Monday, October 19, 2009

Kuwalat

Walaupun saya sedang dikejar setoran..harus ngumpulin ribuan dokumen pajak..tapi sebelum saya lupa, saya ingin menuliskan sedikit pengalaman saya yang baru dua hari yang lalu terjadi. Namun ini ada hubungannya dengan peristiwa berbulan2 yang lalu. O iya..bagi yang belum tau, kuwalat itu artinya kita berbuat jahat lalu mendapat kesialan (kata orang jawa)..mungkin mirip2 dengan karma kali ya..kalau kita berbuat jahat di masa hidup nanti kita bisa dilahirkan kembali jadi binatang yang ga mutu misalnya kecoa, nyamuk, lalat buah..yang kalo orang liat pengennya nginjek.
Nah dua hari kemarin ini saya merasa kuwalat gara2 saya marah2 sama mbak tukang cuci di kost. Ceritanya kira2 beberapa bulan yang lalu saya pindah kost. Lalu mbak yang biasa mencuci baju di kost saya itu pindah kerja ke luar pulau. Dia digantikan oleh seorang mbak laen yang penampilannya tidak meyakinkan. Pokoknya kalau melihat dia pengennya sebel aja deh. Bukan berarti dia jelek ya....tapi ada kan beberapa orang yang kalau kita liat bawaannya pengen ketawa, pengen nangis or pengen mukul...nah ini si mbak tipe yang terakhir. Ya semoga aja saya ga kuwalat ngomong kaya gini.
Alhasil, suatu hari si mbak bilang kalo ada dua baju saya kelunturan baju batik. Saya pikir dasar si mbak marmos (marai emosi=membuat emosi) karena mana ada orang yang berpengalaman dalam cuci mencuci malah mencampurkan baju batik ama baju yang laen..jelas aja kelunturan. Padahal itu yang kelunturan adalah baju kerja saya yang bermerek walaupun belinya setengah harga karena lagi diskon. Namun saya masih memaafkan. Ya udah biarin lah...dia mo ganti juga ga bakalan mampu...karena ongkos cuci yang dia dapat adalah 30rb per bulan untuk per orang.
Eh ternyata beberapa hari yang lalu, baju kemeja saya yang lain lagi kelunturan. Ya ampun....tambah emosi deh..kaya gunung Krakatau yang mo memberi pupuk ke sawah2 (minjem perumpamaan Sekar). Ditambah lagi sepupu saya kan sedang nebeng menginap di kost. Sepupu saya menaruh baju di ember maksudnya mo nitip dan mo dicuci sendiri. Eh ternyata si mbak nyuciin dan dia ngadu ke tante kalau saya suruh dia nyuciin baju sepupu saya yang notabene ga bayar (nebeng mania). Saya ga terima akhirnya terjadilah Kisah sedih di hari Sabtu. si mbak saya datangin lalu saya marahin deh. Saya bukan orang yang gampang marah..malah saya sering cengengesan sendiri tapi kali ini si mbak udah abis deh saya bentak2.
Habis itu saya menyesal juga..karena saya pikir kenapa saya semarah itu padahal baju kan bisa beli lagi. Dan saya masih lebih beruntung dari si mbak..paling nggak kerjaan saya ga mencuci baju orang yang sapa tau bekas bertani di sawah dan terkena txxx ayam or txxx kerbau. Tapi ya saya gengsi buat ngebaik2in si mbak. Pas sorenya saya bersama Petter naik motor ke Tangerang. Biasanya perjalanan lancar2 saja. Namun tiba2 pas di tikungan, ada angkot yang olinya bocor jadi mengucur di jalan....motor Petter selip dan kami terlempar seribu meter (yang ini HBS=hiperbola sekali) untung di belakang ga ada truk gandeng. Namun kami lecet2 lumayan parah sampai saya susah keramas dan ga bisa mencuci karena di tangan saya ada lecet yang lumayan dalam dan perih banget kalau kena air sabun.
Jadi kesimpulannya..apakah saya kuwalat gara2 saya marah2in si mbak...eh sorenya jatuh dari motor. Kesimpulannya...kuwalat atau tidak, saya akan berusaha memperlakukan orang lain seperti saya ingin diperlakukan. Sebenarnya si mbak juga harusnya mempraktekan ya..kalau dia ga mau bajunya dilunturin orang, dia jangan bikin baju orang luntur dong (masih dendam kesumat)..betul..betul..betul...

Friday, October 16, 2009

Terserah Tapi kok Ngarep?

Sering dengar istilah, "Terserah Tuhan saja," keluar dengan gampang dari mulut orang-orang? Bulan Agustus lalu saya baca Reader's Digest tentang kata-kata yang sering digunakan dan kedengeran menyebalkan (The top ten most irritating phrases in the English language). Kata-kata itu antara lain adalah: At the end of the day, Fairly unique, At this moment, I personally, It's a nightmare, It's not rocket science, With all due respect, Absolutely dan Shouldn't of. (www.rdasia.com)

Nah, menurut saya, kata-kata yang menyebalkan itu adalah 'terserah Tuhan'. Kenapa?

At this moment, entah kenapa orang pada gatel menyomblangi saya. Dari adik saya sampai temennya tetangga sebelah paman dari ibu saya (sumprit, urutannya memang begitu). Pasalnya *curhat nih* adik saya yang cewek sudah mau menikah. Tidak elok kalau melangkahi saya duluan. Pamali. *Bukannya yang pamali itu cuma: makan pas di depan pintu, potong kuku malam hari dan keramas malem Jumat Kliwon? Pasti saya kelewatan primbon pamali edisi terbaru* Kalau saya sendiri merasa lebih tidak elok kalau maksa atau mburu-mburu orang kawin. Kambing aja nggak kawin kalau belum musimnya. Tapi mereka ngeles, "Kenalan saja kan nggak masalah,"

Saya bukannya sok idealis atau sok pilih-pilih. Kenyataannya saya juga sering ditolak dan sering patah hati *jujur nih* tapi ini tidak membuat saya tidak percaya pada cinta sejati, apalagi skeptis (pejuang cinta tanpa bambu runcing). Saya cuma punya pendekatan yang lain berkat bukunya Mas Joshua Harris. Menurut dia, untuk memperoleh cinta sejati itu tidak ada trik dan strateginya (emangnya ujian CPNS ato UMPTN?), tapi cuma butuh ketulusan. Selama kita masih sorangan, itu artinya berkah, karena kita punya waktu untuk mengembangkan karakter, menikmati kebebasan, mempersiapkan diri menjadi pasangan yang baik serta melakukan hal-hal yang berguna dalam kapasitas sebagai lajang. Jadi I personally tidak pasang mata pasang telinga dan siap mengarah target. Semuanya itu proses dan yang terbaik hanya bisa terjadi kalau waktunya sudah tiba. Seperti urutan upacara bendera: pembukaan, kata sambutan, mengheningkan cipta, pengibaran bendera dan doa penutup; kita kan tidak bisa melewati salah satu bagian supaya cepat selesai *meskipun pengen*. Saya ingin mengalami tiap tahapannya. Tapi kayanya susah membuat orang lain mengerti ini. Kalau saya bilang, "Saya tidak berkencan," dipikirnya saya malah lagi patah hati. Walah.

Saya nggak pernah ambil pusing soal kenal-mengenal orang. At the end of the day, saya tetap pada keputusan saya semula. Tapi akhir-akhir ini saya merasa tidak enak hati terhadap kenalan-kenalan itu. Meskipun bertema, "Teman saja," tapi mau tidak mau konteks kita sudah jelas yaitu percomblangan. Dan di sinilah muncul istilah itu: "Terserah Tuhan," dalam arti orang-orang ini percaya jodoh ada di tangan Tuhan. Kalau memang percaya, seharusnya tidak perlu ada acara perkenalan ini. Tapi selalu ada sanggahan, "Kadang-kadang kan Tuhan bekerja lewat orang-orang," Jadi intinya, terserah, tapi kalo bisa sih...kenapa enggak. Ini mah namanya bukan terserah, ini ngarep. With all due respect, saya juga manusia. Saya juga bisa naksir orang. Tapi saya berusaha untuk tidak memaksakan kehendak saya. Saya ingin yang terbaik terjadi pada saya, dan itu tidak bisa kalau cuma menuruti otak saya yang kecil dan jarang dipakai ini. Andai ada yang tahu berapa kali saya berusaha menahan diri untuk tidak menghubungi orang yang saya kagumi! It's a nightmare! Tapi inilah satu-satunya jalan untuk berani bilang terserah yang Di Atas, yaitu menurut saja pada apa yang dipercaya benar, meskipun jalannya kok kelihatan nggak jelas sama sekali. Tidak setiap saat bertanya: Kenapa? Siapa? Dia bukan? Kapan? Sampai kapan? Apakah dia? apalagi sambil berHHC. Harap-harap Cebok. Saya menjalani apa yang ada sekarang dengan bahagia karena saya percaya. Tidak perlu ngarep.

Tidak sulit membedakan antara naksir dan tidak naksir. Nggak percaya? Lihat aja reaksi cewek-cewek terhadap Choky Sitohang. It's not rocket science. Menghadapi orang-orang yang dikenalin bikin saya serba salah. Pinginnya sih netral, apa daya selalu masuk gigi persneleng. Mau cuek, dibilang sok. Mau antusias, dikira ngefans. Mau bete, disangka PMS. Mau diem aja, nanti dipikir lagi ngemut permen asem. Mau berdehem-dehem tanda nggak nyaman malah dikira keselek duren. Syusyah. Masalahnya sudah ada sejak awal, proses kenalan kita itu tidak natural. Ada maksud dibaliknya. Padahal untuk mengenali secara betul karakter seseorang, kita harus berada dalam lingkungan keseharian yang sebenarnya dan tidak ada pretensi, tidak ada penilaian, tidak ada harapan tersembunyi. It shouldn't of.

Saya tahu semua orang itu fairly unique dan mungkin ada juga yang dapet jodoh dengan cara beginian. Tapi sungguh, saya tidak nyaman. Saya merasa pendirian saya ditantang. Saya berusaha menghargai usaha keluarga dan keinginan mereka, tapi saya punya keinginan sendiri dan saya pikir sih keinginan saya tidak ada yang salah. Kata-kata, "Terserah Tuhan," bagi saya bukan berarti berpangku tangan, tapi berarti berusaha menjadi pribadi yang sebaik-baiknya dan sisanya diserahkan pada yang berwajib eh berwenang. Bukannya cari calon sendiri yang disuka, yang sesuai kriteria, dideketin berkedok teman, bilang "terserah Tuhan," tapi kalo dilanjutin sih "Terserah Tuhan kapan kamu mau menyerah sama saya, " sambil bilang "Saya bawa kamu dalam doa", dan sebagainya dan seterusnya dan lain lain. Saya sebenernya paling gokil sama orang yang bawa-bawa Tuhan. Ini bukti bahwa orang yang seagama belum tentu sepaham. Jadi singkirkan daftar kriteria yang melihat orang secara sempit! Orang itu sangat kompleks makanya nggak bisa dikotak-kotakkan. Emangnya pilkada? Itulah sebabnya kita bergantung sama yang lebih bijaksana, tidak ngarep, meskipun kalau ditanya apa saya mau dapet cowok ganteng-kaya-manis-baik-pinter-mempesona-audubilah-seksi? Absolutely. Tapi saya nggak akan cari, nggak akan bikin itu sebagai acuan. Kenapa? Karena mengimani kata "terserah Tuhan". Yang dikasih ke saya pasti yang paling cocok buat saya, meskipun tidak seaduhai si Choky-choky.

*Saya sudah menggunakan semua kata yang paling menyebalkan termasuk bagi saya sendiri. Rasanya emang memuaskan^_^*.

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p