Saturday, October 10, 2009

Orang Ketiga

OK. Mungkin kali ini giliran ibu-ibu muda yang akan merasa kesindir sama saya. Maaf seribu maaf sebelumnya karena saya memilih untuk ngomongin ini. Tapi mohon diingat bahwa orang-orang yang saya omongin di bawah ini cuma orang-orang khusus yang bersinggungan sama saya, dengan konteks dan situasi yang istimewa, lebih lagi saya juga bukan orang yang sering dibilang normal. Plus, jangan lupakan saya suka ngomong yang berlebihan, supaya berkesan puitis, melankolis, tragis, romantis, manis, rhomairamais, hiperbolais dan pokoknya dramatis. Plus lagi *kaya pijet aja pake plusplus* biasanya orang yang saya bicarakan ini tidak baca blog, makanya saya berani nulis-nulis di sini =).

Ceritanya, di lingkungan kerja, saya punya banyak kolega yang juga ibu muda. Saya pingin tanya nih, seberapa sering sih ibu-ibu ini bicara tentang anak-anaknya? Saya sering sekali ketawa garing dan celingak-celinguk ke kanan-kiri, atas-bawah, WC-ruang tamu, langit-langit dan tegel kalau obrolan yang dilontarkan orang di sekeliling saya melulu tentang anak-anak mereka.

"Si Sasya ini suka sekali nyuruh guru lesnya masakin buat dia, kalo guru lesnya dateng, dia bilang 'laper...laper...' sampe si guru gorengin telur buat dia,"
"Pinter ya Bu, biar lesnya gak lama-lama,"
"Iya, satu setengah jam belajar jadi tinggal satu jam aja,"

"Kalau anak saya, baru sepuluh bulan, sudah tahu namanya sendiri,"
"Oya? Jadi kalau dipanggil nengok gitu?"
"Iya, padahal namanya panjang, Arwendi Buwono Santosa. Dipanggil 'We..We..Wendi', nengok. Dipanggil 'Buw..Buwon..Buwon' nengok juga. 'Antos...Antos..Santos...Atos...' dia juga tahu," kata si ibu dengan muka kembang kempis *seolah anaknya menang olimpiade gundu*

"Anak saya, kalau sudah seneng sesuatu, gak bisa dibujuk untuk suka yang lainnya. Misalnya suka sepatu yang pink, sudah saya rayu-rayu ganti yang merah karena ukurannya lebih pas, tetap tidak mau,"
"Wah, kalau anak saya bukan sepatu, tapi makanan. Kalau yang masak bukan saya, dia tidak mau,"
"Anak saya cuman suka sama pembantu yang tua. Mungkin keibuan kali ya. Kalo sama yang muda-muda kan suka dicuekin, ditinggal nonton sinetron saja,"
"Anak saya sukanya musik. Kaya papahnya. Jadi kemarin saya sudah beliin dia piano-pianoan kecil yang bisa bunyi,"
"Umurnya berapa sih Bu?"
"Baru tiga tahun,"
"Wah hebat ya. Anak saya juga hampir empat tahun, sudah keliatan suka sama nari balet,"
"Dileskan saja Bu,"
"Dimana?"
"Itu ke guru les yang bisa sekalian gorengin telor..."*)

*)kalimat dialog terakhir ini rekayasa saya pribadi.

Kejutan untuk pemirsa, dialog diatas sudah sangat amat saya persingkat sekali, plus diedit ketat *masa sih masih kedengeran gak penting?*. Karena kalo direkonstruksi ulang, dialog tersebut sebenarnya memakan waktu lebih dari 30 menit. Pokoknya berada disana jadi membuat saya rajin bekerja, karena kerjaan jadi keliatan lumayan tidak membosankan. Pasti pada mikir, itu karena saya belum punya anak sendiri. Tidak juga. Dua orang teman saya yang lajang juga ada di situ, tapi mereka tertawa, menanggapi, berkomentar, bertanya, dan mangut-mangut menikmati percakapan para ibu-ibu muda tadi. Jadi? Kesimpulannya: salah saya. Seharusnya, kalau saya tidak menikmati, saya bisa pura-pura permisi ke kamar mandi kemudian menghabiskan sisa waktu break dengan jogging di koridor. Atau main catur ama bapak satpam di pintu depan. Atau main kartu 1 babak sama tukang anter galon aqua. Atau puter badan, buka laptop dan nulis blog. Betul juga. Daripada mengeluh tentang kaum ibu yang bangga, yang sedang bicara dengan antusiasme ala Bung Tomo tentang buah hati mereka. Bukan salah mereka.

Tapi karena saya orang yang kuper tapi pingin gaul, saya mendambakan lingkungan sosial yang mendukung. Jadi kalau boleh saya sarankan, ada beberapa topik yang bisa dibicarakan selain anak-anak selama 24/7. Saya punya beberapa ide yang bisa saya bicarakan dengan semangat tujuh belas agustus tahun empat lima. Misalnya,
  • Kenapa di kartun Disney, Goofy dan Pluto yang sama-sama anjing; yang satu jadi majikan, yang satu tetep anjing (as himself)?
  • Kenapa Spongebob warnanya kuning?
  • Kenapa di film-film horor itu yang ngesot selalu suster? Kenapa bukan dokter? Kenapa bukan bidan? Mantri? tukang pel rumah sakit? Atau Dokter konsultan bedah saraf?
  • Kenapa ajang pemilihan putri kecantikan sedunia dinamakan Miss Universe padahal tidak ada perwakilan dari planet lain, apalagi galaksi lain? Kenapa namanya gak Miss Planet Earth? (takut dikira acara dokumentasi alam ya?). Atau lagi yang lebih tepatnya, "Miss Nation on Earth who passes the quarter-finals, semi-finals and playoffs"? Kan lebih kliatan semangat kompetisinya gitu lho.
  • Kenapa telur yang digoreng utuh dengan kuning telurnya 2 biji disebut telur mata sapi? Padahal sama seperti ayam, sapi matanya tidak bersebelahan, tapi bersisian: samping kanan dan samping kiri, jadi kalau dilihat dari depan tidak mirip sama sekali dengan telur goreng. *Makanya ada teka-teki kenapa ayam kalo nyebrang jalan gak harus tengok kanan-kiri? Jawabannya: karena matanya udah di samping*. Jadi menurut saya, seharusnya telur ini dinamai telur mata burung hantu atau telur mata manusia, yang sama-sama di depan.
  • Kenapa helikopter bisa naik turun tegak lurus tapi pesawat harus lari-lari di bandara dulu sebelum take-off?
  • Kenapa telur bisa berwarna-warni? Telur ayam cokelat, telur bebek hijau muda? Telur penyu bintik-bintik coklat, telur puyuh bintik-bintik hitam?
  • Kenapa kalau kucing hitam kawin sama kucing putih, tidak semua anaknya belang-belang?
  • Dan sebagainya. Dan seterusnya. Yang kreatip sajalah. *Pasti pada lega karena saya berhenti di sini*. Jangan kuatir, saya ikut kuis Facebook 'Seberapa Waraskah Anda'? Dan jawabannya 'Maaf parameter kami mendadak rusak', not my mistake.
Sahabat terdekat saya anaknya berusia satu tahun setengah. Dia tidak pakai pengasuh dan mendedikasikan waktunya untuk merawat anak sepenuhnya. Saya cukup salut dengan keteguhannya untuk meninggalkan karir demi kepentingan keluarga. Tapi saya lupa kalo ini berarti juga, meninggalkan saya *emang siapa saya ya? haha*. Saya slalu bertemu dengan sahabat kalau saya berkunjung ke kotanya. Kami berteman sejak SD, tidak ada satupun rahasia lagi. Kalau ada apapun terjadi, di ujung dunia manapun saya berada, sahabat saya ini tahu. Dua tahun yang lalu, meskipun dia wanita menikah, kalau saya datang suaminya akan mundur dan membiarkan kami menghabiskan waktu berdua saja, ngobrol sampai dini hari atau pergi ke suatu tempat sampai beberapa hari. Kali ini, ketika kami bertemu, anaknya ikut. Waktu makan jadi disibukkan dengan menyuapi si anak. Belum selesai makan, si anak menangis minta lihat lilin dan lampu-lampu jalan. Sahabat saya jadi jalan hilir-mudik di luar restoran. Saya duduk makan sendirian. Kami berencana untuk bersantai setelah makan malam. Apa daya, si anak rewel karena ngantuk. Dia tertidur di pundak sahabat saya. Kami pun langsung pulang padahal belum tepat jam sembilan. Sahabat saya minta maaf dan bilang kalau dia betul-betul menikmati acara kami barusan. *Yeah, yang benar saja!* Saya jadi pulang terlalu awal, tidak ada rencana lain karena sedianya mau berbicara sama sahabat. Jadilah saya nonton DVD sampai tertidur.

Hari lain saya menelpon sahabat. Waktu itu sudah agak larut, jadi si anak sudah tidur. Kami bicara lama, lebih mendalam daripada waktu ketemuan, karena kami tidak dihalangi lagi oleh botol susu dan lap ingus. Tiba-tiba receiver saya bergemerisik dan eng ing eng...kedengeran suara "mama, mama..." (perhatian:ini bukan adegan filem serem) trus teman saya pamit sebentar dan dari sana kedengeran suara rengekan, lalu teman saya yang bilang, "Ayo, mau nyapa Tante Ria dulu? Halo Tante Ria? Halo?..." Tapi si anak malah meraung-raung sehingga sahabat saya menyerah. Dia bilang, "Aku tidurkan dia dulu ya?" Saya pun tidak ada pilihan lain selain bilang iya. Padahal hati saya pingin teriak, "Tunggu dulu! Bagaimana dengan pembicaraan penting yang kita lakukan? Apa jadinya kalau Tehran tidak menyerah tanpa protes terhadap inspeksi nuklir US? Apa yang didapat dari pertemuan G7 di Pittsburg? Bagaimana nasib tentara di Afganistan?" Itu semua tertelan oleh ratapan pilu si anak di tengah malam nan kelam tak berbintang.

Saya merindukan saat-saat anak ini masih di kandungan atau belum dibuat sekalian, karena waktu itu saya bisa telpon sahabat kapan aja dan langsung jalan ke tempat-tempat tertentu tanpa mikir apakah tempat ini family friendly. Saya bilang sama diri sendiri, jangan egois, masak saya cemburu sama anak kecil? Nggak juga sih, tapi anak ini adalah pribadi yang tidak saya kenal, tiba-tiba saja dia ada dan mengambil semuanya. Seperti orang ketiga. Jadi saya tidak cemburu. Saya cuman kepingin dia menghilang, sekarang! Becanda. Maksud saya cuman kepingin dia bagi waktu sama saya, sedikit saja. Tapi kayaknya saya fighting a loosing battle. Sumprit. Saya tidak anti anak-anak. Mereak itu kan lucu, imut, jujur, polos, manis, menggemaskan dan bla bla. Cuma, kadang mereka muncul di waktu dan tempat yang salah, lalu menyabotase rencana kita tanpa permisi sebelumnya. Tahu kan maksud saya? Misalnya, pas saya mau jalan sama teman saya. Anaknya tiba-tiba merengek minta ikut. Nah, acaranya kan jadi harus diganti ke acara "semua usia" (sesuai untuk manusia umur 0-100 tahun!). Saya jadi agak terganggu.

Saya bujuk si anak, "Kamu boleh ikut kalo sudah selesai nyanyi satu lagu dulu ya?"
"Lagu apa tante?"
"Anak ayam turun sejuta,"
Saya nyaris digampar mamanya!

8 comments:

Vicky Laurentina said...

Suka kasihan sama temen yang punya anak. Kayaknya hidupnya udah tercuri gitu. Tapi punya anak kan perintah Tuhan ya?

Apakah ini tandanya kita iri sama anaknya teman? Apakah rasa itu akan hilang kalau kita punya anak sendiri? Aku nggak yakin, karena pangkal masalahnya bukanlah anaknya teman itu udah eksis atau masih dibikin. Pangkal masalahnya adalah, kita nggak bisa lagi nerima bahwa teman kita udah nggak bisa ngobrol lama-lama sama kita lagi..

*masih manggut-manggut bahwa matanya ayam itu di samping. Kenapa aku nggak pernah perhatikan itu sebelumnya??*

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Betul sih Vic. Masalahnya bukan si anak, tapi keadaan yang berubah, yang mengharapkan saya yang adaptasi. (Keluh!) Bisa nggak sih punya anak tapi tetap bisa kumpul sama teman dan bicara yang gak melulu masalah anak? Aku rasa bisa lah ya? *ayo kasih semangat ke saya!* (Gimana tmn2 yang punya anak?)

Huahaha. Soal ayam itu bnr2 gak penting banget. Cuma mau ngasih gambaran, betapa hal paling gak penting bisa lebih menarik daripada bicara tentang babysitting sepanjang waktu!

jc said...

Helloooo...
Aku jg udh punya anak nih.. tapi aku masih bisa diajak jalan, asal anakku ikut, eh tapi pernah kok aku jalan sendiri, anakku sama papanya.
Dannn.. aku juga enggak terlalu hang around sama ibu2 muda yg punya anak juga cozzzz... yah itu tadi.. ujung2nya kok jadi ngebanding2in anak kita yah? Jadi males juga gitu lho. Cuma ada keuntungannya kalo obrolan sesama ibu2, jadi tahu kalo dokter A itu galak dan dokter B itu mahal tapi obatnya murah dan manjur.
Ya sebenernya kalo mau dipikir-pikir lagi, life always changes kok, dan mau ga mau kita (terpaksa dan dipaksa) untuk mengikuti perubahan, atau kita memaksa diri untuk enggak mau beradaptasi dan hasilnya malah mungkin stress sendiri.
Btw, Kristina bentar lagi married tuh, Ya.. pasti akan ada perubahan juga. Siap?
Hehehe.. Enggak nakut2in lho..

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Kenapa di kartun Disney, Goofy dan Pluto yang sama-sama anjing; yang satu jadi majikan, yang satu tetep anjing (as himself)?karena goofy bisa ngomong kaya manusia sedangkan pluto cuma bisa kaing2
Kenapa Spongebob warnanya kuning?karena kalo warnanya biru dikira sabun batangan superbusa
Kenapa di film-film horor itu yang ngesot selalu suster? Kenapa bukan dokter? Kenapa bukan bidan? Mantri? tukang pel rumah sakit? Atau Dokter konsultan bedah saraf? karena kalo suster kan biasanya cakep2 jadi kalo ngesot2 gitu tetep menarik..coba kalo dokter botak ngesot2 sapa yang mo liat filmnya
Kenapa ajang pemilihan putri kecantikan sedunia dinamakan Miss Universe padahal tidak ada perwakilan dari planet lain, apalagi galaksi lain? Kenapa namanya gak Miss Planet Earth? (takut dikira acara dokumentasi alam ya?). Atau lagi yang lebih tepatnya, "Miss Nation on Earth who passes the quarter-finals, semi-finals and playoffs"? Kan lebih kliatan semangat kompetisinya gitu lho. karena miss earth udah ada..trus miss world juga udah ada...akhirnya donald trump ga mo kalah..dia kasih nama miss universe...biar mengalahkan yang lainnya..dan kalo ntar di planet pluto ada kontes miss universe kan dia bisa jadi promotornya
Kenapa telur yang digoreng utuh dengan kuning telurnya 2 biji disebut telur mata sapi? Padahal sama seperti ayam, sapi matanya tidak bersebelahan, tapi bersisian: samping kanan dan samping kiri, jadi kalau dilihat dari depan tidak mirip sama sekali dengan telur goreng. *Makanya ada teka-teki kenapa ayam kalo nyebrang jalan gak harus tengok kanan-kiri? Jawabannya: karena matanya udah di samping*. Jadi menurut saya, seharusnya telur ini dinamai telur mata burung hantu atau telur mata manusia, yang sama-sama di depan...karena sapi binatang yang imut...coba kalo telor mata kecoa or telor mata kebo or telor mata cacing..orang jadi ga napsu makannya
Kenapa helikopter bisa naik turun tegak lurus tapi pesawat harus lari-lari di bandara dulu sebelum take-off?..karena helikopter orangnya suka menjilat atasan..jadi dia ke atas..sementara pesawat terbang suka berteman jadi dia mo lari2 dulu sekalian kenalan
Kenapa telur bisa berwarna-warni? Telur ayam cokelat, telur bebek hijau muda? Telur penyu bintik-bintik coklat, telur puyuh bintik-bintik hitam?soalnya kalo ga warna warni ntar ga tau bedanya antara telor ayam ama telor kuda (alias telepong kuda)
Kenapa kalau kucing hitam kawin sama kucing putih, tidak semua anaknya belang-belang?..karena manusia yang kulitnya item merit ama kulit putih anaknya juga ga belang2..kalo belang2 ntar kasian..ga ada yang mau

tuh kan..aku masih bisa menjawab pertanyaan2mu yang muskil itu...kalo aku dah punya anak semoga aja ga jadi boring kaya ibu2 pada umumnya,,
di kantorku juga banyak ibu2...makanya biasanya aku menghindari mereka kalo pas mereka dah ngobrolin mertuanya yang ga sayang or anaknya yang rewel...karena daripada joko sembung ga pake sepatu
ntar kalo aku dah jadi ibu muda mungkin aku akan bisa nyambung ngobrol ama mereka..
yang penting dalam komunikasi itu kita mau ga mengerti lawan bicara kita gitu...jadi walaupun ntar aku dah punya anak..semoga aku juga masih bisa membicarakan topik2 laen yang bisa nyambung ama temen2 yang belum punya anak...misalnya ama ria..aku harusnya masih bisa ngobrol soal kenapa ayam berkokok di pagi hari...kenapa lampu bangjo warnanya merah kuning ijo, nggak mejikuhibiniu..kenapa kalo mo makan kerang ga sama kulitnya..kenapa kepiting lebih enak daripada jengkol, dll...

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Hwakakakakaka*asem wetengku kram ki, rak usah nganggo push up*...Kristina wong edan. Tuh kan Jess aku nggak perlu kuatir nek sama si Kristina. Emang sih kayaknya aku lebay, gara2 kepentok ma tmn deketku, tambah kerja bareng ibu2. Tapi aku yakin banyak ibu2 yang tetep asyik dan tetep berpikiran terbuka, buktinya si Jessie tetep nulis blog yang idenya seger dan bisa aku tanggepin juga dengan sepenuh hati (aku pernah baca blog yang isinya melulu tentang anak, sumpa pemuda Jess, ini orang gak ada pekerjan lain apa selain staff peneliti tingkah laku anak LIPI?). Dan aku bertekad jadi ibu yang gak terperangkap dunianya sendiri.

Woi, Kris, iki jawabanku: kenapa ayam berkokok di pagi hari...soalnya ayam itu shiftnya pagi, jadi sore2 sudah tidur (makanya kalo nggak bisa liat di tempat gelap dibilang rabun ayam), trus berkokok buat lapor kalo dia udah masuk kerja. Kalo yang shiftnya malem kan burung hantu, kalong dan Mas Betmen. Pembagian ini ditetapkan dengan sukarela, tanpa paksaan dan sudah dengan persetujuan si ayam.
kenapa lampu bangjo warnanya merah kuning ijo, nggak mejikuhibiniu..Takut ketuker ama klub homo (kan lambangnya pelangi). Trus juga plangnya jadi kepanjangan kalo 7 warna, 3 warna aja sudah salah2 arti(hijau:jalan, kuning: cepat kebut keburu merah, merah:kalo udah nanggung ya mending tancap gas daripada ditubruk dari belakang), kalo 7 tambah parah nanti!

kenapa kalo mo makan kerang ga sama kulitnya..Yah ini mah sama kaya kenapa makan duren nggak sama kulitnya.

kenapa kepiting lebih enak daripada jengkol...karena kepiting bisa rasa jengkol kalo masak kepiting cah jengkol, tapi jengkol nggak bisa rasa kepiting walopun pohonnya diatanem deket laut!

Anonymous said...

Hahaha, asli… gw suka sm tulisan ini… ga tau suka dmn nya. Bahasanya spt ada kekecewaan, benci, & ky ga bs terima keadaan tp berjuang unt tetap bertahan… Keren!!!

-Petter-

Sri Riyati said...

Maacih Pit! *Sebenernya aku salut lho, kenapa si Pitik Head ini mau2nya baca blog. Dari dulu aku punya pacar udah aku palak pun masih ngeles kalo suruh baca blog*

Jadi salut juga buat Pitik Head! Hidup Pitik!

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

ria..lah pacarmu mumetlah kalo disuruh baca blog yang bahasa indonesia...iso2 deen nganggo google translate juga tetep rak ngerti

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p