Tuesday, February 2, 2010

Kembalilah padaku!


Ingat kan waktu saya dulu ngomongin tentang orang yang selalu bicara tentang anaknya? Salah satu orangnya adalah rekan sekerja saya (sebenernya satu-satunya rekan kerja saya selain komputer berlayar 14 inchi ihik-ihik='<) dan dia adalah seorang ibu berumur tiga puluh sekian tahunan (saya tidak tahu persisnya dan saya malu bertanya, jadi risikonya sesat di jalan). Dia waktu itu sedang hamil tua dan sekarang baru saja melahirkan. Alias sedang cuti. Hasilnya adalah : sekarang saya kerja sendiri. Ya, dulu saya mengeluh kenapa sih gak ada bahan pembicaraan yang lebih menarik daripada anak, sekolah, les, pembantu dan kembali ke anak. Tapi sekarang, setelah dia tidak ada di tempat, saya kewalahan mengurus surat-surat. Saya tidak tahu di mana dokumen disimpan. Saya tidak tahu bagaimana mengurus surat-surat, mengirim dokumen dan mengarsip kertas-kertas apapun itu isinya. Saya jadi merasa kerjaan saya tidak beres. Dan sebagai orang yang agak obsesif-kompulsif (dalam batas positif lah ya), saya merasa tidak nyaman kalau masih ada pekerjaan yang menggantung. Jadi rasanya pingin teriak: kembalilah padaku!!!!! Saya butuh sekretaris. Tidak ada syarat khusus. Dia bahkan boleh-boleh saja bicara tentang anak, belanjaan, pembantu ato tetek bengek keluarga selama 24/7. Asal bidang kesekretarisan terurus. Asal saya bisa lega dan memikirkan pasien-pasien saja, bukan hocus-pocus dokumen dan surat dan arsip dan sebagainya.

Orang bilang sesuatu itu harus hilang dulu baru kerasa ada. Mungkin memang benar. Banyak hal kita anggap wajar saja ada atau memang sudah seharusnya begitu, sampai kita ada dalam kondisi tidak punya dan tidak ada yang berjalan seperti seharusnya. Contohnya adalah mesin gelembung ikan mas koki saya. Saya punya akuarium kecil yang saya taruh di kamar (karena ngekost tidak ada ruangan yang lain. Masa mau saya taruh di garasi?), di meja sebelah tempat tidur. Mesin gelembungnya berbunyi seperti traktor dan saya sebenarnya merasa agak terganggu dengan suara berdengung yang agak mirip ikan ngorok (emang ikan bisa ngorok?). Pokoknya saya bahkan berpikir untuk merancang akuarium yang lebih modern, dengan mesin yang nyaris tak terdengar. Suatu hari listrik mati. Dengungan itu tidak terdengar. Sunyi. Saya tidur lebih nyenyak dari biasanya. Tapi saya kelabakan begitu sadar bahwa gelembungnya mati! Teman sekost menyarankan saya untuk meniup-niup sendiri gelembungnya, blekuthuk...blekuthuk...atau menCPR ikan-ikan mas koki itu satu-satu. Benar-benar susah cari ide bagus belakangan ini. Intinya, saya merindukan dengungan mesin gelembung sialan itu!

OK. Mesin gelembung bukan contoh yang bagus tentang perasaan kehilangan yang sebenarnya. Apakah teman-teman punya pengalaman serupa? Sesuatu yang kita keluhkan kemudian tidak ada dan kita rindukan? Berbagilah bersama saya!

Saya nebeng mengumumkan pembukaan blog baru saya. Akibat adanya protes terhadap postingan saya yang berbahasa Inggris, saya memutuskan untuk membuat blog terpisah untuk bahasa kedua saya. Bila ada yang sisa-sisa waktu dan kurang kerjaan (misalnya nunggu dijemput atau nunggu hujan reda atau nunggu pesenan kwetiaw goreng dari warung sebelah) silahkan kunjungi "I spy with my little eye". Tidak harus komentar pakai bahasa Inggris. Saya cuma ingin menjadi ekspresif sebagai diri saya sendiri, baik dalam bahasa ibu saya maupun dalam lingua franca dengan teman-teman saya yang tidak berbicara dalam bahasa ibu saya. Ada beberapa alasan mengapa saya merasa perlu menulis dengan bahasa yang berbeda:



  1. Beberapa guyonan sensitif terhadap bahasa dan budaya sehingga suatu lelucon tidak akan dimengerti bila diterjemahkan. Contoh, yang bukan orang Limpung pasti bingung apa lucunya "Wong Limpung kudung sarung, wong kemplung kedarung-darung" karena kalaupun diterjemahkan akan kehilangan esensinya. (Halah, esensi apa ya dari kata "kemplung"?). Bapak saya selalu bilang "gendeng" dan "gendéng" artinya beda jauh. Yang satu artinya gila yang lain artinya genteng. Itulah artinya kesensitifan terhadap bahasa dan budaya=)

  2. Supaya si Kristina berhenti dituduh nulis yang bukan-bukan. Dia selalu menulis yang iya-iya, as a matter of fact =).

  3. Supaya lebih mudah monetize...konon katanya bisa dapet dolar (dasar money-eye/mata duitan).

  4. Supaya saya tahu seberapa kesalahan lexical/grammatical yang saya buat sendiri.

  5. Supaya bisa ngomongin orang2 tertentu (yang saya tahu males kalo baca bahasa Inggris, bukannya nggak mudeng sih). Hehe, jangan ada yang ngerasa ya. Makanya cek barangkali lagi diomongin...

Itu saja. Semoga hari ini kita semua jadi lebih bersyukur terhadap apa yang kita punya, meskipun mulanya kelihatan nggak sesuai harapan. Ciao!

3 comments:

Fanda said...

Yg nomor 5 tuh strategi yg bagus buat menggiring orang2 tuk berkunjung ke blog barumu. Soalnya takut kamu rasani!!

Emang kehilangan baru kerasa klo sdh bener2 ditinggal. Aku jg kerasa wkt sahabatku keluar kerja...

Sri Riyati said...

Hehe, bener juga Mbak. Tapi setidaknya blogku cuman 2 eh satu setengah. Karna yang ini barengan ama Kristina. Aku nggak kebayang punya blog 5. Dua aja kayaknya kok sempet banget ya aku nulis-nulis sampe bikin di berbagai tempat =p

Salut ama Mbak Fanda. Masih sempet ngomentarin blog orang lain juga. Multitasker ato wonder woman???

Dewi Rumapea said...

Nama saya Dewi Rumapea, saya dari Indonesia, saya dengan cepat ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan seluruh Indonesia yang mencari pinjaman di internet sangat berhati-hati untuk tidak jatuh di tangan scammers dan fraudstars, ada banyak kredit palsu lender di sini di internet dan beberapa dari mereka adalah asli, saya pernah tertipu dan ditipu di sini online sebelum seorang teman yang mendapat pinjaman baru menghubungkan saya dengan seorang wanita bernama Ibu Glory yang merupakan CEO dari Glory Badan Kredit. Jadi saya diterapkan untuk jumlah pinjaman 500 juta dengan tingkat bunga rendah dari 2%, tidak ada jaminan, karena saya mengatakan kepadanya apa yang saya ingin menggunakan uang itu untuk membangun bisnis dan pinjaman saya disetujui dengan mudah tanpa stres dan semua persiapan yang dilakukan pada transfer kredit dan dalam waktu kurang dari 24 jam setelah pendaftaran pinjaman, itu mimpi datang melalui, jumlah pinjaman saya 500 juta dikreditkan di rekening bank saya hanya dalam selang waktu dua jam. Jadi saya ingin saran mereka sedang mencari untuk pinjaman di sini secara online harus berlaku untuk perusahaan asli, cepat hubungi sekarang email: di gloryloanfirm@mail.com. dia tidak tahu bahwa aku melakukan ini. Saya berdoa agar Tuhan memberkati dia untuk hal-hal baik yang telah dilakukan dalam hidup saya. Anda juga dapat menghubungi saya di dewiputeri9@gmail.com untuk info lebih lanjut.

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p