Saturday, August 22, 2009

Percaya atau tidak percaya?

Di film Ice Age 3: The Dawn of The Dinosaurs ada adegan ketika seekor Tyranosaurus Rex datang mencari anak-anaknya yang "dicuri" Sid. Waktu debum kaki si T-rex semakin dekat dan raungannya menggetarkan bumi, Manny berteriak, "Semuanya jangan menggerakkan satu ototpun!" dan semua binatang kontan diam membeku, kecuali Sid. Saya tidak mau bercerita tentang film ini sampai akhir (syukurlah). Yang saya ingin bahas adalah rasa percaya. Ketika bahaya datang mendekat dan seseorang justru bilang, "Jangan bergerak, jangan melarikan diri!" berapa besar kepercayaan kita untuk menuruti nasehat semacam itu? 'It's difficult to muster sufficient faith in this piece of advice,' kata Bluebear dalam buku the 13 1/2 lives of Captain Bluebear.

Faith (noun): Confident belief in the truth, value, or trustworthiness of a person, idea, or thing.-The American Heritage® Dictionary of the English Language, Fourth Edition.

Saya sendiri belum pernah dikejar T-Rex. Tapi pernah suatu saat saya digonggongi anjing. Anjingnya besar, giginya runcing-runcing dan liurnya menetes-netes. Waktu itu saya tidak bisa membedakan antara anjing gila dan anjing yang terlatih mengintimidasi orang tidak dikenal (sekarang juga tidak bisa, toh hasilnya tetep sama:nggonggongin juga). Ketika yang punya anjing bilang, "Jangan lari, diam saja!" Nasehat ini mungkin 100 % benar tapi insting saya seperti naluri hewani lainnya adalah fight or flight. Fight sama si buldog jelas tidak mungkin, jadi pilihan kedua adalah lari tunggang langgang sambil mangap-mangap dan tangan yang melambai-lambai mencari berangus. Tapi pada akhirnya karena si pemilik mendekat dan gonggongan si buldog mereda, saya berhasil mengendalikan diri untuk tidak memanjat pagar rumah tetangga. Si empunya bilang lagi, "Dia kan cuma belum kenal. Kalau lari malah dikira pencuri nanti dikejar," Wah, kalau mau kenalan bukannya harusnya ramah sedikit, kalau tidak kafilah saja akan berlalu. Singkatnya, nasehat ini menyelamatkan saya dari mempermalukan diri sendiri karena dikejar-kejar anjing. Tapi seberapa besar kemampuan saya untuk berdiri tenang kalau saja anjing itu tetap di sana dan saya sendirian?

Hal ini sama seperti ketika segalanya terasa tidak sesuai dengan keinginan, seberapa besar saya percaya dan terus mencoba? Sebetulnya kalau saya melihat ke belakang, banyak hal yang dulu sulit terbayangkan tapi sudah terjadi sekarang. Hanya karena saya melalui setiap prosesnya, bukannya instan bim salabim, saya merasa setiap hal yang saya capai adalah 'sudah seharusnya'. Baru-baru ini saya mempunyai rekan kerja yang selalu membuat hidup saya di tempat kerja nelangsa. Dari tidak menghargai, bicara kasar sampai membuat pekerjaan saya harus diulangi dari awal, semua pernah dia lakukan. Waktu itu semua terasa sangat berat apalagi mau tidak mau kami harus bekerja bersama. Rasanya kalau saja pembunuhan itu legal....

Tapi hati kecil saya bilang untuk memaafkan, bahkan seharusnya saya kasihan pada orang ini. Orang ini pasti penuh dengan sakit hati dan ketidakpuasan sehingga tidak bisa melihat kebaikan orang lain. Memang benar, atasan dia langsung adalah orang paling tidak peduli jadi saya paham bahwa pekerjan dia pastilah lebih berat. Karena sikapnya yang tidak rendah hati, dia juga tidak punya banyak teman. Tidak seorangpun akan mengunjunginya sekedar menanyakan apa kabarnya. Seorang teman saya yang saya curhati bilang, dia jelas-jelas iri hati. Karena apa? Saya tidak menemukan alasan apapun untuk orang waras merasa iri hati pada saya, yang waktu itu sedang krisis finansial, krisis percaya diri, krisis hubungan romantis, dan krisis semangat kerja (berkat dia juga). Bisakah kita tetap mengerjakan tugas kita tanpa berusaha bersaing dan menjatuhkan, ketika keadaannya sangat tidak menguntungkan?

Inilah ketika kita butuh percaya saja. Tetap melakukan yang terbaik tapi hasilnya tidak perlu dikhawatirkan. Entah dia yang dipuji atau orang bisa melihat saya telah mengalahkan rasa marah dan ego saya sendiri, itu bukan urusan saya. Pada akhirnya saya merasa bahagia setelah melewatinya tanpa marah-marah atau berbuat sesuatu yang tidak bermartabat. Saya lebih baik dari itu. Saya tidak mau terlibat dalam permainan bodoh karena saya punya cara sendiri dan saya melakukan apa yang saya percaya baik. Orang Jawa bilang, 'Dedalane, guno lawan sekti, kudu andhap asor. Wani ngalah luhur wekasane. Tumungkulo yen dipun dukani. Bapak den simpangi, ono catur mungkur,' Itu tembang mocopat dan saya tidak benar-benar tahu arti tiap katanya, tapi intinya adalah untuk melawan keangkuhan, jadilah rendah hati. Orang yang mengalah tinggi budi pekertinya. Tunduklah bila ditegur dan merendahlah bila dipuji.

Dalam budaya tempat kerja saya, mengalah berkonotasi negatif, seperti lemah atau kalah. Tapi saya rasa tidak selalu begitu. Kalau orang mencari gara-gara dengan bertingkah, menghindar dan melakukan yang lain bukan berarti membiarkan orang lain menang melainkan memutuskan pengaruh orang lain kepada kita, demikian mereka tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Pada akhirnya orang ini tidak pernah menang, karena kami tidak bertanding. Sayalah yang menentukan, kemenangan macam apa yang ingin saya peroleh. Bukan, bukannya orang ini diusir dari tempat kerja dan saya naik pangkat (emangnya sinetron). Saya menyadari kemudian bahwa saya beroleh banyak teman yang sepaham dan peduli pada saya, karakter yang lebih matang dan pekerjaan yang lebih baik. Karena saya memutuskan untuk tidak lari dikejar anjing.

Percaya itu sulit di kala keadaan tidak tampak menjanjikan. Dalam situasi yang sepertinya tidak mungkin, yang kita perlukan adalah tetap melakukan yang perlu kita lakukan secara benar, tidak peduli hasilnya. Teman saya yang ingin bekerja di Skotlandia bersama kambing gunung belum bisa mewujudkannya sekarang, tapi dia tetap percaya suatu saat akan tercapai. Waktunya bukan tanggung jawab kita. Percaya karena kecuali kita paranormal, kita tidak tahu apa yang terjadi di masa yang akan datang. Waktu kita menengok kembali, kita mungkin paham bahwa semuanya merupakan fase-fase yang memberi warna dalam hidup. Jangan sampai kita menyesal terhadap pilihan yang kita buat.

2 comments:

kristina said...

teman yang dimaksud kowe kuwi aku po? hahahahaha...
iyo....percoyo wes...walaupun orak neng kambing gunung kan wingi2 aku iso neng kambing tanah...
soal jangan lari kalo lagi dikejar anjing emang bener sih..soale nek aku ketemu anjing trus aku lari..malahan dikejar kuwi..jadi saiki mending kura2 dalam perahu alias pura2 tidak tau....jadine anjinge kan ngerasa dicuekin jadi yo rak bakalan ngeganggu soale deen minder asale dicuekin.,..
joko sembung ke...

ya pokokE masalah kuwi kudu dihadapi..ojo dewene malah mlayu..asale masalah kuwi dudu gunung seng ga akan lari karo dikejar....masalah nek dewe lari yo malahan ngejar2 dewe...misal dewe duwe masalah durung bayar utang kartu kredit..trus dewe rak bayar2...malah lari...akhire debt collector seng mukaE medeni2 yo ngejar2 dewe yo....nek ketiban sial kuwi...dewe rak duwe utang tapi dikejar2....

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Heh, gek nyambi you tube yo??? hehe. Seperti biasa komentarmu rak nggenah dan rak nyambung. Tapi aku tetap senang soale kowe tetep lucu (dan tetep satu2nya orang sing bakal ngomentarin hahahaha)

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p