Tuesday, January 13, 2009

"100 Years"

Aku termasuk orang yang paling nggak paham soal musik. Kalau ada lagu yang aku tahu, temen2ku bakalan tidak segan-segan ngasih selembar sepuluh ribuan (kan ngamen sekarang nggak pake cepekan), karena saking jarangnya. Tapi lagu ini termasuk satu dari beberapa lagu yang aku tahu, selain Balonku dan Garuda Pancasila tentunya. Lagu ini aku pakai buat sekedar nulis renungan tahun baru. Kalo ada yang tidak malu bertanya dan tidak sesat di jalan, ini lagunya Five for fighting (bukan five for 10ribu, berarti 1nya cuman 2 ribuan). Aku jelasin barangkali ada orang lain di dunia ini yang senggak-gaul aku, meskipun aku selalu menganggap diriku sendiri mahluk paling unik (baca: aneh) di seluruh permukaan bumi (selain amuba, virus H5N1 dan walang kekek tentunya).

I'm 15 for a moment
Caught in between 10 and 20

And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are

Aku selalu bercita-cita tinggi. Waktu masih kecil, aku pingin bisa nari balet dan pingin jadi astronot. Tapi setelah dewasa dan menyadari bahwa cita-citaku yang setinggi langit berhadapan melawan kemampuanku yang sedalam samudra, bagaikan pungguk merindukan bulan dan maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai apalagi tak kan lari gunung dikejar (apaan coba?), aku memelorotkan cita-citaku jadi apa yang waktu itu kuanggap keren, misalnya ngupil pake tangan kanan tapi ngambilnya pake tangan kiri. Hehe. Bukan, maksudku benar-benar apa yang aku anggap keren waktu itu. Bagi aku yang masih imut binti ingusan, dapet nilai bagus di kelas adalah setara dengan dapet durian runtuh tanpa harus kejatuhan durennya, dan kaya dapet tiket gratis makan buffet sepuasnya. Jadi misiku waktu itu cuman satu: jadi juara kelas. Ini mungkin karena hanya dengan begitu aku dapet perhatian dari orang tuaku yang waktu itu sibuk mungutin duren, baik yang runtuh maupun tidak runtuh. Yah namanya juga masih ABeGe. Waktu SMU bahkan nggak pacaran karena pengen kliatan cool dan keren, khekhekhe. Soalnya kan kalo nggak punya pacar bakalan berkesan misterius dan banyak fans (peringatan: tidak semua yang anda baca ini benar dan strategi ini tidak selalu berhasil. Kadang ini cuman alasan buat orang yang sampe sekarang susah dapet pacar) maupun duren. Kenapa ya aku dari tadi ngomongin duren? Mungkin karena Kristina ngomongin salak dan aku jadi inget lagu "duren opo salak, duku cilik-cilik... ". Cukup ngelanturnya. Kalau aku pikir-pikir lagi waktu itu benar-benar konyol. Waktu ke universitas juga aku bukannya mikir apa yang paling aku pingin lakukan atau aku benar-benar tertarik untuk belajar, tapi cuman untuk menang traktiran soto betawi buat lomba "Siapa paling ngirit bayar uang masuk universitas". Jelas aku menang karena papaku nggak malu nawar gila2an ampe uang bulanannya dan kebetulan masuk negri sebelum ada jalur khusus busway dan jalur khusus truk gandeng. Tapi walhasil aku keburu tua sebelum lulus. Pelajaran yang kuambil: Jangan taruhan siapa yang paling mbayarnya paling murah, karena barang diskonan biasanya ada 'cacat' tersembunyi.

I'm 22 for a moment
She feels better than ever
And we're on fire
Making our way back from Mars

15 there's still time for you

Time to buy and time to lose

15, there's never a wish better than this
When you only got 100 years to live


Sebenarnya, meskipun aku tahu menyesali apa yang sudah lewat itu nggak ada gunanya, aku masih sedikit menyayangkan bahwa aku menghabiskan 6 tahun setelah lulus SMU melulu untuk belajar di universitas. Bahkan kalo ada liburan semester pun aku mengambil semester pendek (SP) bukan buat ngejar duluan tapi buat memperbaiki nilai yang jelek (biasanya banyak yang jelek). Rasanya waktu itu duniaku sempit banget dan apa yang aku tahu cuman sebatas kamar kost, tempat kuliah, rumah sakit, dan persewaan DVD. Hehe. Tidak semua temenku seperti ini tentunya, ini karena aku kadang cenderung autis dan antisosial. Waktu itu karena aku merasa sumpek, pas mau ujian Anak dan lagi nungguin dosen penguji aku malah mikir gimana ya rasanya kalo aku bugee-jumping dari lantai 3 bangsal rawat intensif? (beda lho, bukannya bunuh diri, tapi ngelakuin sesuatu yang menarik, menguras adrenalin dan gak menurut aturan). Selepas universitas aku mulai traveling. Selama waktu inilah aku belajar sesuatu yang tidak pernah aku pelajari sebelumnya, yaitu: bagaimana untuk berpikiran terbuka tapi tetap punya prinsip buat diri sendiri. Keadaan ini hanya mungkin kalo aku menaruh diriku sendiri di tempat yang tidak familiar dan sendirian. Soalnya di tempat yang akrab dengan kita tentunya kita tidak perlu beradaptasi dan kalau ada temen yang sudah kita kenal sebelumnya, kita jadi tidak perlu memutuskan semuanya sendiri. Tapi 'menyesatkan diri' di tempat antah-berantah (misalnya Desa Ninia di daerah lembah Baliem) kita jadi tahu seperti apa diri kita sebenarnya. Bukannya aku langsung jadi orang yang tiba-tiba penuh kepercayaan diri dan selalu tahu apa yang aku lakukan. Ceritanya tidak seindah iklan Ponds. Tapi penuh darah dan air mata kaya film Passion of Christ atau Saw 5. Hiperbola hehe. Intinya, aku belajar banyak karena aku banyak melakukan kesalahan dan kadang itu menyedihkan. Tapi aku sama sekali tidak menyesal karena hidup pasti akan sangat monoton kalau aku tidak pernah mencoba dan cuma ikut arus saja.

I'm 33 for a moment
Still the man, but you see I'm a they
A kid on the way
A family on my mind
I'm 45 for a moment
The sea is high
And I'm heading into a crisis
Chasing the years of my life
15 there's still time for you
Time to buy, Time to lose yourself
Within a morning star
15 I'm all right with you
15, there's never a wish better than this
When you only got 100 years to live


Jangan salah, umurku bukan 33 atau 45 (meskipun aku selalu terima ucapan 'Met Ultah ke-32. Happy osteoporosis!'). Tapi lagu ini memang benar, kadang kala aku takut dikejar waktu. Kayaknya aku selalu merasa kekurangan waktu. Kapan aku mau melakukan ini atau itu dan aku tidak punya banyak waktu. Dalam puisi Desiderata ada kalimat "Take kindly to the counsel of the years, gracefully surrendering the things of youth,". Menurutku, intinya bukan kemana ataupun apa tujuan kita, tapi bagaimana kita menjalani tiap menit dari waktu yang ada. Ketika kita mengejar target, kita kadang lupa pada prosesnya. Kita bisa saja menandai 'selesai' pada tiap-tiap titik di daftar kita. Money, checked. Insurance, checked. Mortgage, checked. Luxurious holiday, checked. Marriage, checked. Well-paid job, checked. Children, checked. Mungkin kita harus mulai booking tanah kuburan (sebelum kepenuhan).

Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We're moving on...
I'm 99 for a moment
Dying for just another moment
And I'm just dreaming
Counting the ways to where you are

Jadi, tahun 2009 sudah dimulai. Aku berusaha untuk tidak terburu-buru, tapi harus maju selangkah (dan tidak mundur selangkah, emangnya main Donal Bebek). Apa yang membuat kita lebih baik? Menyelam ke dasar lautan? Menyebrangi hutan hujan tropis dengan jalan kaki? Loncat dari pesawat di pegunungan Alpen? Although if you did, it wouldn't make you a better person. Jadi, tidak ada jalan lain selain berani melakukan yang benar meskipun yang salah kadang lebih mudah atau lebih menarik untuk dilakukan. Kadang harus menentang arus juga. Tapi buah dari itu selalu lebih manis. Yang terbaik dari itu semua adalah kenyataan bahwa ada yang peduli pada kita tanpa syarat. Meskipun kita melakukan banyak kesalahan, selalu ada pilihan untuk kembali.

15 there's still time for you
22 I feel her too
33 you’re on your way
Every day's a new day...
15 there's still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there's never a wish better than this
When you only got 100 years to live

Jadi, aku bertekad untuk menikmati tiap menit yang berharga yang aku punya. Entah aku kerja, entah aku makan, tidur, mandi atau sekedar nulis yang gak penting di blog. Aku ingin mensyukuri semua yang ada. Lagipula, hanya inilah yang kita punya (ini salah satu indikasi manusia tidak ambisius dan nrimo ing pandum, hehe). Konon kata kura-kura di Kungfu Panda masa lalu itu sejarah, masa depan itu harapan, masa sekarang adalah hadiah karena ini yang kita miliki. Nikmatilah pekerjaan, karena cuma dengan begitu kita bisa menikmati liburan. Even if we only got 100 years to live. Met tahun baru!

3 comments:

wongmuntilan said...

Wah Ria, kalo menurutku kamu sudah melakukan banyak banget hal yang berarti, pernah ke Papua, terus sekarang ada di Eropa (negara mana ya...?) ^^
Mana kamu itu dokter lagi, pasti banyak banget hal berguna dan menarik yang bisa kamu kerjakan dalam hidup ini.
Jia you...!!!

kristina said...

iya memang bener san...ria sudah melakukan banyak hal yang menarik dan ga biasa2 selagi masih hidup. jadi ntar nek udah kakek nenek bisa bercerita ama cucunya kalo dulu udah pernah ngapain aja.

ria...nice article!! aku bacane seneng karena aku sependapat ama kowe. hidup ini jangan dijalani biasa2 aja ntar udah tua nyesel. dan lagune itu aku tau kok..mengko nek sempet aku jadiin theme song yo.

aku lagi sibuk ki...dikejar2..semoga karena dikejar2 terus aku larine jadi semakin cepet (joko sembung bawa meja)

Sri Riyati said...

Santi, makasih banget atas commentnya yang bikin idungku kembang kempis keGe-eRan,soalnya jarang banget ada yang muji. Biasanya kalo ada satu pujian yang datang sekali dalam seratus tahun (kan temanya lagi "100 years" hehe) aku print tulisannya trus aku laminating. Gak aku pajang ntar ketauan Ge-eR jadi aku taruh dibawah bantal buat dibaca tiap malem (itulah knp dilaminating, takut luntur keileran). Aku memang banyak coba-coba melepar manggis, tapi menurutku aku belum betul-betul bisa melakukan sesuatu yang berguna. Di Papua misalnya, aku sering berkeluh kesah karena sulit bahan makanan. Kalo dipikir2 lagi sekarang, aku tuh tmsk orang yang suka banget ngeluh. Sampe tmnku si Kucel bilang, "You won't complain if you don't talk" yang mana jarang terjadi karena aku berprinsip diam adalah emas tapi bicara adalah uang kontan. Kan emas gak bisa buat beli beras. Jadi dengan kata lain dia bilang aku sering mengeluh, yang jelas perbuatan biadab dan tidak berperikemanusiaan (hiperbola, biasa) mengingat banyak orang tidak bisa sekolah dan aku punya banyak kesempatan belajar tapi tetap ngeluh. Aku sedang berusaha, moga2 mulai tahun ini, melakukan sesuatu yang bnr2 berguna buat orang lain dan kalopun sulit nggak mengeluh. Susah banget. Selalu pikiranku "lha untungnya apa?" karena otak bisnis bokapku yang sudah mendarah daging dan menjaringan sel. Bukan salah latar belakang keluarga, tapi karena orang cenderung rakus (spt kata Kristina) dan mudah tergoda. Tmn sekerja kita dapet duit lebih banyak, iri. Kerjaan temen lebih enak, iri. Yah gitulah. Btw aku baru baca artikelmuu bulan Desember tentang "menyukai pekerjaan" ternyata kita sepikiran. Tetep semangat dan makasih buat dukungannya! Kris,aku pak nulis maneh ttg kebelet, tapi ora tak posting sampe kowe nulis juga. Ojo kerjo terus. Hehe. Gut lak laporan pajeknya!

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p