Showing posts with label opini pribadi. Show all posts
Showing posts with label opini pribadi. Show all posts

Monday, August 16, 2010

Passion...Subjektif or Objektif


Ada teman saya yang bercerita kalau dia baru mendapatkan penilaian paling tidak objektif dari atasan dia. Performance kerja teman saya ini sebut saja namanya Bunga (mirip nama korban2 di koran lampu merah) dinilai C karena atasan dia bilang kalau dia kurang passion dalam mengerjakan pekerjaannya. Saya mencoba menganalisis masalah ini dan pada akhirnya biarlah pembaca yang memutuskan apakah nilai C itu pantas diberikan kepada Bunga.
  1. Apakah tolak ukur passion itu? Kalau kinerja baik atau tidak baik seorang pembuat batu bata bisa diukur dari berapa banyak batu bata yang dihasilkan dalam satu jam. Kinerja seorang agen asuransi bisa dilihat dari berapa banyak klien yang direkrut dalam sebulan. Namun apakah kinerja teman saya yang seorang staff pajak ini bisa dinilai dengan passion? Ketika teman saya berkata, "Passion kan tidak bisa diukur?". Atasannya menjawab bahwa passion memang tidak bisa diukur tapi bisa dilihat. Nah...berarti penilaian passion ini hanya dilihat dari luarnya saja. Padahal ada pepatah mengatakan "Jangan menilai buku dari sampulnya". Orang yang bekerja dengan passion tidak bisa dilihat cuma dari tampang dia. Bagaimana kalau orang itu memang wajahnya selalu tanpa ekspresi, apakah berarti dia tidak punya passion padahal dalam hati dia bekerja dengan sepenuh hati. Sialnya lagi kalau ada orang yang garis bibirnya melengkung ke bawah alias selalu cemberut dengan tidak disengaja, bisa2 bosnya selalu melihat dia mengerjakan pekerjaannya dengan tidak senang hati. Apakah dengan itu dia langsung dinilai buruk?
  2. Bunga ini dulu lulusan terbaik kedua di universitasnya dan saya sendiri kenal dia sejak kuliah jadi saya bisa memberikan opini apakah dia cuma pintar dalam teori atau praktek juga. Saya pernah sekantor dengan Bunga sebelumnya jadi saya tahu kalau Bunga bisa mempelajari pekerjaan dengan cepat dan bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Load pekerjaan di kantor lama bisa dibilang sangat banyak tapi Bunga bisa menyelesaikan dengan efektif alias tidak perlu lembur2. Di kantornya yang sekarang pun Bunga bisa mengerjakan pekerjaannya dengan cepat. Buktinya dengan load pekerjaan yang sama, Bunga sangat jarang lembur2. Sedangkan orang yang dulu memegang pekerjaan dia sudah lembur2 tapi masih saja pekerjaannya tidak selesai. Waktu atasannya ada yang maternity leave juga Bunga bisa menghandle pekerjaan dengan baik.
  3. Sebagai staff pajak ada beberapa objective yang dijadikan penilaian misalnya apakah lapor dan bayar pajak pernah terlambat atau tidak. Mengidentifikasi jurnal2 pajak tepat pada waktunya sebelum closing tiap bulan, dan lain2. Semua itu bisa dilakukan dengan baik oleh Bunga. Jadi untuk mendapatkan nilai C alias Meet Expectation sudah di tangan.
  4. Untuk mendapatkan nilai B (Exceed Expectation) berarti Bunga harus bisa mengerjakan sesuatu yang lebih dari job descriptionnya dan itu sudah dibuktikan dengan Bunga bisa menghandle pekerjaan dengan baik saat atasannya maternity. Selain itu Bunga juga sudah berinisiatif dengan menemukan cara lebih cepat untuk mengerjakan pekerjaannya yaitu dengan menggunakan rumus2 Excell yang lebih canggih. Apakah orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik bisa dibilang kurang passion? Orang yang ga punya passion pasti boro2 pekerjaannya selesai, ga banyak salah saja sudah untung.
Dari 4 hal di atas seharusnya Bunga bisa mendapatkan nilai B. Hanya karena kurang passion saja dia hanya mendapatkan nilai C. Menurut saya ada beberapa kemungkinan kenapa Bunga mendapatkan nilai lebih rendah dari seharusnya:
  1. Atasan Bunga sangat subjektif. Mungkin Bunga kurang bisa mengambil hati atasannya. Teman saya pernah bilang kalau menjilat itu sangat penting dalam berkarir.
  2. Perusahaan memang sudah mentargetkan agar hampir semua karyawannya mendapatkan nilai C jadi ga perlu memberikan kenaikan gaji yang besar.
  3. Atasan Bunga takut tersaingi, siapa tahu dia aja nilainya C masa dia mau memberikan Bunga nilai B. Bisa2 Bunga dipromote melebihi dirinya.
  4. Bunga lagi sial aja karena mendapatkan atasan yang sentimen sama dia.
  5. Bunga seharusnya laki2 karena atasannya itu perempuan. Secara umum atasan perempuan lebih suka punya anak buah laki2 dan sebaliknya.
  6. Bunga seharusnya mencari pacar petinggi perusahaan pasti atasanya segan
  7. Bunga mendingan cari pekerjaan lain saja yang bisa memberikan penilaian lebih objektif.
  8. Seharusnya saya saja yang menjadi atasan Bunga, pasti Bunga saya beri nilai Outstanding.
  9. Bunga mendingan membuka perusahaan sendiri saja dengan passion
Jadi..apakah Bunga layak mendapatkan nilai C?

Friday, July 9, 2010

Status, penting banget yah?

"Jangan gitu ah, nanti dibilang apa sama tetangga,"

Saya lagi mikir, kok hebat banget ya pengaruh 'imej' dalam menentukan kelakuan kita sehari-hari. Bagi pengunjung blog saya, silakan duduk. Saya mau bersihin sarang laba2nya dulu. Heheh. Sudah lama sekali blog ini tidak saya sambangin (sampai lupa URLnya. Aih lebay).

Ceritanya tiga minggu yang lalu saya tabrakan naik motor, trus selama 9 hari saya idup menebeng ortu. Numpang makan, numpang bobo dan numpang dicuciin kolor, tanpa satupun kerjaan rumah tangga saya nyumbang bantu-bantu. Yah namanya juga korban KLL, saya dapat kartu bebas tugas. Yang saya lakukan cuman makan, tidur, nonton bola, garuk-garuk idung, minum susu (biar cepet sembuh) dan ngetik di keyboard pake tangan kiri (tangan kanan saya bengkak). Disamping kehidupan ala miliuner yang saya jalankan, saya juga jadi banyak ngobrol sama nyokap. Nyokap lagi mengeluh males banget datang ke kondangan keluarga yang nyinyir atau nonggo (silaturahmi/maen ke tetangga).

"Dulu selalu nanya, anaknya sudah pada lulus belom, sudah pada kerja belom. Sekarang nanya kapan mantu," Kata nyokap, mereka selalu tanya tentang hal-hal yang dirasa 'kurang' dari keluarga kami. Jadi meskipun kluarga saya termasuk cukup cool dengan pilihan anak-anaknya, mereka mendapat tekanan dari lingkungan (maklum idup di desa kelurahan).

Tekanan ini juga saya rasakan sewaktu habis PTT dulu. Status saya saat itu penganggguran penuh waktu profesional dan saya tinggal di rumah ortu. Semua orang sibuk bertanya dan menyarankan pekerjaan untuk saya. Semua! Bukan cuma dari tetangga dan kerabat, tapi juga sejawat. Sampe malu kalo ketemu mantan temen kuliah. Karna kalo ditanya, "Sekarang ngapain?/kerja apa sekolah? Spesialis apa?" jawaban saya selalu standar, "Nggak ngapa2in. Kecuali kalo ngelayap sambil nyuci2 piring diitung pekerjaan," Padahal, berhubung habis kerja setahun, saya mandiri secara finansial waktu itu.

Nah sekarang? Kalo ditanya dengan pertanyaan serupa, dengan PeDe saya bisa menjawab, "Lagi CPNS (Cewek Pengelana yang Nampaknya Sibuk kerja kantoran)," meskipun pada dasarnya saya 10 kali lipat lebih miskin daripada pas penggangguran penuh waktu jaman pasca PTT dulu. Tapi sekarang saya tidak punya tekanan sosial lagi. Pasalnya: status saya jelas! Bokap bahkan nggak ngeluh waktu masih ngirim uang bulanan kayak jaman saya kuliah dulu *ngaku kalo masih disubsidi* karena sang gaji belon kliatan batang idungnya apalagi wujud nyatanya (sekarang masih tak kasat mata).

Sekarang, seperti keluhan ibu saya, status yang belum jelas adalah bahwa saya belum menikah. (Belum, nggak boleh bilang tidak. Yang kedua kesannya kayak cewek yang pake baju pengantin tinggal di loteng dan sakit jiwa persis di novel Jane Eyre. Amit-amitabachan). Saya sendiri udah bosen banget mbahas topik yang satu ini. Cuman mau cerita bahwa beberapa hari yang lalu saya diliatin temen kuliah: tulisan saya waktu masih ABeGeh dulu. Isinya curhat tentang pacar yang nyebelin, dan beberapa bulan kemudian tentang cowok lain yang lagi deket dan senang karena diperhatikan 3 orang pria sekaligus sehabis putus. Alamak. Ini beneran dulu saya yang nulis??? Intinya, untung saya diberi pilihan untuk tidak menikah. Hubungan saya dulu sangat enggak banget dan kepribadian saya lebih jauh daripada jalan jongkok Terboyo-Mangkang dari orang yang dewasa. Kalau saya cuman menuruti tuntutan status, mungkin saja dari luar saya kelihatan baik (dan masuk akal) tapi saya tidak pernah berkembang menjadi diri sendiri dan belajar menjalin hubungan yang sehat. Teman yang kenal saya luar-dalam (jeroan, spare part dan onderdil2nya) mungkin mengerti mengapa kita memutuskan untuk tidak sekedar mencari status yang aman. Namun sayangnya, tekanan sosial selalu datang dari orang-orang yang justru tidak tahu-menahu tentang kita. Status yang tidak sesuai dengan apa yang dianggap baik, akan terus ditantang dan dipertanyakan. Oleh orang-orang yang tidak tahu sehingga agak percuma juga dijelaskan. *Bukan status facebook ya. Itu laen perkara*

Saya pernah ditanya atasan dengan nada kecewa, "Kok belum menikah sih?" karena PNS biasanya suka pindah gara2 ikut suami. Ada teman saya yang nggak ketrima beasiswa spesialisasi cuma karena belum menikah! (karena jadi tidak ada jaminan penerima beasiswa akan kembali ke daerah asal). Status, biarpun cuman label, ternyata sangat berpengaruh pada hajat hidup orang yang bisa buang hajat. Saya menyadari, apa yang dilihat orang masih segitu pentingnya dalam hidup, bahkan sampai mempengaruhi pilihan2 kita. Apakah memang kita bisa dikendalikan oleh apa yang diterima dan tidak dalam masyarakat? Bagaimana kalau mereka salah? Bagaimana kalau kita tahu yang lebih baik untuk kita sendiri dan memilih mengabaikan tuntutan status ini?

Sunday, June 20, 2010

Life, get one!


Jujur, ngapain aja sih kegitan sehari-hari kita? Sebagai lajang semi pengangguran kurang kerjaan dengan doku pas-pasan dan pikiran yang demen kelayapan; hari-hari saya dimulai dengan bangun tidur, nguap, ngupil, garuk-garuk nggak jelas, mikir mo ngapain hari ini, liat jendela ujan apa kagak, ngucek2 (mata, bukan cucian), berusaha tidur lagi (mengamalkan pesan Mbah Surip), ngintip tetangga yang lagi nggosip sambil ngasih makan bebek peliharaannya, biasanya jadi inget sama piaraan sendiri trus jalan ke akuarium, mengucapkan slamat pagi sama ikan2 dan ngasih mereka makan, kalo nggak males nyiramin taneman pake aer bekas bocoran AC, trus critanya ngantor. Buka kompie, naroh tas trus kluar cari gorengan, habis itu buka internet dan ngeblog. Pas udah kelar (ngeblognya eh ngantornya ding), cari makan siang, pulang, tidur siang. Habis itu mantengin laptop, ngerefresh facebook tiap 2 detik. Kok nggak ada perubahan ya? Liat2 tweeter orang, barangkali ada bercandaan yang lucu. Temen saya dari Korea, tweet-nya gak bisa saya baca. Yang lainnya jargon, becandaan intern yang saya nggak ngerti juntrungannya. Mau ngikutin dari awal, loadingnya lama trus eror. Bosen nggak ada yang dikerjain di internet, saya pindah ke DVD bajakan. Blom separo diputer, sudah ngadat. Saya ditinggal dengan rasa penasaran yang cukup buat bikin hantu bergentayangan dan males segera masuk surga. Saya nge-SMS temen buat diajak makan bareng. Kalo berhasil, saya makan sambil ngerumpi. Kalo nggak, ya tetep ngerumpi juga ama tukang cuci piringnya. Kekenyangan setelah makan malem, saya akan ngesot ke kasur. Baca buku yang udah ada sejak taon kemaren dengan mata tiyip2 dan dalam waktu kurang dari 1 halaman (kayaknya 'halaman' bukan satuan waktu) saya udah ngorok tenang dan segala rutinitas di atas terulang lagi...

Betul sekali. Contoh di atas adalah hidup super nggak produktip dan beresiko terkena serangan kesambet penunggu pohon durian. Pikiran jadi nggak fokus, suka ngoceh mulai dari tumpahan minyak BP, reaksi Obama, vide porno, pengurangan subsidi listrik sampai babak penyisihan Piala Dunia (itu mah semua orang kali). Yang paling bikin frustasi adalah rasa bosan. Rasa ini membunuh segala antusiasme dan semangat juang (untuk lolos dari seleksi alam). Kayaknya kreatifitas dan rasa ingin tau kesumbat kaya tempat cucian piring yang ketumpahan sisa nasi kuah tengkleng. Atau selokan yang kepenuhan bekas bungkus deterjen dan sabun GIV dan supermi rasa baso sapi. Kalau sudah begini dan saya ngeluh, mulailah orang cuap-cuap supaya saya cepet nikah. Karena, itu adalah pekerjaan tetap seumur idup yang jam kerjanya 24/7 tanpa jaminan sosial dan dana pensiun. Dijamin nggak akan kurang kerjaan, katanya.

Salah saya. Saya dirancang untuk hidup nomaden, dengan segala perubahan dan irama yang nge-beat. Tapi sekarang saya malah memilih untuk jadi pegawai kantoran dengan rutinitas yang sama dari sekarang ampe minimal seratus taon ke depan (kecuali tangga sudah diganti dengan teleport) dan irama yang kroncong dengan ketukan 10/8. Tapi sungguh, ini bukan halangan buat mencari kobaran adrenalin dalam hidup.

Misalnya, rutinitas saya diubah dengan: bangun tidur, bangunkan semua temen kost-kostan dan mengorganisir yoga. Ganti tempat parkir kost-kostan dengan area meditasi, pasang air terjun lengkap dengan musik klasik India dan burung-burung camar yang beterbangan. Ubah motor Kymco saya jadi Harley, mau ke tempat kerja muter dulu ke Gunung Sindoro di Ungaran. Daki gunung dulu, kalo perlu tiap malem nginep di puncak-puncak yang berbeda. Sebagai ganti kompie saya di RS, pake iPad dan mulai mendownload pekerjaan dari Kepulauan Langkawi (katanya iPad itu waterproof dan gapapa kalopun kelelep di Samudera Pasifik). Kalo perlu konsultasi dengan bos, pake video konferensi yang disiarkan dari Gunung Semeru. Tidur siang? Usahakan tidur minimal kalo enggak di kapal pesiar yang mengarungi Samudera Atlantik ya di hammock salah satu pantai di Thailand. Jangan lupa ngupdate status di facebook. Tiap 2 menit, kalaupun tidak ada perubahan, kitalah yang membikin perubahan. Statusnya jadi, "Ditunggu pesawat jet untuk makan siang di Vanuatu," atau "Ketiduran. Sudah sampe dimana ini? Kenapa sejauh mata memandang banyak gunung es dan anjing laut?"atau"Ternyata saya masih hidup dari kedalaman 200 meter di bawah permukaan air laut. Kapal selam US Navy boleh juga," atau "Wow. Lap dancer. Cowok ato cewek ya?" atau "Ternyata rusa kutub tidak boleh ditunggangi. Dasar sinterklas tukang ngibul!"

Jangan lupa, untuk makan malam dan tidurnya kita juga harus pilih yang unik, misalnya, "Menu hari ini otak2 kepala kera. Tidur di hutan tropis pedalaman Kalimantan," atau "Menunya kok cuman seuprit foie grass. Masih laper kalo nggak pake nasi uduk. Dasar. Gimana sih Marriott Paris ini restonya!" atau "Gak bisa tidor. Meskipun udah makan cheese fondue dan berada di president suite Interlaken hotel, masih kepikiran buat skydiving besok,"

Sayangnya, kadang hidup nggak selalu seperti yang kita harapkan. Kadang terjal dan penuh rintangan (lebay). Dan pada akhirnya, yang kita perlu hanyalah membuat hidup ini indah, tiap menit berarti, tiap hari adalah hari yang baru dan baik. Dan membuat hidup kita berguna bagi orang lain. Jadi, daripada cuman ngebet cari jodoh dengan cara SMS garing atau ngarang cerita wagu tentang seseorang yang naksir dirinya (akibat sinetron, tetep!), kita bisa:
- menyalurkan hobi : entah menulis, teater, nyanyi, main musik, komputer, membaca, melukis, membuat kerajinan tangan, memasak, olah raga atau 1001 kegitan lain. Semuanya berguna, bagus dan luar biasa menyenangkan, jika kita memang menyukainya.
- mencari ketrampilan baru : belajar sesuatu yang baru yang juga kita nikmati.
- bekerja di gereja/panti/lembaga sosial : jadi relawan itu memenuhi kebutuhan rohani kita sendiri lho
- bikin proyek. Bisa untuk diri sendiri maupun untuk temen2 yang sepaham. Contoh : (kali ini beneran hehe) bikin film, mentasin drama untuk acara tertentu, ikut kursus dansa, masak-masak tiap hari Minggu buat orang-orang gak mampu, nulis artikel untuk majalah/koran, ngelukis mural, belajar skating atau ngerajut, bikin band, atau bercocok tanam dan piara macam-macam unggas, belalang, tokek dan ikan cupang.

Untuk topik serius lain yang nggak ada hubungannya, saya turut berduka cita atas meninggalnya papa Kristina. Kris, aku percaya papamu sudah memulai perjalanannya di tempat yang lebih baik. Tinggal kita yang masih meneruskan hidup, yang masih bisa membuat yang buruk menjadi baik.

“If the people we love are stolen from us, the way to have them live on is to never stop loving them. Buildings burn, people die, but real love is forever.” The Crow (1994)

Sunday, June 13, 2010

Banyak anak banyak rejeki. Hare gene??


Saya masih nggak bisa mengerti kenapa orang-orang pada berkembang biak cepet sekali seperti mencit balb/c. Bahkan lebih parah: bakteri (sepuluh pangkat lima per detik).

Populasi Indonesia sudah lebih dari 230 juta; konon juara ke empat sedunia (setelah Cina, India dan Amerika, yang gedenya jelas melebihi Indonesia). Lebihnya mungkin saja banyak karna tahu sendiri kalo sensus itu suka ada yang nggak keitung akibat KTPnya hanyut pas kebanjiran, ato lagi ngekost di kampung sebelah, ato lagi sibuk buruh nyangkul di sawah tetangga, ato lagi ngider trayek Pasuruan-Kalideres. Sebenernya saya nggak peduli sih soal kepadatan penduduk (malah sempet nyesel kenapa nggak juara pertama? haiyah) tapi saya peduli *banget* sama anak-anak di gang kampung tempat saya ngekost. Soalnya pas saya tidur siang, mereka suka teriak-teriak dan ributnya bukan maen...

Alkisah ada seorang mantan pembantu kost yang dulu waktu saya masih koass (magang di RS) enam tahun lalu keluar dari kerjaan karena menikah. Dia setahun lebih muda dari saya. Dia juga masih tinggal di gang yang sama. Suatu sore yang indah, ketika matahari sudah tidak terlalu menyengat, ketika tukang es serut dan buah dingin mulai digantikan sama tukang jual wedang ronde dan sate ayam (ketika kuhadapi kehidupan ini auwoo uwoo); saya ketemu dia. Dia menggendong anaknya, umurnya kira-kira setahun. Saya menyapa dan bilang, "Ini anaknya ya? Lucu sekali!," kata saya pura-pura tertarik. Soalnya saya masih curiga anak ini termasuk yang berisik di siang bolong.
"Iya ini anak saya yang ketiga. Itu yang pertama, sudah SD. Yang kedua, lagi main sepeda di sana,"

Saya takjub binti ternganga bonus bengong. Pantesan gang saya sudah kayak taman kanak-kanak yang semua muridnya turun kampung gara-gara diDO dan gantinya disuruh main kecebong. Sebenernya mereka cuman produk lokal, alias sumbangan dari masing-masing rumah di kampung. Ada lagi tukang jual pecel di pojok gang yang tinggal di rumah pak RT. Pas saya lagi jajan pecel (pecel=snek. Makan besarnya apa lagi coba?) mereka pada berlarian, kayaknya sepuluh orang, nyaris seumuran, dari rumah yang sama.

"Anak-anak siapa saja itu Bu? Lagi pada main sama anak tetangga ya?" tanya saya pada bu tukang pecel.

"Oh bukan. Itu anak adek saya yang pertama, lalu kakak ipar saya yang tua, adek sepupu saya dan cucu bude saya,"

"Semua tinggal di rumah?"

"Iya. Kan suaminya semua tentara," Aduh emak. Saya sih nggak bakal mau ngekost di sebelah rumah pak RT itu!


Saya sih nggak nyalahin orang punya anak. Cuman apa ya mereka nggak mikir gimana nyekolahin anak-anak itu sampai setinggi-tingginya? Ngasih mereka ruang pribadi yang layak, rumah dengan halaman rumput tempat mereka bermain, mendengarkan dan memperhatikan perkembangan pribadi mereka satu-persatu dan memberi mereka ketrampilan praktis, pengetahuan budaya dan seni? Atau memberi modal ketika mereka berusaha mandiri? Atau mbeliin mereka jaguar satu-satu ;p? Kalau dalam 6 tahun tiga anak lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, apa iya kualitas hidup anak-anak ini akan melebihi orang tuanya? Lebih dari sekedar kebutuhan finansial, anak juga butuh didukung dalam pertumbuhannya. Kalau orang tua sendiri masih terlalu muda dan harus bekerja Senin sampai Sabtu pagi sampai sore (kadang malam), apakah anak akan ada yang mendampingi selama dalam masa pertumbuhan terbesarnya (golden age 0-2 tahun)? Yang saya tidak setuju adalah pendapat bahwa bikin anak kayak kejar setoran, demi 'investasi masa depan'. Biar ada yang ngerawat, biar pas kita tua anak-anak masih muda dan produktif. Gimana dengan kesiapan mental sebagai orang tua? Kalau ada yang masih percaya bahwa 'anak adalah titipan Tuhan' harusnya sadar kalau mengasuh anak butuh kesiapan, baik mental maupun finansial. Dan ya jangan banyak-banyak. Karena nggak bakalan sanggup kita memberi maksimal kalo yang pertama baru putus menyusu adeknya sudah ngantri di belakang. Semua teman saya yang nikah (kecuali Kristina yang emang unik dan berbeza) langsung tancap gas bereproduksi. Tentu saja ini hal yang baik, hanya saya berpikir nikah itu bukan untuk punya anak. Tampaknya kata-kata di kitab kejadian, "Beranak cuculah dan penuhilah bumi..." masih dihayati terlalu mendalam meskipun itu perintah jaman Adam dan Hawa.

Jaman sekarang ini, punya banyak anak jelas beban dan stressor. Pengeluaran rumah tangga meningkat, waktu luang untuk diri orang tua sendiri berkurang, beban pekerjaan bertambah karena harus menafkahi satu orang lagi. Apalagi taraf dasar listrik bakal naik bulan Juli nanti dan kita kan butuh listrik buat nonton final World Cup*joko sembung jaya*. Terlebih pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesempatan/lapangan kerja tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk (ya iyalah. Mana ada yang pertumbuhan ekonominya sepuluh pangkat lima per detik?). Ayolah, pikir. Lebih baik meningkatkan kualitas hidup dulu, serta tidak menciptakan anak tapi tidak sanggup membuat taraf hidupnya lebih baik dari kita sendiri. Atau, kayak saran temen saya: lebih baik tuh TV, PS2, internet dan Inul Vizta digalakkan masup kampung. Biar hiburannya bukan cuman bikin anak. Atau pembagian kondom gratis kaya di Papua. Intinya sih jangan dengerin orang yang selalu tanya kapan punya anak sama yang baru nikah. Nikah itu untuk kebahagiaan, bukan untuk berkembang biak. Jangan mengorbankan hidup cuman buat bikin perusahaan popok senang.

Sejujurnya, apa iya saya sebegitunya prihatin dengan kepadatan penduduk Indonesia, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan keluarga? Nggak juga sih, saya cuman pingin tuh anak-anak tetangga pindah main di kampung sebelah aja. Soalnya saya butuh tidur siang...

Friday, April 30, 2010

Ramah atau Sekedar eSKaeSDe sih??


Gambar dari web.
Sebetulnya ingin nulis tentang perjalanan saya dan Kristina tapi apa lacur yang kepikiran justru topik ini.

Pernahkah disapa orang tak dikenal dan diajak bicara di jalan? Bukan, saya tidak sedang membahas soal copet atau orang yang dihipnotis terus dicuri blekberinya berikut kartu ATM dan PIN. Ini cuma pembicaraan remeh-temeh dengan orang di ruang tunggu, di stasiun, di bis, di kereta api atau angkot. Mulanya saya selalu menanggapi pembicaraan ini, terutama kalau yang dibicarakan adalah: jam berapa kereta/bis bakal nyampe di tujuan, kalo mau ke tempat anu brentinya dimana, jam berapa, tanggal berapa, hari apa (kok kaya pertanyaan orang yang baru kebangun dari koma), atau dimana letak jalur ke anu atau gate tertentu atau dimana mesin ATM atau toilet. Sungguh, saya dengan senang hati memberi tahu, bahkan sambil tersenyum meskipun saya bukan costumer service atau pegawai pizza hut ataupun mbak-mbaknya yang jaga Giordano. Tapi ada kalanya, orang bertanya dan ngajak bicara untuk hal-hal yang sama sekali nggak penting dan justru malah mengganggu orang lain. Kalo menurut istilahnya Kristina sih overfamiliar dan nosy. Kalo menurut bahasa gaul istilahnya eSKaeSDe (sok kenal, sok dekat
-sok akrab, sotoy dan mau tau aja urusan orang). Kok jadi panjang ya istilahnya. Tapi tahu persis maksud saya kan?

Contohnya pas saya dan Kristina ada di ruang tunggu bandara. Saya lagi mengomel-ngomel sendiri karena sabun cair dan shampo saya harus dilempar ke tong sampah berkat kemasannya yang lebih dari 100 ml. Apa sih bahayanya sabun aroma jeruk satsuma dan Rejoice rich sebanyak 250 ml? Kalo saya bisa bikin peledak pake sabun dan shampo saya sudah kerja di pentagon sekarang, bukannya jadi kuli di kariadi. Tiba-tiba ada bapak-bapak di samping saya yang menimpali, "Saya juga kok Mbak. Alat buat menggunting bulu idung saya disita padahal itu sudah saya pakai bertaun-taun dan saya cinta banget sama barang itu. Mana mungkin gunting sekecil itu dianggap senjata berbahaya?" Bapaknya bicara dengan penuh simpati, sambil memperlihatkan keprihatinannya akan bulu idung yang bakal tak terawat lagi sejak insiden di bandara itu. Saya pun merasa mendapat teman senasib sepenanggungan meskipun saya tidak terlalu kuatir terhadap bulu hidung saya. Jadilah kami mengobrol sedikit, dan tahu-tahu ada mas-mas garing (MMG) yang duduk persis di samping Bapak tadi ikut menimbrung tapi pembicaraannya enggak banget. Coba saja lihat pembicaraan kami:

Bapak-bapak bulu idung (B3I) : Kayanya bandara di sini lebih ketat daripada Indonesia...
Kristina(K) : Iya, kalau di Indonesia gunting bulu idung nggak mungkin disita karena nggak bisa dipakai lagi sama petugasnya. Kalo sampo sama sabun masih mungkin sih. Atau gunting yang besar juga mungkin. Misalnya gunting tanaman atau gunting pita buat peresmian...(si Kristina terkenal jago ngomong yang nggak ada hubungannya tapi terkesan logis. Bakat bawaaan orok)
MMG : Lho Mbaknya kenapa pakai sari? (nimbrungnya gak nyambung dan ngomentarin penampilan orang lagi)
K : Kita baru ikutan lomba Miss India...(sok happening gitu deh)
B3I : Masa sih? Beneran ya lagi ada lomba begituan? (naif)
Saya (R) : Nggak kok. Ya cuman pengen aja sih Pak, biar wagu gitu...*merasa kita terlalu keren kalo nggak norak, khekhe. Narsis dot ko dot aidi*
MMG : Kok sarinya merah sih? Bagusan putih semua...Trus kenapa pakai sari? Suka ya ama baju India? Merahnya terang banget jadi silau gitu....dan nggak kompak, kalo mau kembaran...
*Saya mulai males nanggepin. Pertama, ini bukan urusan dia sama sekali. Kalaupun merasa penampilan kami nyeleneh atau aneh (baca:unik. Harus dibaca unik!) cukup bilang aja, "baju kalian beda ya?" atau muji sekalian "bajunya bagus,". Kalau MMG punya IQ yang sedikit lebih tinggi dari pohon ketela rambat, dia bakal tahu kalo bicara dengan pujian adalah cara terbaik untuk memulai pembicaraan dengan wanita, bukannya jadi kritikus busana tapi dengan komentar ala komentator Persipura. Kedua, dia membuat saran dan menilai habis-habisan, padahal nggak ada yang minta pendapat. Kami bahkan tidak saling kenal!*
K : Ya memang sengaja merah-putih, biar terkesan Indonesia gitu...
B3I : (mangut2 meskipun nggak mudeng)
MMG : Harganya berapa? (ke saya, Kristina lagi cari toilet soalnya)
*Saya nyaris nggak percaya sama apa yang saya dengar. Kalau dia tidak tertarik sama sari, kenapa pakai nanya harganya? Saya mulai pura-pura nggak dengar. Cukup sudah pembicaraan yang sangat SKSD ini, saya pura-pura sibuk mbetulin tali sepatu yang gak ada talinya*
MMG celingukan karena tidak mendapat respon. Tiba-tiba dia lihat barang belanjaan saya yang saya beli dari off duty. Cuman satu saja lho padahal barangnya.
MMG : Itu merk apa ya? Harganya berapa?
Saya masih pura-pura sibuk. Tapi demi dewa monyet Sun Go Kong, MMG tanpa basi-basi mencolek lengan saya. Lebih dari sekali karena saya masih berusaha mengabaikan dia.
MMG : Mbak mbak, itu beli harganya berapa?
Saya pun, berkat didikan harus sopan pada orang lain meskipun orang lain tidak sopan, menjawab dengan nggak rela dan kesal, tapi untunglah, pesawat kita boarding.

Ini bukan kejadian pertama kali. Seringkali saya diajak ngobrol di kereta/bis/pesawat, pertanyaannya kadang menjurus ke enggak banget. Biasanya ditanya, "Sendirian aja Mbak?" lalu disambung, "Sudah menikah?" atau "Kerja dimana?/kerja apa?". Yang menyedihkan, sambungannya selalu saran yang tidak diminta, kritik yang tidak diharapkan atau yang paling parah flirting yang nyaris seperti pelecehan. Kadang saya bohong habis-habisan untuk melindungi diri sendiri atau untuk menghindari orang yang kegatelan, tapi kebohongan saya selalu diperparah dngan pertanyaan yang lebih kacau lagi. Misalnya pembicaraan itu disambung dengan:

"Suami/pacarnya kemana?"
"Suaminya orang mana? Anaknya berapa?"
"Aslinya orang mana? Kerja dimana? Mau kemana? Ngapain di sana? Gaji per bulan kalau di situ berapa? Ada lowongan gak?" (Saya nggak mengada-ada. Saya betul2 pernah ditanya ini semua sama orang asing di transportasi umum)
"Oh, kalo gatel-gatel panuan obatnya apa? Encok? Kadas? Kurap? Mata ikan? Cantengan?"
"Lho kenapa nggak praktek?"
"Nomer HaPe Mbaknya berapa?"
"Tinggal di daerah mana? Alamatnya apa?"
"Bapak ibu kerja apa?"
"Umurnya berapa?" (Kenapa gak skalian nanya," Sudah punya NPWP belom? Nomernya berapa?")
"Sudah pernah ke sini belum? Nanti tinggal dimana? Berapa hari? Ada yang jemput?"

Mungkin saya yang paranoid, tapi menurut saya orang-orang ini bukan lagi ramah melainkan mengganggu urusan orang lain. Pertanyaan yang ramah intinya adalah untuk membantu, baik orang yang bertanya maupun yang ditanyai, bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu belaka, apalagi untuk mengukur orang lain: apakah orang ini kaya/tidak, potensial/tidak, orang yang punya kedudukan/tidak. Sebenarnya saya juga bingung apa fungsinya bertanya yang mendetil tentang orang asing yang baru saja kita kenal. Cari koneksi? Iseng? Memuaskan hasrat menggodai perempuan yang pergi sendirian?

Saya sebetulnya suka berkenalan. Percaya atau tidak saya sudah berkali-kali diselamatkan orang di bandara/stasiun/terminal. Saya punya teman seperjalanan selama seminggu cuma hasil mengobrol beberapa menit di antrean pintu toilet wanita. Saya punya tempat nebeng di antah berantah cuma karena saya mengomentari cuaca dengan orang yang duduk di samping kursi pesawat saya. Saya diajak makan dan diantar ke terminal bis karena saya membantu angkatin barang ibuk-ibuk di stasiun kereta. Mungkin memang benar, di dunia ini selalu ada yin dan yang. Ada orang yang baik, ada orang yang SKSD doang. Tapi demi keamanan, saya sekarang jarang sekali berbasa-basi kecuali saya tahu orang tersebut butuh bantuan. Sisanya? Duduk terpisah, pasang iPod dan baca buku yang selebar wajah atau isi Sudoku. Mungkin, kalau peristiwa beginian masih berlanjut, saya akan pertimbangkan ulang keputusan saya yang anti HaPe-HaPean selama 24 jam. Mungkin pura-pura sibuk menelpon adalah cara terbaik menghindari orang usil di jalanan!

Tuesday, April 20, 2010

10 Kebiasaan Wanita Yang Tidak Efektif

Tulisan ini kepikiran gara-gara hari Kartini yang sayangnya tidak saya rayakan karena tidak bertepatan dengan hari gajian, tidak libur, tidak disuruh upacara bendera dan tidak ada pawai apa-apa di kampung saya. Sebagai wanita muda Indonesia *taela*, saya bangga sebagai wanita yang sederajat dengan pria; tidak untuk menyaingi pria, tapi menjadi rekan yang punya sudut pandang dan cara pikir yang berbeda. Dan saling melengkapi. Sebelum tulisan ini jadi lebih panjang dan mbosenin daripada pidato ketua RT saya pas 17an, saya akan langsung saja ke apa yang, menurut saya, wanita Indonesia masih kurang dari cita-cita ibu kita Kartini.


  1. Berpikir kalau menikah berarti secara finansial sudah ditanggung suami. Akibatnya cewek jadi matre dengan alasan 'mencari cowok mapan'.

  2. Suka minta ditemani pipis. Kalo minta ditemani minum teh, makan atau belanja itu wajar, karena si teman ikut dilibatkan. Lha kalo ke WC? Minta dicebokin?

  3. Tidak berani buat keputusan sendiri untuk masalah sendiri. Bahkan ketika orang lain yang dimintai pendapat tidak ada. Kesannya sebagai perempuan itu nggak bisa jadi decision maker tapi cuman 'suwargo nunut, neroko katut' (surga menumpang, neraka ikut doang).

  4. Suka berpikir, "Kita lebih lemah dari pria," Memang sih, menurut teori evolusi Darwin (ngasal, untung gak bilang gravitasi Newton atau hukum Archimedes) wanita itu massa otot dan kekuatan badannya kurang dari pria. Tapi masa iya itu alasan untuk selalu minta tolong parkirin atau kluarin motor, bawain belanjaan, angkatin galon aqua atau angkutin barang atau bagasi? Ada banyak hal yang bisa dilakukan wanita sendiri, terutama menyangkut tetek bengek kita sendiri. Sejauh kita masih kuat, jangan meminta perlakuan istimewa hanya karena kita wanita, karena setiap perkecualian ada timbal baliknya. Wanita cukup kuat kok untuk mengurus dirinya sendiri (dan seringkali orang lain). Women art what women thinketh.

  5. Suka berpikir, "Itu kan bukan urusan wanita," begitu menjumpai pekerjaan yang lebih banyak dikerjakan pria. Setahu saya; palu, obeng, cangkul, ataupun mesin potong rumput tidak ada tititnya. Dan saya yakin buku manualnya nggak bilang: hanya pria yang boleh menggunakan alat-alat ini. Kan lumayan nggak usah tergantung ama tukang ledeng, tukang betulin genteng, atau tukang kebun. Kemampuan itu kekuatan. Kemandirian itu kebebasan. Lagian ngirit gitu =)

  6. Berpikir bahwa sebagai cewek yang modern atau maju artinya wajar kalau tidak jago di dapur. Saya bilang, setidaknya, bisa membuat makanan kita sendiri membuat kita tidak kalah maju daripada wanita gua di jaman batu. Tidak perlu haute cuisine, yang penting kluarga kita tidak akan kelaparan kalo warung tegal tutup semua.

  7. Berpikir bahwa wanita berusaha menjadi cantik demi mendapatkan pria. Ini bikin cewek jadi disetir oleh stereotipe yang lagi in. Tidak punya kepribadian, selalu berusaha mengubah diri sendiri demi menyenangkan orang lain. Ada beberapa majalah wanita yang fokusnya cuma 'bagaimana menjadi menarik di mata pria' seolah-olah memang wanita diciptakan hanya sebagai 'perhiasan sangkar madu'. Kalo hemat saya (kadang boros sih), wanita berhak merasa cantik untuk dirinya sendiri, bukan karena pendapat orang lain dan bukan untuk memenuhi kriteria orang lain. Dengan merasa puas dan bahagia terhadap diri sendiri, wanita bisa berhenti khawatir dan melakukan hal-hal lain yang lebih produktif (baca: berguna).
  8. Merasa menjadi korban. Setiap orang punya pilihan, tak terkecuali wanita. Bila terjadi kekerasan dalam rumah tangga, pemerasan, pemerkosaan, atau pelecehan, segeralah menghindar dan selamatkan diri. Hubungi aparat, mencari perlindungan, jangan tinggalkan jejak dan mulai hidup baru. Lebih baik pergi sendiri daripada tinggal sebagai korban. Saya tahu ini bukan perkara mudah, tapi saya sungguh menyesali perempuan-perempuan yang diam, menangisi diri atau menyalahkan pria yang menyengsarakan hidupnya (memang ada yang bersalah, tapi kita bisa melakukan sesuatu). Berani ambil tindakan sebelum terlambat. Lebih parah lagi wanita yang terpaksa menikah hanya karena kecelakaan. Lalu istilahnya pria 'bertanggung jawab'. Saya rasa hubungan seksual yang bukan perkosaan melibatkan keputusan dua belah pihak, jadi wanita harus berpikir masak-masak sebelum memutuskan, sebab dia punya pilihan, bukannya menyalahkan pria kalau terjadi apa-apa di belakang.
  9. Percaya bahwa wanita punya tanggal kedaluwarsa menikah, karena itu harus buru-buru. Ada lelucon tentang wanita umur 20an bilangnya. "Siapa kamu?" pertengahan 20an, "Kamu siapa ya?" dan akhir 20an, "Siapa aja deh," Lelucon ini gambaran sikap mental yang merugikan wanita. Seolah produk yang sekali jadi, kaya wedang yang harus diminum sebelum dingin. Berdasarkan survey yang entah bisa dipercaya atau tidak, pernikahan usia muda di negara barat, 85%nya berakhir dengan perceraian. Karena usia muda (disebutkan 20-28 tahun!) gejolak pribadi belum cukup mantap untuk membikin komitmen seumur hidup. Di negara Kartini ini, memang sih jarang kedengaran tentang kawin cerai kecuali artis, tapi banyak banget cerita tentang selingkuhan dan puber kedua. Tidak cukup bersenang-senang di masa muda? *NB. Tidak bilang kalau nikah muda itu salah, yang salah, maksa nikah meskipun belum siap dan cari pasangan dengan desperate karena merasa sudah uzur eh sudah ada umur*
  10. Berpikir bahwa dengan menjadi wanita yang punya pendapat sendiri secara otomatis jadi wanita feminist radikalis. Jelas beda. Yang pertama mengganggap wanita setara dengan pria, sederajat hak dan kewajibannya sekaligus mitra pria. Yang kedua menganggap wanita lebih tinggi dari pria, tidak mau bekerja sama dengan pria, ingin dihargai dan menunjukkan kekuatannya, bersikap superior. Kalau saya menulis tentang wanita yang mandiri dianggap feminis, sama seperti menganggap orang yang bernama Abdullah pasti teroris.
Gambar hak cipta dari flicker.

Monday, December 7, 2009

Nomadic vs Settled


When I signed this 10 years employment contract, I felt like being in an arranged marriage. As a bit short-sighted person, I could not tell my plan further than three days. Planning for ten years is slightly too ambitious for me, if not suicidal. But I look at the bright side: I'm not going to be unemployed in at least another ten years time.

To settle down is indeed quite daunting. I can't, for example, wear the same clothes for work three days in a row because people will notice that I don't change my outfit. Although it's possible and in fact entirely normal when I am on the go. Because then I met different, new people every day that it didn't matter what I wore on the other day. My travel buddies might pay attention, but they would think I was just waiting for a perfect timing to visit the laundry. It becomes a problem only when I have a job for ten years. All of a sudden, what I look like is significant because I will meet the same person for at least three hundred days per year, times ten. I don't want these people think I am an unfashionable sloven who pretend to work at hospital. I might endanger physicians' reputation in general. When we start living permanently, rapport is utterly important. It wasn't like when I was busy wandering around. I could be my alter ego and act like a teenage cheerleader anytime.

I sense the distinction the most at church. I used to visit foreign church just to hear how 'The Lord's Prayer' were spoken in their language. And enjoyed saying "Amen!" loudly to a prayer I had no idea about. I knew I definitely settled down when I was in a church where I recognised all congregations as my neighbours. I saw my primary school teacher sat next to my pew, and gosh, he looked...aged. He wasn't that old when he taught me at primary school. I couldn't help myself imagining that those little girls will think the same as me at that moment when they see me again in the next ten years.

My close friend told me that settling down won't be too scary if I never travel. Moreover, most of us have never been anywhere since the very beginning, which means in general we are always settled (thanks to immigration office and border agency who always assume that the most common occupations in Indonesia are terrorist and suicidal bomber). It's perhaps true (that we're always settled, not that we're mostly terrorists). But I never regret spending a few years traveling. I have a friend who never go further than a couple miles from where he lives (and was born). But he lives in the centre of universe. And I live at the edge. If I never travel, how would I know that some people can defecate without wetting their bums? How would I know that not everybody eats rice every day? (I still believe that rice is the real staple food, by the way). How would I know there are good devices such like tea cosy or electric blanket that can help us to survive cruel winter? How would I know that not all indigenous tribal people are naked? No travel is a problem when your country only got things brought by colonizer.

If we used to be nomadic there is also one little problem when we start to settle down. It's easy to catch up with latest gossips and popular TV shows, but it's difficult to mingle or to think alike. Traveling somehow make us different person. We suddenly forget how to argue with local policeman over a ticket, how to take advantage of person-to-person information that spread more quickly than google, how to be overfamiliar (like I used to be). It's a bit like becoming a foreigner to our own homeland. I also find it hard to keep my imagination going when I go to the same local restaurant to have dinner, same supermarket to shop, same parking lot to put my motorbike, same people to judge what clothes I wear everyday. I don't complain. It is always good to know where to sleep tonight or tomorrow or ten years from now. It is called guarantee.

Friday, October 16, 2009

Terserah Tapi kok Ngarep?

Sering dengar istilah, "Terserah Tuhan saja," keluar dengan gampang dari mulut orang-orang? Bulan Agustus lalu saya baca Reader's Digest tentang kata-kata yang sering digunakan dan kedengeran menyebalkan (The top ten most irritating phrases in the English language). Kata-kata itu antara lain adalah: At the end of the day, Fairly unique, At this moment, I personally, It's a nightmare, It's not rocket science, With all due respect, Absolutely dan Shouldn't of. (www.rdasia.com)

Nah, menurut saya, kata-kata yang menyebalkan itu adalah 'terserah Tuhan'. Kenapa?

At this moment, entah kenapa orang pada gatel menyomblangi saya. Dari adik saya sampai temennya tetangga sebelah paman dari ibu saya (sumprit, urutannya memang begitu). Pasalnya *curhat nih* adik saya yang cewek sudah mau menikah. Tidak elok kalau melangkahi saya duluan. Pamali. *Bukannya yang pamali itu cuma: makan pas di depan pintu, potong kuku malam hari dan keramas malem Jumat Kliwon? Pasti saya kelewatan primbon pamali edisi terbaru* Kalau saya sendiri merasa lebih tidak elok kalau maksa atau mburu-mburu orang kawin. Kambing aja nggak kawin kalau belum musimnya. Tapi mereka ngeles, "Kenalan saja kan nggak masalah,"

Saya bukannya sok idealis atau sok pilih-pilih. Kenyataannya saya juga sering ditolak dan sering patah hati *jujur nih* tapi ini tidak membuat saya tidak percaya pada cinta sejati, apalagi skeptis (pejuang cinta tanpa bambu runcing). Saya cuma punya pendekatan yang lain berkat bukunya Mas Joshua Harris. Menurut dia, untuk memperoleh cinta sejati itu tidak ada trik dan strateginya (emangnya ujian CPNS ato UMPTN?), tapi cuma butuh ketulusan. Selama kita masih sorangan, itu artinya berkah, karena kita punya waktu untuk mengembangkan karakter, menikmati kebebasan, mempersiapkan diri menjadi pasangan yang baik serta melakukan hal-hal yang berguna dalam kapasitas sebagai lajang. Jadi I personally tidak pasang mata pasang telinga dan siap mengarah target. Semuanya itu proses dan yang terbaik hanya bisa terjadi kalau waktunya sudah tiba. Seperti urutan upacara bendera: pembukaan, kata sambutan, mengheningkan cipta, pengibaran bendera dan doa penutup; kita kan tidak bisa melewati salah satu bagian supaya cepat selesai *meskipun pengen*. Saya ingin mengalami tiap tahapannya. Tapi kayanya susah membuat orang lain mengerti ini. Kalau saya bilang, "Saya tidak berkencan," dipikirnya saya malah lagi patah hati. Walah.

Saya nggak pernah ambil pusing soal kenal-mengenal orang. At the end of the day, saya tetap pada keputusan saya semula. Tapi akhir-akhir ini saya merasa tidak enak hati terhadap kenalan-kenalan itu. Meskipun bertema, "Teman saja," tapi mau tidak mau konteks kita sudah jelas yaitu percomblangan. Dan di sinilah muncul istilah itu: "Terserah Tuhan," dalam arti orang-orang ini percaya jodoh ada di tangan Tuhan. Kalau memang percaya, seharusnya tidak perlu ada acara perkenalan ini. Tapi selalu ada sanggahan, "Kadang-kadang kan Tuhan bekerja lewat orang-orang," Jadi intinya, terserah, tapi kalo bisa sih...kenapa enggak. Ini mah namanya bukan terserah, ini ngarep. With all due respect, saya juga manusia. Saya juga bisa naksir orang. Tapi saya berusaha untuk tidak memaksakan kehendak saya. Saya ingin yang terbaik terjadi pada saya, dan itu tidak bisa kalau cuma menuruti otak saya yang kecil dan jarang dipakai ini. Andai ada yang tahu berapa kali saya berusaha menahan diri untuk tidak menghubungi orang yang saya kagumi! It's a nightmare! Tapi inilah satu-satunya jalan untuk berani bilang terserah yang Di Atas, yaitu menurut saja pada apa yang dipercaya benar, meskipun jalannya kok kelihatan nggak jelas sama sekali. Tidak setiap saat bertanya: Kenapa? Siapa? Dia bukan? Kapan? Sampai kapan? Apakah dia? apalagi sambil berHHC. Harap-harap Cebok. Saya menjalani apa yang ada sekarang dengan bahagia karena saya percaya. Tidak perlu ngarep.

Tidak sulit membedakan antara naksir dan tidak naksir. Nggak percaya? Lihat aja reaksi cewek-cewek terhadap Choky Sitohang. It's not rocket science. Menghadapi orang-orang yang dikenalin bikin saya serba salah. Pinginnya sih netral, apa daya selalu masuk gigi persneleng. Mau cuek, dibilang sok. Mau antusias, dikira ngefans. Mau bete, disangka PMS. Mau diem aja, nanti dipikir lagi ngemut permen asem. Mau berdehem-dehem tanda nggak nyaman malah dikira keselek duren. Syusyah. Masalahnya sudah ada sejak awal, proses kenalan kita itu tidak natural. Ada maksud dibaliknya. Padahal untuk mengenali secara betul karakter seseorang, kita harus berada dalam lingkungan keseharian yang sebenarnya dan tidak ada pretensi, tidak ada penilaian, tidak ada harapan tersembunyi. It shouldn't of.

Saya tahu semua orang itu fairly unique dan mungkin ada juga yang dapet jodoh dengan cara beginian. Tapi sungguh, saya tidak nyaman. Saya merasa pendirian saya ditantang. Saya berusaha menghargai usaha keluarga dan keinginan mereka, tapi saya punya keinginan sendiri dan saya pikir sih keinginan saya tidak ada yang salah. Kata-kata, "Terserah Tuhan," bagi saya bukan berarti berpangku tangan, tapi berarti berusaha menjadi pribadi yang sebaik-baiknya dan sisanya diserahkan pada yang berwajib eh berwenang. Bukannya cari calon sendiri yang disuka, yang sesuai kriteria, dideketin berkedok teman, bilang "terserah Tuhan," tapi kalo dilanjutin sih "Terserah Tuhan kapan kamu mau menyerah sama saya, " sambil bilang "Saya bawa kamu dalam doa", dan sebagainya dan seterusnya dan lain lain. Saya sebenernya paling gokil sama orang yang bawa-bawa Tuhan. Ini bukti bahwa orang yang seagama belum tentu sepaham. Jadi singkirkan daftar kriteria yang melihat orang secara sempit! Orang itu sangat kompleks makanya nggak bisa dikotak-kotakkan. Emangnya pilkada? Itulah sebabnya kita bergantung sama yang lebih bijaksana, tidak ngarep, meskipun kalau ditanya apa saya mau dapet cowok ganteng-kaya-manis-baik-pinter-mempesona-audubilah-seksi? Absolutely. Tapi saya nggak akan cari, nggak akan bikin itu sebagai acuan. Kenapa? Karena mengimani kata "terserah Tuhan". Yang dikasih ke saya pasti yang paling cocok buat saya, meskipun tidak seaduhai si Choky-choky.

*Saya sudah menggunakan semua kata yang paling menyebalkan termasuk bagi saya sendiri. Rasanya emang memuaskan^_^*.

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p