Friday, October 2, 2009

Pernahkah Melihat Kelinci di Bulan?


Dua hari yang lalu saya ketemu adik-adik kelas saya yang manis-manis (ehm!) dan gatel-gatel. Kami dulu teman satu kost di Semarang. Kami pun bicara ngalor-ngidul, kiri-kanan, Semarang-Sukorejo dan BlokM-kota PP, sampai berbuih dan berbusa kaya sabun colek cap dua kelinci (ada ya?). Salah satu dari pembicaraan kami yang gak penting, gak aktual apalagi berbobot itu adalah saya bilang bahwa kita butuh break kalo baru lulus dari kedokteran (mereka pada baru/hampir lulus). Alasan saya, dari dulu kita sekolah terus, TK-SD-SMP-SMU-UMPTN-kedokteran-koass-PTT-spesialis. Wajar kalau kita pilih sehabis kuliah, karena jatah umptn *apa sih istilahnya sekarang? spmb ya?* cuman boleh diambil maksimal 3 tahun setelah lulus SMU dan cuman 3 kali berturut-turut boleh dicoba. Setahu saya sih begitu. Entah kalau peraturannya berubah. Jadi kita tidak ada kesempatan nunda-nunda dulu masuk universitas. Tapi kalau sesudah lulus langsung nyebur spesialis atau apalah pilihan kita, kok rasanya masa muda jadi habis buat mengejar karir ya? Kecuali, memang sudah tahu persis apa yang kita minati. Itupun menurut saya, masih kurang 'seimbang'. Kita memang sukses secara akademik, mungkin juga finansial, tapi apa ya cukup itu? *aduh, bisa dipisuhi orang kalo nganggep jadi sarjana profesi kok masih ngerasa nggak cukup* Maksud saya, apakah tidak ingin tahu apa ada pilihan lain diluar itu? Di luar siklus sekolah-berkarir-nikah-beranak? Bukan, ini bukan gerakan modern atau new-age atau apa, ini cuma pikiran saya sendiri. Kita sudah biasa ngikut orang. Adek ngikut kakak. Anak ngikut orang tua. Tapi bagaimana kalau kita tiba-tiba ingin cari jalan sendiri? Berpikir di luar kotak? Kalau sekali saja mikir, "Bagaimana kalau...Bagaimana seandainya..." dan kita menjajaki kemungkinan yang ada? Inilah alasan saya untuk sejenak lepas dan berhenti dari siklus. Saya ingin melihat sesuatu yang baru. Seperti misalnya, kelinci di bulan.

Menurut hemat saya, kita selalu merasa dikejar-kejar. Dikejar umur, dikejar kebutuhan, dikejar calon mertua. Pasti tidak asing pertanyaan, "Kapan kawin? Sekarang praktek dimana?" didengar dari tetangga-tetangga. Fase kesel atau bosen sudah saya lewati, jadi biasanya jawaban saya kopi paste saja jadi, "Masih sama seperti jawaban kemaren, tante," *paling banter dikira sakit sarap* Kita betul-betul didesak untuk saling mengejar, saling berlomba. Mengejar apa? Tidak satupun tahu. Tapi karena yang lain berlari, kita latah ikut jogging karena takut nggak kebagian.

Saya pernah ditanya, "Pernahkah melihat kelinci di bulan?". Pertanyaan ini tidak biasa saya dengar sebelumnya, jadi giliran saya yang mengira si penanya sakit sarap. Dia mengajak saya melihat bulan penuh dari atap. Tidak ada pembicaraan lain sesudah itu. Cuma melihat bulan. Langit kebetulan bersih, jadi sinarnya lumayan terang. Yang saya heran, saya sudah hidup dua puluh tujuh tahun waktu itu, saya belum pernah benar-benar melihat bulan. Padahal banyak yang menggunakan bulan sebagai pedoman: penanggalan jawa, cina dan arab. Orang yang pergi melaut. Menentukan 1 Ramadhan. Siklus haid. Dan sebagainya.

Intinya bukan melihat bulan. Kita hidup di jalur cepat. Kadang semuanya membuat kita sibuk, dan saya tidak bisa bilang itu salah karena kita semua dituntut untuk selesai secepat mungkin. Lulus segera. Laporan rampung segera. Datang ke kantor segera. Kejar tayang. Pokoknya cepat. Kilat. Instan. Ini membikin kita lupa untuk melihat pohon berbunga sebelum berbuah, pagi berkabut sebelum cuaca memanas, ayam bertelur sebelum ada anak-anak ayamnya. Joko sembung bawa kursi. Yang saya pingin berbagi adalah, jeda itu perlu. Kita tidak pernah akan jadi tertinggal kalau kita mengambil waktu untuk "mengalami" bukan sekedar "melewati". Kalau mengambil istilahnya Stephen Covey di bukunya 7 kebiasaan, ini adalah fase mengasah gergaji. Jadi, sudah pernahkah melihat kelinci di bulan? Tengoklah ke atas langit nanti malam, ini masih bulan agak-agak penuh. Lebih asyik dilihat aslinya, gambar saya cuma untuk membantu berimajinasi saja.


8 comments:

Kabasaran Soultan said...

Ada satu quotenya Alberts Einstein yang aku suka ... “ Fantacy is more important than knowledge, for knowledge is limited “.
Seringkali memang kita terjebak ( baca dijerumuskan ) oleh keberbudayaan yang cenderung mendorong kita kepada hal-hal yang sifatnya menekan, berlomba, berpacu bahwa seakan-akan esensi dari kehidupan ini adalah itu.

nice sharing

sibaho way said...

perkembangan teknologi untuk memenuhi kebutuhan akan WAKTU. nilai apapun saat ini selalu terkait dengan HARGA WAKTU.
Kita tidak membeli magic jar (emak-emak banget yak :D ) tapi membeli waktu memasak yang cepat dan tidak perlu pengawasan (otomasi). Kita tidak membeli tiket pesawat, tapi membeli waktu perjalanan yang lebih cepat. Dan kita tidak membeli obat sakit kepala, tapi membeli waktu cepat untuk menghilangkan sakit.
dan suatu saat kita akan membeli waktu yang cepat untuk sampai ke bulan untuk melihat kelinci :))

salam,

Sri Riyati said...

Iya betul Pak Soultan, sebenarnya saya waktu bilang gitu sama adik-adik kost saya juga mereka menyanggah, "Kita nggak bisa lepas dari budaya. Coba kalau jaga UGD dan kehujanan pasien, masa bisa ngeliat kelinci dulu?" Makanya saya bilang, "Kluar dulu lah dari UGD,"

Buat Sibaho, iya, untuk membeli waktu (atau kebebasan ^_^) memang ada harga yang harus dibayar. Tapi kalau kita ngejar uang terus, kita tidak bisa lagi beli waktu yang sudah terbuang. Kita tidak membeli rokok atau kopi, tapi kita beli "break" ketika kita ngerokok atau ngopi sambil ngerumpi (Bapak-bapak banget yuuuk). Waduh, omongan saya nyambung gak sih??? Haha. Kalo udah ketemu kelinci di bulan, bilang-bilang saya ya?

Vicky Laurentina said...

Pertanyaan yang saya bosen sekarang: "Kapan kawin?" "Sekarang praktek di mana?"

Terus, kalo udah kawin, mau apa? Punya anak? Apa hidup kita berhenti di situ?

Memangnya kenapa kalo saya jawab praktek di mana. Mereka nggak akan kasih saya income ekstra coz kalo mereka berobat udah pasti saya kasih harga teman, hahahah..

Kalo ada yang nanya saya kepingin jadi apa, saya yakin pertanyaan itu akan saya jawab dengan lebih respek. Saya mau jawab, "Saya kepingin keliling Indonesia." Tapi saya rasa saya juga akan dituduh sakit sarap.

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Haha. Betoel Vicky. Kalo kata Ayu Utami di bukunya Bilangan Fu, kita bete ditanya-tanyain karena pertanyaan itu mendoktrinasi. Mereka nanya bukannya pingin bener2 tau keadaan kita, tapi lebih ke menilai atau menghakimi *kadang2 sih, tidak selalu*

Gimana kalo kita sama2 dirikan PSSSI (Perhimpunan Simpatisan Sakit Sarap Indonesia?)

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

iya..banyak orang lebih berorientasi ke hasil, bukan prosesnya..misal dulu pas kuliah disuruh cepet2 lulus..padahal kalo dah lulus cepet2 malah nyesel karena kuliah lebih enak dari kerja...aku yang udah kerja kadang2 pengen kembali ke masa2 kuliah yang menyenangkan..ga terikat waktu di kantor dan lembur2...tapi ya gimana...hidup tetep harus berlanjut...makanya harus menikmati hidup..biar pas tua ntar ga nyesel ya..misal selagi muda makanlah yang enak2 karena kalo dah tua harus jaga makan, selagi muda sering2lah foto buat kenang2an kalo dah tua kan keriput...trus sering2lah bersama2 dengan orang2 yang kita sayangi...karena waktu hidup di dunia kan singkat..apalagi banyak bencana nih akhir2 ini....tatutttt

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Sering2lah nulis blog Kris selagi masih dikejar2 deadline laporan pajak, hehe...
Iki Ria

Anonymous said...

Trims udah di ingatkan...
"fase mengasah gergaji"... aku suka istilah itu...
thanks a lot...

-Petter-

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p