Showing posts with label catatan perjalanan. Show all posts
Showing posts with label catatan perjalanan. Show all posts

Wednesday, December 10, 2014

Tentang Makassar

Makassar cukup bersejarah buat saya, karena ini kota yang pertama kali saya datangi naik kapal Pelni Tilongkabila dari Labuan Bajo (kapal yang asyik, kita bisa nonton pilm layar tancep sambil makan pop mie). Tahun 2008 saya mengunjungi Makassar dalam perjalanan ke Tana Toraja, jadi nggak banyak yang saya inget dari kota ini kecuali coto-nya. Klise memang, tapi untuk benar-benar merasa di Makassar kita harus tahu bedanya soto dengan coto (kalo ada yang bilang soto pake daging sapi dan coto pake daging capi, mohon maap jawaban anda SALAH ya). Intinya sih, kalo di Makassar pesan saja coto, soalnya kalau pesannya soto, bikin kita pingin naik pesawat PP ke Semarang, beli soto semangkok dan dibawa untuk ditunjukin ke penjualnya gimana yang namanya soto itu seharusnya dibikin. Soto di Makassar adalah semacam coto tapi kayaknya dibikin waktu mati lampu.
 
 
Kedua kali ke Makassar adalah untuk datang ke nikahan sohib saya waktu coass dulu. Di sini cerita saya panjang karena melibatkan perjalanan ke pulau Lae-lae, yang bukan pulau liburan romantis babar blas tapi kampung halaman buat sekumpulan orang yang meninggali rumah tanpa sertifikat. Kenapa saya bisa terdampar di sini? Karena saya terlalu pelit buat bayar carter perahu ke Samalona, dan lebih suka ikut perahu anak sekolah ke desa nelayan yang nggak ada turisnya sama sekali. Semula perjalanan saya berlangsung lancar sampai saya memutuskan buat pergi cari kerang sama anak-anak nelayan. Perahu yang kami tumpangi itu kecil dan berlengan satu (semacam katinting, lihat gambar, dengan lengan kayu untuk keseimbangan). Di tengah laut anak-anak ini main-main dengan pura-pura ninggalin temennya yang lagi nyelam cari kerang. Akibatnya anak-anak ini sempat bergelantungan di sisi perahu karena temannya mendayung terlalu cepat. Saat itulah, tiba-tiba ada ombak yang lumayan besar. Perahu kami terbalik dengan sukses. Enggak ada yang pake jaket pengaman. Sepersekian detik dan tiba-tiba jatuh ke laut bikin kita mikir tentang perasaan korban tsunami. Oke, ini cuman air tapi di tengah laut. Untungnya semua orang pada dasarnya bisa berenang, cuman karena tidak siap nyebur kulit kami tergores-gores entah apa waktu berusaha naik lagi ke perahu. Plus buat saya, waktu jatuh ke air perahunya persis ada di atas jadi harus berenang memutar biar bisa naik. Perahu ini akhirnya berhasil dinaiki dalam posisi terbalik, persis wadah klepon yang jatuh dari meja, perahu ini timbul tenggelam di laut. Anak-anak laki-laki berhasil membawa perahu menepi, di pantai yang karangnya licin dan nggak ada pasir, yang jelas nggak pernah dikunjungi orang karena kami susah mencari sampah seperti bekas botol air mineral, bungkus indomie, softex, pampers etc. Bukannya kami bermaksud cari sampah juga sih, tapi setelah perahu berhasil dibalik ke posisi semula kami harus mengosongkan bagian dalam yang penuh berisi air. Jadi di sini, botol aqua sangat membantu. Sayangnya kami cuman nemu tempurung kelapa. Jadi inilah alat buat ngosongin air di dalam perahu.
 

 

Sejak peristiwa itu tiap kali saya naik perahu kecil yang diombang-ambingkan ombak, saya enggak cengengesan kayak anjing rabies lagi, tapi berdoa litani sampai katam 10x.
 
Ke Makassar yang ketiga (mohon maaf kalo postingan ini akhirnya jadi novel ya) adalah untuk acara Open Science Meeting (yang artinya ketemuan sambil makan2). Yang asik dari perjalanan kali ini adalah pesawat saya didelay selama 4 jam (haduuuh). Usut punya usut, ini bukanlah sembarang delay tapi sebenernya ini adalah pembatalan penerbangan karena kurang penumpang. Jadi karena penerbangan pukul 4 cuman dibooking setengah maka penerbangannya digabung sama yang pukul 8 yang juga dibooking setengah. Iya, saya juga mikir: ini pesawat apa angkot nomer 44 jurusan Senen-Kampung Melayu yak. Akibatnya, saya nyampe di bandara Sultan Hassanuddin jam 12 malam wita. Kejadian ini tepatnya di awal tahun 2014 dan waktu itu belum ada aturan untuk penertiban calo taksi. Jadilah saya menjadi mangsa empuk para calo taksi yang melihat seorang cewek jalan sendirian ibarat lalat liat manga busuk jatuh di jalan. No offence pada mangga busuk, tapi para calo taxi ini memang rada2 mirip lalat karena meskipun sudah dibilang "maaf, saya sudah dijemput," dan bergaya se-cool es gosrok tetap saja saya dikerubuti dan dibuntuti abang-abang calo taksi. Saya enggak takut tapi ya gerah lah ya, apalagi kemana pun saya pergi ada aja yang komentar dari mau dianter kemana sampai embaknya udah dari tadi mana jemputannya. Masalahnya, saya emang enggak ada yang jemput, tapi saya jelas enggak percaya sama calo taxi yang langsung nodong dan enggak ada nama perusahaaannya. Saya berdiri beberapa saat di area penjemputan karena menurut pengalaman saya, selalu ada mobil jemputan yang sisa tempat duduknya sehingga saya bisa nebeng sampai di luar area bandara dan kemudian naik taxi biasa ke hotel. Tapi kali ini mas2 calo taxi betul2 beringas dan gigih sehingga orang yang saya dekati malah takut dan menghindar sebelum saya bahkan menyelesaikan pertanyaan basa-basi seperti, "ibu mau jemput siapa?". Si ibu buru2 kabur gara2 saya digelayuti 10 orang calo kelaparan. Saya mulai geram. Saya berusaha masuk kembali ke ruang kedatangan pesawat tapi satpam tidak membolehkan saya masuk tanpa ada tiket pesawat. Saya disuruh duduk di depan. Lalu  segerombolan lalat2 haus darah pun ikut duduk dan berdiri di kanan-kiri-depan-belakang (kalo bisa juga atas-bawah andaikan mungkin kali ya). Ada ibuk2 yang bukan calo juga duduk tapi dia tidak membantu. Si satpam juga enggak, mungkin dia adik misan sepupu paman satu kali dari seorang bos calo taxi. Entahlah. Akhirnya, karena saya betul2 terganggu, saya pun masuk ke café deket pintu keluar. Mungkin café ini enggak sodaraan ama bos calo taxi jadi para calo ini enggak berani masuk. Kopinya jelas2 kemahalan karena itu warung kopi bandara tapi saya beruntung karena setidaknya terbebas dari lalat untuk sementara. Jadi saya ada waktu untuk basa-basi dengan 3 orang yang juga sedang minum kopi di sana dan, seperti yang sudah sering terjadi, saya pun dapat tebengan ke kota.


Sebagai informasi saja, sekarang bandara Makassar sudah jauh lebih baik karena sudah ada aturan bagi taxi untuk menunggu penumpang menghampiri booth mereka dan memesan sendiri, tidak boleh ada calo yang nyerobot apalagi sambil langsung bawain tas kayak di terminal bis Bungurasih Surabaya. Taxi yang saya rekomendasikan adalah Bosowa, Putra atau Lima Muda. Tapi jika bepergian sendiri dan dalam rentang waktu antara jam 7 pagi sampai jam 8 malam, naiklah DAMRI. Harganya Rp. 29ribu sudah sampai tengah kota (depan RRI, jalan Ribura'ne) dengan aman dan nyaman. (Hidup DAMRI!!!)


 
Saat ini, setelah bermangkok-mangkok coto, konro, sop saudara (yang enggak gratis meskipun sodara), pisang epe, pisang ijo, barongko dan pallubutung,  saya resmi tinggal di Makassar. Saya suka Makassar karena kalau kita ke warteg (atau warmak, tepatnya) selalu dikasih nasi yang banyak dan lauk yang sedikit. Jadi persis banget sama komposisi nasi megono di rumah, kecuali kalau di rumah nasinya juga lebih sedikit, hihi. Mereka juga selalu menyediakan sambel dan jeruk nipis, apapun makanannya. Sambel favorit saya yang selalu oke dimakan pake ikan jenis apapun (di Makassar umumnya orang 'makang ikang' setiap hari) adalah sambel dabu-dabu, yang adalah sambel dicapur irisan tomat yang besar2. Makassar cukup strategis sebagai kota karena enggak jauh dari pulau-pulau berpasir putih dan tempat-tempat menyelam. Kota yang enggak pernah sepi (kata orang, 'Jakarta'nya Indonesia timur) ini juga penuh dengan pusat kebudayaan asing, seperti komunitas Perancis, Cina, Belanda dsb, selain sebagai pusat ekonomi di Sulawesi. Yang saya nikmati setiap hari di Makassar adalah menyebrangi kota Makassar setiap pagi: melihat toko-toko mulai buka, orang-orang menggelar lapak di pasar, nelayan baru pulang dari melaut, orang-orang berseragam sibuk pergi ke kantor. Saya akan duduk dan menikmati hari yang baru mulai di Makassar di dalam pete-pete yang entah kenapa selalu menyetel lagu Malaysia jaman dulu, Isabella. Tiap sore saya akan menyambangi warung makan baru, barangkali sambelnya beda. Dan kalau akhir pekan tiba, saatnya mengenakan masker dan melihat ikan di laut. Saya belum tahu kapan kita boleh pakai kata 'mi', 'ki', 'maki' tapi saya sudah bisa bilang 'tabek' dan 'cotonya nambah semangkok pake buras' he-he.

Kalau ada sumur di ladang, boleh mi kita datang berkunjung! :-)
 

Friday, April 1, 2011

Ada apa ya?

Seminggu yang lalu, saya dan suami minta saran dari host tempat kami nebeng saat ini (sebut saja namanya R) enaknya jalan2 kemana ya yang dekat, murah meriah hepi. Kami beli tiket yang bisa dipakai 5 kali weekend seharga 15 AUD dan bisa dipakai kemana saja naik train, trem maupun bus. Murah ya..jadi seharian cuma bayar 3 AUD (sekitar 25rb an rupiah lah) sudah bisa kemana2. Kata R ada suatu kota yang bagus..kota kuno gitu namanya Belgrave. Di sana bisa naik kereta namanya Puffing Billy, itu kereta kuno yang berjalan sekitar 25 kilometer mengitari bukit dan lembah..masuk ke hutan2 juga.
Gambar diambil dari sini. Asik ya kelihatannya. Kami memutuskan untuk pergi ke sana hari Sabtu waktu saya libur walaupun cuma tahu di sana ada Puffing Billy doang. Jadi teringat pengalaman masa lalu bersama Ria yang kita pergi ke Katong dan jadi terkatong2.

Dari kota Frankston tempat kami tinggal sekarang, perjalanan ke Belgrave memakan waktu sekitar 2 jam dan kami harus ganti kereta 2 kali. Perjalanan naik keretanya terasa lamaaa banget apalagi waktu hampir sampai kok lewatnya hutan2 gitu...trus melewati kota2 yang temboknya banyak coret2nya kaya film Rumble in the Bronx. Sempat mikir kok serem juga ya..

Kesan pertama sewaktu menginjakkan kaki di Stasiun Belgrave adalah..."Lho kok sepi....ada apa ya di sini?".
Belgrave train station
Kami sampai di Belgrave sekitar jam 3 sore dan ternyata sudah terlambat untuk naik Puffing Billy. Lagian ternyata mahal juga tiketnya sekitar 30 AUD. Secara kami baru bekerja belum ada sebulan jadi uang segitu worth it banget. Kami memutuskan tidak jadi naik Puffing Billy padahal sudah mupeng. Cuma terlaksana foto di depan papan Puffing Billy.
Seharusnya naik Puffing Billy sangat romantis
 Kota Belgrave ternyata sangat mencengangkan karena kelihatannya hiburan satu2nya adalah Puffing Billy itu. Kotanya berbukit2, jalannya naik turun seperti di Semarang bagian Jatingaleh itu lho. Jalan utamanya tidak begitu besar tapi saya senang karena saya teringat masa kecil di Pekalongan waktu masih sepi dan saya sering main di sawah. Di tengah bunderan, kami melihat ada papan penunjuk jalan menuju gereja Katolik jadi kami memutuskan pergi ke gereja karena sudah 3 minggu tidak pergi ke gereja. 


pusat kota yang sepi

belokan dari stasiun


gereja Katolik yang sepi

ternyata..hari Sabtu tak ada misa..kenapa oh kenapa..
 Sampai di gereja kok tidak ada orang di hari Sabtu padahal gereja saya dulu di Kristoforus Grogol selalu ada orang dan anjing gereja. Pastornya pun tinggal di situ. Tapi ini gereja kok sunyi sepi sendiri, sudah gitu hari Sabtu tidak ada misa, misa cuma hari Jumat dan Minggu. Sebagai perbandingan, gereja Kristo misa Sabtu sore 2 kali, minggu 5 kali. Gereja Pekalongan pun misa Sabtu sekali, Minggu 2 kali (kalau salah tolong dibenarkan). Saya dan suami pun terheran2..bahkan anjing gereja pun tak ada. Biasanya di gereja selalu ada anjing buat penjaga. Mungkin Belgrave sangat aman tentram gemah ripah loh jinawi ya jadi ga perlu ada anjing herder buat penjaga.
Bunderan kota yang mirip Simpang Lima
 Kami memutari daerah sekitar kota cuma makan waktu 1 jam setelah itu kami bingung mau ngapain. Rasanya kok sayang...perjalanan 2 jam masa cuma 1 jam di situ. Akhirnya kami pun mencari tempat makan yang enak, banyak dan murah..apakah ada? Setelah berjalan bolak balik kami menemukan tempat makan idaman yaitu...jreng 8 kali saja....pizza murah..yang cuma bisa take away..ga bisa makan di situ. Mungkin untuk efisiensi biaya. Ga perlu sewa tempat lebih gede, ga perlu cleaning service juga.


chef dari Italia asli
 Mula2 kami ragu2 mau beli karena sepertinya muka chefnya serem tapi ternyata dia sangat ramah. Sepertinya dia asli dari Italia karena saya dipanggil "senorita" (kalo ga salah denger). Senorita itu bahasa Italia bukan ya?
Katanya gelatto asli Italia tapi ternyata made in Australia
 Saya tadinya membayangkan gelatto asli itu bentuknya tidak dalam cup seperti di atas..tapi pakai cone dan melingkar2 seperti es krim KFC yang harganya goceng. Ternyata tidak sesuai bayangan saya. Tapi tak apalah namanya juga usaha.
Ini baru pizza

Menikmati pizza di kereta bersama Gilbert
Pizzanya seharga 6.9 AUD atau sekitar 60 ribuan ini enak banget. Rotinya tipis dan isinya banyak. Kebalikan dari pizza yang itu itu lho yang rotinya tebel banget tapi toppingnya sedikit sampai kalau beli pizza seafood belum tentu setiap orang dapat udangnya. 


Perjalanan ke Belgrave ini akhirnya diakhiri dengan makan pizza di dalam kereta.


The End

Sunday, December 19, 2010

Cilacap, je t'aime

Tiba-tiba saya ada di Cilacap. Memang blog ini apdetnya setahun sekali, kayak festival tahunan ondel-ondel dan cilok goreng.

Saya sudah berada di kota pantai di ujung barat Jawa Tengah ini sejak 4 hari yang lalu. Ceritanya saya lagi mengunjungi rumah sakit dan puskesmas di kabupaten Cilacap. Bukan sih, bukan kunjungan kenegaraan. Cuma numpang liat RS yang paling aman di Jateng, berkat penjagaan bapak-bapak polisi 24/7 di bangsal yang isinya residivis Nusa Kambangan. Keren bukan?

Cilacap termasuk kota yang tenang, jalannya tidak naik-turun kaya rute Semarang-Gombel-Banyumanik tapi rata dan lengang sehingga bersepeda sangat menyenangkan. Bahkan ada pasangan kakek-nenek yang sepedaan di hari minggu yang cerah, pas naik jembatan si nenek turun dan pas turun jembatan si nenek langsung naik tanpa sepedanya berhenti. Wuah. Kalah sigap deh kernet metromini ama wanita antik nyaris jadi fosil ini. Di tempat ini juga becak masih bertebaran laksana bintang2. Kalau di Gombel, becak sudah punah karena seleksi alam.

Tempat paling populer di Cilacap? Bukan Super Megamall Cilacap yang memang gak ada, tapi...tempat pelelangan ikan! Tempat ini menjual ikan segar dari cumi, udang, kakap sampai gurita dan pari. Ikan asin dari jambal sampai pari goreng yang dibentuk kayak kipas (nggak bohong. Beneran ada lho. Bahkan bisa dipakai buat kipasan sungguhan kalo kipas angin lagi mati). Yang paling OK di Cilacap adalah pabrik minyak perusahaan pertamina. Gedung2 seperti stadion dengan atap terbuka (mungkin) untuk tempat penyulingan/pengolahan minyak. Pabrik pertamina ini terlihat menjulang di sepanjang jalan ke pantai. Pertamina menurut saya banyak berkontribusi pada perekonomian kota Cilacap.

Pantai yang paling dekat dari kota adalah pantai teluk penyu. Pantai ini biasa saja, kotor dan penuh tukang ondong-odong. Tapi es kelapa mudanya enak sekali dan murah. Satu kelapa ditarik harga Rp. 5,000, sudah termasuk sedotan. Dari pantai ini kita bisa dengan gampang naik perahu ke Nusa Kambangan. Biaya PP seorang 15,000. Sebetulnya jarak antara Cilacap dan Nusa Kambangan deket banget. Kalau kita berdiri di pinggir pantai, pulau yang hijau ini kelihatan berjarak cuman sejengkal, sampai kepikiran kita bisa saja pergi ke sana dengan berenang. Tapi karena arus di Pantai Selatan Jawa selalu keras sekali, berenang sangat tidak aman (kalau enggak pasti udah saya coba tuh *pelit banget*). Lagipula, tidak lucu kalau ketabrak kapal besar untuk pengeboran minyak lepas pantai. Pantai Cilacap dikenal sebagai pelabuhan alami (natural harbour) terbesar di Jawa (apapun artinya). Di pantai teluk penyu ini bertebaran kapal-kapal pengebor yang besar, berderet berdampingan di anatara kapal-kapal nelayan. Pantai Teluk penyu dihiasi sampah dan barang2 tak teridentifikasi lainnya (seperti biasa) tapi melihat ke arah horison yang biru muda, dengan kapal kapal besar dan corong-corong asapnya, membikin saya jatuh cinta pada Cilacap.

Salah satu perahu nelayan yang sering dipakai untuk mengangkut 'turis' ke Nusa Kambangan adalah jukung. Salah satu jukung yang lewat di depan kami dengan hebohnya menulis, "Kapal cepat. Antar pulau antar propinsi" Saya ketawa. Antar propinsi? Seberapa jauh jukung bisa pergi? Tapi teman saya memprotes, "Betul itu Bu, sedikit ke Barat kan sudah propinsi Jawa Barat." Oke, berarti tukang perahu itu tidak berlebihan. Mungkin saja dia tiunggal di perbatasan antara Jateng dan Jabar. Yang masalah cuman STNKnya diperpanjang di mana? (kan daerah operasinya di dua propinsi). Biasanya jukung diberi nama seperti 'Cahaya Mina', 'Sumber Rejeki', 'Sidoluhur baru'. Kami harus menghapal nama jukung kami karena nanti sesudah selesai dari pulau Nusa Kambangan kami harus menbelpon tukang jukung yang benar untuk minta dijemput. Tapi jukung yang saya naiki namanya sangat down to earth, 'Jaguar'. Jadi saya bisa bilang ke penjaga loket di pulau Nusa Kambangan, "Tolong panggilkan Jaguar untuk menjeput Pak. Saya mau pulang,"

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p