara maksimal. Ini tanda bahwa dia quick-witted (alis lancip) dan tidak fobia teknologi.

Saya suka baca buku. Tapi saya benci baca buku yang satu ini: buku manual. Teknologi memang memudahkan, tapi kadang juga menyulitkan. Terutama buat yang gagap plus keteteran seperti saya.

8 comments:

Vicky Laurentina said...

Ria, nggak banget deh nasib HP-HP-mu, wakakakak!
Aku ngakak baca si English ampe kudu naro papan penunjuk jalan demi kau. Gimana caranya dirimu bisa idup tanpa peta dan HP, Ria??

Aku kayaknya nggak perlu minta nomer HP-mu deh..:-P

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Huahahaha. Makasih atas pengertiannya Vic, aku selalu diomelin temen-temen karena "nggak pernah eksis". Betewe, gimana perkembangannya belajar naik motor? Kata tmnku, semua orang Jawa (bisa) naik motor. Kata ibuku sih biasanya di kaki tuh ada bekas knalpot sisa belajar dulu. Itulah 'stempel' kelulusan naik motornya. Btw kenapa tuh helm nggak disimpan aja sampai bisa nyetir motor sendiri? Aku sendiri punya SIM A tapi nggak bisa parkir. Sebabnya? Tiap mundur noleh ke belakang bukannya liat spion. Serasa yamaha Mio, Mbak! ^_^

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Oya FYI: aku bisa nyetir motor tapi baru belajar naik mobil. Ada nggak barang yang dikeramatkan kalo belajar mobil? =)

jensen99 said...

Ini postingan paling lucu dan paling menyegarkan yang saya baca hari ini. Applause! (plokplokplok)

Saya juga punya temen yang ceroboh dengan HP dan barang2nya (& dia juga pny sense of direction yang buruk), tapi kombinasi ceroboh dan dijajah teknologi seperti Ria bener2 unik.
*digampar*

BTW, salam kenal ya. Saya temen bloggernya dokter Vicky. Maaf dah ngoceh sembarangan. :P

kristina said...

hoi....pantesan,..kowe rak berjodoh karo hp yo...btw kuwi emang tulisane digawe simbol2 ben wong2 penasaran po:

iki terjemahane takketik neng kene hahahahaha

lagu yang tiba-tiba keluar entah dari mana (tiap online saya buka beberapa file, antara lain: email, facebook, picasa dan sebagainya). KMB (28) adalah orang yang berkebalikan dari saya dalam hal teknologi. Dia sangat cepat mempelajari sesuatu yang baru, cepat terbiasa dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya bisa mengoperasikannya secara maksimal. Ini tanda bahwa dia quick-witted (alis lancip) dan tidak fobia teknologi.

Saya suka baca buku. Tapi saya benci baca buku yang satu ini: buku manual. Teknologi memang memudahkan, tapi kadang juga menyulitkan. Terutama buat yang gagap plus keteteran seperti saya.

kowe pancen golongan darah B sejati...klalenan tur gampang kesasar. aku juga angel nginget2 jalan..tapi aku rak tau tekan ditulisi papan nama hahahahaha.....dasar ria wong paling unik

btw ojo terlalu muji aku ora gaptek..mengko wong2 ngirai aku iso nggawe robot....padahal orak

Sri Riyati said...

Jensen, selamat datang! Tentu saja nggak papa numpang cing cong di sini. KAlau nggak ada yang komentar sebenernya saya malah curiga blog saya ada yang baca atau cuman kepencet klik doang (jadi hit counternya banyak tapi commentnya kosong). Kris, aku tahu kowe BELUM bisa bikin robot (catet ya) tapi setidaknya kalau nanti suatu saat mbikin robot sudah jadi kegiatan rutin kaya bongkar pasang sepeda, pasti kowe bisa bikinin aku Zetai Kareshi (kedip2). Hehe...

jc said...

Tulisanmu iki rasane perlu dibaca sama orang2 yang menganggap bahwa Blackberry adalah barang yang harus dimiliki dan Laptop adalah barang yang nggak bisa ditinggalkan utk meneruskan hidup.
It's such a slap for those who considers that technology is everything.
I LIKE THIS!

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Ini salah satu bukti gaptekku. Aku baru baca komennya si Jessie sekarang. Huahua. Makasih Jess, kalo dibilang Ok oleh dirimu eternit kamarku suka pecah2 (akunya melayang2). Post tulisan yang baru lagi ya Jess, udah kangen nih...

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p