Saturday, February 15, 2014

Kejadian Aneh Season 2

My piece of Australia
Blog ini hampir setahun jualan anggur dan kentang secara tidak pernah ada tulisan produktif..kasian ya sepertinya sudah lumutan untung belum expired. Secara hari ini saya baru mendapat kabar gembira, saya langsung semangat 4567 buat bercerita.Tiga tahun yang lalu saya pernah menulis artikel berjudul Kejadian Aneh yang happy ending. Hari ini saya baru mengalami lagi kejadian aneh yang belum tamat..baru mendekati happy ending. Begini kisahnyaa....

Saya dan Petter, suami saya sering mendiskusikan tentang keinginan2 kami di masa depan..di antaranya ingin keliling dunia, punya pasif income, ga perlu kerja tapi dapat duit dan masih banyak lagi yang kalau mami saya dengar pasti saya dibilang muluk2. Padahal saya sudah sering bilang ke mami Nothing is impossible (ora ono seng ora mungkin) kalau Tuhan berkenan dan kita berusaha. Salah satu keinginan saya yang sudah terkabul walaupun dulu sempat dibilang muluk2 oleh mami adalah bisa tinggal di luar negeri..Puji Tuhan.

Nah tahun lalu Petter bilang kalau dia ingin banget punya rumah..dari dulu ding dia selalu ingin punya rumah karena menurut dia ngekost dan ngontrak itu najis (HBS alias hiperbola sekali) karena bikin kaya yang punya kontrakan. Saya sempet tersinggung juga sih karena mami saya juga masih ngontrak..dulu punya rumah tapi ditipu sodaranya dan rumah disita bank. Namun itu ceritanya panjang dan lebar dan sudah di masa lalu tak usah disesali.  Btw saya nulis artikel ini sambil mendengarkan lagu OST drama korea My love from another star tentang alien yang jatuh cinta sama manusia padahal kalau mereka kissing, aliennya langsung meriang.

Kembali lagi ke laptopnya si Tukul, Petter bilang ingin punya rumah tapi apa daya kami masih banyak tanggungan dan rasanya kok tidak mungkin bisa segera punya rumah. Namun saya bilang, kita pasti bisa punya rumah dalam waktu 2 tahun. Petter tanya gimana caranya, saya bilang tidak tahu gimana tapi pasti bisa. Buat referensi, harga rumah di sekitar sini paling murah sekitar 3 M. Dpnya juga paling sedikit 5% alias 150jt. Dari mana duit segitu, mobil aja masih belum lunas.

Kami berpikir mungkin kami harus mencari kerjaan lebih baik. Sekarang saya masih kerja di panti jompo merawat orang tua dan kerja di dapurnya. Petter kerja di pabrik plastik dan restoran Malaysia yang sering telat gajinya.Dulu di Jakarta kami kerja di bidang Akuntansi namun di oz ini kami ga laku karena mereka mengutamakan lulusan lokal yang belum tentu lebih pintar sebenernya. Demi mendapatkan pengalaman lokal di bidang Akuntansi, kami mencari2 info internship or kursus akuntansi. Hampir ketipu lho sama orang pertama yang bilang kursus dia bagus bla bla bla ternyata tidak meyakinkan.

Puji Tuhan lagi kami menemukan tempat kursus dan internship yang terpercaya. Kami pun daftar ke kursus tersebut sampai sekarang belum selesai. Sambil ikut kursus, kami juga berusaha melemar kerja di bidang accounting lewat internet. Sudah banyak kami mengirim lamaran, dan cv nya pun sudah diperbaiki formatnya oleh guru kursus kami. Namun sampai sekarang kami belum juga mendapatkan pekerjaan. Kami sempat berpikir kenapa ya kok kami belum juga mendapatkan kerja kantoran. Selama ini kami berdoa semoga diberi pekerjaan yang lebih baik. Kami bertanya2 apa rencana Tuhan kenapa Dia berpikir pekerjaan kami saat ini adalah yang terbaik padahal Petter sudah mulai sakit tangannya karena sering angkat2 di pabrik dan saya sudah mulai bosan menghadapi beberapa kakek nenek yang bawel.

Suatu hari tidak biasanya saya kerja berpasangan dengan staff bernama Lu. Biasanya dia kerja sore hari namun hari itu dia kerja pagi bersana saya. Saya iseng bertanya rumah dia dimana, kalau beli rumah bagusnya di daerah mana, dll. Singkat cerita dia mengenalkan saya kepada temannya yang bekerja jadi marketing perumahan bernama Fe. Saya menelpon Fe beberapa hari kemudian dan dia menyuruh saya menelpon Da, seorang mortgage broker alias agen KPR di sini. Da bertanya berapa gaji saya dan Petter, berapa tabungan kami dll. Waktu itu kami tidak punya tabungan yang cukup. Namun Da bilang dia bisa bantu kalau kami memutuskan membeli House and Land Package alias membeli tanah kosong lalu bangun rumah supaya bisa mendapatkan bonus First Home Buyer dari pemerintah OZ sebesar AUD 10000 yang bisa buat membantu bayar2 pajak dllnya. Dan kami bisa mendapatkan pinjaman untuk harga rumah dan tanah sebesar AUD 320000. Karena DP nya 5%, kami harus punya uang AUD 15000. Tapi kami belum punya uang segitu. Kami cuma punya uang 5000. Long story short, Daniel bilang kami bisa beli rumah 6 bulan lagi kalau selama itu kami menabung dan selama 6 bln itu Fe bisa mencarikan rumah dan tanah yang masuk dalam budget kami.

Secara Fe itu marketing, dia semangat banget mencarikan tanah buat kami. Kami bilang uang kami belum cukup. Dia bilang jangan kuatir karena kontraktor tukang bangun rumah tempat dia kerja bisa membantu. Jadi Fe berhasil mencarikan tanah buat kami dan total termasuk rumah harganya 322000. Setelah dihitung2 budgetnya, kami masih kurang uang 10000 an. yang 5rb dpt pinjaman dari adik yang kebetulan banget lagi kerja di sini. kurang 5000 lagi gimana. Kami sudah desperado juga nih jangan2 memang bukan rejeki kami. Kami berdoa terus kalau memang Tuhan berkenan buat kami membeli rumah semoga dibukakan jalan. Fe juga banyak membantu berdiskusi dengan bosnya. Jadi bosnya bisa membantu solusinya. Singkat cerita untuk masalah deposit 5% bisa terpecahkan. Tinggal menunggu KPR nya disetujui atau tidak. Akhirnyaa..jreng 1234567 Selasa kemarin Da kasih kabar bahwa KPr kami disetujui dan hari ini kami tanda tangan dokumen KPRnya. Kalau semua lancar, rumah kami bisa selesai dibangun Desember tahun ini. Perjalanan masih panjang dan masih harus berjuang untuk mengumpulkan uang buat bayar cicilan...

Hore..hore..hore..kesimpulan yang kami dapat dari pengalaman ini adalah:
- Berdoa dan berusahalah..biar Tuhan yang menentukan hasilnya
- Tuhan bekerja lewat cara2 yang aneh...dan keliatan seperti kebetulan yaitu ketika tiba2 saya bisa kerja sama Lu
-Kalau merasa pekerjaan yang sekarang itu kurang baik..pasti ada maksud kenapa Tuhan mau kita tetap bekerja di situ...mungkin karena pekerjaan itu yang terbaik untuk saat ini...Coba saya dan Petter pindah kerja sekarang pasti KPR nya belum tentu disetujui secara kami harus minimal berapa tahun bekerja di tempat yang sama.

Cerita ini belum tamat...kalau rumahnya sudah jadi dan kami sudah pindah di sana nanti saya sambung lagi ya.

Saturday, March 16, 2013

Apakah kita berbahasa Indonesia? (ini kalimat yang baik dan benar lho)

 Alkisah, untuk menambah uang saku selama saya menyelesaikan tugas belajar, saya kerja paruh waktu sebagai...ta-tara-tara: guru bahasa Indonesah! Ini kerjaan yang bagus karena lebih ahoy daripada jadi tukang cuci piring di Mac Donald, tukang iklan supermaket yang pake kostum pisang jumbo ato tukang ngepel di panti jompo. Sebenernya saya juga nggak keberatan jadi kasir loket kebun binatang seperti cita-cita Kristina, tapi sayang pas saya daftar lagi nggak ada lowongan, yang ada cuma lowongan nyebokin gajah karena pawang yang sebelumnya cuti akibat patah tulang karena nggak sengaja kesenggol si gajah pas lagi menunaikan tugasnya. Pingin juga jadi tukang jual es krim karena mobil tukang es krim selalu rame dengan musik-musik riang gembira ala anak2 TK yang darma wisata ke pantai nyiur melambai. Plus kemungkinan dapet sisa es krim gratis. Tapi sayangnya kerjaan ini mungkin bakal ditunda sampai terjadinya pemanasan global karena awal musim semi di sini tiba-tiba hujan salju. Mana laku jualan es kalo kita bisa sesukanya ngambil es gosrok dari cucuran genteng? Sebelum seluruh postingan ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan kerjaan lain yang jelas enggak se-cihuy jadi guru bahasa Indonesia, saya langsung saja ke pokok permasalahan: apakah kita benar-benar bisa berbahasa Indonesia? Sejujurnya, saya bilang, kita bicara bahasa Indonesia sejauh kita paham. Tapi jauh dari benar.

Dilema jadi guru bahasa Indonesia adalah: kalau kita mengajarkan bahasa yang sebenarnya, murid2 kita bakal kedengaran aneh. Mana ada yang bilang ke orang di Indonesia, "Apakah anak anda adalah seorang penerbang?" atau "Semenjak pukul berapakah kalian telah menunggu di depan pintu?" atau "Apakah kucing adik tetangga anda sudah melahirkan tadi pagi?"

Intinya sih, bukan salah kita kalau kita tidak bicara dengan tata bahasa yang baik dan benar, karena yang paling penting adalah pesan yang disampaikan. Susahnya, untuk orang yang baru belajar, kita harus memberikan aturan dan cara baku supaya orang lain bisa memahami bahasa kita. Ada banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab segera karena saya enggak tahu logikanya. Pas saya ditanya kenapa kita bicara seperti itu, rasanya pingin nelpon langsung guru bahasa Indonesia saya dulu buat minta maap karena lebih milih mainan bulat silang dan ayam-ayaman ketimbang ndengerin beliau baik-baik. Ngomong2, dimana gerangan ya guru bahasa Indonesia saya dulu? Pasti sudah tua banget karena pas saya SD dulu beliau sudah sering sakit encok dan rematik. Saya nggak yakin bisa kirim email ke beliau untuk minta nasehat (susah buat ngetik kalo jari2 kita rematik, apalagi kalo pake android, karena tombol2nya kekecilan). Atau ada yang tahu emailnya JS Badudu? Tapi saya yakin beliau terlalu sibuk buat membalas email orang yang nggak dikenal (takut malah dikira email spam buat iklan Viagra).

Jadi, teman2 penutur asli bahasa Indonesia, beberapa pertanyaan yang ditanyakan murid2 saya adalah:
1. Kenapa lawan kata dari tinggi bisa rendah atau pendek, dan lawan dari pendek bisa panjang atau tinggi. (mudeng rak? aku yo bingung)
2. Kalimat tanya dengan jawaban terbuka atau jawaban ya/tidak.
"Apakah kamu sedang membaca?" ya/tidak
"Apa yang sedang kamu baca?" jawaban terbuka.
"Apakah kamu sedang menulis?" ya/tidak
"Apa yang sedang kamu tulis?" jawaban terbuka.
Pertanyaannya: Kenapa kita bilang "membaca" dan lain waktu "baca", atau "menulis" tapi lain waktu "tulis"? Saya bilang kalau tidak mungkin kita bilang, "Apa yang sedang kamu membaca" karena sudah ada kamu sebelum kata kerja baca. Tapi mereka bilang, bukannya kalimat affirmatifnya: "kamu membaca buku"?
3. Perbedaan antara apa dan apakah.
Apa adalah kata tanya untuk kalimat terbuka. Contoh: kamu garuk-garuk apa?
Apakah adalah kata tanya untuk jawaban ya/tidak. Contoh: Apakah kamu lagi garuk-garuk?
Nah masalahnya, dalam bahasa lisan kita selalu nyampur aduk antara apa dan apakah, alhasil saya secara nggak sengaja pake kata tanya "apa" bukannya "apakah". Murid2 saya bingung dan kemungkinan besar mereka bakal memilih pindah kelas ke bahasa Kligon*.

Jadi, kalo temen2 nganggur dan lagi garuk-garuk ketek sambil nonton orang kepleset-pleset di youtube, temen2 boleh bantu saya cari jawaban buat pertanyaan2 di atas. Sayangnya tidak ada hadiah buat jawaban yang benar, karena tukang wesel pos di sini lagi cuti buat nggantiin pawang gajah. Selamat hari Minggu, salam super ala JS Badudu!

*Kligon: bahasa dari film Star Trek: the next generation. Salah satu penutur aslinya adalah Spock, yang telinganya panjang tapi bukan kelinci.

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p