Wednesday, May 19, 2010

Buat Kristina


Balada Pegawai Kantoran

Balada pegawai kantoran
Yang idupnya sungguh pas-pasan
Kalo sudah akhir bulan
Utangnya mulai bertebaran
Dari burjo, warung tegal, penyet, pecel, sate sampai soto Lamongan
Semua tak luput jadi sasaran
Tiap hari tempat makannya ganti-gantian
Biar bokeknya nggak keliatan

Kalo ada teman sekantor yang ultahnya ketauan
Wah kebetulan!
Kesempatan buat minta traktiran
Kalo si ultah ke kantor bawa makanan
Doski tak segan maju duluan
Kalo perlu bungkus bawa pulang sekalian
Walo si ultah gak ikhlas dan berdoa moga doski keselek biji durian
Itu pun bukan halangan
Apapun ditempuh asal makan gratisan

Balada pegawai kantoran
Yang gajinya sungguh pas-pasan
Bekerja demi sesuap nasi dan segenggam berlian
Tiap hari pergi ke kantor jarang sisiran
Karna bangunnya kesiangan
Soalnya tiap malem dibela-belain kerja sambilan
Bukan, bukannya jadi banci di pengkolan!
Biarpun selalu kere kronis dengan siklus bulanan,
Doski cuma mau kerjaan yang halalan tayiban
Jadi nyambi kerja di percetakan koran
Biar pagi-pagi korannya langsung bisa dibaca Oom bisnisman sambil sarapan
Sementara doski sendiri kelabakan
Udah tidurnya mepet masih harus naik omprengan
Disambung lagi di busway ngantre dan gelantungan
Sambil ditingkahi aroma ketek yang beterbangan
Biar situasi nggak kondusip gitu kok ya masih bisa ketiduran di jalan!

Demi menabung untuk masa depan
Doski ati-ati banget dalam memilih makanan
Kolesterol, jeroan, gorengan, bakaran, jemuran bukanlah pantangan
Yang penting harga masih dalam jangkaoan
Doski tidak malu dibilang penggemar kuliner murahan
Oh balada pegawai kantoran
Pesen indomi rebus gak pake mendoan
Minumnya apaan? tanya penjual berusaha sopan
Ng...udah ada kuahnya kan? tolak Doski dengan senyuman
Doski bisa menghemat paling nggak lima puluh ribu rupiah per bulan
Hanya dengan menolak godaan pesen air es tiap kali makan
Sungguh sikap ngirit bin ekonomis yang bisa jadi suri tauladan
Tapi bagi yang kencing batu sungguh tidak disarankan

Oh Balada pegawai kantoran
Yang hiburannya cuma nonton DVD serial korea bajakan
Tempat tinggalnya kontrakan ato kost-kostan di gang pinggiran
Yang penting masa depan penuh harapan
Kalo doski nanti sudah sekaya Maikel Jordan (mau nulis Oprah Winfrey ato Bill Gates ato Suharto tapi kok gak berima ya?)
Doski bakal jalan-jalan ke negri jiran ato ke Skotland
Melihat kambing gunung yang sudah lama jadi impian
Moga-moga kesampaian sebelum doski ubanan

Kalo pingin beliin temen buku tapi belom ada anggaran
Doski ikut lomba puisi guyonan
Kesannya keren bukan kepalang, tapi sebenernya emang ngebet beneran
Lagian apa yang lebih indah daripada kado kemenangan?
Apalagi ini juga termasuk pengiritan
Nggak pake prangko tinggal posting di blog sudah ikutan
Sekarang tinggal Mbak Fanny dan Mbak Fanda yang menentukan
Apakah kita boleh nyabet buku 5 cm yang diidam-idamkan
Kalo nggak dapet ya 10 cm atau 50 km juga lumayan
Kata Kristina tambah panjang biasanya tambah mengagumkan
Apalagi gratisan Kristina gak bakalan sungkan-sungkan
Bukan cuman nama-alamat, minta nomer HP tante kostan aja pasti diberikan
Bonus lagi nomer NPWP kalo diperlukan
Namanya juga usaha memang perlu habis-habisan
Cukup sekian
Semoga pembaca nggak ketiduran
Apalagi sampe ilernya belepotan
Karna besok masih harus kerja kantoran *jangan lupa bedakan*

Oh balada pegawai kantoran....

Friday, May 14, 2010

Susahnya Nulis Rekomendasi untuk Diri Sendiri


Mungkin semua juga sudah tahu kalau kita butuh rekomendasi dari atasan/dosen/mantan bos kita yang biasanya profesor atau dokter spesialis konsultan yang sibuk banget itu artinya kita harus nulis sendiri dan mereka tinggal tanda tangan. Apalagi kalo harus ditulis bukan dalam bahasa Indonesia. Cuman segelintir yang mau repot-repot memberikan referensi menurut pendapat mereka sendiri, itu pun harus menunggu lama karna tidak enak mau nyepet-nyepet. Saya lebih suka rekomendasi saya tergantung pada diri saya sendiri, dengan begitu saya tinggal berburu tanda tangan kalo pingin cepet-cepet rampung. Masalahnya, apa yang saya tulis di situ?

Saya suka menulis. OK, saya jarang mengupdate blog tapi saya tetep sukak nulis (maksa). Karena kesukaan saya itu, saya tidak mau bikin rekomendasi yang sama persis (alias copas) meskipun mungkin rekomendasi yang saya bikin itu sebenernya buat orang lain dan apa salahnya hemat tenaga ganti nama saya sendiri? Toh doski (mengacu pada Ibu-ibu dan Bapak-bapak Pi Ej Di dan eS Pe Ka) -PhD dan Spesialis Konsultan- juga nggak akan terlalu rewel mengedit. Bukan masalah bahasanya. Tapi isinya. Misal : kok dia dibilang very brilliant, intelligent and hardworking? Wong nilainya biasa-biasa aja, tidak cumlaude bedinde onde-onde. Rekomendasi memang harus nulis yang positip, tapi bukan ngecap. Kalo terlalu jujur juga nanti dikira rapot, bukan rekomendasi. Masa iya saya nulis: "anak ini suka nulis/baca blog di tengah kesibukannya, pertanda bahwa dia jago multitasking"?

Nah inilah susahnya: kalau yang nulis saya sendiri, seberapa bagus saya ingin kedengarannya tanpa kelihatan jualan obat kuat? Biasanya saya cukup lancar waktu memulai dengan, "Saya memberikan rekomendasi kepada..." atau "Saya mendukung..." tapi setelah itu otak saya kosong melompong. Susah rasanya untuk bicara yang positip tentang diri saya sendiri menurut pendapat orang lain. Kalaupun saya tahu bos saya puas pada pekerjaan saya, saya nggak sampai hati menuliskan kalimat-kalimat yang persis sama seperti yang saya pikirkan tentang bos saya. Rasanya tabu. Kesannya dangdut gitu (iya, kerjaan juga bisa dangdut, bukan cuma surat cinta). Tapi saya juga sadar ini karna mental saya yang njawani. Dari kecil saya dididik untuk tidak memuji diri sendiri. Rasa bangga pada diri sendiri harus ditutupi. Seperti lagu Dhandang Gulo "Dedalane, guno lawan sekti, kudu andhap asor,"

Andhap asor artinya merendahkan diri. Bukan untuk dipandang rendah, tapi untuk lawan sekti, yaitu melawan orang yang pongah. Intinya sih orang yang rendah hati itu lebih dihargai. Jadi kalau saya mulai memuji diri sendiri, ibu saya selalu bilang, "Bebeke nyilem, deweke dialem," (bebeknya menyelam, diri sendiri kok dipuji). Ini kalo nggak salah sejenis pantun, jadi jangan tanya kenapa bebek, bukan onta. Ibu saya tidak pernah memuji saya, terutama kalau dihadapan orang lain. Jadi kalo ada anak tetangga yang dapat nilai bagus, pasti ibu saya bilang, "Pinter sekali anaknya!" dan tidak pernah bilang, "Itu anak saya juga nilainya bagus lho," . Malahan kalau ditanya selalu njawabnya, "Kalo anak saya biasa saja kok," dan saya yang waktu itu masih polos kaya cah kangkung tidak mengerti kenapa ibu saya susah dibikin senang. Tapi sekarang saya tahu kalo ibu saya cuman berusaha andhap asor. Setelah saya dewasa, baru saya mengerti kalo omongan ibu saya itu bukan patokan, lebih baik liat cuping hidungnya. Kalau bangga, cuping hidung ibu tetap kembang-kempis walopun dia berkata hakul yakin, "Ah, dia biasa saja..." =)

Tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa saya masih punya sedikit rasa jengah untuk menulis yang bagus-bagus tentang diri saya sendiri. Pernah waktu disuruh menulis sisi positif diri saya, saya menulis "Tidak sombong," lalu dibaris berikutnya, "Karena tidak sombong saya tidak menulis yang lain,". Tapi betulkah menulis yang baik-baik tentang diri sendiri itu sombong? Kayaknya sih tidak. Justru perlu bagi kita untuk "suka" pada diri sendiri. Kalau kita jarang merasa bagus tentang diri sendiri, kita jadi butuh pujian orang lain setiap saat untuk mengkatrol ego kita. Karena pada dasarnya semua orang punya harga diri. Jadi, bicara bagus tentang diri sendiri itu penting, bukan untuk klihatan keren tapi untuk merasa nyaman dengan diri sendiri. Artinya, kita merasa diri kita ini berharga, indah, baik dan berarti. Kalau kita sendiri merasa "penuh", kita tidak butuh setiap saat dipuji orang, kita tidak mudah tersinggung kalau dikritik, kita tidak butuh penggemar, kita tidak butuh digodain supaya terkesan menarik, kita tidak butuh disanjung supaya bisa kerja dengan baik. Kita merasa memang sudah selayaknya kita ini baik dan bernilai, sehingga kita juga menghargai orang lain sama derajatnya.

Akhirnya, apa yang saya tulis tentang saya? Saya tulis, "Punya semangat belajar yang tinggi," dalam arti saya sadar kalo masih bego. "Menerima kesalahan dan berani memperbaikinya," dalam arti saya juga bikin kesalahan. "Punya selera humor," dalam arti saya nggak segan menertawakan diri saya sendiri. Buat ibu saya, saya rasa andhap asor adalah sikap yang sangat baik (asal ibu jangan lupa kembang-kempiskan hidung kalau sedang bicara yang seolah-olah menjelek-jelekkan anak sendiri), tapi gambaran yang baik harus tetap ada tentang diri sendiri (baik tidak sama dengan keren).

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p