



Yang namanya memilih, menurut saya tugas yang berat. Sebenarnya setiap saat kita membuat pilihan. Dari yang gampang seperti: makan di warteg bu Dewi atau di restoran Padang, pesen es teh manis atau es cendol atau air putih saja, masak ayam atau ikan, mau tidur sekarang apa nanti. Maksud saya, keputusan-keputusan yang tidak terlalu besar efeknya dan tidak menyangkut hajat hidup orang banyak. Tapi akan susah kalau pilihan itu sifatnya penting dan permanen. Misalnya: memilih calon presiden, memilih pasangan hidup, memilih profesi, memilih tempat menetap, memilih kepercayaan, memilih cara hidup. Atau yang menyangkut hidup orang lain seperti memilih terapi yang diberikan kepada pasien. Kata yang pernah main saham atau future, dalam beberapa detik keputusan tahan atau lepas/jual bisa mengakibatkan untung atau rugi sampai jutaan. Ada juga yang bilang pada saya, pilihan yang benar pada waktu yang salah adalah salah. Nah, berarti kita masih harus memilih waktu yang tepat (keluh).
Ada lagi pilihan yang tampaknya tidak kelihatan tapi berpengaruh besar: memilih apa yang kita pikirkan. Cara pandang terhadap sesuatu. Misalnya memilih untuk memaafkan ketimbang menyimpan dendam, memilih untuk memikirkan yang baik ketimbang memikirkan yang jahat, memilih untuk tidak mengumbar nafsu (bukan cuma bulan puasa saja yaaa). Apapun pilihan kita, kita dibentuk olehnya. Ini seperti bau badan kita ditentukan oleh sabun mandi dan deodoran yang kita pakai (ini perbandingan yang kurang pas sebenarnya). Saya bilang sih, kemampuan membuat pilihan inilah yang membedakan antara satu pribadi dengan yang lain. Nah orang yang cuma bisa ikut-ikutan dan tidak memilih sendiri inilah yang dibilang tidak berkepribadian. Kenapa? Karena setiap pilihan membawa konsekuensi. Kita bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri. Baik atau buruk hasilnya kita petik sendiri. Pengecut lebih suka tidak memilih, atau istilahnya 'cari aman'. Padahal dengan begini dia kehilangan hak istimewa, yaitu menjadi orang yang bebas. Hanya budak yang tidak punya pilihan. Orang yang merdeka itu bebas memilih.
Pilihan itu kemewahan. Banyak orang tidak punya pilihan karena keterbatasan keadaan. Tapi kadang, harus diakui kita begitu takut memilih. Hal ini karena banyak pilihan yang kita buat mengarah ke tempat yang kita tidak tahu rimbanya. Sebagai orang yang penuh pertimbangan, kita ingin tahu semua kemungkinannya. Tapi kadang kemungkinan itu ada tidak terhingga. Dan ketika kita memutuskan ntuk menunda atau tidak memilih pun, kita tetap memilih juga. Yaitu memilih untuk menunda dan tidak memilih dari pilihan yang ada. Kata orang sih, beranilah memilih atau orang lain yang akan memilih untuk kita. Dunia ini bukanlah tempat yang sabar untuk menanti kita membuat keputusan. Kalau pekerjaan tidak dipilih ya akan disambar orang, begitu praktisnya. Kenapa saya bicara ngelantur tentang pilihan? Tidak ada intinya juga sih. Saya cuma sadar baru-baru ini saya bikin banyak pilihan, tanpa sadar penting atau tidaknya pilihan itu. Kadang efeknya langsung terasa, kadang dalam jangka panjang. Biar saya tulis beberapa.
1. Kalau ngantuk berat, saya sering memilih langsung molor dan tidak gosok gigi. Sekarang gigi saya lubang-lubang kaya jalur pantura waktu musim hujan.
2. Saya memilih masuk FK jaman lulus SMU dulu, sebenarnya karena cuma itu yang saya tahu kerjaannya apa (sampai sekarang tidak tahu orang yang belajar di fakultas tehnik industri itu kerjaannya apa? Sama tidak dengan Sipil?) dan juga pengaruh lingkungan. Tapi saya tidak pernah bertanya sungguh-sungguh saya minatnya apa. Sekarang jadi bingung mau mengarah ke mana dan bagian apa yang ingin saya tekuni.
3. Saya memilih tempat yang saya tuju di dunia dengan cara nusuk peta pake jarum dengan mata tertutup. Dua kali saya menusuk Laut Cina Selatan.
4. Saya cuma berkencan dengan orang yang menurut saya beda dari yang lain. Jadi kalau saya hidup di lingkungan yang semua prianya baik kemungkinan besar saya pilih yang jahat :-D
5. Saya selalu pilih makanan yang warna-warni, karena berdasar pengalaman saya makanan yang satu warna itu tidak enak. Misalnya: nasi jagung itu seret jadi kalau makan harus sambil minum air terus.
6. Saya pilih kerja di lingkuangan yang berbeda-beda karena dengan begini pilihan yang saya buat lebih mencerminkan diri saya sendiri dibanding di lingkungan yang familiar. Orang-orang yang mengenal kita punya pengaruh lebih besar terhadap pilihan-pilihan kita.
7. Saya milih makan pake tangan tadi pagi karena sendoknya belum dicuci (walah ini mah terpaksa namanya).
Intinya sih, pilihan itu memang tidak objektif. Kita selalu dipengarui pengalaman masa lalu, pembanding yang ada, kebutuhan-kebutuhan kita dan pengetahuan kita. Pokoknya sih kita tahu memilih butuh keberanian. Dan saya salut pada orang yang berani memilih.

