"Jangan gitu ah, nanti dibilang apa sama tetangga,"
Saya lagi mikir, kok hebat banget ya pengaruh 'imej' dalam menentukan kelakuan kita sehari-hari. Bagi pengunjung blog saya, silakan duduk. Saya mau bersihin sarang laba2nya dulu. Heheh. Sudah lama sekali blog ini tidak saya sambangin (sampai lupa URLnya. Aih lebay).
Ceritanya tiga minggu yang lalu saya tabrakan naik motor, trus selama 9 hari saya idup menebeng ortu. Numpang makan, numpang bobo dan numpang dicuciin kolor, tanpa satupun kerjaan rumah tangga saya nyumbang bantu-bantu. Yah namanya juga korban KLL, saya dapat kartu bebas tugas. Yang saya lakukan cuman makan, tidur, nonton bola, garuk-garuk idung, minum susu (biar cepet sembuh) dan ngetik di keyboard pake tangan kiri (tangan kanan saya bengkak). Disamping kehidupan ala miliuner yang saya jalankan, saya juga jadi banyak ngobrol sama nyokap. Nyokap lagi mengeluh males banget datang ke kondangan keluarga yang nyinyir atau nonggo (silaturahmi/maen ke tetangga).
"Dulu selalu nanya, anaknya sudah pada lulus belom, sudah pada kerja belom. Sekarang nanya kapan mantu," Kata nyokap, mereka selalu tanya tentang hal-hal yang dirasa 'kurang' dari keluarga kami. Jadi meskipun kluarga saya termasuk cukup cool dengan pilihan anak-anaknya, mereka mendapat tekanan dari lingkungan (maklum idup di desa kelurahan).
Tekanan ini juga saya rasakan sewaktu habis PTT dulu. Status saya saat itu penganggguran penuh waktu profesional dan saya tinggal di rumah ortu. Semua orang sibuk bertanya dan menyarankan pekerjaan untuk saya. Semua! Bukan cuma dari tetangga dan kerabat, tapi juga sejawat. Sampe malu kalo ketemu mantan temen kuliah. Karna kalo ditanya, "Sekarang ngapain?/kerja apa sekolah? Spesialis apa?" jawaban saya selalu standar, "Nggak ngapa2in. Kecuali kalo ngelayap sambil nyuci2 piring diitung pekerjaan," Padahal, berhubung habis kerja setahun, saya mandiri secara finansial waktu itu.
Nah sekarang? Kalo ditanya dengan pertanyaan serupa, dengan PeDe saya bisa menjawab, "Lagi CPNS (Cewek Pengelana yang Nampaknya Sibuk kerja kantoran)," meskipun pada dasarnya saya 10 kali lipat lebih miskin daripada pas penggangguran penuh waktu jaman pasca PTT dulu. Tapi sekarang saya tidak punya tekanan sosial lagi. Pasalnya: status saya jelas! Bokap bahkan nggak ngeluh waktu masih ngirim uang bulanan kayak jaman saya kuliah dulu *ngaku kalo masih disubsidi* karena sang gaji belon kliatan batang idungnya apalagi wujud nyatanya (sekarang masih tak kasat mata).
Sekarang, seperti keluhan ibu saya, status yang belum jelas adalah bahwa saya belum menikah. (Belum, nggak boleh bilang tidak. Yang kedua kesannya kayak cewek yang pake baju pengantin tinggal di loteng dan sakit jiwa persis di novel Jane Eyre. Amit-amitabachan). Saya sendiri udah bosen banget mbahas topik yang satu ini. Cuman mau cerita bahwa beberapa hari yang lalu saya diliatin temen kuliah: tulisan saya waktu masih ABeGeh dulu. Isinya curhat tentang pacar yang nyebelin, dan beberapa bulan kemudian tentang cowok lain yang lagi deket dan senang karena diperhatikan 3 orang pria sekaligus sehabis putus. Alamak. Ini beneran dulu saya yang nulis??? Intinya, untung saya diberi pilihan untuk tidak menikah. Hubungan saya dulu sangat enggak banget dan kepribadian saya lebih jauh daripada jalan jongkok Terboyo-Mangkang dari orang yang dewasa. Kalau saya cuman menuruti tuntutan status, mungkin saja dari luar saya kelihatan baik (dan masuk akal) tapi saya tidak pernah berkembang menjadi diri sendiri dan belajar menjalin hubungan yang sehat. Teman yang kenal saya luar-dalam (jeroan, spare part dan onderdil2nya) mungkin mengerti mengapa kita memutuskan untuk tidak sekedar mencari status yang aman. Namun sayangnya, tekanan sosial selalu datang dari orang-orang yang justru tidak tahu-menahu tentang kita. Status yang tidak sesuai dengan apa yang dianggap baik, akan terus ditantang dan dipertanyakan. Oleh orang-orang yang tidak tahu sehingga agak percuma juga dijelaskan. *Bukan status facebook ya. Itu laen perkara*
Saya pernah ditanya atasan dengan nada kecewa, "Kok belum menikah sih?" karena PNS biasanya suka pindah gara2 ikut suami. Ada teman saya yang nggak ketrima beasiswa spesialisasi cuma karena belum menikah! (karena jadi tidak ada jaminan penerima beasiswa akan kembali ke daerah asal). Status, biarpun cuman label, ternyata sangat berpengaruh pada hajat hidup orang yang bisa buang hajat. Saya menyadari, apa yang dilihat orang masih segitu pentingnya dalam hidup, bahkan sampai mempengaruhi pilihan2 kita. Apakah memang kita bisa dikendalikan oleh apa yang diterima dan tidak dalam masyarakat? Bagaimana kalau mereka salah? Bagaimana kalau kita tahu yang lebih baik untuk kita sendiri dan memilih mengabaikan tuntutan status ini?
Friday, July 9, 2010
Tuesday, June 22, 2010
Rest In Peace..Papi
Setelah sekian lama ga nulis blog...sekalinya nulis malah tentang kabar menyedihkan. Sudah berbulan2 aku ga sempet nulis blog gara2 di kantor sibuk banget ada tax audit, tax reporting, external audit, dll. Selain itu aku juga lagi ikut kursus persiapan buat IELTS selama 5 minggu Senin-Jumat jam 5-7 sore. Jadi biasanya jam 5 aku cepet2 turun ke lantai 1 buat kursus (untungnya tempat kursus 1 gedung sama kantorku). Trus jam 7 selesai kursus aku balik lagi ke kantor buat kerja...kasian ya. Mau cuti aja susah banget...ditambah lagi ijazah S1 ku ternyata ilang..jadi aku harus pulang kampung buat ngurus2 ijazah. Ternyata ijazahku hilang ada hikmahnya juga..aku pulang kampung 2 minggu yang lalu sehingga masih sempat ketemu papi karena hari Sabtu kemarin tanggal 19 Juni 2010 papiku dipanggil Bapa di surga.
Aku menerima kabar itu waktu aku ke Tangerang bareng Petter. Kami berhenti di tempat cuci cetak foto di dekat rumah Petter ketika adikku Budi telp dan bilang, "Cik, cepet pulang...papi ga ada." Kata pertama yang keluar dari mulutku..."Papi meninggal masuk surga ga.....Tuhan...semoga papi masuk surga." Aku nangis senangis2nya dan menelpon mami apa yang terjadi.
Papi sudah lama menderita penyakit liver, darah tinggi dan gejala diabetes. Tapi sejak minum sarang semut Papua (sejenis tanaman obat), kondisinya membaik. Malahan dia masih bisa jualan mie ayam dan ayam goreng bareng mami. Sabtu pagi itu papi seperti biasa belanja ke pasar sendirian lalu langsung ke tempat jualan untuk memasak. Setelah selesai baru dia pulang menjemput mami. Kebetulan ada Lita adikku yang kuliah di Jogja sedang liburan semester jadi mami diantar Lita ke tempat jualan. Sampai di tempat jualan sekitar jam 8 pagi, sudah banyak polisi. Mami kira ada yang kemalingan. Ternyata waktu sampai di tempat jualan, polisi itu bilang ke mami untuk tabah. Papi sudah meninggal dunia di tempat jualan. Waktu ditemukan tetangga sesama penjual makanan, papi sudah tergeletak di lantai dapur. Kompor menyala dan bumbu yang direbus papi sudah gosong. Keran air menyala dan kulkas terbuka.
Papi dibawa ke rumah sakit dengan bantuan polisi yang minta bayaran 100rb. Mami dan Lita menyusul ke rumah sakit. Menurut dokter yang memvisum jenazah papi (biayanya 77rb), papi kena serangan jantung. Aku sendiri tidak percaya karena baru 2 hari yang lalu papi dan mami cek ke dokter dan dokter bilang k0ndisi papi baik2 saja. Papi juga ga pernah punya riwayat serangan jantung. Menurutku papi meninggal karena pembuluh darah di otak pecah. Karena jenazah papi tidak membiru. Wajahnya seperti orang sedang tidur. Hanya di daerah telinga menghitam. Aku teringat temanku yang dulu meninggal karena pembuluh darah jantung pecah, jenazahnya juga menghitam.
Aku bersama Petter, sepupuku Tere dan 2 adikku yang kerja di Jakarta (Budi dan Tika) hari itu juga langsung pesan tiket kereta ke Pekalongan. Kami dapat tiket paling cepat jam 4.45 sore. Sampai di Pekalongan jam setengah 11 malam kami langsung ke rumah duka. Tidak bisa digambarkan betapa sedihnya mami, aku dan adik2. Kepergian papi begitu mendadak. Padahal aku masih ada rencana yang belum terlaksana untuk menyenangkan papi. Aku belum beli rumah buat papi, belum memberi cucu buat papi dan belum mengajak papi jalan2 ke luar negeri. Aku menyesali kenapa sekarang belum bisa menghidupi papi mami sehingga mereka tidak perlu jualan lagi. Terlalu banyak kata mengapa.....dan seandainya...
Kemarin papi dikremasi dan hari ini abu papi ditabur di laut...supaya di mana pun anak2nya berada, selama ada laut kami masih bisa mendoakan papi. Begitu banyak keluarga dan teman2 yang memberi penghiburan buat aku. Salah satunya ada teman dekat papi yang berkata kalo papi sangat bangga sama aku...dia kasian sama aku yang harus membiayai kuliah adik2 dan papi yang berkata kalau dia sebenarnya tidak rela aku berencana untuk imigrasi ke negeri seberang demi kehidupan yang lebih baik. Tapi bagaimanapun papi tetap mendukung karena itu sudah keinginanku. Teman papi ini bercerita sambil berlinang air mata....aku sendiri jadi merasa tenang karena papi bangga pada anak2nya...dia sudah berhasil mendidik aku dan adik2 menjadi orang2 yang mandiri, rukun dan tidak menyusahkan orang tua.
Selamat jalan papi...aku percaya papi sudah tenang di surga di sisi Tuhan Yesus. Papi sudah lepas dari beban2 dunia dan sakit penyakit. Kiranya kami semua anak2mu bisa menjadi orang yang membanggakan buat papi dan bisa membahagiakan mami.
NB: Terima kasih buat keluarga dan teman2 yang sudah memberikan support dan bantuan bagi kami sekeluarga dalam menjalani hari2 yang berat ini. Terutama buat keluarga dan teman2 yang sudah membantu selama proses pemakaman.
Aku menerima kabar itu waktu aku ke Tangerang bareng Petter. Kami berhenti di tempat cuci cetak foto di dekat rumah Petter ketika adikku Budi telp dan bilang, "Cik, cepet pulang...papi ga ada." Kata pertama yang keluar dari mulutku..."Papi meninggal masuk surga ga.....Tuhan...semoga papi masuk surga." Aku nangis senangis2nya dan menelpon mami apa yang terjadi.
Papi sudah lama menderita penyakit liver, darah tinggi dan gejala diabetes. Tapi sejak minum sarang semut Papua (sejenis tanaman obat), kondisinya membaik. Malahan dia masih bisa jualan mie ayam dan ayam goreng bareng mami. Sabtu pagi itu papi seperti biasa belanja ke pasar sendirian lalu langsung ke tempat jualan untuk memasak. Setelah selesai baru dia pulang menjemput mami. Kebetulan ada Lita adikku yang kuliah di Jogja sedang liburan semester jadi mami diantar Lita ke tempat jualan. Sampai di tempat jualan sekitar jam 8 pagi, sudah banyak polisi. Mami kira ada yang kemalingan. Ternyata waktu sampai di tempat jualan, polisi itu bilang ke mami untuk tabah. Papi sudah meninggal dunia di tempat jualan. Waktu ditemukan tetangga sesama penjual makanan, papi sudah tergeletak di lantai dapur. Kompor menyala dan bumbu yang direbus papi sudah gosong. Keran air menyala dan kulkas terbuka.
Papi dibawa ke rumah sakit dengan bantuan polisi yang minta bayaran 100rb. Mami dan Lita menyusul ke rumah sakit. Menurut dokter yang memvisum jenazah papi (biayanya 77rb), papi kena serangan jantung. Aku sendiri tidak percaya karena baru 2 hari yang lalu papi dan mami cek ke dokter dan dokter bilang k0ndisi papi baik2 saja. Papi juga ga pernah punya riwayat serangan jantung. Menurutku papi meninggal karena pembuluh darah di otak pecah. Karena jenazah papi tidak membiru. Wajahnya seperti orang sedang tidur. Hanya di daerah telinga menghitam. Aku teringat temanku yang dulu meninggal karena pembuluh darah jantung pecah, jenazahnya juga menghitam.
Aku bersama Petter, sepupuku Tere dan 2 adikku yang kerja di Jakarta (Budi dan Tika) hari itu juga langsung pesan tiket kereta ke Pekalongan. Kami dapat tiket paling cepat jam 4.45 sore. Sampai di Pekalongan jam setengah 11 malam kami langsung ke rumah duka. Tidak bisa digambarkan betapa sedihnya mami, aku dan adik2. Kepergian papi begitu mendadak. Padahal aku masih ada rencana yang belum terlaksana untuk menyenangkan papi. Aku belum beli rumah buat papi, belum memberi cucu buat papi dan belum mengajak papi jalan2 ke luar negeri. Aku menyesali kenapa sekarang belum bisa menghidupi papi mami sehingga mereka tidak perlu jualan lagi. Terlalu banyak kata mengapa.....dan seandainya...
Kemarin papi dikremasi dan hari ini abu papi ditabur di laut...supaya di mana pun anak2nya berada, selama ada laut kami masih bisa mendoakan papi. Begitu banyak keluarga dan teman2 yang memberi penghiburan buat aku. Salah satunya ada teman dekat papi yang berkata kalo papi sangat bangga sama aku...dia kasian sama aku yang harus membiayai kuliah adik2 dan papi yang berkata kalau dia sebenarnya tidak rela aku berencana untuk imigrasi ke negeri seberang demi kehidupan yang lebih baik. Tapi bagaimanapun papi tetap mendukung karena itu sudah keinginanku. Teman papi ini bercerita sambil berlinang air mata....aku sendiri jadi merasa tenang karena papi bangga pada anak2nya...dia sudah berhasil mendidik aku dan adik2 menjadi orang2 yang mandiri, rukun dan tidak menyusahkan orang tua.
Selamat jalan papi...aku percaya papi sudah tenang di surga di sisi Tuhan Yesus. Papi sudah lepas dari beban2 dunia dan sakit penyakit. Kiranya kami semua anak2mu bisa menjadi orang yang membanggakan buat papi dan bisa membahagiakan mami.
NB: Terima kasih buat keluarga dan teman2 yang sudah memberikan support dan bantuan bagi kami sekeluarga dalam menjalani hari2 yang berat ini. Terutama buat keluarga dan teman2 yang sudah membantu selama proses pemakaman.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jam
Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...
Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...
Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)
Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)
About Us
- Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman
- pindah2..tergantung mood, Indonesia
- Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p