Showing posts with label pikiran saya. Show all posts
Showing posts with label pikiran saya. Show all posts

Saturday, February 15, 2014

Kejadian Aneh Season 2

My piece of Australia
Blog ini hampir setahun jualan anggur dan kentang secara tidak pernah ada tulisan produktif..kasian ya sepertinya sudah lumutan untung belum expired. Secara hari ini saya baru mendapat kabar gembira, saya langsung semangat 4567 buat bercerita.Tiga tahun yang lalu saya pernah menulis artikel berjudul Kejadian Aneh yang happy ending. Hari ini saya baru mengalami lagi kejadian aneh yang belum tamat..baru mendekati happy ending. Begini kisahnyaa....

Saya dan Petter, suami saya sering mendiskusikan tentang keinginan2 kami di masa depan..di antaranya ingin keliling dunia, punya pasif income, ga perlu kerja tapi dapat duit dan masih banyak lagi yang kalau mami saya dengar pasti saya dibilang muluk2. Padahal saya sudah sering bilang ke mami Nothing is impossible (ora ono seng ora mungkin) kalau Tuhan berkenan dan kita berusaha. Salah satu keinginan saya yang sudah terkabul walaupun dulu sempat dibilang muluk2 oleh mami adalah bisa tinggal di luar negeri..Puji Tuhan.

Nah tahun lalu Petter bilang kalau dia ingin banget punya rumah..dari dulu ding dia selalu ingin punya rumah karena menurut dia ngekost dan ngontrak itu najis (HBS alias hiperbola sekali) karena bikin kaya yang punya kontrakan. Saya sempet tersinggung juga sih karena mami saya juga masih ngontrak..dulu punya rumah tapi ditipu sodaranya dan rumah disita bank. Namun itu ceritanya panjang dan lebar dan sudah di masa lalu tak usah disesali.  Btw saya nulis artikel ini sambil mendengarkan lagu OST drama korea My love from another star tentang alien yang jatuh cinta sama manusia padahal kalau mereka kissing, aliennya langsung meriang.

Kembali lagi ke laptopnya si Tukul, Petter bilang ingin punya rumah tapi apa daya kami masih banyak tanggungan dan rasanya kok tidak mungkin bisa segera punya rumah. Namun saya bilang, kita pasti bisa punya rumah dalam waktu 2 tahun. Petter tanya gimana caranya, saya bilang tidak tahu gimana tapi pasti bisa. Buat referensi, harga rumah di sekitar sini paling murah sekitar 3 M. Dpnya juga paling sedikit 5% alias 150jt. Dari mana duit segitu, mobil aja masih belum lunas.

Kami berpikir mungkin kami harus mencari kerjaan lebih baik. Sekarang saya masih kerja di panti jompo merawat orang tua dan kerja di dapurnya. Petter kerja di pabrik plastik dan restoran Malaysia yang sering telat gajinya.Dulu di Jakarta kami kerja di bidang Akuntansi namun di oz ini kami ga laku karena mereka mengutamakan lulusan lokal yang belum tentu lebih pintar sebenernya. Demi mendapatkan pengalaman lokal di bidang Akuntansi, kami mencari2 info internship or kursus akuntansi. Hampir ketipu lho sama orang pertama yang bilang kursus dia bagus bla bla bla ternyata tidak meyakinkan.

Puji Tuhan lagi kami menemukan tempat kursus dan internship yang terpercaya. Kami pun daftar ke kursus tersebut sampai sekarang belum selesai. Sambil ikut kursus, kami juga berusaha melemar kerja di bidang accounting lewat internet. Sudah banyak kami mengirim lamaran, dan cv nya pun sudah diperbaiki formatnya oleh guru kursus kami. Namun sampai sekarang kami belum juga mendapatkan pekerjaan. Kami sempat berpikir kenapa ya kok kami belum juga mendapatkan kerja kantoran. Selama ini kami berdoa semoga diberi pekerjaan yang lebih baik. Kami bertanya2 apa rencana Tuhan kenapa Dia berpikir pekerjaan kami saat ini adalah yang terbaik padahal Petter sudah mulai sakit tangannya karena sering angkat2 di pabrik dan saya sudah mulai bosan menghadapi beberapa kakek nenek yang bawel.

Suatu hari tidak biasanya saya kerja berpasangan dengan staff bernama Lu. Biasanya dia kerja sore hari namun hari itu dia kerja pagi bersana saya. Saya iseng bertanya rumah dia dimana, kalau beli rumah bagusnya di daerah mana, dll. Singkat cerita dia mengenalkan saya kepada temannya yang bekerja jadi marketing perumahan bernama Fe. Saya menelpon Fe beberapa hari kemudian dan dia menyuruh saya menelpon Da, seorang mortgage broker alias agen KPR di sini. Da bertanya berapa gaji saya dan Petter, berapa tabungan kami dll. Waktu itu kami tidak punya tabungan yang cukup. Namun Da bilang dia bisa bantu kalau kami memutuskan membeli House and Land Package alias membeli tanah kosong lalu bangun rumah supaya bisa mendapatkan bonus First Home Buyer dari pemerintah OZ sebesar AUD 10000 yang bisa buat membantu bayar2 pajak dllnya. Dan kami bisa mendapatkan pinjaman untuk harga rumah dan tanah sebesar AUD 320000. Karena DP nya 5%, kami harus punya uang AUD 15000. Tapi kami belum punya uang segitu. Kami cuma punya uang 5000. Long story short, Daniel bilang kami bisa beli rumah 6 bulan lagi kalau selama itu kami menabung dan selama 6 bln itu Fe bisa mencarikan rumah dan tanah yang masuk dalam budget kami.

Secara Fe itu marketing, dia semangat banget mencarikan tanah buat kami. Kami bilang uang kami belum cukup. Dia bilang jangan kuatir karena kontraktor tukang bangun rumah tempat dia kerja bisa membantu. Jadi Fe berhasil mencarikan tanah buat kami dan total termasuk rumah harganya 322000. Setelah dihitung2 budgetnya, kami masih kurang uang 10000 an. yang 5rb dpt pinjaman dari adik yang kebetulan banget lagi kerja di sini. kurang 5000 lagi gimana. Kami sudah desperado juga nih jangan2 memang bukan rejeki kami. Kami berdoa terus kalau memang Tuhan berkenan buat kami membeli rumah semoga dibukakan jalan. Fe juga banyak membantu berdiskusi dengan bosnya. Jadi bosnya bisa membantu solusinya. Singkat cerita untuk masalah deposit 5% bisa terpecahkan. Tinggal menunggu KPR nya disetujui atau tidak. Akhirnyaa..jreng 1234567 Selasa kemarin Da kasih kabar bahwa KPr kami disetujui dan hari ini kami tanda tangan dokumen KPRnya. Kalau semua lancar, rumah kami bisa selesai dibangun Desember tahun ini. Perjalanan masih panjang dan masih harus berjuang untuk mengumpulkan uang buat bayar cicilan...

Hore..hore..hore..kesimpulan yang kami dapat dari pengalaman ini adalah:
- Berdoa dan berusahalah..biar Tuhan yang menentukan hasilnya
- Tuhan bekerja lewat cara2 yang aneh...dan keliatan seperti kebetulan yaitu ketika tiba2 saya bisa kerja sama Lu
-Kalau merasa pekerjaan yang sekarang itu kurang baik..pasti ada maksud kenapa Tuhan mau kita tetap bekerja di situ...mungkin karena pekerjaan itu yang terbaik untuk saat ini...Coba saya dan Petter pindah kerja sekarang pasti KPR nya belum tentu disetujui secara kami harus minimal berapa tahun bekerja di tempat yang sama.

Cerita ini belum tamat...kalau rumahnya sudah jadi dan kami sudah pindah di sana nanti saya sambung lagi ya.

Sunday, March 27, 2011

Kerjaan baru yang "Beda"

Sudah 17 hari saya menjalani kehidupan nomaden di sini. Dimana barang2 saya dan Petter cuma 2 tas backpacker. Pakaian itu2 saja, tidak punya perabotan dan hidup pun menebeng. Saya benar2 bersyukur dipertemukan dengan host saya (Raine) yang dengan berbaik hati memperbolehkan saya dan Petter nebeng untuk waktu yang tidak ditentukan dengan gratis. Walaupun sejak minggu kemarin saya memaksakan diri untuk membayar sedikit uang listrik supaya Raine tidak bangkrut secara saya tiap hari keramas dan mandi sekali sehari.
 
Petter membantu membuang sampah

Minggu pertama di Oz kami habiskan dengan browsing internet dan mencari kerja. Setelah mengalami pengalaman yang sangat tidak romantis di kebun anggur (sampai sekarang gaji kami belum dibayar dan tiap kali kami sms orangnya ga pernah dibalas), kami mencoba mencari peruntungan di bidang lain yaitu kebutuhan pokok alias pangan. Setiap kali kami jalan2 pasti sambil melihat2 ke bawah siapa tahu ada uang jatuh (saya pernah menemukan uang di wc lho...2 dollar lumayan daripada lu manyun) dan kalau ada kertas bertuliskan "vacancy". Kami sudah memberikan CV kami ke toko2 dan restoran tapi belum ada yang memanggil interview. Mungkin karena pengalaman kerja kami ga nyambung ya. Orang Accounting kok cari kerjanya jaga toko dan jadi pelayan restoran. Pokoknya pengalaman kerja saya selama 7 tahun di bidang Accounting sama sekali ga dianggap luar biasa deh.

Acara rutin kami setiap hari adalah mengirit makan dengan cara beli roti gandum yang penuh serat dan kadang2 ada biji2annya seperti kuaci, beras, dll biar tidak sembelit dan murah meriah hepi.Setelah seharian makan roti, biasanya kami pergi ke food court di mall dekat tempat kami nebeng namanya Bayside Shopping Mall. Di situ saya paling suka beli dimsum di restoran cina namanya Shangrilla. Kenapa?Karena harganya paling murah. 80 sen per biji dan lumayan gede lho. Setiap hari pasti saya beli dim sum di situ karena kangen gorengan tidak ada yang jual. Tak ada gorengan dim sum pun jadi.

Suatu hari sewaktu saya membeli dim sum, saya iseng tanya di situ butuh karyawan ga. Trus si kasir bilang kalau kebetulan lagi butuh kitchen hand. Dia suruh saya memberikan CV saya. Saya kasih CV saya dan Petter karena si kasir bilang ntar bosnya yang memutuskan siapa di antara Petter dan saya yang akan dipekerjakan. Seteleh menunggu beberapa menit, si kasir bilang kalau saya yang terpilih (karena dia lebih suka cewek) dan keesokan harinya saya disuruh try out 1 jam kerja. Kalau kerja saya dianggap cukup cepat, saya diterima.

Keesokan harinya hari Rabu tanggal 16 Maret 2011, saya pun datang ke restoran Shangrilla langsung bertemu dengan Mr. J (nama samaran) si pemilik resto. Dia menyuruh saya memotong seledri raksasa. Biasanya di Indo kan seledrinya kecil2 ya, di sini seledri bentuknya segede gaban dan anehnya yang dimakan adalah batangnya, daunnya malah dibuang (pemborosan batin saya). Setelah memotong seledri, saya disuruh memotong timun raksasa (zuchini) dan kembang kol. Saya sebenarnya kurang ahli di dapur tapi thanks to mami saya yang buka restoran mie ayam..jadi saya ada terlatih sedikit memotong sayur, mencuci piring dan memasak2. Setelah 1 jam saya deg2an juga diterima atau tidak karena saya megang pisau saja masih salah2, motongnya tidak secepat saya mengetik. Thanks God deh...karena ternyata saya.....jreng123456x diterima. Horeeee... dan disuruh bekerja keesokan harinya Kamis 17 Maret 2011, tepat seminggu sejak saya datang ke Oz.

Hari pertama saya bekerja, malamnya saya tidak bisa tidur karena tangan saya encok. Sakit banget sampai saya minum Panadol buat penahan rasa sakit padahal selama di Indo saya kira Panadol itu obat sakit gigi. Tugas saya bukan lagi memilah2 faktur pajak, lapor pajak dan mengetik2 tapi sekarang saya adalah si pemotong sayur, pencuci piring dan pembuat macam2 mie mulai dari mie pangsit sampai mie kuah kari. Apakah saya enjoy? Tentu saja..karena gaji saya jadi kitchen hand ini lebih besar dari gaji saya kerja kantoran. Malah bisa sambil menguruskan badan. Di sini saya menemukan beberapa hal yang bikin saya heran:
  1. Raine, host saya ini pekerjaannya adalah seorang forklift driver tapi tanggal 2 April nanti dia mau jalan2 2 minggu ke Eropa. Ya ampun,,,di Indo gaji forklift driver di gudang gitu boro2 bisa cukup buat nguliahin anak.
  2. Di tempat saya nebeng ini ada 2 bule lagi yang sedang nebeng juga yang berasal dari Slovenia. Cowoknya itu pekerjaannya post man..tapi bisa jalan2 sampai ke Australia dan New Zealand. Kalau cuma jalan2 ke Eropa ya tidak heran lah karena Slovenia juga di Eropa...tapi mereka bisa sampai ke sini...benar2 deh salut.
  3. Katanya sih tukang listrik adalah pekerjaan yang menjanjikan di sini karena dibayar mahal banget.
  4. Jadi tukang tato di sini sangatlah menghasilkan uang banyak. Tato kecil yang di Jogja mungkin cuma 100rb rupiah..di sini dihargai minimal 100 AUD alias 800rb. Seandainya saya bisa menato ya.
  5. Kerja 1 jam di sini bisa buat beli 2 gelas Starbucks....sementara saya dulu mau beli Starbucks aja mikir2...T-T (curcol)
Dan masih banyak lagi....jadi selama tangan saya masih kuat (sekarang sih tangan saya sudah tidak cantik lagi karena kasar kebanyakan kena deterjen), saya akan berusaha menjadi pemotong sayur dan pencuci piring tercepat.

Tuesday, March 23, 2010

Cuti itu hak setiap orang

Mo curhat sedikit...di kantorku yang baru ini aku punya jatah cuti yang lumayan banyak....dua kali lipat jatah cuti pada umumnya yang cuma 12 hari setahun. Namun...baru setahun lebih kerja..aku punya cuti 20 hari lebih...bayangkan...dulu aku mikir2 untuk mengatur cuti supaya tidak kehabisan cuti..sekarang aku malah bingung bagaimana caranya aku menghabiskan jatah cuti.

Tadi ada pengarahan dari HRD karena banyak sekali orang yang punya saldo cuti banyak banget...sampai di atas 50 hari. Itu artinya selama 2 tahun dia tidak pernah cuti. HRD sih bilang...sesibuk2nya orang masa sih ga pernah cuti. Harus diusahakan buat cuti karena kita bukan mesin. Namun realitanya....aku mau ngajuin cuti aja harus liat mood atasan lagi baek or nggak. Kalo lagi jelek jangan harap bisa cuti walaupun kita udah berbulan2 ga cuti dan jatah cuti masih segambreng. Kejadian lain yang aku alami. Aku pernah cuti sehari doang...eh ditelponin soal kerjaan. Ya ga masalah sih..tapi apa gunanya cuti kalo gitu.

Jadi aku bingung sendiri...cuti ini sebenarnya hak karyawan atau bukan sih?

Monday, March 22, 2010

Pembicaraan di sore hari

Saya adalah semi pengangguran yang bahagia dan menatap masa depan dengan penuh harapan. Jadi apa yang saya lakukan di sore hari yang cerah sehabis hujan di Semarang? Bukan, bukan nyapu halaman sambil kasih makan ayam. Saya minum teh sambil ngobrol bersama teman. Tapi, jangan bayangkan saya duduk di kafe yang berAC dengan wireless dan TV plasma yang acaranya fashion TV mulu dengan latar belakang lagunya Enya yang diputar berulang-ulang. Boleh dibilang saya punya selera (bagi saya murah meriah termasuk selera). Saya suka makan jagung bakar, minum teh dan bicara mulai dari politik (berapa prosen pemerintah akan menaikkan gaji PNS dalam 10 tahun ke depan? Halah ini mah ngarep, bukan masalah politik) sampai meteorologi dan geofisika (kenapa di Semarang sering hujan sore-sore? Hehe. Bukan pertanyaan yang rumit-rumit banget kan ya?). Intinya sih, apalagi kalo bukan bicara tentang keseharian dan masa depan bagi cewek-cewek lajang semacam kita ini?

Saya tidak menggarisbawahi kata lajang. Bagi saya nggak ada bedanya pikiran orang yang berumah tangga ataupun single, kalo cara pikirnya sama. Saya sama sekali bukan tipe 'cewek metropop' yang bersepatu tumit tinggi, bicara muncrat-muncrat tentang karir dan memandang rendah ibu-ibu yang bawa sekeranjang bayi (maksud saya, bayi dalam keranjang, bayinya gak banyak-banyak amat, bukan sekeranjang besar. Kecuali kalo hari itu bertepatan dengan Pekan Imunisasi Nasional). Saya orang yang beranggapan bahwa semua orang punya masanya sendiri-sendiri dan kita menikmati semuanya itu dengan sepenuh hati. Tapi memang susah dipungkiri bahwa pembicaraan saya dan sohib saya yang lajang, calon dokter spesialis kulit dan kelamin, hidup dari penghasilan sendiri dan hobi dari jalan-jalan sampe main gundu tentu beda dengan pembicaraan saya dengan mama saya, misalnya. Biasanya pembicaraaan kami lebih nggak bermutu, karena kamu selalu pakai kata, "Seandainya" atau "Kalau aku nanti..." alias idealisme yang tidak nyata. Konkritnya, waktu ada anak kecil di sebelah kami menangis meraung-raung hanya gara-gara minta sesuatu padahal semua orang sedang ngantri, kami tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar negatif.

"Dasar anak kebiasaan dimanja," celetuk sohib saya.
"Kalau aku nanti punya anak, aku akan biarkan saja anak yang kaya gitu. Nggak bakalan aku kabulkan permintaannya. Supaya dia tahu itu bukan cara yang benar untuk meminta," kata saya (perhatikan kalimat pengandaian pertama).
"Kalau kamu nikah nanti jangan sama Cina totok," tambah teman saya dengan agak tidak nyambung (perhatikan pengandaian lagi yang ada di sini) "Liat, matanya bakal kecil kaya gitu," katanya sambil menunjuk si anak yang meraung-raung. Teman saya emang rasis, berhubung dia Batak. Ha-ha. *Lihat siapa yang bicara sekarang?*
"Aku jelas nggak akan suka sama Cina totok. Cukup papaku aja, pelitnya minta ampun,"
"Iya, tapi keluargamu lebih senang kan kalo kamu dapet Cina?"
Saya ketawa.
"Untungnya nggak nikah dini itu, orang tua jadi lebih membebaskan pilihan kita. Daripada nggak nikah-nikah,"
"Betul juga," sohib memangut-mangut, "Orang tuaku sampai kasih insentif supaya aku cepet nikah,"
"Wah beneran??? Pasang iklan baris di koran aja biar dananya turun" sahut saya girang (otak pegawai negri)
"Sialan. Masalahnya cuman aku belum bisa memilih, bukannya kekurangan stok," sambar sohib.
Saya tersenyum mahfum. Sohib saya, seperti layaknya residen kulit yang identik dengan kecantikan, sangat jauh dari kesan tidak menarik. Dalam jarak sepuluh meter dia bisa menarik dari tambang sampai serangga dan benda-benda logam (emangnya Magneto?). Apalagi manusia.
"Betul. Dapat orang tua yang kaya papahku itu takdir. Tapi siapa yang kita nikahi itu pilihan," jawab saya sok diplomatis.
"Like this," jawab sohib saya sambil menyeruput teh manis.

Sulitnya jadi orang seperti saya dan sohib adalah: digodain abis sama mas-mas gak jelas homo atau manusia dan jelas tidak berkualitas ekspor non migas. Saya sama sekali nggak tahu apa yang ada dalam batok kepala mereka yang jarang bersinggungan dengan ilmu pengetahuan apalagi tata krama. Kalau kita jalan, kita dianggap unggas (dicuit-cuit), kalau kita naik sepeda, kita diklakson keras dari belakang lalu diliatin dengan mupeng begitu nyalip kita dari samping, kalo kita naik motor, direpet dan disenyumin mesum. Sebagai informasi, saya selalu pake celana panjang selutut dan kaos kegedean minimal dua nomor. Saya dan sohib mempertimbangkan untuk berbusana ala taliban yang kliatan matanya doang, tapi berhubung baju macam begitu bisa masuk ke roda dan bikin kami kesrimpet, kami pun menunda rencana brilian tersebut.

Berhubung tidak ingin merusak suasana sore hari saya yang cerah ceria dengan membicarakan mas-mas kurang kerjaan, saya lebih baik memikirkan hidup saya sendiri yang penuh kejutan. Jagung bakar kami datang.
"Apa rencanamu akhir pekan ini?" tanya saya pada sohib.
"Karimun Jawa, dari pelabuhan Tanjung Mas jam 8.30. Pulang Minggu siang, jam 14.00. Ikut?"
"Jelas!"
"Like this," jawab sohib saya sambil menggerogoti jagung bakar manis yang menteganya menetes-netes.

Saturday, February 6, 2010

Mengapa Kita Butuh Hari Valentin?

Seminggu lagi tanggal 14 Februari. Sebetulnya, pada tanggal tersebut banyak yang terjadi. Misalnya, itu adalah hari dimana ada sekitar 2ribu orang Yahudi dibakar atau diusir dari Strasbourg tahun 1349, hari dimana Oregon dan Arizona menjadi negara bagian Amerika Serikat, hari permulaan pecah perang antara Polandia dan Soviet, hari dimana Jawa memberontak terhadap kependudukan Jepang dan hari dimana Alexander Graham Bell mematenkan penemuan teleponnya (halo yang selalu hidup saprofit dengan HP?=p). Tapi tentu saja semua itu cuman info yang yang tidak penting (terus terang, saya juga tidak peduli kok. Emang ada efeknya kalau tanggal segitu ternyata hari berdirinya desa Limpung?) sama seperti info bahwa harga bawang merah akan naik. Saya bukan penggemar fanatik bawang merah. Kalau petai yang bakal naik, saya akan kuatir. Sungguh.

Saya bukannya latah bicara tentang Valentin, peristiwa yang paling dirayakan pada tanggal segitu. Omong-omong kosong nih, sebenarnya tanggal itu "hanyalah" hari kematian St. Valentin yang jasanya menikah-nikahkan orang supaya mereka mau memeluk suatu agama. Juga tidak bermaksud memojokkan hari Valentin yang dipuja kaum muda dan dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh pabrik coklat, tukang jual bunga, boneka, tukang jual kartu, parsel, apa pun yang berwarna pink serta event organiser dan majalah remaja putri. Saya bicara tentang ini karena Valentin mempengaruhi saya secara pribadi.

Kata sebagian orang, Valentin adalah hari yang menakutkan, lebih menakutkan daripada Haloween atau malam 1 Suro. Hari ini para single tiba-tiba diperlihatkan dengan jelas label mereka : sendirian pada hari ini ibarat orang yang lagi puasa di tengah-tengah jamuan makan. Hari ini juga menakutkan bagi orang-orang yang punya pacar tapi lagi bokek. Kayaknya saya pernah cerita kalau orang Inggris punya adat untuk mengirim pesan cinta anonim pada hari ini. Maksudnya sih supaya perasaan2 yang tidak tersalurkan pada hari-hari biasa bisa tersampaikan tanpa bikin seseorang kehilangan muka. Tapi sialnya, semua orang jadi berlomba-lomba mengirim kartu, dan siapa lagi yang kebanjiran kartu selain si cewek primadona. Intinya, di sana, kalau kita cewek SMU yang tidak memenuhi syarat ceking, pirang dan pintar bermain trombon serta tidak tahu bedanya antara eye-liner dan deodoran, mending persiapan nulis kartu banyak-banyak untuk diri sendiri jauh-jauh hari deh. Teman saya yang berumur 16, suatu siang hari di bulan Feb (tebak tanggal berapa) saya lihat membersihkan kuku sambil nonton The Full Monty. Dia bilang, hari Valentin seharusnya jadi hari libur nasional di SMU. Saya bukan lagi anak SMU dan saya tidak terganggu dengan Valentin dan segala perayaannya. Lagian, hey, itu kan hari yang baik kalo kita tiba-tiba pingin jadi penjual bunga/kartu/kue/coklat dadakan. Jadi, apa yang mempengaruhi saya?

Sebenernya, anu, pengaruhnya adalah, saya selalu lupa pada tanggal ini. Tidak seperti Natal yang membuat kita minimal pergi ke gereja dengan lebih banyak lilin, lebaran yang bikin pasaran emping tutup selama minimal 2 minggu, atau bahkan lebaran haji yang bikin banyak sapi dan kambing berada di luar habitatnya dalam sehari. Jadi, supaya ingat, tahun ini saya bertekad untuk merayakan Valentin. Mengapa? Saya punya penjelasan kenapa kita butuh hari yang konon hanya alasan bagi supermaket untuk menghabiskan stok coklat mereka bulan lalu.
  • Ini adalah hari dimana kita boleh merasa dan bicara dengan sedikit 'dangdut'. Saya boleh menyapa Mas resepsionis di pagi hari dengan, "Hari ini Mas tampak mempesona," dibanding ucapan standar membosankan, "Selamat pagi," Dan bilang sama tukang anter galon akua, "Anda memuaskan dahagaku, " dibanding ucapan biasa (yang kedengaran sangat tidak affectionate), "Makasih. Tolong angkat ke dispenser," Saya juga bisa memandang residen bedah saraf lama-lama dan membayangkan dr. Shepherd daripada ingat bahwa dia adek kelas saya yang pernah minta bocoran soal-soal asistensi. Saya bisa memutar lagu 'Wonderful Tonight' atau 'Inikah namanya cinta?' dibanding lagu saya yang biasa 'Saykoji-Jomblo' dan 'Linkin Park-Numb'
  • Saat dimana kita bisa beli buket bunga tanpa merasa bersalah meskipun mereka bukan barang yang dibutuhkan dan tidak juga tahan lama. Tanpa dikira mau melayat.
  • Saat dimana saya bisa menulis kartu anonim pada teman sekost dan ikut-ikutan penasaran itu dari siapa (Hoi, jangan bilang-bilang mereka ya. Merusak suasana seru)
  • Saat dimana saya bisa nulis tentang cinta dan curhat colongan tentang petualangan cinta (yang sebagian disadur dari film Bollywood biar seru) tanpa dikira penulis roman picisan atau pemimpi cinta yang sok melankolis.
  • Saat saya bisa membeli coklat stok bulan yang lalu banyak-banyak.
Akhir kata, kita memang butuh perayaan ini. Saya bersyukur bahwa pada tanggal segitu kita merayakan cinta; bukan perang, pembunuhan, politik atau bahkan kemajuan teknologi informasi. Saya senang bahwa setidaknya sekali dalam setahun kita diingatkan bahwa di tengah dunia yang skeptis dan pesimis soal romantisme, masih ada tempat buat perasaan yang berbunga-bunga dan pertemuan dengan belahan jiwa. Lagipula, cuma harapan inilah yang membuat hidup kita lebih cerah penuh warna.

Oh ya omong-omong, bagaimana kalau tahun ini saya mendaftarkan diri jadi peramal cinta kaya Mbak Mieke Rose? Sepertinya itu pekerjaan yang cukup menjanjikan...(dan tidak menuntut pendidikan pasca sarjana)

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p