Thursday, December 17, 2009

Pembaca Yang Budiman

"I write because I couldn't help it" - Frank McCourt.

Saya yakin banyak teman saya yang mengerti tentang perasaan ini: puas, utuh, lebih lega, lebih terkendali, lebih jadi diri sendiri, bebas, nyaman atau sekedar perasaan yang terlampiaskan, setelah selesai menulis. Seperti habis buang air besar setelah seharian sembelit. Seperti pelangi sehabis hujan *asyik joko sembung*. Jujur sajalah, karena itu juga yang terjadi pada saya. Saya menulis bukan karena kewajiban, bukan karena numpang beken, bukan untuk unjuk diri, bukan juga kurang kerjaan *meskipun banyaknya pekerjaan berbanding terbalik dengan banyaknya tulisan^_^*. Saya menulis karena saya ingin, saya mau dan saya butuh. Menulis membuat dunia lebih mudah dipahami bagi saya. Menulis membuat perasaan saya lebih tenang. Menulis membuat ide-ide saya nyata dan pikiran saya -meskipun omong kosong- jadi menemukan wadahnya. Menulis membuat saya berani bicara. Menulis, langsung atau tidak, telah membentuk saya sebagai pribadi. Saya tidak bisa mencegahnya.

Saya tumbuh dalam keluarga yang berpikiran praktis. Dengan kata lain, mereka lebih mengerti angka ketimbang kata-kata. Saat saudara-saudari saya terobsesi dengan Tamiya dan Barbie, saya justru terhanyut dalam dongeng-dongeng Perrault dan buku-buku cerita rakyat dari perpustakaan sekolah dasar. Saya menulis ulang dongeng itu dengan kalimat saya sendiri, sejauh ingatan membawa saya. Saya mendongeng untuk anak-anak yang lain, berpura-pura mendengar cerita itu dari orang lain. Cerita itu gubahan saya, ada di kepala saya dan ingin mendobrak keluar. Saya harus menceritakannya. Saya menghidupkan imajinasi saya dengan berbicara pada tanaman, yang saya andaikan rumah makhluk-makhluk kecil yang tidak kasat mata. Saya juga menyimpan makanan dan pakaian ganti di tempat tidur, kalau-kalau nanti malam kasur saya melayang-layang ke angkasa luar. Ibu saya sering marah-marah dan menganggap saya aneh (btw, ini masih berlangsung sampai sekarang. Dianggap anehnya, bukan nyimpen makanannya=p). Saya satu-satunya orang dalam keluarga yang menyimpan buku lebih banyak dari benda apapun, termasuk pakaian/sepatu, di kamar saya.

Saya mulai menulis sejak saya tahu bagaimana menggoreskan huruf di kertas. Mulai dari menulis kisah "Kupit Abu" maksudnya Upik Abu, alias Cinderella, tapi waktu itu saya salah dengar. Kemudian "Raden Kumbokarno" yang saya dengar dari pelajaran Bahasa Daerah. Saya selalu suka tokoh raksasa dan monster ketimbang pangeran dan kesatria. Entah kenapa. Jadi saya suka sekali cerita 'The Selfish Giant'nya Oscar Wilde dan 'Big Friendly Giant'nya Roald Dahl, sampai kadang kedua cerita itu ketuker-tuker. Padahal yang satunya selfish yang lain friendly. Singkat cerita, saya menulis ketika apa yang ada di kepala saya harus disalurkan keluar tetapi tidak ada kesempatan untuk bercerita muka dengan muka. Menulis adalah jalan keluar saya.

Waktu saya ABeGe, menulis buku harian atau diari kesannya agak katrok. Itu karena semua orang mengawali tulisannya dengan, "Dear Diary," kemudian diikuti dengan cerita tentang naksir seseorang, puisi cinta tentang orang yang sama, lagu bikinan sendiri juga untuk orang yang sama dan ditutup dengan gambar daun waru ditusuk panah lengkap beserta inisial nama orang yang sama itu pula. Saya jadi malu kalau ketahuan menulis diari. Tapi masalahnya, saya selalu menulis diari. Saya harus mengeluarkan perasaan, pikiran dan kekacauan hormon pubertas saya lewat tulisan. Berkat tidak adanya privasi, buku harian saya jadi olok-olok dan dibaca orang sembunyi-sembunyi, dengan harapan menemukan nama orang yang saya taksir. Betapa terkejutnya mereka menemukan tulisan saya berbunyi, 'Aku takut mama dilukai. Tadi malam mama minta aku menyingkirkan semua benda tajam dari ruang tidur. Takut kalap, katanya. Kalau mereka bertengkar malam-malam aku jadi kuatir sekali. Aku kira lebih aman kalau mama minta dicerai saja,'

Pernikahan orang tua saya mulai berada di tengah krisis waktu usia saya 11 tahun. Inilah cara saya mengatasi masa-masa sulit, di samping berdoa. Saya juga menuliskan doa saya dalam buku harian. Jadi tidak pernah saya berpikir menulis diari itu cupu. Sebaliknya, menulis itu berefek terapetik. Saya merasa keputusan saya lebih masuk akal ketika keluhan dan perasaan saya yang membabi buta sudah tertuliskan. Saya bisa berpikir jernih. Dan ketika saya melihat kembali tulisan itu, saya bisa mengerti diri saya sendiri. Menulis juga bukti kejujuran. Bukan apa yang ingin didengar orang lain. Apa yang ditulis adalah cerminan karakter yang tidak dibuat-buat. Di bangku universitas saya membaca buku harian Anne Frank, orang yahudi belanda yang sempat bersembunyi bersama keluarganya saat jerman memberlakukan kamp konsentrasi. Saat itu saya tahu saya tidak sendiri. Di mana-mana, bahkan di belahan dunia lain pun, banyak orang seperti saya, yang menuangkan segala sesuatu lewat tulisan (Ok, saya memang tidak menuliskan tentang sejarah perang dunia atau meninggal karena pneumonia, tapi idenya ada mirip-miripnya kan?).

Terakhir, apalah gunanya menulis tanpa pembaca? Itu bagikan celana tanpa kolornya. Oleh sebab itu Pembaca yang Budiman, saya ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya. Dari hati saya yang terdalam. Menulis di blog sangat menyenangkan. Kita bahkan bisa berinteraksi langsung dengan pembaca. Kita bisa dapat banyak teman baru yang kita kenal lebih dalam karena kita tahu buah penanya, pendapat-pendapatnya, sifat-sifatnya dan apa kesukaannya. Di atas itu semua, biarlah kita tetap menulis. Sebab menulis bisa mengobati, menghibur dan membagi rasa. Kata orang sih, menulis membuat kita abadi.

12 comments:

Fanda said...

Aku suka ungkapan menulis membuat kita abadi. Kalo dipikir, setelah kelak kita tiada, tulisan kita yg diterbitkan di blog akan ada terus. Dan terutama apa yg kita tulis itu akan ada terus di hati org lain ya!

Kalo aku dulu ga pernah nulis diary, soalnya aku orgnya tertutup banget. Tp setelah aku makin hobby baca, rasanya otakku tuh kayak gunung berapi yang mau meletus. Akhirnya bloglah jd sarana aku menumpahkan 'magma' pikiran dan pandangan itu.

Kalo ttg menuliskan kembali cerita, itu aku banget. Waktu kursus bahasa Perancis dan jerman, aku suka cari cerita yg bagus, trs aku ceritain ke dalam bhs Perancis dan Jerman.

Sama juga denganmu, setelah mengeluarkan uneg2 dan pikiran dengan menulis rasanya kayak habis orgasme deh...hehehe...

Fanda said...

Eh...jadi mikir2, menulis tanpa pembaca bagai celana tanpa kolornya? Celana ada yg ga pake kolor loh, misalnya celana jeans. Mendingan diumpamakan koh gopek tanpa sit up = pegel semua deh... hahaha...

Aku jg suka banget baca Anne Frank. Dulu punya VCDnya juga, tapi hilang entah kemana

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Oh ya bener juga, maksudku celana dalam tanpa kolornya. Atau koh gopek tanpa sit upnya, akuuur!(hehe). Wah bahasa Perancis dan Jerman? Keren banget mbak! Tetep semangat ya...

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Oya btw makasih sudah mau jadi pembacaku. Banyak orang yang harus dipalak dulu baru mau baca tulisanku, hehe. Kayak habis orgasme? Hmmm...itu perumpamaan yang menarik =)

Kabasaran Soultan said...

" Di atas itu semua, biarlah kita tetap menulis. Sebab menulis bisa mengobati, menghibur dan membagi rasa. Kata orang sih, menulis membuat kita abadi."

Setuju banget ...
Kalau bagi saya yang sebentar lagi menjelang manula ...wakakakakaa, menulis adalah bagian dari terapi jiwa.

Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman said...

Hahaha...sejak saya masih puber itu sudah terapi jiwa, gimana nanti kalo saya udah nenek2 ya Pak Soultan?

wongmuntilan said...

Setuju, aku pernah baca ada orang yang menulis, blog-nya adalah makamnya, jadi kelak kalau ia sudah meninggal, orang masih bisa mengenal dia lewat tulisan-tulisannya, bukan sekedar ngeliat makamnya doang, gitu...
Keren deh Ria, keep on writing ya ^^

wongmuntilan said...

Setuju, aku pernah baca ada orang yang menulis, blog-nya adalah makamnya, jadi kelak kalau ia sudah meninggal, orang masih bisa mengenal dia lewat tulisan-tulisannya, bukan sekedar ngeliat makamnya doang, gitu...
Keren deh Ria, keep on writing ya ^^

Sri Riyati said...

Makasih banyak San...Aku yakin buatmu juga begitu

kristina said...

tulisanmu ini pas banget sama berita yang aku baca di bild.com kemaren2. ada cewek yang meninggal karena kecelakaan motor trus waktu ortunya beres2 kamar, mereka menemukan surat yang ditulis oleh cewek itu buat jaga2 siapa tau dia meninggal tiba2. Bunyi suratnya "“When you read this letter, I will no longer be there. You do not need to be sad. I had a wonderful life.”
hiks hiks hiks....mengharukan yaa..

Jadi membaca tulisanmu ini aku mikir..bener juga ya...kalau kita sudah meninggal nanti orang2 bisa tetap membaca tulisan kita. Karena kita bukan orang terkenal yang bukuknya diterbitkan or lagunya direkam or dibuat patung lilinnya..jadi ya salah satu cara tetep eksis ya dengan cara ngeblog. Aku pengen juga bikin goodbye letter kaya si cewek itu..tapi kok serem yaaaa...

Anonymous said...

Wow,marvellous.. Bnr2 menginspirasi. Jd pengen pny blog jg nich rasany.. -petter-

jc said...

Emang Ria ngerti orgasme rasanya gimana? Kok bisa tahu itu perumpamaan yang menarik? Wkekekeke... Tapi aku akur sama yg dibilang Fanda tuh, kayak abis orgasme. Bedanya kalo orgasme langsung tidur, kalo yg ini enggak, malah lebih semangat lagi.. wkekekeke.. *tambah jaka sembung..!! horeee..!!!*

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p