Thursday, August 20, 2009

Alasan untuk tidak kaya

The chief value of money lies in the fact that one lives in a world in which it is overestimated.
H. L. Mencken
US editor (1880 - 1956)
Sesaat sebelum saya pulang kampung, saya menyempatkan diri mengecek tabungan. Saya sungguh terkagum-kagum pada kemampuan saya untuk menghabiskan uang tanpa disadari (ini seperti berjalan sambil tidur). Saldonya nyaris nihil dan tidak satu pence pun bisa saya tarik dari ATM karena di luar batas minimum. Rasa-rasanya saya tidak belanja apapun belakangan ini. Kemudian saya ingat bahwa saya lumayan banyak bepergian. Tiket kereta, bis, biaya makan, jajan dan telepon semuanya berperan serta melangsingkan saldo tabungan saya. Pupuslah sudah harapan saya untuk menjadi TKW yang mabrur.

Belakangan ini saya berpikir bahwa saya bisa hidup layak tanpa ambisi jadi miliuner. Maksud saya, kebutuhan pribadi saya bisa tercukupi dengan kerja yang tidak terlalu memakan waktu (seperti jaga 24 jam), ataupun pekerjaan yang bergengsi (jadi dokter bedah saraf atau model internasional), ataupun menjadi wirausaha sukses yang omsetnya puluhan juta per hari (pemilik saham indofood atau galery lafayette, mungkin). Ini saya sadari ketika saya menerapkan hidup berburu dan meramu secara nomaden. Tiap kali saya pindah, saya hanya membawa sebagian dari harta benda saya yang saya anggap penting dan memulai hidup di tempat lain. Apakah saya membawa semua koleksi buku, baju, sepatu, topi dan tas saya? Inginnya sih begitu (sebagai kaum hawa sejati yang instingnya bersarang). Tapi pada kenyataannya saya tidak sanggup membawa semuanya. Bukan hanya alasan ekonomis atau praktis, tapi juga hal ini tidak realistis. Kecuali saya mau memulai kehidupan dari nol di hutan belantara (yang mana saya perlu alat pemotong kayu, pematik api, tenda, alat-alat untuk memelihara ternak serta alat-alat bertani) saya cuma perlu membawa kebutuhan primer saja. Dan anehnya yang saya bawa pada akhirnya hanya surat-surat, barang-barang kenangan dan buku harian, disamping beberapa gelintir baju yang cukup untuk berganti sesudah mandi.

Saya bukannya anti belanja. Saya percaya membeli barang baru itu memberi kebahagiaan tersendiri, teman saya bilang ini "shopping therapy". Yang saya sesali adalah fakta bahwa sekitar 80% barang yang saya beli adalah barang yang tidak pernah saya pakai atau cuma penghias rak dan lemari (ini tidak berlaku untuk barang yang benar-benar hiasan, seperti patung tembikar atau bebek porselen). Saya punya sekitar dua puluhan pasang lebih sepatu (memang bukan apa-apa kalau dibanding Imelda Marcos) tapi ada berapa sih kaki saya? Apa perlu saya memakai sepatu yang beda-beda tiap hari yang tidak pernah berulang tiap bulannya? Dan tas tangan. Sebetulnya sangat berisiko untuk memiliki beberapa tas tangan. Barang-barang penting seperti dompet atau kartu identitas bisa terselip di satu tas sementara kita sedang menggunakan tas lain. Belum lagi bicara baju yang trennya berganti tiap beberapa bulan. Banyak pembelian yang saya lakukan adalah pembelanjaan yang sia-sia. Saya punya setumpuk DVD yang tidak pernah saya tonton. Beberapa buku yang belum terbaca. Baju yang bagus tapi tidak bisa dipakai kecuali dalam acara tertentu. Dan sepatu keren yang tidak nyaman dipakai berjalan. Seorang kenalan saya punya home theatre dan berlangganan TV kabel, tapi tidak pernah ada waktu untuk menikmatinya karena sibuk kerja.

Berburu barang murah atau diskon atau sale atau apapun namanya memang menyenangkan. Tapi seberapapun murahnya, tiap pembelian adalah pengeluaran juga. Jadi pertimbangan sebelum membeli barang adalah kebutuhan, bukan 'mumpung diskon'. Sebenarnya kita dibombardir dengan bujukan, rayuan dan ide-ide bahwa kalau kita tidak membeli deodoran merk tertentu, adalah mustahil untuk menerima ketek kita apa adanya. Iklan telah membentuk kita sedemikian rupa sehingga kita nyaris yakin bahwa kita tidak bisa hidup tanpa HaPe, tanpa ringtone, tanpa Mc Donald, tanpa indomie ataupun kacang dua kelinci. Bahwa menemukan pasangan ada hubungannya dengan menemukan krim pemutih kulit yang sejati. Sungguh, marketing itu luar biasa sehingga kita hampir berpikir bahwa menikmati hidup cuma mungkin kalau kita punya lebih banyak uang (untuk menghidupi iklan-iklan) daripada yang kita butuhkan.

Saya punya pengalaman dari yang boros setengah mati sampai mengirit yang berlebihan. Keduanya ternyata berada pada kutub yang sama, yaitu menilai uang lebih dari yang sebenarnya. Ketika saya boros, apa yang saya inginkan terasa seperti kebutuhan. Padahal jelas itu cuma nafsu sesaat. Ketika saya super ngirit, sebetulnya saya mengabaikan kebutuhan, sehingga saya membutuhkan repatriasi yang biayanya lebih tinggi. Contohnya, saya pernah jaga klinik 24 jam selama seminggu hampir nonstop karena berusaha mengumpulkan uang. Alhasil pada minggu berikutnya uang itu habis karena saya merasa berhak bersenang-senang setelah bersusah payah. Kalaupun saya tidak habiskan uang itu, saya akan menilai uang itu lebih berharga dari seharusnya, karena saya mengorbankan terlalu banyak waktu saya. Kalau saya pikir lagi, lebih baik saya tidak jaga sebanyak itu asal ada masih ada masukan, lalu tetap menikmati waktu luang saya dan menyisihkan sebagian untuk disimpan minggu depan. Hidup yang nikmat adalah hidup yang cukup, seperti kata pepatah, 'yang terbaik itu datang secara gratis, tapi kedua terbaik itu selalu mahal sekali,'

Seingat saya, yang paling saya sukai biasanya sederhana dan tidak melibatkan banyak biaya, misalnya sarapan nasi megono hangat di pinggir sawah jam 6 pagi. Saya tidak bilang bahwa kita tidak boleh kaya, tapi bahwa kaya itu bukan masalah hidup atau mati. Kalau terlalu bernafsu malah bisa kelewatan dari tujuan kita untuk kaya itu sendiri : menikmati hidup setiap hari.

3 comments:

jc said...

i love this idea!!

Sri Riyati said...

Makasih Jes. Maap udah lama nggak buka blog. Tetep nulis ya! Semangat!

kristina said...

nek aku pengene si iso tuku opo wae seng aku gelem...tapi kan aku dudu konglomerat...or pencetak duit or duwe bojo donald trump seng duite rak bakalan entek sampe berabad2 maneh.
jadi aku kudu realistis...bersenang2 kuwi perlu...tapi kudu ndelok kemampuane dewe. nek misale gaji cuma 2 juta..trus pengen baju regane 2 juta yo iso kelaparan.....mending tuku seng modele mirip tapi regane 20rb (ono rak yo hahahaha)
aku tau si urip ngirite pol...tiap hari mangan orak bergizi akhire raiku dadi ancur jerawaten..hiks hiks
jadi yo seng seimbang wae wes

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p