- Orang yang memilki hubungan darah langsung dengan penguasa/pemimpin dinasti/keluarga kerajaan = darah biru (congenital cyanotic disease)
- Orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan = darah lumpur (muggle blood/mud blood)
- Orang yang menikahi anak anggota kerajaan supaya bisa masuk padepokan Residensi = cuci darah
- Orang yang minta dikenalin/dideketin sama anggota kerajaan melalui kerabat/teman anggota kerajaan atau memacari anak kerabat/ teman anggota kerajaan = tranfusi darah
- Orang yang memasuki padepokan Residensi dengan cara membayar banyak upeti = darah hijau/darah kincring2.
- Orang yang terus-terusan mencoba masuk padepokan Residensi tapi gagal lalu pindah haluan jadi cari jurusan padepokan yang paling gampang = darah tidak berpendirian
- Orang yang sudah masuk padepokan Residensi tapi gagal karena tidak punya uang = darah gakin/darah kurang beruntung
- Orang yang sudah masuk padepokan tapi gagal karena hamil = darah kecelakaan
- Orang yang gagal terus masuk padepokan dan akhirnya hijrah ke negeri tetangga = darah imigran
- Orang yang sudah mencoba berkali-kali masuk padepokan tapi tetap gagal tapi maju terus pantang mundur tanpa menyerah = berdarah-darah.
Showing posts with label omong-omong kosong. Show all posts
Showing posts with label omong-omong kosong. Show all posts
Monday, January 24, 2011
Trah Kerajaan Kedokteran
Pada jaman dahulu kala tersebutlah suatu kerajaan di negeri yang nun jauh di sana. Kerajaan ini tidak dipimpin oleh seorang raja, karena konon menganut paham demokrasi yang bebas. Meskipun katanya demikian tapi biasanya yang bertahta tetaplah bertahta atau minimal pensiun kaya raya dan sudah menghasilkan sebuah dinasti. Namanya kerajaan kedokteran atau disingkat KDRI (Kerajaan Kedokteran Republik Indonesia, bukan KDRT lho yah. Gak pas sih, tapi ya sudah, kita kan gak bener-bener demokrasi, Jenderal). Di negeri ini kasta ditentukan oleh darah. Untuk memasuki padepokan Residensi orang-orang dibedakan dalam trah sebagai berikut:
Labels:
omong-omong kosong
Monday, May 31, 2010
Ngupdate Blog daripada Nggak Diupdate Sama Sekali
OK. Nih blog sepinya udah ngalahin kuburan di malem jumat kliwon ketujuh bulan suro. Ya iyalah, kalo kuburan malem jumat malah rame. Ada yang main poker, jual gasing, topeng monyet dan nanggap wayang golek.
Cerita singkat tentang apa yang terjadi pada saya dua minggu belakangan ini. Astaga, benar cuma dua minggu! (tapi rasanya seperti lama sekali). Itu sangat sebentar, kalo hidup seumpama cuman 'numpang minum' maka 14 hari itu bahkan lebih nggak berarti daripada 'numpang kentut'.
Kata temen sekost saya, meskipun cuman beberapa hari menyepi dari rutinitas (artinya: enggak facebook-an atau twitter-an), ketika kembali bisa jadi harus menyesuaikan diri lagi. Ya jelas, apalagi kalau masuk-masuk langsung ujian DELF, kejar setoran buat pekerjaan yang mau tutup buku, jadwal ngajar yang ditambah dan deadline yang semakin deket. Males njelasin tentang kerjaan saya di sini (nanti Kristina bisa muntah jengkol), tapi intinya kerjaan saya itu kayaknya nggak ada bedanya kalau dikerjain tiap hari, tapi begitu ditinggal liburan langsung numpuk. Pokoknya sama seperti rutinitas lainnya, kalau dijalanin rasanya tiap hari sama saja tapi begitu kita nengok ke belakang semuanya sudah berubah. Hidup. Begitulah. Intinya mo ngomong apa sih saya? Oya, dua minggu ini saya merambahi Jawa Timur pake kereta api, bus omprengan, mikrolet dan angkot sama temen saya dari tanah sebrang.
Seperti sudah saya ceritakan sebelum-sebelumnya, saya mengidap penyakit kaki gatel-gatel. Hidup menetap bagi saya lebih berat daripada harus pura-pura gak liat waktu Jake Gyllenhaal lewat depan alfamart *ngayal*. Jadi pas sohib saya dari London bilang mau liburan di Indonesia saya dengan semangat Gus Dur dan Bung Tomo sekaligus langsung tanpa malu-malu kerbau menandai peta dan mengepak tas ransel. Sebetulnya, saya pingin banget kopi darat dengan teman blogger saya Jessie Monika. Namun akibat perencanaan yang payah, spontanitas yang kelewat tinggi, waktu yang terbatas dan jam terbang yang lebih singkat daripada main gaple, saya pun cuman numpang pipis di terminal Surabaya (tidak yakin ini sudah masuk kawasan kota Surabaya). Jadilah, Ria tak mampir di Surabaya *halah, sok dramatis*.
Singkatnya, perjalanan saya dan sohib dimulai dari Semarang ke Jombang naik kereta, lalu dilanjutkan naik bis omprengan Puspa Indah ke Malang lewat Batu. Perjalanan dari Jombang ke Malang ini bagus banget, apalagi kalo naiknya bis pagi-pagi (soalnya keretanya malem). Pemandangan di sekitar bus sangat hijau, banyak sungai dan bukit-bukit, terutama di daerah Batu. Kita berhenti di jalan menuju puncak Panderman (bener gak sih namanya) pokoknya puncak tertinggi yang bisa ngeliat Malang dari atas. Kami cuman sampai separuh jalan trus duduk-duduk sambil ngupil. Mau nyampe atas takut keujanan (krupuk banget nggak sih) dan pas turun bareng sama mahasiswa pencinta alam yang udah naik malam sebelumnya untuk lihat matahari terbit pagi harinya dari puncak Panderman. Kita jadi malu-malu onta. Kita ngerasa jadi 'pendaki gunung jadi-jadian' alias nggak bener-bener naik gunung cuman makan es krim di pinggir jalan sambil nepukin nyamuk. Tapi kita kan selalu bisa bilang bahwa kita mendaki puncak Panderman!
Mahasiswa pencinta alam ini akhirnya kenalan sama kami dan bahkan mbantuin kami cari penginapan murah di Malang yang audubilah penuh banget hari itu gara-gara ada festival Malang tempo dulu. Festival ini lumayan menarik karena banyak makanan enak. Sayangnya kami kecapean gara-gara semalaman tidur di kereta dan seharian jalan ke puncak Panderman. Alhasil kami batal dateng ke festival malam harinya sama anak-anak pecinta alam. Sebagai gantinya kami tidur jam 8 teng-teng kayak anak SD kelas tiga.
Pagi harinya kami siap-siap cabut dari Malang untuk ke Probolinggo. Berkat pengalaman nggak dapet penginapan di Malang, temen saya yang separo Jerman jadi kumat jiwa terorganisirnya dan ngotot booking hotel dulu di Bromo (padahal nggak tahu gimana caranya nyampe ke sana!). Kami ke info turis di alun-alun Malang dan nelpon hotel yang dijawab dengan, "Dateng aja Mbak. Kamarnya banyak banget yang kosong. Kalo mau bawa temen seRT pun masih muat kok. Asal jangan lupa lurahnya suruh bayar DP soundsistem *dikira mau hajatan sunat*" Sialnya, bus omprengan berikutnya yang bawa kita ke Probolinggo lebih pelan daripada reaksi pemerintah mengatasi lumpur lapindo. Kita pun tiba di Probolinggo menjelang magrib. Nah mikrolet yang ngangkut kita ke Cemoro Lawang sudah jarang banget, mintanya carteran. Ada 3 pasangan beruntung yang tertahan nggak bisa naik ke Bromo karena dipalak tukang mikrolet. Pertama, pasangan orang Kanada. Kedua, pasangan orang Jepara. Dan ketiga, jreng2345x, saya dan sohib saya. Herannya, dua pasangan ini tidak saling komunikasi meskipun keduanya lagi diporotin abis sama supir mikrolet. Begitu kami datang, pasangan Kanada bicara sama saya dan teman saya Seb, berhubung kami ngobrolnya pake bahasa utara. Dan mereka minta saya bicara sama pasangan dari Jepara ini, yang sudah nunggu setengah jam buat diangkut ke Cemoro Lawang. Dari tadi kek, kenapa nggak saling bicara? Kami cukup beruntung karena biaya tidak terlalu parah sebab dibagi berenam dan bagusnya, kami justru jadi tim yang kompak! Kami sewa jeep sama-sama dan kami jadi teman segrup yang lumayan nyambung pembicaraannya (kalo nggak nyambung yang yang penting mangut-mangut sambil ketawa. Inilah sopan-santun ala Indonesia). Dua teman dari Kanada ini salah satunya adalah researcher dari Harvard dan dia bilang saya boleh menghubungi dia kapan saja kalo butuh informasi tentang penelitian malaria. Yipi! Siapa bilang jalan2 itu nggak ada gunanya? *ngarep banged*
Dari Bromo, kami berencana ke Ijen. Sudah ditawari paket seharga dua ratus ribu rupiah (harga lokal karna saya kan pinter nawar, ihik) tapi kami sebagai backpacker pede memilih jalan sendiri pake bus omprengan dan ternyata bus kali ini lebih pelan lagi dari bus Malang-Probolinggo. Alamak! Waktu tiba di Bondowoso, hari suda malam dan kami lagi-lagi sudah kecapaian. Begitu tanya di resepsionis gimana cara ke Ijen, kami dikasih tahu harga mati: dua ratus ribu PP! Kami langsung manyun. Tahu begini kita sambar saja tawaran dari Bromo waktu itu. Kami sampe sibuk tawar-menawar dengan tukang ojek buat bawa kita ke Ijen, tapi nggak berhasil. Serombongan turis Perancis yang tinggal di hotel yang sama dengan kami bahkan batal ke Ijen dan langsung jalan ke Bali. Tapi kami tidak menyerah. Pagi-pagi kami jalan ke terminal bis buat naik mikrolet ke Ijen. Dipalak 200 ribu untuk dua orang tapi saya pikir kami tidak punya waktu lagi untuk tawar menawar jadi asal si supir mikrolet langsung berangkat, saya setuju bayar 200 ribu. Si supir juga setuju. Tapi apa daya namanya juga supir mikrolet, bukannya langsung cabut malah ke bengkel dulu, isi bensin dulu, ngobyek dulu cari penumpang di pasar, naikin tahu dulu 5 ember, brenti di tukang daging dulu buat ngambil ayam, dsb. Temen saya yang kalo bilang "langsung" artinya adalah "on the dot" sempet setres karena ulah supir mikrolet. Tapi begitu sampai di desa Kalisat-Jampit (jalan arah Banyuwangi) dengan kebun kopinya, jalan yang dingin dan banyak bunga, berkelok-kelok dan berkabut, mood kami berdua membaik. Kami tidak tahu bagaimana nanti turun gunungnya, tapi kami betul-betul menikmati berjalan 3 kilometeran ke kawah Ijen. Selama berjalan kami berpapasan dengan orang yang membawa belerang.
Puncak Ijen sangat indah. Bau belerang yang menyengat pun tidak mengurangi keindahan kawah turkois yang konon besarnya 36 juta meter kubik ini. Teman saya Seb yang hobi mendaki tepian kawah gunung berapi (karena seumur2 dia belum pernah lihat gunung berapi, kacian deh) meminta saya buat ikut mengelilingi seluruh kawah tapi karena kita naik sudah agak sore hari makanya permintaan ini tidak masuk akal lagi-lagi karna kita takut keujanan (krupuk mode on). Jadi kita turun gunung setelah beberapa kali melempar batu dari tepian tebing dan mendengarkan gemanya dipantulkan dari dinding-dinding kawah, tiap batu empat kali gema!
Dalam perjalanan turun, kami beruntung ketemu 3 orang volcanologist dari Belgium. Kami numpang sampai ke hotel Arabica di kawasan perkebunan kopi Kalisat. Tiga orang ini banyak menerangkan pada kami tentang kawah Ijen, di samping banyak bercanda tentang Indonesia. Saya suka sekali selera humor mereka! Esok paginya adalah hari yang paling menyebalkan: hari pulang balik ke Semarang karena hari berikutnya saya sudah booking paket tur ke Karimun Jawa bersama 5 orang teman saya yang lain. Akibat tidak tahu jadwal kereta dan juga perencanaan yang amburadul, kami dengan sukses ketinggalan kereta dan terpaksa naik bus berturut-turut, terakhir bus malam dari Surabaya-Semarang yang sangat menyakitkan karena saya kecapean dan sudah muak sama bis malam. Jadi, waktu saya di Surabaya saya sudah betul-betul teler dan kelelahan, mana calo bis malam itu tidak punya belas kasian dalam memalak. Saya tidak betul2 dipalak, tapi apalah bedanya kalau perjalanan sesudah itu saya sudah setengah sadar karena sakit kepala, mual, dan badan pegel-pegel semua. Untung Seb lumayan baik pas saya sakit. Biasanya dia cerewet tanya jam berapa bis berangkat dan berapa kilo meter jarak Surabaya Semarang. Biasa, cara pikir ala Barat yang selalu menjabarkan keadaan dengan nama dan angka. Kalo saya bilang, "Saya nggak pernah mikir berapa kilo jarak antar kota di Indonesia," Seb malah bilang, "Apa kamu berpikir dalam mile?" Gubrak.
Tiga hari sesudahnya adalah perjalanan ke Karimun Jawa. Bagus banget kan? Setelah teler dari Jawa Timur saya langsung on board 6 jam di feri dan snorkeling di Tanjung Gelam. Heran kenapa saya masih hidup sekarang bahkan ujian kemarin Senin. Intinya, saya kerja dengan kesadaran somnolen (agak tidak berorientasi baik) dan sempat pulang awal beberapa hari di depan. Tapi saya bahagia bisa bepergian. Seperti yang saya bilang sebelumnya, hidup menetap sebagai pegawai kantoran bagi saya lebih susah daripada nahan kentut di saat lagi diare.
Sekarang saya berpikir untuk balas dendam mengunjungi Seb di Vietnam (jangan kuatir, akan saya tanya jarak semua kota dari Hanoi sampai Saigon, dalam kilometer dan mile sekaligus!)
Cerita singkat tentang apa yang terjadi pada saya dua minggu belakangan ini. Astaga, benar cuma dua minggu! (tapi rasanya seperti lama sekali). Itu sangat sebentar, kalo hidup seumpama cuman 'numpang minum' maka 14 hari itu bahkan lebih nggak berarti daripada 'numpang kentut'.
Kata temen sekost saya, meskipun cuman beberapa hari menyepi dari rutinitas (artinya: enggak facebook-an atau twitter-an), ketika kembali bisa jadi harus menyesuaikan diri lagi. Ya jelas, apalagi kalau masuk-masuk langsung ujian DELF, kejar setoran buat pekerjaan yang mau tutup buku, jadwal ngajar yang ditambah dan deadline yang semakin deket. Males njelasin tentang kerjaan saya di sini (nanti Kristina bisa muntah jengkol), tapi intinya kerjaan saya itu kayaknya nggak ada bedanya kalau dikerjain tiap hari, tapi begitu ditinggal liburan langsung numpuk. Pokoknya sama seperti rutinitas lainnya, kalau dijalanin rasanya tiap hari sama saja tapi begitu kita nengok ke belakang semuanya sudah berubah. Hidup. Begitulah. Intinya mo ngomong apa sih saya? Oya, dua minggu ini saya merambahi Jawa Timur pake kereta api, bus omprengan, mikrolet dan angkot sama temen saya dari tanah sebrang.
Seperti sudah saya ceritakan sebelum-sebelumnya, saya mengidap penyakit kaki gatel-gatel. Hidup menetap bagi saya lebih berat daripada harus pura-pura gak liat waktu Jake Gyllenhaal lewat depan alfamart *ngayal*. Jadi pas sohib saya dari London bilang mau liburan di Indonesia saya dengan semangat Gus Dur dan Bung Tomo sekaligus langsung tanpa malu-malu kerbau menandai peta dan mengepak tas ransel. Sebetulnya, saya pingin banget kopi darat dengan teman blogger saya Jessie Monika. Namun akibat perencanaan yang payah, spontanitas yang kelewat tinggi, waktu yang terbatas dan jam terbang yang lebih singkat daripada main gaple, saya pun cuman numpang pipis di terminal Surabaya (tidak yakin ini sudah masuk kawasan kota Surabaya). Jadilah, Ria tak mampir di Surabaya *halah, sok dramatis*.
Singkatnya, perjalanan saya dan sohib dimulai dari Semarang ke Jombang naik kereta, lalu dilanjutkan naik bis omprengan Puspa Indah ke Malang lewat Batu. Perjalanan dari Jombang ke Malang ini bagus banget, apalagi kalo naiknya bis pagi-pagi (soalnya keretanya malem). Pemandangan di sekitar bus sangat hijau, banyak sungai dan bukit-bukit, terutama di daerah Batu. Kita berhenti di jalan menuju puncak Panderman (bener gak sih namanya) pokoknya puncak tertinggi yang bisa ngeliat Malang dari atas. Kami cuman sampai separuh jalan trus duduk-duduk sambil ngupil. Mau nyampe atas takut keujanan (krupuk banget nggak sih) dan pas turun bareng sama mahasiswa pencinta alam yang udah naik malam sebelumnya untuk lihat matahari terbit pagi harinya dari puncak Panderman. Kita jadi malu-malu onta. Kita ngerasa jadi 'pendaki gunung jadi-jadian' alias nggak bener-bener naik gunung cuman makan es krim di pinggir jalan sambil nepukin nyamuk. Tapi kita kan selalu bisa bilang bahwa kita mendaki puncak Panderman!
Mahasiswa pencinta alam ini akhirnya kenalan sama kami dan bahkan mbantuin kami cari penginapan murah di Malang yang audubilah penuh banget hari itu gara-gara ada festival Malang tempo dulu. Festival ini lumayan menarik karena banyak makanan enak. Sayangnya kami kecapean gara-gara semalaman tidur di kereta dan seharian jalan ke puncak Panderman. Alhasil kami batal dateng ke festival malam harinya sama anak-anak pecinta alam. Sebagai gantinya kami tidur jam 8 teng-teng kayak anak SD kelas tiga.
Pagi harinya kami siap-siap cabut dari Malang untuk ke Probolinggo. Berkat pengalaman nggak dapet penginapan di Malang, temen saya yang separo Jerman jadi kumat jiwa terorganisirnya dan ngotot booking hotel dulu di Bromo (padahal nggak tahu gimana caranya nyampe ke sana!). Kami ke info turis di alun-alun Malang dan nelpon hotel yang dijawab dengan, "Dateng aja Mbak. Kamarnya banyak banget yang kosong. Kalo mau bawa temen seRT pun masih muat kok. Asal jangan lupa lurahnya suruh bayar DP soundsistem *dikira mau hajatan sunat*" Sialnya, bus omprengan berikutnya yang bawa kita ke Probolinggo lebih pelan daripada reaksi pemerintah mengatasi lumpur lapindo. Kita pun tiba di Probolinggo menjelang magrib. Nah mikrolet yang ngangkut kita ke Cemoro Lawang sudah jarang banget, mintanya carteran. Ada 3 pasangan beruntung yang tertahan nggak bisa naik ke Bromo karena dipalak tukang mikrolet. Pertama, pasangan orang Kanada. Kedua, pasangan orang Jepara. Dan ketiga, jreng2345x, saya dan sohib saya. Herannya, dua pasangan ini tidak saling komunikasi meskipun keduanya lagi diporotin abis sama supir mikrolet. Begitu kami datang, pasangan Kanada bicara sama saya dan teman saya Seb, berhubung kami ngobrolnya pake bahasa utara. Dan mereka minta saya bicara sama pasangan dari Jepara ini, yang sudah nunggu setengah jam buat diangkut ke Cemoro Lawang. Dari tadi kek, kenapa nggak saling bicara? Kami cukup beruntung karena biaya tidak terlalu parah sebab dibagi berenam dan bagusnya, kami justru jadi tim yang kompak! Kami sewa jeep sama-sama dan kami jadi teman segrup yang lumayan nyambung pembicaraannya (kalo nggak nyambung yang yang penting mangut-mangut sambil ketawa. Inilah sopan-santun ala Indonesia). Dua teman dari Kanada ini salah satunya adalah researcher dari Harvard dan dia bilang saya boleh menghubungi dia kapan saja kalo butuh informasi tentang penelitian malaria. Yipi! Siapa bilang jalan2 itu nggak ada gunanya? *ngarep banged*
Dari Bromo, kami berencana ke Ijen. Sudah ditawari paket seharga dua ratus ribu rupiah (harga lokal karna saya kan pinter nawar, ihik) tapi kami sebagai backpacker pede memilih jalan sendiri pake bus omprengan dan ternyata bus kali ini lebih pelan lagi dari bus Malang-Probolinggo. Alamak! Waktu tiba di Bondowoso, hari suda malam dan kami lagi-lagi sudah kecapaian. Begitu tanya di resepsionis gimana cara ke Ijen, kami dikasih tahu harga mati: dua ratus ribu PP! Kami langsung manyun. Tahu begini kita sambar saja tawaran dari Bromo waktu itu. Kami sampe sibuk tawar-menawar dengan tukang ojek buat bawa kita ke Ijen, tapi nggak berhasil. Serombongan turis Perancis yang tinggal di hotel yang sama dengan kami bahkan batal ke Ijen dan langsung jalan ke Bali. Tapi kami tidak menyerah. Pagi-pagi kami jalan ke terminal bis buat naik mikrolet ke Ijen. Dipalak 200 ribu untuk dua orang tapi saya pikir kami tidak punya waktu lagi untuk tawar menawar jadi asal si supir mikrolet langsung berangkat, saya setuju bayar 200 ribu. Si supir juga setuju. Tapi apa daya namanya juga supir mikrolet, bukannya langsung cabut malah ke bengkel dulu, isi bensin dulu, ngobyek dulu cari penumpang di pasar, naikin tahu dulu 5 ember, brenti di tukang daging dulu buat ngambil ayam, dsb. Temen saya yang kalo bilang "langsung" artinya adalah "on the dot" sempet setres karena ulah supir mikrolet. Tapi begitu sampai di desa Kalisat-Jampit (jalan arah Banyuwangi) dengan kebun kopinya, jalan yang dingin dan banyak bunga, berkelok-kelok dan berkabut, mood kami berdua membaik. Kami tidak tahu bagaimana nanti turun gunungnya, tapi kami betul-betul menikmati berjalan 3 kilometeran ke kawah Ijen. Selama berjalan kami berpapasan dengan orang yang membawa belerang.
Puncak Ijen sangat indah. Bau belerang yang menyengat pun tidak mengurangi keindahan kawah turkois yang konon besarnya 36 juta meter kubik ini. Teman saya Seb yang hobi mendaki tepian kawah gunung berapi (karena seumur2 dia belum pernah lihat gunung berapi, kacian deh) meminta saya buat ikut mengelilingi seluruh kawah tapi karena kita naik sudah agak sore hari makanya permintaan ini tidak masuk akal lagi-lagi karna kita takut keujanan (krupuk mode on). Jadi kita turun gunung setelah beberapa kali melempar batu dari tepian tebing dan mendengarkan gemanya dipantulkan dari dinding-dinding kawah, tiap batu empat kali gema!
Dalam perjalanan turun, kami beruntung ketemu 3 orang volcanologist dari Belgium. Kami numpang sampai ke hotel Arabica di kawasan perkebunan kopi Kalisat. Tiga orang ini banyak menerangkan pada kami tentang kawah Ijen, di samping banyak bercanda tentang Indonesia. Saya suka sekali selera humor mereka! Esok paginya adalah hari yang paling menyebalkan: hari pulang balik ke Semarang karena hari berikutnya saya sudah booking paket tur ke Karimun Jawa bersama 5 orang teman saya yang lain. Akibat tidak tahu jadwal kereta dan juga perencanaan yang amburadul, kami dengan sukses ketinggalan kereta dan terpaksa naik bus berturut-turut, terakhir bus malam dari Surabaya-Semarang yang sangat menyakitkan karena saya kecapean dan sudah muak sama bis malam. Jadi, waktu saya di Surabaya saya sudah betul-betul teler dan kelelahan, mana calo bis malam itu tidak punya belas kasian dalam memalak. Saya tidak betul2 dipalak, tapi apalah bedanya kalau perjalanan sesudah itu saya sudah setengah sadar karena sakit kepala, mual, dan badan pegel-pegel semua. Untung Seb lumayan baik pas saya sakit. Biasanya dia cerewet tanya jam berapa bis berangkat dan berapa kilo meter jarak Surabaya Semarang. Biasa, cara pikir ala Barat yang selalu menjabarkan keadaan dengan nama dan angka. Kalo saya bilang, "Saya nggak pernah mikir berapa kilo jarak antar kota di Indonesia," Seb malah bilang, "Apa kamu berpikir dalam mile?" Gubrak.
Tiga hari sesudahnya adalah perjalanan ke Karimun Jawa. Bagus banget kan? Setelah teler dari Jawa Timur saya langsung on board 6 jam di feri dan snorkeling di Tanjung Gelam. Heran kenapa saya masih hidup sekarang bahkan ujian kemarin Senin. Intinya, saya kerja dengan kesadaran somnolen (agak tidak berorientasi baik) dan sempat pulang awal beberapa hari di depan. Tapi saya bahagia bisa bepergian. Seperti yang saya bilang sebelumnya, hidup menetap sebagai pegawai kantoran bagi saya lebih susah daripada nahan kentut di saat lagi diare.
Sekarang saya berpikir untuk balas dendam mengunjungi Seb di Vietnam (jangan kuatir, akan saya tanya jarak semua kota dari Hanoi sampai Saigon, dalam kilometer dan mile sekaligus!)
Labels:
omong-omong kosong
Thursday, February 4, 2010
Nyambung rantai
1. Where is your cell phone? hape saya tadinya di kantong tapi sekarang sudah ada di meja karena konon katanya kabar burung, dekat2 hp radiasinya bisa bikin orang tumor otak kaya hiro nakamura di film heroes tapi kalo hiro itu tumor otak gara2 dia bisa menghentikan waktu dan bisa teleport.
2. Relationship? Hubungan semenda atau hubungan apa ya....hubungan saya baik2 saja dengan suami karena pengantin baru. Biasanya kan kalau barang baru belum bosen kaya helm saya waktu baru beli saya sayang2 sampai kalau hujan mendingan saya yang kehujanan daripada helm saya yang kehujananan. Tapi sekarang helm saya sudah boncel2 kebentur2. Hubungan dengan teman sekantor juga baik kecuali kalau saya lagi bete sama mereka pasti hubungannya tidak baik seperti hubungan saya dengan miss similikiti weleh2 (minjem istilah tukul) kalau dia lagi suka nanyain kenapa ini tidak ada padahal ada.
3. Your hair? Rambut yang kelihatan sekarang modelnya ga jelas. Terakhir dipotong oleh om2 rada banci seharga 30rb. Mungkin kalau saya potong rambut di Peter Saerang hasilnya bisa berbeda. Rambut saya sepanjang punggung, dicat merah hasil karya adik dan sudah mulai luntur trus rada bercabang soalnya jarang creambath..untungnya ga berkutu.
4. Work? Pekerjaan yang sebenarnya tidak tercinta tapi karena amanat babe terpaksa harus dilakukan yaitu Accounting bagian pajak yang bikin kepala pusing. Senangnya cuma pas ada yang ultah jadi bisa makan gratis. Sebenarnya impian saya menjadi dokter anak kaya Arizona Robins di Greys Anatomy minus lesbian. Karena pasien anak2 lebih enak dipandang daripada pasien2 tua yang kempot dan giginya tinggal dua.
5. Your sisters? Aku punya dua adik cewek yang satunya suka sensi yang satunya lebih dewasa. Untung yang sensi lagi di Jogja jadi nggak perang dunia ke delapan karena aku juga suka sensi.
6. Your favorit thing? Karena Ria juga boleh nyebutin banyak, saya juga ah. Jadi saya paling suka makan enak, nonton DVD korea, baca buku yang ga aneh2, berlibur, tidur dan ga harus bangun buat kerja, ngerumpi ama temen, ngecengin adik kelas, belanja bulanan dan yang terakhir adalah ngabisin duit sambil berharap duitnya ga abis2.
7. Your dream last night? Tadi malam kayanya mimpi dikejar2 penjahat karena ceritanya saya adalah seorang superhero yang akan menyelamatkan dunia dari kiamat. Sering lho saya mimpi dikejar2 penjahat. Jangan2 saya memang titisan Robin Hood.
8. Your favorit drink? Nu Green Tea...tiada hari tanpa minum nu green tea tapi karena boros akhirnya minumnya green tea buatan sendiri dari pagilaran yang rasanya ga ada mirip2nya ama nu green tea.
9. Your dream car?Lamborghini (bener ga ni nulisnya). Soalnya waktu itu saya liat ada yang naik lamborghini keren banget...jadi walaupun orangnya ga keren tapi naek lamborghini pasti jadi pusat perhatian.
10. Your shoes? bakiak ga ada merknya yang kalo buat jalan bunyi pletok2...
11. Your fears? takut disiksa misalnya digoreng or ditusuk2 jarum kaya putri huan zhu.
12. What do you want to be in 10 years? pengennya tinggal di luar negri biar terbebas dari polusi bajaj yang bikin sinusitis.
13. Who did you hang out with last week? Last week hang out di rumah sakit bareng suami gara2 batuk seminggu ga sembuh2 malah tambah parah ternyata penyebabnya karena hidung saya mencong. (tapi ga bikin mati sih)
.14. What are you not good at? Saya sangat bagus dalam membuat lagu yang syairnya jayus. Misalnya nyanyi lagu....jinggobel...jinggobel..jinggobal gobel.......
15. One of your wish list item? tinggal di tempat yang bisa turun salju
16. Where you grew up? dari kecil sampe besar di pekalongan tidak tercinta yang panasnya bisa bikin item dan culun. trus lanjut ke jogja yang bikin rada putih dan PD. sekarang di jakarta yang bikin hidung mencong.
18. What are you wearing? sekarang lagi pake celana jeans dan baju beli di sepupuku yang ga matching sebenarnya. tapi karena cocok buat menutupi perut gendut ya terpaksa dipake.
19. Your computer? ga punya komputer...adanya komputer kantor merk DELL yang katanya layarnya ga ada radiasinya...tapi kenapa menatap komputer lama2 mata bisa atit ya.
20. Your pet? sekarang ga memelihara binatang karena terakhir pelihara ikan mas, akuariumnya kejatuhan galon gara2 saya habis sakit demam berdarah jadi kehilangan kekuatan seperti Samson yang dicukur bulu keteknya jadi waktu nuangin galon ke dispenser, galonnya jatuh menimpa akuarium.
21. Your life? Hidup saya sekarang di tempat kerja sedang dilanda duka dan nestapa gara2 tax audit. Namun hidup saya yang lain tetaplah gembira RIA karena pulang kerja bisa nonton dvd sepuasnya dan makan enak kalau habis gajian.
22. Missing ? Saya kangen Jogja...pengen ke Jogja....tapi apa boleh buat....mo cuti sehari aja susah.
23. What are you thinking right now? saya berpikir kenapa hari ini ga bisa pulang cepat........
24. Your car? punyanya motor bebek bernama Mercury...sebenarnya punya suami sih.
25. Your kitchen? Ada dapur jadi2an di sebelah kamar kost yang kalau kita masak lamaan dikit tante kost langsung melongok karena takut gasnya langsung habis.
26. Your favorit color?merah merona seperti pipi saya kalau lagi mayuuu
27. Last time you laugh? barusan gara2 baca jawaban2nya ria hehehe..sangat menghibur soalnya sebelumnya saya lagi teleconference dengan orang india leke2 yang memusingkan karena ga tau mo ngomong apa.
28. Last time you cried? Kemarin2 karena ga punya duit dan ga ada yang sukarela mau ngasih duit ke saya 10 juta aja gitu.
29. Love? saya cinta sama diri saya sendiri (narsis mode on). Saya cinta suami, adik2, orang tua, dompet, atm, dvd player, tv....
30. So who wants to share their ONEs? ga ngerti juga ni maksudnya apa...apa share rahasia ya? saya ada rahasia..dulu waktu SMA pernah ngerusakin kaset teman tapi ga nyadar. Jadi yang tertuduh adalah teman saya yang lain....maap yaaa.
31. Person elected to the tag (tag ini saya wariskan kepada) Petter Sanjaya deh..tapi kayanya dia ga bakalan ngisi. Kalo sampe ngisi berarti keajaiban dunia ke seratus duapuluh delapan.
2. Relationship? Hubungan semenda atau hubungan apa ya....hubungan saya baik2 saja dengan suami karena pengantin baru. Biasanya kan kalau barang baru belum bosen kaya helm saya waktu baru beli saya sayang2 sampai kalau hujan mendingan saya yang kehujanan daripada helm saya yang kehujananan. Tapi sekarang helm saya sudah boncel2 kebentur2. Hubungan dengan teman sekantor juga baik kecuali kalau saya lagi bete sama mereka pasti hubungannya tidak baik seperti hubungan saya dengan miss similikiti weleh2 (minjem istilah tukul) kalau dia lagi suka nanyain kenapa ini tidak ada padahal ada.
3. Your hair? Rambut yang kelihatan sekarang modelnya ga jelas. Terakhir dipotong oleh om2 rada banci seharga 30rb. Mungkin kalau saya potong rambut di Peter Saerang hasilnya bisa berbeda. Rambut saya sepanjang punggung, dicat merah hasil karya adik dan sudah mulai luntur trus rada bercabang soalnya jarang creambath..untungnya ga berkutu.
4. Work? Pekerjaan yang sebenarnya tidak tercinta tapi karena amanat babe terpaksa harus dilakukan yaitu Accounting bagian pajak yang bikin kepala pusing. Senangnya cuma pas ada yang ultah jadi bisa makan gratis. Sebenarnya impian saya menjadi dokter anak kaya Arizona Robins di Greys Anatomy minus lesbian. Karena pasien anak2 lebih enak dipandang daripada pasien2 tua yang kempot dan giginya tinggal dua.
5. Your sisters? Aku punya dua adik cewek yang satunya suka sensi yang satunya lebih dewasa. Untung yang sensi lagi di Jogja jadi nggak perang dunia ke delapan karena aku juga suka sensi.
6. Your favorit thing? Karena Ria juga boleh nyebutin banyak, saya juga ah. Jadi saya paling suka makan enak, nonton DVD korea, baca buku yang ga aneh2, berlibur, tidur dan ga harus bangun buat kerja, ngerumpi ama temen, ngecengin adik kelas, belanja bulanan dan yang terakhir adalah ngabisin duit sambil berharap duitnya ga abis2.
7. Your dream last night? Tadi malam kayanya mimpi dikejar2 penjahat karena ceritanya saya adalah seorang superhero yang akan menyelamatkan dunia dari kiamat. Sering lho saya mimpi dikejar2 penjahat. Jangan2 saya memang titisan Robin Hood.
8. Your favorit drink? Nu Green Tea...tiada hari tanpa minum nu green tea tapi karena boros akhirnya minumnya green tea buatan sendiri dari pagilaran yang rasanya ga ada mirip2nya ama nu green tea.
9. Your dream car?Lamborghini (bener ga ni nulisnya). Soalnya waktu itu saya liat ada yang naik lamborghini keren banget...jadi walaupun orangnya ga keren tapi naek lamborghini pasti jadi pusat perhatian.
10. Your shoes? bakiak ga ada merknya yang kalo buat jalan bunyi pletok2...
11. Your fears? takut disiksa misalnya digoreng or ditusuk2 jarum kaya putri huan zhu.
12. What do you want to be in 10 years? pengennya tinggal di luar negri biar terbebas dari polusi bajaj yang bikin sinusitis.
13. Who did you hang out with last week? Last week hang out di rumah sakit bareng suami gara2 batuk seminggu ga sembuh2 malah tambah parah ternyata penyebabnya karena hidung saya mencong. (tapi ga bikin mati sih)
.14. What are you not good at? Saya sangat bagus dalam membuat lagu yang syairnya jayus. Misalnya nyanyi lagu....jinggobel...jinggobel..jinggobal gobel.......
15. One of your wish list item? tinggal di tempat yang bisa turun salju
16. Where you grew up? dari kecil sampe besar di pekalongan tidak tercinta yang panasnya bisa bikin item dan culun. trus lanjut ke jogja yang bikin rada putih dan PD. sekarang di jakarta yang bikin hidung mencong.
18. What are you wearing? sekarang lagi pake celana jeans dan baju beli di sepupuku yang ga matching sebenarnya. tapi karena cocok buat menutupi perut gendut ya terpaksa dipake.
19. Your computer? ga punya komputer...adanya komputer kantor merk DELL yang katanya layarnya ga ada radiasinya...tapi kenapa menatap komputer lama2 mata bisa atit ya.
20. Your pet? sekarang ga memelihara binatang karena terakhir pelihara ikan mas, akuariumnya kejatuhan galon gara2 saya habis sakit demam berdarah jadi kehilangan kekuatan seperti Samson yang dicukur bulu keteknya jadi waktu nuangin galon ke dispenser, galonnya jatuh menimpa akuarium.
21. Your life? Hidup saya sekarang di tempat kerja sedang dilanda duka dan nestapa gara2 tax audit. Namun hidup saya yang lain tetaplah gembira RIA karena pulang kerja bisa nonton dvd sepuasnya dan makan enak kalau habis gajian.
22. Missing ? Saya kangen Jogja...pengen ke Jogja....tapi apa boleh buat....mo cuti sehari aja susah.
23. What are you thinking right now? saya berpikir kenapa hari ini ga bisa pulang cepat........
24. Your car? punyanya motor bebek bernama Mercury...sebenarnya punya suami sih.
25. Your kitchen? Ada dapur jadi2an di sebelah kamar kost yang kalau kita masak lamaan dikit tante kost langsung melongok karena takut gasnya langsung habis.
26. Your favorit color?merah merona seperti pipi saya kalau lagi mayuuu
27. Last time you laugh? barusan gara2 baca jawaban2nya ria hehehe..sangat menghibur soalnya sebelumnya saya lagi teleconference dengan orang india leke2 yang memusingkan karena ga tau mo ngomong apa.
28. Last time you cried? Kemarin2 karena ga punya duit dan ga ada yang sukarela mau ngasih duit ke saya 10 juta aja gitu.
29. Love? saya cinta sama diri saya sendiri (narsis mode on). Saya cinta suami, adik2, orang tua, dompet, atm, dvd player, tv....
30. So who wants to share their ONEs? ga ngerti juga ni maksudnya apa...apa share rahasia ya? saya ada rahasia..dulu waktu SMA pernah ngerusakin kaset teman tapi ga nyadar. Jadi yang tertuduh adalah teman saya yang lain....maap yaaa.
31. Person elected to the tag (tag ini saya wariskan kepada) Petter Sanjaya deh..tapi kayanya dia ga bakalan ngisi. Kalo sampe ngisi berarti keajaiban dunia ke seratus duapuluh delapan.
Labels:
kurang kerjaan dot kom,
omong-omong kosong
Friday, October 2, 2009
Pernahkah Melihat Kelinci di Bulan?

Dua hari yang lalu saya ketemu adik-adik kelas saya yang manis-manis (ehm!) dan gatel-gatel. Kami dulu teman satu kost di Semarang. Kami pun bicara ngalor-ngidul, kiri-kanan, Semarang-Sukorejo dan BlokM-kota PP, sampai berbuih dan berbusa kaya sabun colek cap dua kelinci (ada ya?). Salah satu dari pembicaraan kami yang gak penting, gak aktual apalagi berbobot itu adalah saya bilang bahwa kita butuh break kalo baru lulus dari kedokteran (mereka pada baru/hampir lulus). Alasan saya, dari dulu kita sekolah terus, TK-SD-SMP-SMU-UMPTN-kedokteran-koass-PTT-spesialis. Wajar kalau kita pilih sehabis kuliah, karena jatah umptn *apa sih istilahnya sekarang? spmb ya?* cuman boleh diambil maksimal 3 tahun setelah lulus SMU dan cuman 3 kali berturut-turut boleh dicoba. Setahu saya sih begitu. Entah kalau peraturannya berubah. Jadi kita tidak ada kesempatan nunda-nunda dulu masuk universitas. Tapi kalau sesudah lulus langsung nyebur spesialis atau apalah pilihan kita, kok rasanya masa muda jadi habis buat mengejar karir ya? Kecuali, memang sudah tahu persis apa yang kita minati. Itupun menurut saya, masih kurang 'seimbang'. Kita memang sukses secara akademik, mungkin juga finansial, tapi apa ya cukup itu? *aduh, bisa dipisuhi orang kalo nganggep jadi sarjana profesi kok masih ngerasa nggak cukup* Maksud saya, apakah tidak ingin tahu apa ada pilihan lain diluar itu? Di luar siklus sekolah-berkarir-nikah-beranak? Bukan, ini bukan gerakan modern atau new-age atau apa, ini cuma pikiran saya sendiri. Kita sudah biasa ngikut orang. Adek ngikut kakak. Anak ngikut orang tua. Tapi bagaimana kalau kita tiba-tiba ingin cari jalan sendiri? Berpikir di luar kotak? Kalau sekali saja mikir, "Bagaimana kalau...Bagaimana seandainya..." dan kita menjajaki kemungkinan yang ada? Inilah alasan saya untuk sejenak lepas dan berhenti dari siklus. Saya ingin melihat sesuatu yang baru. Seperti misalnya, kelinci di bulan.
Menurut hemat saya, kita selalu merasa dikejar-kejar. Dikejar umur, dikejar kebutuhan, dikejar calon mertua. Pasti tidak asing pertanyaan, "Kapan kawin? Sekarang praktek dimana?" didengar dari tetangga-tetangga. Fase kesel atau bosen sudah saya lewati, jadi biasanya jawaban saya kopi paste saja jadi, "Masih sama seperti jawaban kemaren, tante," *paling banter dikira sakit sarap* Kita betul-betul didesak untuk saling mengejar, saling berlomba. Mengejar apa? Tidak satupun tahu. Tapi karena yang lain berlari, kita latah ikut jogging karena takut nggak kebagian.
Saya pernah ditanya, "Pernahkah melihat kelinci di bulan?". Pertanyaan ini tidak biasa saya dengar sebelumnya, jadi giliran saya yang mengira si penanya sakit sarap. Dia mengajak saya melihat bulan penuh dari atap. Tidak ada pembicaraan lain sesudah itu. Cuma melihat bulan. Langit kebetulan bersih, jadi sinarnya lumayan terang. Yang saya heran, saya sudah hidup dua puluh tujuh tahun waktu itu, saya belum pernah benar-benar melihat bulan. Padahal banyak yang menggunakan bulan sebagai pedoman: penanggalan jawa, cina dan arab. Orang yang pergi melaut. Menentukan 1 Ramadhan. Siklus haid. Dan sebagainya.
Intinya bukan melihat bulan. Kita hidup di jalur cepat. Kadang semuanya membuat kita sibuk, dan saya tidak bisa bilang itu salah karena kita semua dituntut untuk selesai secepat mungkin. Lulus segera. Laporan rampung segera. Datang ke kantor segera. Kejar tayang. Pokoknya cepat. Kilat. Instan. Ini membikin kita lupa untuk melihat pohon berbunga sebelum berbuah, pagi berkabut sebelum cuaca memanas, ayam bertelur sebelum ada anak-anak ayamnya. Joko sembung bawa kursi. Yang saya pingin berbagi adalah, jeda itu perlu. Kita tidak pernah akan jadi tertinggal kalau kita mengambil waktu untuk "mengalami" bukan sekedar "melewati". Kalau mengambil istilahnya Stephen Covey di bukunya 7 kebiasaan, ini adalah fase mengasah gergaji. Jadi, sudah pernahkah melihat kelinci di bulan? Tengoklah ke atas langit nanti malam, ini masih bulan agak-agak penuh. Lebih asyik dilihat aslinya, gambar saya cuma untuk membantu berimajinasi saja.

Labels:
omong-omong kosong
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jam
Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...
Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...
Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)
Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)
About Us
- Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman
- pindah2..tergantung mood, Indonesia
- Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p