Wednesday, October 7, 2009

Kecanduan Facebook, Amankah?

Sudah lumayan lama sejak facebook, messenger dan twitter jadi sangat populer di negeri ini. Sejak itu semua HP jadi berfitur internet, ditambah lagi dengan booming blackberry (atau yellow duren?=p. Jayusnya kumat) yang makin menguatkan kebutuhan akan jaringan dunia maya di sekitar kita. Saya bahkan yakin 99% teman-teman saya, dari orok(?), TK, SD, SMP, SMU, kuliah dan sampai sekarang, punya akun facebook. Kalau saya bisa agak gaul sedikit, saya percaya akan punya tujuh ratus sekian teman di facebook (benar-benar teman atau??! Agak disangsikan sih).

Kesibukan orang tiap hari jadi buka HP dan onlen. Perbarui status tiap beberapa detik, oh maaf ini hiperbola, maksud saya tiap beberapa menit=D. Saya jadi mulai merasakan kecanduan. Kalau tidak terhubung ke internet dalam beberapa hari rasanya gatel-gatel, panas dingin dan gejala-gejala gangguan pencernaan yang lain (perut kembung, sering kentut dan laper=p). Dan begitu buka facebook saya akan melihat
notifications yang jumlahnya puluhan. Home saya penuh dengan status teman-teman yang berubah tiap kali saya balik ke halaman itu. Selama saya nulis blog ini pun, bisa dipastikan sudah sekitar 10an teman saya yang memperbarui statusnya. Ini kaya fenomena Skype (tertulis: 11,488,982 people online, tiap kali saya buka angkanya selalu berkisar segitu digit). Saya tidak pernah buka forum chat, soalnya saya selalu kewalahan. Bukannya saya populer atau banyak utang *hihi*. Saya cuma sekedar gaptek. Dulu waktu pertama kali terdaftar di Facebook, kira-kira dua setengah tahun yang lalu (astaga, itu kan belum lama ya, jaman cepat sekali berubah!*komentar emak-emak banget sih*), Facebook belum sepopuler sekarang. Waktu itu masih jamannya Friendster. Teman saya di facebook cuman beberapa puluh saja dan saya masih mendapatkan email setiap kali ada perubahan di facebook.

"John Doe confirmed you as a friend on Facebook,"
"Jane Doe commented on your wall post,"
"Mr. Joko something (bukan sembung, catet!) is no longer listed as single,"
"Ms. Siti something added you a a friend on Facebook,"
"Miss Tuti Astuti Teliti Melati Mewangi Sepanjang Hari wrote on your wall,"

Saat itu tiap komentar, perubahan status dan bahkan superwall *ya ampun tuh aplikasi sudah nggak pernah saya tengok lagi, isinya melulu sampah* masih saya lihat, baca dan tanggapi. Karena teman saya masih sedikit dan kebanyakan orang-orang yang benar-benar saya kenal, tapi susah dijangkau karena alasan jarak, waktu atau perbedaan hemisfer. Tapi sekarang? Saking banyaknya yang komentar dan memperbarui status, saya memindahkan semua email dari facebook ke spam. Harus saya akui, surat beneran saya kan nggak sebanyak sampahnya jadi sekarang saya agak kesepian karena inbox saya kosong (ngecek inbox juga tiap lima menit. Siapa juga yang mau email saya segitu sering? Tukang kredit, tukang jualan asuransi, atau tukang tagih rekening bulanan mungkin?). Tapi intinya, saya jadi tidak seantusias dulu membaca perubahan di facebook. Bagaimana tidak, isinya kebanyakan yang beginian melulu:
"malam minggu ini sendiri, kangen dirimu deh..."
"Cepat pulang, ya sayang..."
"Lagi di...." *sangat spesifik sehingga bisa diupdate cepat, misalnya WC, pintu masuk, lift atau ruang tunggu. Jadi bukan di Jawa, di Indonesia, atau di planet bumi/dunia, gitu kan nggak bakalan diupdate karena nggak pindah-pindah*
"ahhhhh...capek..." dengan variasi "Hufff capeknyaaaaa", "ih cape deh", "lelah...capek...habis xxx"*ini maksudnya urusan pribadi si empunya facebook, entah itu nimba, nyangkul ato nyuci*, "Feel tired" "Pijat capek tenaga pria" *eh salah, kalo ini iklan tukang pijet*.
"Sebentar lagi..." "Nggak sabar untuk..." "H-sekian" "Aduh kapan ya...?"
"Wish me luck" "Semangaaaat!!!!" "Terima kasih" "Akhirnya..."
De el el, De es be. Bukannya saya bilang ini semua nggak penting, yah terserah kan mau nulis status apa. Tapi yang baca kan jadi nggak semangat mencet page roll down. Memang ada sih status yang lucu, menarik, atau memberi info penting (kadang malah jadi iklan baris: dibutuhkan cpt. S1/D3skrtrs. hubHPxxx. gaji nego). Tapi pada umumnya saya bilang sih itu kebanjiran informasi.

Sisi lain dari fenomena Facebook adalah, saya jadi jarang bicara langsung dengan orangnya. Tinggal lihat status facebook, begitu katanya. Saya sebenarnya cukup bersemangat waktu mau ketemu teman lama jaman SD dulu. Tapi begitu udah saling add friend di facebook, malah jadi mati gaya karena nggak ada bahan pembicaraan. Kan saya udah tahu kalo dia sekarang anaknya tiga, kerja di perusaaan swasta dan istrinya orang Sunda. Jadi apa pertanyaan untuk memecah kekakuan (ice-breaker)? Masak langsung nanya, "jadi hubunganmu dengan kakak mertua bagaimana?" hanya karena info ini tidak tersedia di facebook. Saya masih menikmati surat pribadi yang personal, yang bisa bicara dari hati ke hati. Memang sih resikonya saya nggak bisa berbagi dengan empat ratus sekian orang (kaya jumlah teman saya di facebook). Tapi itu lebih manusiawi. Yang paling saya hargai adalah surat betulan dari kantor pos (hayo, pasti ada yang ke kantor pos terakhir kali cuman buat ambil gaji PTT doang), lalu email dan sisanya messages di tempat-tempat lain yang tidak dibaca oleh semua orang. Bukannya saya tidak suka kalau ada yang menulisi wall saya, saya cuma bilang ini prioritasnya. Kadang, saya merasa facebook itu kurang personal dan kaya pasar rumpi ibu-ibu RT saja. Belum lagi kalau diantara teman-teman itu ada yang mantan pacar, pacarnya mantan, mantan gebetan, mantan penggemar, mantan pemain sepakbola *ini intruder*. Kadang saya merasa tidak nyaman karena info kita dibeber habis. Bukan karena saya bermasalah atau apa, hanya saja ada hal-hal tertentu yang saya tidak ingin diintip orang. Tapi ini agak susah sekarang karena kita terbuka untuk ratusan orang teman kita di manapun berada lewat facebook. Cobalah google nama kita. Daftar teratasnya biasanya akun facebook (100% kecocokan). Makanya ada banyak orang tidak mendaftar dengan nama aslinya, ini saya juga mengerti. Sejujurnya, profil facebook saya bukanlah CV terbaik saya. Tapi tentu saja kita nggak ingin berlaku jaim di depan teman-teman terdekat kita. Paling menjelaskan masalah ini adalah foto.

Foto yang diupload teman-teman kita jadi seperti portofolio kita. Padahal foto ini tidak selamanya adalah gambar yang paling ingin kita perlihatkan ke orang lain. Dulu saya mengupload foto sebagai alat untuk berbagi pada teman dan keluarga saya di rumah waktu saya sering bepergian. Tapi sejak facebook sangat marak, saya sering mendapati diri saya di-tag dalam pose yang enggak banget (e.g. ngupil, garuk-garuk, melongo, ngesot). Kalo saya remove tag kadang keliatan nggak asyik banget, I look so vain. Dianggap jaim lagi. Tapi ya itulah, jadi banyak foto haha-hihi yang menghiasi halaman facebook. Kadang itu menghibur, kadang kasian aja sama yang buka halaman saya. Orang saya aja bosen liat muka saya sendiri kok. Saya ingin foto saya itu ada ceritanya, foto yang eventful. Bukannya sok national geographic; hal-hal sepele di sekitar saya juga bisa jadi menarik kalau ada cerita dibaliknya. Misalnya waktu saya melihat kepompong yang baru keluar kupu-kupunya di tangkai pohon mawar. Saya belum pernah melihat ini secara nyata dan langsung, jadi saya senang sekali. Langsung ambil kamera. Tapi kalo foto sampai sepuluh kali pas makan-makan atau kondangan dengan orang-orang yang sama cuma ganti gaya? Maaf ya temen-temen *saya tahu kalian juga jarang baca blog kecuali saya paksa haha* tapi saya agak malu waktu foto ini diupload semua di facebook. Dan saya di tag sepuluh kali. Gigi saya sampai kering. Saya mungkin punya aura selebritis sehingga pada seneng foto-foto sama saya (asli model Trubus).

Jadi, kembali ke masalah kecanduan, apakah baik kita stay tune di facebook atau twitter? Biar langsung ketahuan kalo kita tiba-tiba diculik teroris/alien? Saya nggak mau menghakimi dondong opo salak, bener atau salah. Lha orang saya juga kecanduan blog. Saya bisa menghabiskan berjam-jam baca-baca blog atau surfing di depan layar 12" laptop saya! *saya bener-bener butuh pekerjaan sungguhan nih, segera!* Yang saya pingin bilang itu jangan lupa pada kehidupan nyata. Jangan lupa pentingnya ketemu muka, bicara dan tatap mata. Dan tetap sisihkan untuk menikmati waktu buat diri sendiri. Bagi saya ini penting. Soalnya saya gampang terbawa suasana. Terakhir, kalau ngenet jangan cuma update status di facebook saja. Masih banyak hal lain yang menarik atau mungkin malah berguna. Seperti misalnya cari tiket murah atau ngumpulin resep masakan nusantara *mental ibu RT* Facebook memang membantu juga, tapi kehidupan sosial kita tidak terbatas cuma di dunia maya.

8 comments:

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

hoi money eye...hahaha..ketokE kowe kok dendam karo wong seng kecanduan facebook :p.mugakno statusmu none..aku rodo kesindir ki asale aku sehari mesti update status fb. kecanduan fb kuwi pancen berbahaya si asale nek dewe online terus pas lagi jam kerjo mesti konangan bos (nek bosE dewe juga dadi konco neng FB) trus dewe jadi terbatas nek pak nulis status seng misuh2i bos. mugakno nek aku nulis status mesti rak ono hubungane karo misuhi bos or wong2 seng bakalan moco fb ku.
fb menurutku bermanfaat juga soale nek dewe dipisahkan jarak dan waktu kan jadi tetep iso berkontak2 ria (ria maneh) trus iso ngerti saiki raine koyo opo jadi nek ketemu neng dalan iso ngenali.

nah masalahe nek wes tiap detik update status kuwi...jenenge wes kecanduan. segala sesuatu seng berlebihan kuwi ora apik..dan nek setiap detik iso ngubah status neng fb kan pertanda elek kuwi...berarti wongE rak ono kerjaan..(dodol anggur karo kentang) tapi rak duwe blog (ora nyindir kowe lho hihihi) or wongE ke butuh perhatian...rak ono seng takon si deen lagi ngapain..jadi yo deen ngei pengumuman wae wes nek deen ki isih ngapain...:p

peace...

Sri Riyati said...

Haha. Kesindir sih, tapi pancen bener kuwi Kris, aku rak nulis status terus tapi ngeblog terus, hwahaha. Soal bos kuwi, no comment. Mnrtku kita kudu nggawe account liyane sing nganggo nama samaran khusus nggo misuh2, sing di jadiin friends cukup orang2 terdekat yang gak mungkin kerja bareng haha. Trus sing pingin tak sindir2 maneh ki kuis2 ning Facebook kae, sing "Dimanakah anda seharusnya tinggal?" Trus mengko metune jawaban, "Rome, Italy," Atau "Sidney, Australia," halah! Rak masuk akal banget sih. Mengko nek kowe ngisi kuis iki mesthi hasile "anda sebaiknya menggembalakan kambing gunung di Skotlandia," Nek aku mungkin, "Sebaiknya beternak biri2 di New Zealand," Lha papahku mungkin "dodolan emping wae ning Limpung Om!"

Trus ono maneh kuwi game online. Dari sing mafia wars sampai farmville yang selalu diposting di home. Sopo juga sing peduli nek ono sapi ilang? Atau berapa stat musuh kita? Wes lah bener2 akeh wong pengangguran. Sampai posting blog wae tabrakan. Hahaha...Pisss Kris. Love you full muah2

duniaira.blogspot said...

buat dua perempuan kayaknya nasibnya sam kayak aku. Cuma aku nggak punya temen sampai ratusan. soalnya aku cuma add atau cofirm temen-temen jelas yang aku kenal dan aku ketahui atau yang penting buat aku untuk dihubung. Malah FB ku full dengan temen-temen media. Jadi dapet berita langsung dari nara sumber kayak koran fesbuk, peduli rakyat, radar, jawa pos dan lain-lain. Maklumlah aku mantan wartawan..jadi temen-temenku rata-rata juga wartawan yang up date berita terus di FB
Ada juga sih temen-temen yang nulis p date yangg nggak penting dan aku langsung ilfil dengan nekan hapus....kejam banget kan....
ternyata FB ak seindah Blog....karena di blog aku bsia lebih bebas.....lepas dan tertawa hahahahahahahahaahha

jc said...

Wah, he-eh aku yo kesindir iki.. wkakakak. Tapi aku ora pernah nulis *lagi di...* atau nyari sapi ilang, atau main mafia war kok Ya..
Tapi aku memang onlen terus nek pas neng kantor, tapi sumpah pemuda aku ora update status tiap detik/menit sekali. Sumpah pemuda, Ya! Sumpah pemuda!

Sri Riyati said...

Halo Aira, wah kalo wartawan mungkin lain ya, informasi memang dibutuhkan sebanyak-banyaknya. Jadi memang butuh buka mata, telinga dan segala alat komunikasi lebar2. Jessie, iyo aku percoyo rak tiap menit. Kan kowe ra dodolan anggur karo kentang koyo aku yo. Haha. Sampe ngupdate blog tiap hari saking nganggure. Tapi mulai wulan ngarep ketoke rak bakalan iso maneh. Aku ambil 3 kerjaan sekaligus (CPNS jare harus kerja sampingan=P). Lah aku sebenere ra nyindir2 kok, kuwi kan cuman karena aku bosen, dadi aku mbukai facebook terus. Jadi sebenernya yang kecanduan facebook itu AKU, akibat nganggur. Tapi emang facebook kuwi ra sepenuhe aman. Tmnku ditolak dari kerjaan krn she passed a joint. Itu dianggep possesion of drugs. Lhah kuwi nembe masalah wes. Jadi silakan ngupdate status, aku ra nganggep kuwi elek kok (kecuali nek diubah tiap detik karena terlalu nganggur) ^_^

Vicky Laurentina said...

Yang terakhir kali ke kantor pos buat ambil gaji PTT itu aku, hahaha!

Barusan aku cek FB-ku, temanku udah 600-an. Aku bangga coz aku kenal semuanya. Aku tau mereka kerja di mana, istrinya ada berapa, kalo Lebaran mudik ke mana. Mestinya temen itu ya kayak gitu dong, bukan random add doang..

Paling bosen sama isi-isi Wall yang baru main game. Bener deh, Ria, siapa sih yang peduli kalo baru keilangan sapi??

Aku sendiri nggak pernah kecanduan Facebook. Lebih fokus ke blog. Tapi aku make Facebook buat menggoda orang buat buka blogku, dengan Notes, Link, dan Profile. And it works!

Paling sebel kalo orang suka komentar sembarangan di status update orang-orang. Saking sembarangan komentarnya, isi komentarnya suka nggak nyambung sama statusnya. Jadi keliatan banget deh hasrat kepingin nampangnya, hahahah..

Sri Riyati said...

Iya sih, sebenernya blog lebih asyik daripada facebook, karena kita bisa hina-hina facebook di blog. Hahaha. Ah Vicky, jangan bohong kau, terakhir kan dikau ke kantor pos buat kirim surat untuk suami istri di Pulang Pisau dulu...hehe, aku ngikutin lho ceritanya. Aku juga masih korespondensi lewat pos, ada yang kirim surat dengan gambar, bunga2 kering dan foto. Menurutku ini pribadi banget sifatnya, jadi aku salut sama teman2 yang begini. Tujuh ratus? Brarti gaul dong kaya prediksiku di paragraf pertama hahaha...

Ooo jadi orang2 itu ngomentarin cuman buat nampang doang?? *katrok mode on* Tiwas aku pikir ini orang entah demen banget bergaul atau mantal stalker...

Fanda said...

Pertama, aku ga kecanduan FB kok!
Kedua (kok kayak pidatonya pak SBY aja...), memang krn keadaan, aku jd kehilangan wkt sosialisasi dlm dunia nyata. Bagiku, dunia maya sangat membantu. Bayangin, jam 7.15 aku dah nyampe kantor. Plg sampe rmh jam 6 sore. Udah capek, dan sambil nunggu wkt makan malam ngobrol dgn ortu. Hbs makan malam ngerjain usaha sambilan hingga wkt tidur. Sedang di ktr stafnya hanya aku sendirian.

Akuilah, jaman sdh berubah, itulah kenapa ada dunia maya. Krn manusia sdh ga mampu lg menyeberangi tempat dan waktu utk sekedar ngobrol dgn manusia lain yg bkn anggota keluarga dan sopir/pembantu!

Terakhir (untung ga ada terusannya lagi..), updateku di FB selalu bermutu kok, bkn sampah melulu. Jadi...confirm aku sbg friend ya!! (maksa nih)

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p