Monday, November 3, 2008

Untuk Bernardus (sayang tulisan ini nggak memenuhi syarat memoar)

Berhubung terjadi fenomena aneh yang susah dijelaskan bahwa blok kami jadi ajang curhat dan diskusi (dari debat politik sampe debat kusir, haha, kesane ben keren yo) saya jadi kepikiran tentang Bernardus, SMU yang sudah kami tinggalkan 10 tahun yang lalu. Saya berusaha nulis yang objektif, aktual dan tanpa prasangka kayak semboyan harian Kompas, tapi apa daya yang terjadi adalah ingatan saya benar-benar subyektif, omong kosong dan penuh syak wasangka (bahasane kok dadi kaya novel angkatan 60an ya). Intinya, ini cuma kenangan dari seorang Ria, cewek ndeso Limpung yang sekolah di Bernardus karena nggak ada sekolah SMA di desanya (mau dibilang pelarian ato SMA buangan tapi sebenernya saya cuma korban ketidakmerataan pembangunan). Kesan pertama tentang Bernardus adalah: sekolah ini mirip-mirip sama film Dangerous Mind minus Michelle Pfeiffer. Plus Jagger (wah ini joke intern). Intinya, di desa Limpung saya ini termasuk siswa alim manis suka menabung membuang sampah pada tempatnya dan tidak pipis sembarangan. Di Bernardus, saya benar-benar shock karena siswanya tidak banyak yang mengamalkan Pancasila, dasa dharma pramuka apalagi sepuluh program pokok PKK. Pokoknya bagi saya yang baru urbanisasi ke "kota" Bernardus lebih mirip LPK Cipinang daripada Dunia Fantasi. Ngelantur. Yang saya mau bilang adalah, Bernardus memang bukan SMU unggulan siswa berprestasi seperti Pelita Harapan atau Pelita-Pelita yang lain. Lebih mirip petromax. Kalo digenjot bisa terang tapi didiemin sebentar langsung kalah pamor sama lampu tempel. Sayangnya "penggenjot" di Bernardus tidak banyak, sehingga saya cukup salut dengan guru-guru yang akan tetap terkenang sepanjang masa: Pak Untung, Jagger, Bu Mieke, Pak Martopo, Pak Kwee, Peng Hin, dan beberapa nama lain yang mungkin temen-temen bisa bantu saya. Saya tidak bisa bilang juga bahwa saya demikian bangga jadi alumnus SMU Bernardus, karena masih banyak yang perlu digarap dari SMU almamater kita ini. Yang saya bisa bilang adalah: apa yang ada sekarang adalah hasil dari SMU Bernardus juga. Tidak mungkin waktu 3 tahun tidak belajar apa-apa. Buktinya? Blog ini ada karena saya pernah ada di SMU Bernardus. Dan teman-teman yang selalu ingat (bukan cuma gajah yang selalu ingat). Dan ikatan alumni tidak resmi yang selalu saling mendukung. Dan seribu satu (kalo bukan lebih) kenangan tentang SMU kita di angkatan 1996 ini.

Halaman blog ini tidak cukup untuk menuliskan satu-persatu cerita di Bernardus. Kristina dan saya punya cerita sendiri (lihat posting pertama: Our first meet). Secara keseluruhan, Bernardus adalah sekolah dimana persahabatan lebih penting dari sekedar nilai bagus atau jadi juara umum sekotamadya. Ini yang selalu saya ingat. Ini yang membentuk kami jadi berbeda sebagai ex SMU Santo Bernardus. Kami tidak repot-repot membandingkan diri dengan yang lain. Saya misalnya, sebagai anak yang paling culun di lapangan olah raga tidak pernah dikucilkan cuman gara-gara takut sama bola. Atau kalaupun kita termasuk anak paling "metal" di sekolah, kita akan tetap diterima dalam lingkungan sosial, bukan lantas jadi kaum sudra jelata terlunta-lunta (apaan coba). Jadi, bisa saya bilang bahwa Bernardus sedikit banyak sudah mengamalkan P4 yaitu mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh siswanya, baik yang keren maupun yang aneh, baik yang pinter main basket maupun yang takut sama bola, baik yang pinter Fisika maupun yang pinter nyalin jawaban temen sebangkunya. (Btw, Fisika saya di NEM 3. Tapi saya masih dianggap alumni kan temen2?) Inilah salah satu bukti bahwa kami tidak pandang bulu, baik bulu mata, bulu kaki atau bulu-bulu yang lain.

Salah satu kualitas yang saya kagumi juga dari SMU saya ini adalah: banyaknya kesempatan untuk belajar di rumah alias libur hehe. Ini karena sekolah kami berada di tempat yang sebelumnya rawa-rawa jadi sering kebanjiran. Sekolah kami juga mirip benteng jaman dulu karena dikelilingi parit alias got. Jadi bisa dibilang sekolah kami bergaya gothic. Kalau musim hujan airnya sering meluap jadi mending kita libur daripada kudisan. Kami juga dilatih pintar berjalan dipinggir got karena waktu pulang/masuk sekolah jalanan bisa penuh sesak sehingga tidak ada jalan lain kecuali mripit-mripit got. Taktik ini sangat jitu kalo kita jalan kaki ato naik sepeda. Kalo nunggu sepi bisa-bisa kita sakit demam berdarah karena laper plus digigiti nyamuk (berat ya perjuangan kita untuk menuntut ilmu bagi ibu pertiwi....). Beberapa teman yang nekat jalan demi sekeping pengetahuan pernah kecemplung got. Bukan gara2 kita tidak pintar berjalan segaris tapi karena orang-orang bermobil buka pintu sembarangan sehingga kita kedorong ke got. Seharusnya di samping tanda dilarang parkir dan dilarang pipis di Bernardus harusnya dipasang tanda dilarang buka pintu mobil di samping orang yang lagi jalan di pinggir got (mungkin susah ya bikin tandanya karena kalimatnya kepanjangan).

Salah satu event lain yang bisa dipakai untuk bersenang-senang adalah saat pengakuan dosa menjelang Natal atau Paskah. Karena kami secara resmi boleh keluar kelas buat pergi ke gereja. Walhasil kami sering ditemukan berkeliaran untuk jalan2 di sekitar kali loji (atau ke kost temen, pernah di kost2an saya karena nggak ada yang jaga). Pokoknya SMU kami paling jago dalam hal colo (cabut pelajaran). Bukannya saya bilang itu baik (karena colo pangkal bodo, nggak colo juga nggak beda jauh, hahaha, peace) tapi dalam beberapa peristiwa saya merasa kita sebenernya nggak badung-badung amat, hanya rasa kesetiakawanan saja. Pernah suatu kali sebagai aksi protes kita semua tinggal di luar kelas waktu bel sudah bunyi. Lihatlah betapa "kebebasan bersuara" bisa terjadi di SMU yang nggak diidolakan siapa-siapa! Yang lainnya yang saya ingat, di Bernardus tidak ada perbedaan guru-murid. Kalo kita pesta perpisahan, wali kelas ikutan begadang dan main karambol (Pak Untung we love you!). Dari nilai jelek sampai nyaris diskors karena telat melebihi batas toleransi, di SMU Bernardus saya tidak melihat bahwa itu semua lebih berarti daripada kebersamaan kami.

Kalau teman-teman punya cerita yang membangkitkan kenangan atau sekedar komentar atas SMU kita ini, silahkan posting di comments. Buat Meity, terima kasih fotonya. Dimanapun dan jadi apapun kita sekarang, saya yakin masih ada satu sudut buat kenangan dari SMU kita.

6 comments:

jelomee said...

wah, jadi inget masa muda nih baca ini hehehe walau aku sekolah cuman setaun aja(en itupun apes sekelas ma kristina huehehhhehehe abis dia pelit kasih contoan!)aku tetep merasa alumni bernardus karena disitu aku ktemu suami. bener yg d katakan ria kalo di bernard nilai bukan hal yg d agungkan, persahabatan yg paling penting! (sekedar pengumuman kalo jagger dah jadi almarhumah...jadi kalo mau sebutin namanya jgn jagger lagi nti malam didatengi klenger lu..ria!)yg paling seru adalah waktu kami rame2 18orang anak bolos ke linggo, disitu aku ktemu suami, besoknya smua kena skors krn kelas pada kosong.waktu SMP aku tmsk anak biasa alias g pnh rangking, d bernard masuk 10besar waktu P4 weleh..serasa ketiban gajah, ranking juga bagus terus..waktu pindah jember ampun biyung ranking 5!!!!dari belakang huahahhaha

Fendi kastama Putra said...

bernardus taun 96-99 merupakan fenomena pembelajaran yang unik di jagad edukasi yang pernah ada di negeri ini, aku ingat bagaimana dulu kebersamaan, persahabatan dan toleransi ditanamkan dan dipupuk di civitas itu.
ohya ngomongin soal gurunya. bu Jegger (alm Bu Christine)dan pak jauhari (PPKN) atau pak sosiologi(Sory pak, lupa asmonipun njenengan), aku pernah disarankan setelah lulus untuk menggeluti bidang jurnalistik dan komunikasi massa karena cocok dengan bakat (kalo ga salah pas aku dimasukkan di BP, karena bolos 4 kali lebih) ... dan itulah yang saya geluti sekarang.
kalo masalah ketertiban.. jelas aku Gondes eleknya, lha wong ngumpulin karya tulis dan kliping aja baru 4 hari menjelang ujian nasional. itu aja bikin geger kantor, yang tak angkat masalah pulitik Sidang Istemewa MPR 1999... hehehe

kristina said...

tes

kristina said...

walah aku kaget karena blog ini akhirnya rame pengunjung bahkan ada yang sampe curhat hahaha.soal smu bernardus..aku sebenernya ga punya kesan apa2 karena katanya masa2 indah di sma kan bersama pacar tapi aku ga punya pacar. tapi walaupun begitu tetep aja aku menikmati masa2 smaku bersama geng lenjeh dan temen2 yang laen. sebenernya (curhat dikit) aku masuk ke bernard itu adalah kecelakaan karena sebelumnya aku didaftarin ke sedes semarang tapi karena uang pangkalnya lebih dari sejuta terpaksa ga jadi masuk sedes (thanks God karena sedes khusus cewek ntar aku tambah ga punya pacar hehehe). nah pas balik ke pkl mo daftar ke smu 1 yang katanya paling elit se pekalongan dibuktiin dengan temen2ku yang pinter2 ex smp pius itu pada daftar ke sana selain yang sma nya keluar kota. nah pas itu aku inget banget ngegenjot sepeda ke sma 1 bareng diana mo daftar di hari terakhir. dan pas sampe di jalan ra kartini, kehalang ama kereta api. habis itu aku ke tempat pendaftarannya dah jreng 10000x udah telat dan aku ga bisa daftar. akhirnya dengan terpaksa aku daftar ke bernardus. hari pertama di bernardus ga gitu kaget karena masih banyak temenku ex smp pius yang masuk sana. namun kagetnya itu ternyata bener kata ria..kaya di film Dangerous Mind..ada yang teler di kelas dan bahkan aku pernah ditawarin pil koplo yang baunya kaya permen duren.
meity..aku bukannya pelit kasih contekan lho...kan selama ini mejaku sering penuh ama kertas contekan dari temen2..tapi yang nulis itu si ellen temen sebangkuku merangkap sekretarisku baru didistribusiin ke temen2 hahahaha...jadi geli sendiri inget waktu itu.
namun di atas semuanya itu aku sangat bersyukur bisa masuk bernardus karena melalui bernardus aku bisa dapet beasiswa buat kuliah di atma jaya jogja. kalo ga dapet beasiswa mungkin sekarang aku lagi kerja di pabrik jadi buruh hiks..thanks to Bu Irene dan Bu Win yang membantu aku.
trus thanks buat jagger juga yang ngebolehin aku les accounting gratis..juga buat peng hin yang bayarin aku ujian negara bahasa inggris walaupun akhirnya nilainya jelek.
jadi walaupun banyak yang bilang bernardus itu sekolah buangan dan banyak preman namun bernardus tetap memiliki tempat di hatiku (halah puitis banget sih)
dan bisa punya sahabat dan temen2 yang awet sampe sekarang itu suatu kesenangan tersendiri.
dan secara keseluruhan..ga semua alumni bernardus ga sukses kan...malah banyak yang sudah melanglang buana kaya mety, andre bojone mety,ria, eny..trus yang lain ga tau deh...dan ada yang sukses jadi jurnalis kaya fendy..bernardus tercinta semoga sekarang semakin membaik ya...
btw guru sosiologi kuwi pak topo bukan sih namane?
yang pake kaca mata itu kan?
wali kelasku kelas 2-3

BEN'Z said...

Bagus juga blog tentang Bernardusnya, cuman apa itu yang sebenarnya saya rasa ngak.Thks

Vivie Heryanto said...

Hallo ci.. Aku alumni bernardus juga lulusan taon 2002..
Ak juga termasuk masuk SMA Bernardus karena keadaan.. Udah daftar SMA di Sedes Semarang, malah ga jadi karena waktu itu masih belum berani pisah dari ortu.
Terus daftar SMA Negeri 1 ga dibolehin ama ortu karena 2 cc and koko aku di sma bernardus semua..

Disitu guru-gurunya paling asyik.. Ada yang serem ada yang baek ada juga guru yang takut ama muridna.. wkwkwk...

Temen2 disitu juga rata2 nakal ga nakal sebenernya... Cuma ak setuju tentang setia kawan. Karena banyak temen2 aku di situ yang masih kontak dan masih berteman sampe sekarang, biarpun pernah ribut, berantem ga jelas waktu SMA hanya karena rebutan cowo, jealous2an atau karena ga suka sifat yang lenjeh dllnya..

Tapi sampai sekarang semua temen2 masih solid.. Dan rasa kesetiakawanan itu masih ada sampai sekarang.

Guru yang paling berkesan buat aku : Pak Untung dan BuWin.. Baek banget dah mereka..

Pak Untung guru Matematika skrg udah pensiun... Kalau ga bisa ngerjain soal di papan tulis, kata2 paling sering "utekmu neng dengkul?" Biarpun bahasanya kasar, tapi Pak Untung sebenernya guru yang paling berkesan dari semua temen2 SMA Bernard.. Bener ga?? Kalau tiap kali ulangan taruhan dulu ama Pak Untung, kalo dapet nilai 100 minta hadiah.. hahaha..

Bu Win guru BP, karena dulu ak suka bolos, suka telat dan suka serampangan pake baju, pasti kena teguran terus dari bu Win..

Pak Jauhari guru PPKN masih ada ga yah? Tiap ulangan ak slalu dapet nilai di bawah 5.. Karena paling ga bisa konsen kalau ulangan dibacain pilihan gandanya.. Sampe ngantuk dengerinnya.

Pak Martopo guru Kimia yang slalu tersenyum, jarang marah, kalau ngajar enak banget...

Kesanku ke SMA Santo Bernardus, biarpun bukan merupakan sekolah unggulan di Pekalongan, tapi kebersamaan di sekolah itu slalu berkesan buat temen2 and guru2nya..

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p