Hari ini saya mau cerita tentang proses pembuatan paspor Deo. Karena Deo lahir di Oz dan saya permanent resident di sini, Deo bisa menjadi warga negara Oz secara otomatis. Saya baca di web kedubes Indonesia di oz kalau sebelum umur 18 tahun Deo bisa punya dua kewarganegaraan. Saya tadinya mikir mau bikin paspor Indo aja buat Deo tapi membayangkan prosesnya yang panjang dan lama, saya jadi mikir2. Dulu saya bikin paspor di Indo tidak terlalu repot karena dibikinin oleh kantor saya lewat agen. Jadi saya cukup kasih dokumen ke agen dan pada hari H saya tinggal datang langsung foto. Agen sudah ngantri dari pagi, pas saya datang cuma nunggu sebentar langsung dipanggil foto. Trus sudah deh tinggal menunggu paspornya jadi dan diantar oleh agen ke kantor saya.
Namun buat yang bikin paspor sendiri ga lewat agen termasuknya rada ribet dan buang waktu. Ini pengalaman papa mertua saya yang pertama datang ambil formulir. Lalu balik lagi buat kumpulin formulir. Lalu balik lagi buat foto lalu balik lagi buat ambil paspornya. Lalu lalang deh pokoknya. Belum lagi pas mo foto juga antri.
Singkat cerita setelah baca2 kalo Oz citizen bisa dapet visa on arrival kalo ke indo, saya memutuskan buat bikin paspor oz aja buat Deo. Saya baca sendiri caranya di web paspor. Formulir bisa diprint dari web atau ambil di kantor pos. ada dua macam paspor yaitu paspor anak dan paspor dewasa. Buat Deo tentu aja paspor anak dunk.
Yang boleh mengisi form paspor anak adalah ortu atau wali si anak. Dokumen2 yang harus disiapkan buat paspor Deo adalah akte kelahiran, paspor dan visa permanent resident salah satu orang tuanya yaitu saya sendiri. O iya butuh foto dua buah yang salah satunya harus ditulis
"This is a true photo of Deo" dan ditanda tangani oleh penjamin. Penjamin harus orang lain yang ga ada hubungannya dengan si anak dan harus Oz citizen dan kenal sama Deo. Boleh teman, dokter keluarga or tetangga. Untung teman kerja saya yang baik (ci Yani) mau jadi penjaminnya. Dokumen dan formulirnya diserahkan ke kantor pos terdekat Setelah dokumen dan formulir sudah lengkap, saya telpon ke kantor pos untuk bikin janji.
Rabu kemarin saya dan Deo ke kantor pos terdekat yaitu di St. Albans post office. Bodohnya saya, saya pilih jam 15.30 padahal ramalan cuaca bilang kalo suhu hari itu bisa mencapai 33 derajat celcius. Saya jalan kaki ke bus stop 15 menit, perjalanan bis 5 menit. Dari bis berhenti jalan lagi 5 menit. Semua sambil gendong Deo yang beratnya 9,8 kg. kenapa ga naik kreta bayi? Karena Deo nangis heboh kalo ditaruh di kreta bayi. Padahal enak ya didorong2 di kreta bayi, saya aja mau kalo kretanya cukup.
Sampai di kantor pos aplikasinya ditolak karena nama di balik foto deo ga boleh disingkat. Kemarin ci Yani nulis disingkat karena nama deo kepanjangan. Ternyata ga boleh. Hiks. Terpaksa balik lagi hari jumat. Pulang2 rasanya mau pingsan. Super panas dan super berat.
Hari ini jumat saya bikin janjinya sepagi mungkin daripada panas. Dokumen dicek sudah beres semua, bayar AUD 119 lalu selesai deh. Paspor dikirim ke rumah dalam dua minggu. Gampang banget ya. Ga pake ribet. Cuma pake cape gendong dan cape jalan.
O iya ada cerita di balik foto paspor Deo. Syarat fotonya adalah Deo tidak boleh senyum dan mulutnya harus mingkem. Saya dan suami mencoba foto Deo sampai berpuluh2 kali ga sukses juga. Tetep aja mulutnya menganga. Disuruh mingkem ga ngerti dia. Ternyata saya baca lagi di web paspor, untuk anak usia 2 tahun ke bawah ga papa kalo ga mingkem asal kepalanya kefoto semua oooo bunder.
Thursday, March 7, 2013
Friday, November 30, 2012
Gratis
![]() |
| sebelum pulang dari rumah sakit |
![]() |
| kunjungan ke klinik |
Pertama kali saya mengetahui kalau saya hamil, saya diberi tahu oleh tante kost untuk periksa ke dokter umum di klinik dekat kost. Di sana dokternya mengetes lagi apakah saya benar2 positif hamil. Setelah itu dia memberikan surat referensi untuk kontrol ke rumah sakit. Namun saya baru mulai kontrol ke rumah sakit setelah 3 bulan kehamilan. Sebelum itu kalau ada apa2 saya cukup ke dokter umum. Dokter umum di sini hampir sama pengetahuannya dengan dokter spesialis kandungan, dia tahu banyak soal kehamilan dan bisa memberikan jawaban dari pertanyaan2 saya. Dia pula yang merujuk saya untuk melakukan ultrasound (USg) dan tes darah.
Setelah mendekati 3 bulan kehamilan saya mendapatkan surat dari rumah sakit kapan waktunya saya harus datang ke rumah sakit untuk kontrol sebulan sekali sampai kehamilan 36 minggu. Setelah itu kontrolnya dua minggu sekali kecuali kalau ada masalah dengan kehamilan saya. Waktu kontrol ke rumah sakit banyak sekali tes yang harus saya lakukan. Ada tes darah untuk virus rubella, dsbnya....tes untuk diabetes karena papi dan nenek saya diabetes, ultrasound di kehamilan 20 minggu. Puji Tuhan semua tes itu hasilnya bagus jadi saya tidak perlu kontrol di luar jadwal.
Selama kontrol di dokter umum, rumah sakit dan segala macam tes yang semuanya gratis itu, pelayanan yang saya dapatkan sangat baik. Dokternya ramah, bidan dan petugas administrasinya juga sangat membantu. Tadinya saya sempat kuatir kalau gratisan ntar saya disia2kan.
Pada waktu saya opname di rumah sakit setelah melahirkan juga para perawatnya sangat membantu. Di sini sangat dianjurkan untuk menyusui ASI. Susu formula cuma diperbolehkan kalau asinya benar2 ga keluar atau bayinya sakit. Menurut mereka, tidak mungkin asi tidak keluar karena asi diproduksi sesuai dengan kebutuhan bayinya. Semakin kita sering menyusui, semakin banyak asinya. Tapi ya repotnya itu....setiap saat harus menyusui. Pertama2 saya disuruh menyusui tiap 3 jam maksimal...selama 30 menit di masing2 payudara. Jadi waktu seharian itu sebagian besar untuk menyusui sampai lecet2. Bayi saya juga tidur di kamar saya supaya mempermudah untuk menyusui dan biar ada ikatan batin katanya.
Selama di rumah sakit, ada beberapa tes untuk bayi saya yaitu tes pendengaran dan tes darah untuk menyelidiki apakah ada penyakit genetik.
Setelah pulang dari rumah sakit, dua hari kemudian ada bidan yang datang ke rumah untuk memeriksa bayi saya. Kata mami saya, di sana boro2 dokter mau datang ke rumah kalau ga dibayar. Dibayar pun belum tentu mau. Bidan menimbang bayi saya dan mengecek apakah ada masalah dengan jahitan saya serta memberikan konsultasi kalau ada yang mau saya tanyakan. Dia bilang dua hari lagi akan menelpon untuk memastikan bayi saya sehat2 saja.
Saya kira setelah bidan datang, selesai sudah perhatian yang saya terima namun ternyata ada lagi perawat yang lain datang ke rumah dan menjelaskan kalau Deo harus kontrol ke klinik sebanyak 10 kali sampai Deo berumur 4 tahun. Jadi pertama kontrol umur 2 minggu lalu 4 minggu, 8 minggu..dan semakin lama jaraknya semakin jauh sampai 10 kali kunjungan. Tujuannya untuk mengetahui apakah perkembangan Deo normal atau tidak.
Di klinik itu selain mengecek kondisi Deo, ada juga training2 yang berhubungan dengan mengurus bayi. Saya baru ikut sekali yaitu training untuk menidurkan bayi. Saya baru tahu kalau bayi umur 0-3 bulan ga boleh ga tidur lebih dari 1,5 jam karena dia akan terlalu lelah dan malah rewel karena susah tidur. Pantesan Deo sering rewel kalau malam karena saya kira bayi kalau kebanyakan tidur siang hari ntar malamnya ga bisa tidur jadi selama ini kalau siang sering saya ajak main supaya dia tidak tidur. Sekarang saya berusaha bikin Deo tidur tiap 1,5 jam...dan hasilnya malam hari Deo tidak rewel lagi. Palingan hanya bangun untuk minum susu trus tidur lagi. Sebelumnya saya harus menggendong Deo hampir 1 jam or lebih supaya dia tidur.
Imunisasi di sini juga gratis lho. Saya cukup bikin janji ke klinik terdekat dan Deo bisa diimunisasi secara gratis. Dengan service yang saya terima itu saya merasa tidak sia2 sudah membayar pajak. Pajak yang dipotong dari gaji saya langsung saya rasakan timbal baliknya.
Saya kira setelah bidan datang, selesai sudah perhatian yang saya terima namun ternyata ada lagi perawat yang lain datang ke rumah dan menjelaskan kalau Deo harus kontrol ke klinik sebanyak 10 kali sampai Deo berumur 4 tahun. Jadi pertama kontrol umur 2 minggu lalu 4 minggu, 8 minggu..dan semakin lama jaraknya semakin jauh sampai 10 kali kunjungan. Tujuannya untuk mengetahui apakah perkembangan Deo normal atau tidak.
Di klinik itu selain mengecek kondisi Deo, ada juga training2 yang berhubungan dengan mengurus bayi. Saya baru ikut sekali yaitu training untuk menidurkan bayi. Saya baru tahu kalau bayi umur 0-3 bulan ga boleh ga tidur lebih dari 1,5 jam karena dia akan terlalu lelah dan malah rewel karena susah tidur. Pantesan Deo sering rewel kalau malam karena saya kira bayi kalau kebanyakan tidur siang hari ntar malamnya ga bisa tidur jadi selama ini kalau siang sering saya ajak main supaya dia tidak tidur. Sekarang saya berusaha bikin Deo tidur tiap 1,5 jam...dan hasilnya malam hari Deo tidak rewel lagi. Palingan hanya bangun untuk minum susu trus tidur lagi. Sebelumnya saya harus menggendong Deo hampir 1 jam or lebih supaya dia tidur.
Imunisasi di sini juga gratis lho. Saya cukup bikin janji ke klinik terdekat dan Deo bisa diimunisasi secara gratis. Dengan service yang saya terima itu saya merasa tidak sia2 sudah membayar pajak. Pajak yang dipotong dari gaji saya langsung saya rasakan timbal baliknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jam
Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...
Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...
Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)
Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)
About Us
- Sri Riyati Sugiarto & Kristina Melani Budiman
- pindah2..tergantung mood, Indonesia
- Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p



.jpg)
