Tuesday, May 26, 2015

kenapa saya belum bisa langsing

saya cuma punya waktu 5 menit untuk nulis artikel ini sebelum berangkat kerja. jadi ceritanya pagi ini suami saya mengetag saya di fb tentang artikel dari mario teguh tentang bu lina. bu lina istri mario teguh ini setelah punya anak badannya jadi gendut dan dalam sebulan dia bisa menguruskan badan. sampai sekarang masih langsing, lebih langsing daripada saya padahal anaknya sudah dua.
dari dulu suami saya kepengen berat badan saya 45 kg, ini susah banget lho karena saya ini gen nya bukan gen yang makan banyak tetep langsing, saya terlangsing itu habis sakit DB itupun cuma 48 kg.
jadi ini target yang mustahil bin mustahal ya buat punya berat badan 45 kg.

cara buat langsing adalah olah raga atau mengurangi makan. Mari ditelaah dulu mana yang cocok buat saya. 
Olah raga itu bagus banget kali saya bisa melakukannya. Masalahnya adalah kapan saya bisa berolah raga. Saya kerja 5 hari seminggi kadang 6 hari seminggu. Senin sampai kamis saya kerja jam 2-8 mlm. Biasa pagi2 deo bangun sekitar jam 7.30. Trus deo ga mau dicuekin karena udah sering ditinggal kerja. Jadi nyiapin sarapan deo dan main2 sama deo sampai jam 9.15 waktunya nganter deo ke childcare. Harusnya saya punya waktu ya dari nganter deo sampai jam 1.15 krn saya biasa berangkat kerja jam segitu. Perjalanannya kalau ga ngebut sekitar 30 menit. Nah masalahnya karena saya ibu rumah tangga merangkap wanita pekerja juga dan ga punya pembantu, saya habis anter deo ke childcare biasanya ada jadwalnya yaitu belanja trus masak. Kalau pas ga belanja dan ga masak, harus beraih2 rumah dan nyuci baju. Dan kerjaan wajib setiap hari adalah bikin jus buat saya, deo dan suami. Jusnya harua ngupas dan motong buah dan ngeblender. Biasanya minimal 20 menit. Jadi waktu 4 jam di pagi hari itu ga kerasa buay ngerjain kerjaan rumah dll dll eh tiba2 udah harus siap2 berangkat kerja. Ke toilet, mandi dan dandan biar ga keliatan kucel itu makan waktu lho minimal setengah jam. Belanja biasanya minimal setengah jam jg. Belum nyuci baju dan ngelipet baju. Masak itu jg paling menyita waktu deh ditambah nyuci piring. Saya rencana mau yoga nonton dari youtube aja belum sempet2. Waktunya kayanya mepet bgt. Suami saya mungkin mikirnya saya enak ada me time. Sementara dia pulang kerja harus jemput deo dan nyuapin deo, main sama deo. Saya sebagai ibu ga cuma kerja dan ngurusin deo. Tp harus ngurusin rumah dan ngurus suami dan ngurus diri sendiri jg. Ya suami saya jg termasuknya suami teladan. Kerjaan dia jg berat dan untung dia masih mau ngurusin anak dan bantu2 kerjaan rumah   
Intinya saya benar2 tak ada waktu buat olah raga. Gimana dunk?

Nah pilihan kedua adalah mengurangi makan or makannya pilih2 yang ga berlemak dan makan yang sehat2 saja. Masalahnya saya kurang suka makanan yang sehat. Hobinya makan goreng3 an dan kalau mengurangi makan jadi tak bertenaga sementara kerjaan saya di dapur panti jompo menuntut fisik yang kuat. Kan harus nyuci piring, dorong troli keliling panti jompo buat nganterin makanan, buang sampah seabrek, ngepel dan bersih2. Jadi kalau kelaparan takut pingsan or kalo kerjanya lemot ntar dipecat kan berabe. Ditambah lagi, saya masih menyusui deo yang umurnya sudah 2 tahun 8 bulan dan belum ada tanda2 bosen. Katanya ibu menyusui kan gampang lapar ya. Lagian katanya kalau ibu menyusui bisa bikin langsing tapi kok saya tidak langsing2 padahal menyusui sudah lebih dari 2 tahun tp berat badan masih kelebihan 20 kg dari target 45 kg. 

Kesimpulannya mungkin sekarang belum waktunya saya menjadi langsing. Tunggu nanti ya minimal kaya bu lina yang anaknya udah 13 tahun dan 18 thn kalo ga salah. Jadi udah ga nempel terus kaya perangko, malah sukur2 bisa disuruh ngelipet baju, masak dan bersih2 rumah sementara maminya ngegym demi mencapai berat badan ideal yang diimpi2 kan suaminya. 

Wednesday, December 10, 2014

Tentang Makassar

Makassar cukup bersejarah buat saya, karena ini kota yang pertama kali saya datangi naik kapal Pelni Tilongkabila dari Labuan Bajo (kapal yang asyik, kita bisa nonton pilm layar tancep sambil makan pop mie). Tahun 2008 saya mengunjungi Makassar dalam perjalanan ke Tana Toraja, jadi nggak banyak yang saya inget dari kota ini kecuali coto-nya. Klise memang, tapi untuk benar-benar merasa di Makassar kita harus tahu bedanya soto dengan coto (kalo ada yang bilang soto pake daging sapi dan coto pake daging capi, mohon maap jawaban anda SALAH ya). Intinya sih, kalo di Makassar pesan saja coto, soalnya kalau pesannya soto, bikin kita pingin naik pesawat PP ke Semarang, beli soto semangkok dan dibawa untuk ditunjukin ke penjualnya gimana yang namanya soto itu seharusnya dibikin. Soto di Makassar adalah semacam coto tapi kayaknya dibikin waktu mati lampu.
 
 
Kedua kali ke Makassar adalah untuk datang ke nikahan sohib saya waktu coass dulu. Di sini cerita saya panjang karena melibatkan perjalanan ke pulau Lae-lae, yang bukan pulau liburan romantis babar blas tapi kampung halaman buat sekumpulan orang yang meninggali rumah tanpa sertifikat. Kenapa saya bisa terdampar di sini? Karena saya terlalu pelit buat bayar carter perahu ke Samalona, dan lebih suka ikut perahu anak sekolah ke desa nelayan yang nggak ada turisnya sama sekali. Semula perjalanan saya berlangsung lancar sampai saya memutuskan buat pergi cari kerang sama anak-anak nelayan. Perahu yang kami tumpangi itu kecil dan berlengan satu (semacam katinting, lihat gambar, dengan lengan kayu untuk keseimbangan). Di tengah laut anak-anak ini main-main dengan pura-pura ninggalin temennya yang lagi nyelam cari kerang. Akibatnya anak-anak ini sempat bergelantungan di sisi perahu karena temannya mendayung terlalu cepat. Saat itulah, tiba-tiba ada ombak yang lumayan besar. Perahu kami terbalik dengan sukses. Enggak ada yang pake jaket pengaman. Sepersekian detik dan tiba-tiba jatuh ke laut bikin kita mikir tentang perasaan korban tsunami. Oke, ini cuman air tapi di tengah laut. Untungnya semua orang pada dasarnya bisa berenang, cuman karena tidak siap nyebur kulit kami tergores-gores entah apa waktu berusaha naik lagi ke perahu. Plus buat saya, waktu jatuh ke air perahunya persis ada di atas jadi harus berenang memutar biar bisa naik. Perahu ini akhirnya berhasil dinaiki dalam posisi terbalik, persis wadah klepon yang jatuh dari meja, perahu ini timbul tenggelam di laut. Anak-anak laki-laki berhasil membawa perahu menepi, di pantai yang karangnya licin dan nggak ada pasir, yang jelas nggak pernah dikunjungi orang karena kami susah mencari sampah seperti bekas botol air mineral, bungkus indomie, softex, pampers etc. Bukannya kami bermaksud cari sampah juga sih, tapi setelah perahu berhasil dibalik ke posisi semula kami harus mengosongkan bagian dalam yang penuh berisi air. Jadi di sini, botol aqua sangat membantu. Sayangnya kami cuman nemu tempurung kelapa. Jadi inilah alat buat ngosongin air di dalam perahu.
 

 

Sejak peristiwa itu tiap kali saya naik perahu kecil yang diombang-ambingkan ombak, saya enggak cengengesan kayak anjing rabies lagi, tapi berdoa litani sampai katam 10x.
 
Ke Makassar yang ketiga (mohon maaf kalo postingan ini akhirnya jadi novel ya) adalah untuk acara Open Science Meeting (yang artinya ketemuan sambil makan2). Yang asik dari perjalanan kali ini adalah pesawat saya didelay selama 4 jam (haduuuh). Usut punya usut, ini bukanlah sembarang delay tapi sebenernya ini adalah pembatalan penerbangan karena kurang penumpang. Jadi karena penerbangan pukul 4 cuman dibooking setengah maka penerbangannya digabung sama yang pukul 8 yang juga dibooking setengah. Iya, saya juga mikir: ini pesawat apa angkot nomer 44 jurusan Senen-Kampung Melayu yak. Akibatnya, saya nyampe di bandara Sultan Hassanuddin jam 12 malam wita. Kejadian ini tepatnya di awal tahun 2014 dan waktu itu belum ada aturan untuk penertiban calo taksi. Jadilah saya menjadi mangsa empuk para calo taksi yang melihat seorang cewek jalan sendirian ibarat lalat liat manga busuk jatuh di jalan. No offence pada mangga busuk, tapi para calo taxi ini memang rada2 mirip lalat karena meskipun sudah dibilang "maaf, saya sudah dijemput," dan bergaya se-cool es gosrok tetap saja saya dikerubuti dan dibuntuti abang-abang calo taksi. Saya enggak takut tapi ya gerah lah ya, apalagi kemana pun saya pergi ada aja yang komentar dari mau dianter kemana sampai embaknya udah dari tadi mana jemputannya. Masalahnya, saya emang enggak ada yang jemput, tapi saya jelas enggak percaya sama calo taxi yang langsung nodong dan enggak ada nama perusahaaannya. Saya berdiri beberapa saat di area penjemputan karena menurut pengalaman saya, selalu ada mobil jemputan yang sisa tempat duduknya sehingga saya bisa nebeng sampai di luar area bandara dan kemudian naik taxi biasa ke hotel. Tapi kali ini mas2 calo taxi betul2 beringas dan gigih sehingga orang yang saya dekati malah takut dan menghindar sebelum saya bahkan menyelesaikan pertanyaan basa-basi seperti, "ibu mau jemput siapa?". Si ibu buru2 kabur gara2 saya digelayuti 10 orang calo kelaparan. Saya mulai geram. Saya berusaha masuk kembali ke ruang kedatangan pesawat tapi satpam tidak membolehkan saya masuk tanpa ada tiket pesawat. Saya disuruh duduk di depan. Lalu  segerombolan lalat2 haus darah pun ikut duduk dan berdiri di kanan-kiri-depan-belakang (kalo bisa juga atas-bawah andaikan mungkin kali ya). Ada ibuk2 yang bukan calo juga duduk tapi dia tidak membantu. Si satpam juga enggak, mungkin dia adik misan sepupu paman satu kali dari seorang bos calo taxi. Entahlah. Akhirnya, karena saya betul2 terganggu, saya pun masuk ke café deket pintu keluar. Mungkin café ini enggak sodaraan ama bos calo taxi jadi para calo ini enggak berani masuk. Kopinya jelas2 kemahalan karena itu warung kopi bandara tapi saya beruntung karena setidaknya terbebas dari lalat untuk sementara. Jadi saya ada waktu untuk basa-basi dengan 3 orang yang juga sedang minum kopi di sana dan, seperti yang sudah sering terjadi, saya pun dapat tebengan ke kota.


Sebagai informasi saja, sekarang bandara Makassar sudah jauh lebih baik karena sudah ada aturan bagi taxi untuk menunggu penumpang menghampiri booth mereka dan memesan sendiri, tidak boleh ada calo yang nyerobot apalagi sambil langsung bawain tas kayak di terminal bis Bungurasih Surabaya. Taxi yang saya rekomendasikan adalah Bosowa, Putra atau Lima Muda. Tapi jika bepergian sendiri dan dalam rentang waktu antara jam 7 pagi sampai jam 8 malam, naiklah DAMRI. Harganya Rp. 29ribu sudah sampai tengah kota (depan RRI, jalan Ribura'ne) dengan aman dan nyaman. (Hidup DAMRI!!!)


 
Saat ini, setelah bermangkok-mangkok coto, konro, sop saudara (yang enggak gratis meskipun sodara), pisang epe, pisang ijo, barongko dan pallubutung,  saya resmi tinggal di Makassar. Saya suka Makassar karena kalau kita ke warteg (atau warmak, tepatnya) selalu dikasih nasi yang banyak dan lauk yang sedikit. Jadi persis banget sama komposisi nasi megono di rumah, kecuali kalau di rumah nasinya juga lebih sedikit, hihi. Mereka juga selalu menyediakan sambel dan jeruk nipis, apapun makanannya. Sambel favorit saya yang selalu oke dimakan pake ikan jenis apapun (di Makassar umumnya orang 'makang ikang' setiap hari) adalah sambel dabu-dabu, yang adalah sambel dicapur irisan tomat yang besar2. Makassar cukup strategis sebagai kota karena enggak jauh dari pulau-pulau berpasir putih dan tempat-tempat menyelam. Kota yang enggak pernah sepi (kata orang, 'Jakarta'nya Indonesia timur) ini juga penuh dengan pusat kebudayaan asing, seperti komunitas Perancis, Cina, Belanda dsb, selain sebagai pusat ekonomi di Sulawesi. Yang saya nikmati setiap hari di Makassar adalah menyebrangi kota Makassar setiap pagi: melihat toko-toko mulai buka, orang-orang menggelar lapak di pasar, nelayan baru pulang dari melaut, orang-orang berseragam sibuk pergi ke kantor. Saya akan duduk dan menikmati hari yang baru mulai di Makassar di dalam pete-pete yang entah kenapa selalu menyetel lagu Malaysia jaman dulu, Isabella. Tiap sore saya akan menyambangi warung makan baru, barangkali sambelnya beda. Dan kalau akhir pekan tiba, saatnya mengenakan masker dan melihat ikan di laut. Saya belum tahu kapan kita boleh pakai kata 'mi', 'ki', 'maki' tapi saya sudah bisa bilang 'tabek' dan 'cotonya nambah semangkok pake buras' he-he.

Kalau ada sumur di ladang, boleh mi kita datang berkunjung! :-)
 

Thursday, October 16, 2014

Ibu....Mami..Mama...Mother..omuni

Setelah menjadi seorang ibu selama 2 tahun 1 bulan saya menyimpulkan menjadi seorang ibu adalah pekerjaan tersulit di dunia, Lebih sulit daripada waktu saya lembur2 sampai jam 3 pagi hampir setiap hari waktu saya menjadi auditor di Deloitte ataupun waktu saya dua kali ga pulang kantor karena mengerjakan tax return waktu kerja di Schlumberger. Lebih capek juga daripada waktu saya kerja jadi kitchen hand di Frankston yang jauhnya 2 jam naik kereta dari rumah. Baiklah..marilah kita lihat daftar kesulitan2 menjadi seorang ibu..tentu saja ada positifnya kalau tidak masa hampir semua wanita di dunia ini mau menjadi ibu. Kalau tidak populasi manusia bisa punah seperti dinosaurus yang punah karena kabarnya ada hujan es. Manusia terbukti lebih kuat dari dinosaurus karena di Melbourne ini juga kadang2 ada hujan es tapi kita tetap hidup dan eksis seperti sekarang.

Kita mulai listnya dari:
Waktu kehamilan: saya harus merelakan tubuh hasil diet sampai minum obat diet tapi belum juga kurus2 ini naik 12 kg dalam waktu 9 bulan. Belum lagi susah tidur karena kebelet pipis dan waktu hamilnya sudah besar cuma bisa tidur miring ke kanan ke kiri. Awal2 kehamilan juga mual2 sampai ga doyan makan tapi ga kurus malah perut tambah melendung. Masih ditambah kaki bengkak dan tubuh rasanya ga karuan.

Waktu melahirkan: menderita dari jam 1 pagi sampai anaknya lahir jam 10 malam. Jadi sekitar 21 jam menahan sakit yang lebih sakit dari sakit gigi. Plus bagian tubuh bagian bawah tidak akan sama lagi karena digunting dan dijahit dan diobok2 dokter serta bidan (maaf kalau terlalu vulgar tapi kenyataan).

Dari Deo baru lahir sampai sekarang: Saya belum pernah tidur nyenyak semalaman karena Deo pasti bangun malam2 minta susu. Apalagi sebelum Deo 5 bulan, dia tidurnya kalau siang..malamnya bangun. Bukan cuma masalah tidur, waktu sehari2 mengurus deo juga membutuhkan kesabaran. Saya ingat ada teman yang posting gambar di facebook yang isinya ibu hanya bisa memilih dua dari tiga hal berikut: rumah bersih, anak hepi atau kewarasan ibu. Seringnya ibu tidak bisa memilih semuanya karena rumah berantakan, anak rewel dan ibunya bohwat dan diragukan kewarasannya.

Mendidik anak bukanlah hal yang gampang. Waktu pertama2 saya bingung soal kapan deo benar2 lapar dan butuh susu atau cuma mau ngenyot doang. Lalu saya bingung waktu mulai memberi makan solid. Kadang deo tersedak kalau makananya sudah mulai kasar teksturnya. Sekarang ini yang bikin saya stres adalah deo susah makan. Masa umur 2 tahun masih makan bubur. Kalau makan nasi dilepeh2. Padahal dia bisa makan biskuit, kerupuk, keripik..dll yang dia suka tapi kok makan nasi ga mau. Kata dokter coba deo dibikin kelaparan trus ntar dikasih makan nasi sayur gitu pasti dimakan. Itu teorinya..tapi teori gampang,,,prakteknya susah. ada yang bilang suruh makan sendiri aja nanti kalau dia lapar juga dia makan ga usah disuruh. Sudah dicoba tapi deonya lapar juga tetap ga mau makan nasi sayur..malah ngejar2 saya minta nenen. ya itu salah satu yang susah distop..sampai sekarang Deo masih asi. Sempat saya coba menyapih tapi deo nangis kaya mau dibunuh gitu jadi ya saya kasih lagi nenennya. Saya mikirnya biarlah deo nenen sampai bosan sendiri. Ada yang bilang mana mungkin bosan.ntar sampai sekolah bisa jadi masih nenen kaya teman adik saya. Oh tidaakkk...saya ingin tahu apakah ada ibu2 yang anaknya super ideal...perkembangannya sesuai umur misal ngomong ga telat, tabiatnya baik..dikasih tahu nurut, waktunya berhenti nenen langsung bisa. Anak yang makannya 3 kali sehari teratur suka makan sayur dan buah, tidak suka junk food. Hobinya baca buku, main musik dan membantu orang tua serta suka menabung, suka rumah yang rapi dan bisa membereskan mainannya sendiri. Mau gosok gigi tidak usah dikejar2, toilet training sehari langsung bisa serta tidur tepat pada waktunya ga main2 dulu sampai maminya ngantuk. Ada tidak yaaa?????

Ini adalah tulisan ibu frustasi yang lagi cuti kerja 2 minggu karena emak deo lagi pulang ke Indonesia.

Bukan berarti saya sama sekali tidak pernah hepi lho menjadi seorang ibu karena ada yang bilang anak adalah berkat...anak bikin ortu hepi dan bangga. Anak bisa bikin kita excited melihat pertumbuhannya dan yang paling penting membuat saya bahagia bisa menjadi seorang ibu (kalau lagi waras).

Sunday, August 31, 2014

AirAsia dan Traveling, bagaimana saya bepergian tanpa beban

Bicara tentang traveling tidak bisa lepas dari bicara tentang tiket pesawat. Tentunya, kita nggak harus naik pesawat kalau mau bepergian. Bisa naik bis, kapal laut, kereta api, motor, mobil, sepeda atau bahkan onta, tapi masalahnya 99,9756% (bukan angka yang sebenarnya) orang nggak punya seumur hidup untuk traveling. Paling banter cuti rata-rata cuman 3 hari sampai seminggu. Inilah kenapa tiket pesawat selalu yang pertama jadi pertimbangan. Perjalanan darat atau laut biasanya makan waktu lebih lama dan biasanya kalo sudah repot banget cari jatah cuti (meskipun cuman 3 hari) kita cenderung pingin pergi yang rada jauhan. Contohnya, orang Pekalongan kalo cuti nggak mungkin liburan impiannya pergi ke Tegal. Bukannya Tegal enggak keren ya, kan banyak yang menarik di Tegal misalnya warung tegal, mendoan tegal dan logat tegal yang begitu kental kayak teh pocinya, yang bikin kita serasa di luar negeri karena saking enggak mudengnya. Tapi intinya sih, kita selalu pingin pergi ke tempat yang jauh, yang beda, yang bikin kita lupa sama keseharian kita di tempat kerja. Tapi juga butuh cepet karena liburnya gak lama. Kalau mau ke pantai tapi di lautnya cuman beberapa jam karena perjalanannya PP 2 hari kayaknya bukan liburan tapi latihan untuk meningkatkan kemampuan pantat bertahan. Untuk inilah budget airlines seperti AirAsia betul-betul sangat menolong para traveler yang prinsipnya murah-meriah-hepi (baca: 99,9756% orang. Sisanya paling cuman Si Zalianty bersodara karena dibayarin Om ARB atau si Syahrini yang hobinya pake jet pribadi). Seperti kata pepatah berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian…cari tiket pesawat yang murah dulu, ngajuin cuti kemudian…karena mau diakui atau tidak, price does matter.

Berdasarkan survey (saya nanyain temen-temen kantor seberang meja), pola traveling kita sudah berubah sejak diperkenalkannya AirAsia di Indonesia. Kita tidak lagi harus nabung seumur hidup dan mengorbankan dana pensiun untuk liburan seminggu di Tegal eh Bali misalnya. Tiket promo AirAsia bisa begitu terjangkau sehingga kita kadang jadi pingin pergi meskipun tadinya nggak kebayang, karena,  contohnya, biaya pesawat PP Yogya ke Denpasar bisa lebih murah dari bus Patas Pekalongan-Cirebon. Jadi, siapa hendak turut? Bepergian ke tempat-tempat eksotis tidak lagi jadi monopoli Om ARB dan Miss Zalianty lagi karena kaum proletar (baca: saya dan temen-temen kantor seberang meja) sekarang bisa juga pergi berlibur dan beli boneka teddy bear tanpa harus mengutang kanan-kiri.

Oke, budget airlines bukan cuma sekedar masalah duit, tapi juga masalah kenyamanan. Bepergian dengan pesawat AirAsia itu nyaman karena:
  •  Enggak perlu terlalu pusing mikirin tujuan wisata. Waktu saya nanya ama temen sekantor mau berlibur ke mana tahun ini, dengan enteng dia menjawab, “Kemana aja yang ada promo AirAsianya”. Siapa sih yang nggak suka liburan kejutan?
  • Bisa liburan lebih lama. Ini karena: enggak naik bis (biasanya budgetnya cuman cukup buat bis AKAP yang kalo nggak ngabisin semalem di jalan ya minimal sehari pulang-pergi) plus duit sisanya bisa buat sewa kamar penginapan semalem lagi.
  • Kalau kita naik pesawat yang non-budget misalnya the British Airways (ini contoh, meskipun contoh yang agak lebai. Bagi warga pekalongan dan sekitarnya -kayak Adzan magrib pakai dan sekitarnya hehe- British Airways nggak mendarat di bandara Ahmad Yani Semarang, sekedar info), perjalanan kita nggak akan semenarik kalau kita pakai AirAsia. Apa pasal? Begini. Pesawat non-budget biasanya diisi oleh orang-orang tua yang udah mapan atau orang yang sedang dalam perjalanan bisnis. Jadi percakapan kita bekisar pada hal-hal semacam pekerjaan, pertemuan, makan siang dengan klien, rapat dengan rekan kerja, seminar atau hal-hal yang serius lainnya. Biasanya pada pembicaraan semacam ini saya cuman akan mengangguk-angguk macam burung perkutut tapi sebenernya saya enggak ndengerin karena enggak paham. Nah kalau pesawat macam AirAsia itu saya ketemu sama orang-orang macam saya dan temen-temen sekantor seberang meja: pemburu liburan murah-meriah-hepi. Jadi pembicaraan saya bisa dari kota apa yang kayaknya bakal jadi promo tahun depan sampai warung makan apa yang jual makanan yang khas kayak tempe mendoan tegal. Termasuk tips-tips cara berpetualang yang hemat tapi hebat (misalnya, suatu saat ada temen ketemu di pesawat yang nunjukin ke saya gimana cara pakai AirAsia chart untuk tahu kapan waktu terbaik pergi ke Burma). Seperti orang bijak (yang enggak minum tolak angin tapi taat pajak) bilang: traveling tidak sejauh dompetmu tapi sejauh mana imajinasi membawamu. Puitis bukan? Memang tiket murah itu seindah puisi….
  • Tanpa beban. Dalam arti konotatif dan sebenernya. Tanpa beban dalam arti yang sebenarnya adalah, karena demi menghemat biaya perjalanan saya selalu pergi dengan satu tas ransel saja dan enggak banyak bagasi. 



Apapun alasannya, adanya maskapai semacam AirAsia memberi kita lebih banyak pilihan, lebih banyak kesempatan berlibur di tengah cuti yang sempit. Kalau dulu traveling masih menjadi barang mewah yang terbatas pada orang-orang yang memiliki ‘privilege’ saat ini traveling sudah lebih populer, lebih merakyat dan karenanya, lebih baik. Semakin banyak orang tertarik (dan akhirnya pergi) untuk menjelajah Indonesia berkat bertambahnya rute AirAsia Indonesia ke kota-kota dan pulau-pulau di Indonesia. Siapa lagi yang akan menikmati keindahan negeri ini kalau bukan kita sendiri? (baca: traveler murah-meriah-hepi). Karena seperti kata pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Biarkan imajinasi membawa kita bepergian ke segala penjuru, dan reservasi tiket AirAsia promo kemudian J. Selamat ulang tahun ke-10 AirAsia Indonesia. Terimakasih sudah membantu para traveler murah-meriah-hepi untuk mewujudkan imajinasi kami.

Wednesday, August 27, 2014

Salah satu mimpi saya hampir terwujud (lagi)

Hidup saya tidak selalu cerah ceria..seperti hari hari yang kadang matahari bersinar, kadang hujan deras dan kadang berangin or berkabut kaya pagi ini. Apalagi kalau baca berita akhir akhir ini bikin tentang ISIS, bom di Gaza dll bikin tidak semangat. Namun ada satu hal yang saat ini sedang bikin saya dan suami semangat karena ada yang ditunggu yaitu...jreng 22345x rumah kami sudah hampir jadi. Ini rumah pertama kami jadi maklum aja kalau kami senang banget. Semoga semuanya lancar sehingga paling lambat Januari 2015 kami bisa pindah ke rumah baru.

Kalau dipikir2 sejak pindah ke oz tahun 2011 baru 3 tahun yang lalu ya tapi hidup kami begitu banyak perubahan. Kami pacaran tahun 2002 waktu masih kuliah. Setelah saya lulus tahun 2003 saya kerja di Jakarta sampai tahun 2011. Petter juga mulai kerja tahun 2007. Baru bisa menikah tahun 2009. Selama saya kerja di jakarta 8 tahun (lama juga ya) dan sampai menikah, kami belum bisa punya apa2. Tinggal juga masih di kost2an yang rada mengenaskan.

Makanya saya bersyukur banget Tuhan buka jalan buat kami buat pindah ke oz. Dalam waktu 3 tahun kami bisa punya anak, beli mobil walaupun second dan sebentar lagi pindah ke rumah baru. Perjuangan kami di sini tidak gampang. Sampai sekarang Petter masih kerja angkut2 di pabrik sampai tangan kaki dan punggungnya sering ditempel koyo cabe. Saya juga masih kerja di panti jompo. Kadang ngurusin manula, tapi sekarang sih lebih sering kerja di dapur. Cuci piring, nyiapin makan, bantu2 chef...ngepel dan bersih2.

Yang lebih membuat saya bersyukur adalah di sini tidak sia2 membayar pajak. Banyak fasilitas yang sudah saya nikmati di sini. Misal ke dokter dan rumah sakit gratis walaupun obat beli sendiri. Deo kemarin2 ditawarin buat ke playgroup gratis..oktober mulai. Trus waktu lahiran ada baby bonus $5000 yang sayangnya sudah mau dihapus. Sebagian pajak yang kami bayar juga bisa diminta balik. Kemaren2 saya bayar pajak sekitar $2000 an setahun bisa dapet balik $1000 an. Kalau setahu saya di indo dulu pajak perorangan tidak bisa diminta tax return nya. Cuma perusahaan saja yang bisa minta tax return. Plus di sini kalau penghasilannya kecil bisa dapat tunjangan dari pemerintah. Saya juga masih dapat tunjangan 2 minggu sekali yang lumayanlah buat nambah2 belanja.  Tadi saya iseng2 baca2 website centrelink (badan pemerintah yang ngurusin tunjangan), ternyata kalau butuh uang bisa minta tunjangannya dibayar di muka dalam jumlah tertentu. Lumayan mumpung saya juga lagi butuh uang buat bayar kpr.

Saya nulis ini tujuannya buat mengingatkan kalau pas lagi malas kerja atau kurang bersyukur bisa diingatkan kalau seharusnya saya bersyukur dengan hidup saya sekarang. Berdoa buat perdamaian dunia terutama di gaza, irak dan suriah.

Friday, July 11, 2014

Akhirnya dapat sim hore

Waktu saya masih di indo, saya cuma bisa naik motor. Lalu saya minta papi untuk membuatkan sim motor untuk saya. Prosesnya amat sangat gampang yaitu melalui agen sim. Saya cuma datang ke kantor polisi untuk foto dan cap jempol ga perlu tes2 segala. Beberapa hari kemudian sim nya jadi diantarkan ke rumah. Pak polisi tak peduli saya benar2 bisa naik motor atau tidak. Tak peduli juga nanti kalau saya ternyata tidak bisa naik motor dan kalau sial bisa nabrak anak si polisi.

Nah di oz saya berharapnya bisa punya sim segampang itu. Namun harapan tinggallah harapan karena tidak ada yang namanya nyogok untuk bikin sim di oz. Saya butuh membuat sim mobil.Prosesnya dimulai dari tes tertulis. Setelah lulus lalu bisa ikut hazard test alias simulasi komputer. Lalu baru bisa driving test. Karena saya belum pernah punya sim  dari indo, sim saya adalah sim percobaan (probationary license kalo ga salah) dan kalau saya menyetir mobil, di mobilnya harus ditempel stiker P Warna hijau bisa dibeli di 2 dollar shop alias toko kelontong. Setelah 3 tahun baru saya bisa dapat sim penuh alias full license.

Saya sempat belajar nyetir beberapa kali sama petter tapi secara petter ini guru gratisan, dia ga sabaran dan suka bikin saya stres. Ditambah lagi mobilnya transmisi manual jadi kalo jalannya nanjak langsung deh saya panik dan mobilnya melorot.

Makanya saya memutuskan untuk belajat nyetir lewat guru nyetirnya petter namanya rob. Setelah beberapa minggu belajar nyetir sama rob, saya memberanikan diri ikut driving test. Btw tarifnya rob mahal lho $50 per jam. Trus kalau driving test harus pakai mobil rob bayar lagi $180. Ga tahu deh saya sudah habis uang berapa.

Di hari tes, saya lumayan pede lho...sialnya ketemu penguji cewek yang kayanya sirik krn saya lebih cantik. Jadi saya gagal deh..padahal menurut rob si penguji ini kurang fair waktu bilang saya gagal. Singkay cerita 3 minggu kemudian saya test lagi..bayar lagi deh. Dan jreng 12345x pengujinya cowok dan ga bikin tegang. Akhirnya saya lulus...horee

Saturday, February 15, 2014

Kejadian Aneh Season 2

My piece of Australia
Blog ini hampir setahun jualan anggur dan kentang secara tidak pernah ada tulisan produktif..kasian ya sepertinya sudah lumutan untung belum expired. Secara hari ini saya baru mendapat kabar gembira, saya langsung semangat 4567 buat bercerita.Tiga tahun yang lalu saya pernah menulis artikel berjudul Kejadian Aneh yang happy ending. Hari ini saya baru mengalami lagi kejadian aneh yang belum tamat..baru mendekati happy ending. Begini kisahnyaa....

Saya dan Petter, suami saya sering mendiskusikan tentang keinginan2 kami di masa depan..di antaranya ingin keliling dunia, punya pasif income, ga perlu kerja tapi dapat duit dan masih banyak lagi yang kalau mami saya dengar pasti saya dibilang muluk2. Padahal saya sudah sering bilang ke mami Nothing is impossible (ora ono seng ora mungkin) kalau Tuhan berkenan dan kita berusaha. Salah satu keinginan saya yang sudah terkabul walaupun dulu sempat dibilang muluk2 oleh mami adalah bisa tinggal di luar negeri..Puji Tuhan.

Nah tahun lalu Petter bilang kalau dia ingin banget punya rumah..dari dulu ding dia selalu ingin punya rumah karena menurut dia ngekost dan ngontrak itu najis (HBS alias hiperbola sekali) karena bikin kaya yang punya kontrakan. Saya sempet tersinggung juga sih karena mami saya juga masih ngontrak..dulu punya rumah tapi ditipu sodaranya dan rumah disita bank. Namun itu ceritanya panjang dan lebar dan sudah di masa lalu tak usah disesali.  Btw saya nulis artikel ini sambil mendengarkan lagu OST drama korea My love from another star tentang alien yang jatuh cinta sama manusia padahal kalau mereka kissing, aliennya langsung meriang.

Kembali lagi ke laptopnya si Tukul, Petter bilang ingin punya rumah tapi apa daya kami masih banyak tanggungan dan rasanya kok tidak mungkin bisa segera punya rumah. Namun saya bilang, kita pasti bisa punya rumah dalam waktu 2 tahun. Petter tanya gimana caranya, saya bilang tidak tahu gimana tapi pasti bisa. Buat referensi, harga rumah di sekitar sini paling murah sekitar 3 M. Dpnya juga paling sedikit 5% alias 150jt. Dari mana duit segitu, mobil aja masih belum lunas.

Kami berpikir mungkin kami harus mencari kerjaan lebih baik. Sekarang saya masih kerja di panti jompo merawat orang tua dan kerja di dapurnya. Petter kerja di pabrik plastik dan restoran Malaysia yang sering telat gajinya.Dulu di Jakarta kami kerja di bidang Akuntansi namun di oz ini kami ga laku karena mereka mengutamakan lulusan lokal yang belum tentu lebih pintar sebenernya. Demi mendapatkan pengalaman lokal di bidang Akuntansi, kami mencari2 info internship or kursus akuntansi. Hampir ketipu lho sama orang pertama yang bilang kursus dia bagus bla bla bla ternyata tidak meyakinkan.

Puji Tuhan lagi kami menemukan tempat kursus dan internship yang terpercaya. Kami pun daftar ke kursus tersebut sampai sekarang belum selesai. Sambil ikut kursus, kami juga berusaha melemar kerja di bidang accounting lewat internet. Sudah banyak kami mengirim lamaran, dan cv nya pun sudah diperbaiki formatnya oleh guru kursus kami. Namun sampai sekarang kami belum juga mendapatkan pekerjaan. Kami sempat berpikir kenapa ya kok kami belum juga mendapatkan kerja kantoran. Selama ini kami berdoa semoga diberi pekerjaan yang lebih baik. Kami bertanya2 apa rencana Tuhan kenapa Dia berpikir pekerjaan kami saat ini adalah yang terbaik padahal Petter sudah mulai sakit tangannya karena sering angkat2 di pabrik dan saya sudah mulai bosan menghadapi beberapa kakek nenek yang bawel.

Suatu hari tidak biasanya saya kerja berpasangan dengan staff bernama Lu. Biasanya dia kerja sore hari namun hari itu dia kerja pagi bersana saya. Saya iseng bertanya rumah dia dimana, kalau beli rumah bagusnya di daerah mana, dll. Singkat cerita dia mengenalkan saya kepada temannya yang bekerja jadi marketing perumahan bernama Fe. Saya menelpon Fe beberapa hari kemudian dan dia menyuruh saya menelpon Da, seorang mortgage broker alias agen KPR di sini. Da bertanya berapa gaji saya dan Petter, berapa tabungan kami dll. Waktu itu kami tidak punya tabungan yang cukup. Namun Da bilang dia bisa bantu kalau kami memutuskan membeli House and Land Package alias membeli tanah kosong lalu bangun rumah supaya bisa mendapatkan bonus First Home Buyer dari pemerintah OZ sebesar AUD 10000 yang bisa buat membantu bayar2 pajak dllnya. Dan kami bisa mendapatkan pinjaman untuk harga rumah dan tanah sebesar AUD 320000. Karena DP nya 5%, kami harus punya uang AUD 15000. Tapi kami belum punya uang segitu. Kami cuma punya uang 5000. Long story short, Daniel bilang kami bisa beli rumah 6 bulan lagi kalau selama itu kami menabung dan selama 6 bln itu Fe bisa mencarikan rumah dan tanah yang masuk dalam budget kami.

Secara Fe itu marketing, dia semangat banget mencarikan tanah buat kami. Kami bilang uang kami belum cukup. Dia bilang jangan kuatir karena kontraktor tukang bangun rumah tempat dia kerja bisa membantu. Jadi Fe berhasil mencarikan tanah buat kami dan total termasuk rumah harganya 322000. Setelah dihitung2 budgetnya, kami masih kurang uang 10000 an. yang 5rb dpt pinjaman dari adik yang kebetulan banget lagi kerja di sini. kurang 5000 lagi gimana. Kami sudah desperado juga nih jangan2 memang bukan rejeki kami. Kami berdoa terus kalau memang Tuhan berkenan buat kami membeli rumah semoga dibukakan jalan. Fe juga banyak membantu berdiskusi dengan bosnya. Jadi bosnya bisa membantu solusinya. Singkat cerita untuk masalah deposit 5% bisa terpecahkan. Tinggal menunggu KPR nya disetujui atau tidak. Akhirnyaa..jreng 1234567 Selasa kemarin Da kasih kabar bahwa KPr kami disetujui dan hari ini kami tanda tangan dokumen KPRnya. Kalau semua lancar, rumah kami bisa selesai dibangun Desember tahun ini. Perjalanan masih panjang dan masih harus berjuang untuk mengumpulkan uang buat bayar cicilan...

Hore..hore..hore..kesimpulan yang kami dapat dari pengalaman ini adalah:
- Berdoa dan berusahalah..biar Tuhan yang menentukan hasilnya
- Tuhan bekerja lewat cara2 yang aneh...dan keliatan seperti kebetulan yaitu ketika tiba2 saya bisa kerja sama Lu
-Kalau merasa pekerjaan yang sekarang itu kurang baik..pasti ada maksud kenapa Tuhan mau kita tetap bekerja di situ...mungkin karena pekerjaan itu yang terbaik untuk saat ini...Coba saya dan Petter pindah kerja sekarang pasti KPR nya belum tentu disetujui secara kami harus minimal berapa tahun bekerja di tempat yang sama.

Cerita ini belum tamat...kalau rumahnya sudah jadi dan kami sudah pindah di sana nanti saya sambung lagi ya.

Saturday, March 16, 2013

Apakah kita berbahasa Indonesia? (ini kalimat yang baik dan benar lho)

 Alkisah, untuk menambah uang saku selama saya menyelesaikan tugas belajar, saya kerja paruh waktu sebagai...ta-tara-tara: guru bahasa Indonesah! Ini kerjaan yang bagus karena lebih ahoy daripada jadi tukang cuci piring di Mac Donald, tukang iklan supermaket yang pake kostum pisang jumbo ato tukang ngepel di panti jompo. Sebenernya saya juga nggak keberatan jadi kasir loket kebun binatang seperti cita-cita Kristina, tapi sayang pas saya daftar lagi nggak ada lowongan, yang ada cuma lowongan nyebokin gajah karena pawang yang sebelumnya cuti akibat patah tulang karena nggak sengaja kesenggol si gajah pas lagi menunaikan tugasnya. Pingin juga jadi tukang jual es krim karena mobil tukang es krim selalu rame dengan musik-musik riang gembira ala anak2 TK yang darma wisata ke pantai nyiur melambai. Plus kemungkinan dapet sisa es krim gratis. Tapi sayangnya kerjaan ini mungkin bakal ditunda sampai terjadinya pemanasan global karena awal musim semi di sini tiba-tiba hujan salju. Mana laku jualan es kalo kita bisa sesukanya ngambil es gosrok dari cucuran genteng? Sebelum seluruh postingan ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan kerjaan lain yang jelas enggak se-cihuy jadi guru bahasa Indonesia, saya langsung saja ke pokok permasalahan: apakah kita benar-benar bisa berbahasa Indonesia? Sejujurnya, saya bilang, kita bicara bahasa Indonesia sejauh kita paham. Tapi jauh dari benar.

Dilema jadi guru bahasa Indonesia adalah: kalau kita mengajarkan bahasa yang sebenarnya, murid2 kita bakal kedengaran aneh. Mana ada yang bilang ke orang di Indonesia, "Apakah anak anda adalah seorang penerbang?" atau "Semenjak pukul berapakah kalian telah menunggu di depan pintu?" atau "Apakah kucing adik tetangga anda sudah melahirkan tadi pagi?"

Intinya sih, bukan salah kita kalau kita tidak bicara dengan tata bahasa yang baik dan benar, karena yang paling penting adalah pesan yang disampaikan. Susahnya, untuk orang yang baru belajar, kita harus memberikan aturan dan cara baku supaya orang lain bisa memahami bahasa kita. Ada banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab segera karena saya enggak tahu logikanya. Pas saya ditanya kenapa kita bicara seperti itu, rasanya pingin nelpon langsung guru bahasa Indonesia saya dulu buat minta maap karena lebih milih mainan bulat silang dan ayam-ayaman ketimbang ndengerin beliau baik-baik. Ngomong2, dimana gerangan ya guru bahasa Indonesia saya dulu? Pasti sudah tua banget karena pas saya SD dulu beliau sudah sering sakit encok dan rematik. Saya nggak yakin bisa kirim email ke beliau untuk minta nasehat (susah buat ngetik kalo jari2 kita rematik, apalagi kalo pake android, karena tombol2nya kekecilan). Atau ada yang tahu emailnya JS Badudu? Tapi saya yakin beliau terlalu sibuk buat membalas email orang yang nggak dikenal (takut malah dikira email spam buat iklan Viagra).

Jadi, teman2 penutur asli bahasa Indonesia, beberapa pertanyaan yang ditanyakan murid2 saya adalah:
1. Kenapa lawan kata dari tinggi bisa rendah atau pendek, dan lawan dari pendek bisa panjang atau tinggi. (mudeng rak? aku yo bingung)
2. Kalimat tanya dengan jawaban terbuka atau jawaban ya/tidak.
"Apakah kamu sedang membaca?" ya/tidak
"Apa yang sedang kamu baca?" jawaban terbuka.
"Apakah kamu sedang menulis?" ya/tidak
"Apa yang sedang kamu tulis?" jawaban terbuka.
Pertanyaannya: Kenapa kita bilang "membaca" dan lain waktu "baca", atau "menulis" tapi lain waktu "tulis"? Saya bilang kalau tidak mungkin kita bilang, "Apa yang sedang kamu membaca" karena sudah ada kamu sebelum kata kerja baca. Tapi mereka bilang, bukannya kalimat affirmatifnya: "kamu membaca buku"?
3. Perbedaan antara apa dan apakah.
Apa adalah kata tanya untuk kalimat terbuka. Contoh: kamu garuk-garuk apa?
Apakah adalah kata tanya untuk jawaban ya/tidak. Contoh: Apakah kamu lagi garuk-garuk?
Nah masalahnya, dalam bahasa lisan kita selalu nyampur aduk antara apa dan apakah, alhasil saya secara nggak sengaja pake kata tanya "apa" bukannya "apakah". Murid2 saya bingung dan kemungkinan besar mereka bakal memilih pindah kelas ke bahasa Kligon*.

Jadi, kalo temen2 nganggur dan lagi garuk-garuk ketek sambil nonton orang kepleset-pleset di youtube, temen2 boleh bantu saya cari jawaban buat pertanyaan2 di atas. Sayangnya tidak ada hadiah buat jawaban yang benar, karena tukang wesel pos di sini lagi cuti buat nggantiin pawang gajah. Selamat hari Minggu, salam super ala JS Badudu!

*Kligon: bahasa dari film Star Trek: the next generation. Salah satu penutur aslinya adalah Spock, yang telinganya panjang tapi bukan kelinci.

Thursday, March 7, 2013

Paspor Deo

Hari ini saya mau cerita tentang proses pembuatan paspor Deo. Karena Deo lahir di Oz dan saya permanent resident di sini, Deo bisa menjadi warga negara Oz secara otomatis. Saya baca di web kedubes Indonesia di oz kalau sebelum umur 18 tahun Deo bisa punya dua kewarganegaraan. Saya tadinya mikir mau bikin paspor Indo aja buat Deo tapi membayangkan prosesnya yang panjang dan lama, saya jadi mikir2. Dulu saya bikin paspor di Indo tidak terlalu repot karena dibikinin oleh kantor saya lewat agen. Jadi saya cukup kasih dokumen ke agen dan pada hari H saya tinggal datang langsung foto. Agen sudah ngantri dari pagi, pas saya datang cuma nunggu sebentar langsung dipanggil foto. Trus sudah deh tinggal menunggu paspornya jadi dan diantar oleh agen ke kantor saya.

Namun buat yang bikin paspor sendiri ga lewat agen termasuknya rada ribet dan buang waktu. Ini pengalaman papa mertua saya yang pertama datang ambil formulir. Lalu balik lagi buat kumpulin formulir. Lalu balik lagi buat foto lalu balik lagi buat ambil paspornya. Lalu lalang deh pokoknya. Belum lagi pas mo foto juga antri.

Singkat cerita setelah baca2 kalo Oz citizen bisa dapet visa on arrival kalo ke indo, saya memutuskan buat bikin paspor oz aja buat Deo. Saya baca sendiri caranya di web paspor. Formulir bisa diprint dari web atau ambil di kantor pos. ada dua macam paspor yaitu paspor anak dan paspor dewasa. Buat Deo tentu aja paspor anak dunk.

Yang boleh mengisi form paspor anak adalah ortu atau wali si anak. Dokumen2 yang harus disiapkan buat paspor Deo adalah akte kelahiran, paspor dan visa permanent resident salah satu orang tuanya yaitu saya sendiri. O iya butuh foto dua buah yang salah satunya harus ditulis
"This is a true photo of Deo" dan ditanda tangani oleh penjamin. Penjamin harus orang lain yang ga ada hubungannya dengan si anak dan harus Oz citizen dan kenal sama Deo. Boleh teman, dokter keluarga or tetangga. Untung teman kerja saya yang baik (ci Yani) mau jadi penjaminnya. Dokumen dan formulirnya diserahkan ke kantor pos terdekat Setelah dokumen dan formulir sudah lengkap, saya telpon ke kantor pos untuk bikin janji.

Rabu kemarin saya dan Deo ke kantor pos terdekat yaitu di St. Albans post office. Bodohnya saya, saya pilih jam 15.30 padahal ramalan cuaca bilang kalo suhu hari itu bisa mencapai 33 derajat celcius. Saya jalan kaki ke bus stop 15 menit, perjalanan bis 5 menit. Dari bis berhenti jalan lagi 5 menit. Semua sambil gendong Deo yang beratnya 9,8 kg. kenapa ga naik kreta bayi? Karena Deo nangis heboh kalo ditaruh di kreta bayi. Padahal enak ya didorong2 di kreta bayi, saya aja mau kalo kretanya cukup.

Sampai di kantor pos aplikasinya ditolak karena nama di balik foto deo ga boleh disingkat. Kemarin ci Yani nulis disingkat karena nama deo kepanjangan. Ternyata ga boleh. Hiks. Terpaksa balik lagi hari jumat. Pulang2 rasanya mau pingsan. Super panas dan super berat.

Hari ini jumat saya bikin janjinya sepagi mungkin daripada panas. Dokumen dicek sudah beres semua, bayar AUD 119 lalu selesai deh. Paspor dikirim ke rumah dalam dua minggu. Gampang banget ya. Ga pake ribet. Cuma pake cape gendong dan cape jalan.

O iya ada cerita di balik foto paspor Deo. Syarat fotonya adalah Deo tidak boleh senyum dan mulutnya harus mingkem. Saya dan suami mencoba foto Deo sampai berpuluh2 kali ga sukses juga. Tetep aja mulutnya menganga. Disuruh mingkem ga ngerti dia. Ternyata saya baca lagi di web paspor, untuk anak usia 2 tahun ke bawah ga papa kalo ga mingkem asal kepalanya kefoto semua oooo bunder.










Friday, November 30, 2012

Gratis

sebelum pulang dari rumah sakit

kunjungan ke klinik
Sepupu saya bercerita waktu dia melahirkan di salah satu rumah sakit di kampung halaman saya, para perawatnya tidak ramah bahkan waktu sepupu saya menanyakan bagaimana caranya menyusui bayinya, tanggapan perawat itu sangat tidak mencerminkan profesinya sebagai "perawat". Lebih cocok dia jadi penjaga toko saja. Padahal sepupu saya itu bayar lho...dan tidak murah. Berbeda sekali dengan yang saya rasakan di sini walaupun saya tidak keluar uang sepeserpun alias gratis. gratis bukan berarti murahan.

Pertama kali saya mengetahui kalau saya hamil, saya diberi tahu oleh tante kost untuk periksa ke dokter umum di klinik dekat kost. Di sana dokternya mengetes lagi apakah saya benar2 positif hamil. Setelah itu dia memberikan surat referensi untuk kontrol ke rumah sakit. Namun saya baru mulai kontrol ke rumah sakit setelah 3 bulan kehamilan. Sebelum itu kalau ada apa2 saya cukup ke dokter umum. Dokter umum di sini hampir sama pengetahuannya dengan dokter spesialis kandungan, dia tahu banyak soal kehamilan dan bisa memberikan jawaban dari pertanyaan2 saya. Dia pula yang merujuk saya untuk melakukan ultrasound (USg) dan tes darah.

Setelah mendekati 3 bulan kehamilan saya mendapatkan surat dari rumah sakit kapan waktunya saya harus datang ke rumah sakit untuk kontrol sebulan sekali sampai kehamilan 36 minggu. Setelah itu kontrolnya dua minggu sekali kecuali kalau ada masalah dengan kehamilan saya. Waktu kontrol ke rumah sakit banyak sekali tes yang harus saya lakukan. Ada tes darah untuk virus rubella, dsbnya....tes untuk diabetes karena papi dan nenek saya diabetes, ultrasound di kehamilan 20 minggu. Puji Tuhan semua tes itu hasilnya bagus jadi saya tidak perlu kontrol di luar jadwal.

Selama kontrol di dokter umum, rumah sakit dan segala macam tes yang semuanya gratis itu, pelayanan yang saya dapatkan sangat baik. Dokternya ramah, bidan dan petugas administrasinya juga sangat membantu. Tadinya saya sempat kuatir kalau gratisan ntar saya disia2kan. 

Pada waktu saya opname di rumah sakit setelah melahirkan juga para perawatnya sangat membantu. Di sini sangat dianjurkan untuk menyusui ASI. Susu formula cuma diperbolehkan kalau asinya benar2 ga keluar atau bayinya sakit. Menurut mereka, tidak mungkin asi tidak keluar karena asi diproduksi sesuai dengan kebutuhan bayinya. Semakin kita sering menyusui, semakin banyak asinya. Tapi ya repotnya itu....setiap saat harus menyusui. Pertama2 saya disuruh menyusui tiap 3 jam maksimal...selama 30 menit di masing2 payudara. Jadi waktu seharian itu sebagian besar untuk menyusui sampai lecet2. Bayi saya juga tidur di kamar saya supaya mempermudah untuk menyusui dan biar ada ikatan batin katanya.

Selama di rumah sakit, ada beberapa tes untuk bayi saya yaitu tes pendengaran dan tes darah untuk menyelidiki apakah ada penyakit genetik.

Setelah pulang dari rumah sakit, dua hari kemudian ada bidan yang datang ke rumah untuk memeriksa bayi saya. Kata mami saya, di sana boro2 dokter mau datang ke rumah kalau ga dibayar. Dibayar pun belum tentu mau. Bidan menimbang bayi saya dan mengecek apakah ada masalah dengan jahitan saya serta memberikan konsultasi kalau ada yang mau saya tanyakan. Dia bilang dua hari lagi akan menelpon untuk memastikan bayi saya sehat2 saja.

Saya kira setelah bidan datang, selesai sudah perhatian yang saya terima namun ternyata ada lagi perawat yang lain datang ke rumah dan menjelaskan kalau Deo harus kontrol ke klinik sebanyak 10 kali sampai Deo berumur 4 tahun. Jadi pertama kontrol umur 2 minggu lalu 4 minggu, 8 minggu..dan semakin lama jaraknya semakin jauh sampai 10 kali kunjungan. Tujuannya untuk mengetahui apakah perkembangan Deo normal atau tidak.

Di klinik itu selain mengecek kondisi Deo, ada juga training2 yang berhubungan dengan mengurus bayi. Saya baru ikut sekali yaitu training untuk menidurkan bayi. Saya baru tahu kalau bayi umur 0-3 bulan ga boleh ga tidur lebih dari 1,5 jam karena dia akan terlalu lelah dan malah rewel karena susah tidur. Pantesan Deo sering rewel kalau malam karena saya kira bayi kalau kebanyakan tidur siang hari ntar malamnya ga bisa tidur jadi selama ini kalau siang sering saya ajak main supaya dia tidak tidur. Sekarang saya berusaha bikin Deo tidur tiap 1,5 jam...dan hasilnya malam hari Deo tidak rewel lagi. Palingan hanya bangun untuk minum susu trus tidur lagi. Sebelumnya saya harus menggendong Deo hampir 1 jam or lebih supaya dia tidur.

Imunisasi di sini juga gratis lho. Saya cukup bikin janji ke klinik terdekat dan Deo bisa diimunisasi secara gratis. Dengan service yang saya terima itu saya merasa tidak sia2 sudah membayar pajak. Pajak yang dipotong dari gaji saya langsung saya rasakan timbal baliknya. 

Wednesday, October 3, 2012

Welcome Baby Deo


Sebelum saya lupa, mendingan saya tulis cerita ini supaya bertahun2 kemudian si Deo bisa membaca tulisan saya ini kalau hari kelahiran dia benar2 penuh dengan kejadian tak terlupakan buat saya. Semoga Deo jadi anak yang baik, takut akan Tuhan dan bisa dapat istri yang baik dan cocok dengan saya. Secara banyak menantu cewek yang tidak cocok dengan ibu mertuanya. Amin.

Hari Jumat tanggal 21 September 2012 jam 21.58 adalah hari kelahiran anak pertama saya yang diberi nama Deogratias Heaverath Tan. Deogratias artinya Syukur kepada Allah. Nama ini dipilih oleh calon bapak ibu babtis Deo yaitu Reza dan Meili. Heavearth itu gabungan dari heaven and earth (maksa ni karangan bapaknya). Tan itu marga papanya petter. Tadinya ga mau pake marga2 tapi kata mami saya mendingan pake biar masih ingat sama leluhur.

Saya dan petter sudah menikah dari tahun 2009 tapi karena kehidupan kami di jakarta pas pas an bahkan sering defisit, kami memutuskan untuk menunda punya anak sampai kehidupan kami lebih baik. Akhirnya November tahun 2011 aplikasi Permanent Resident Australia kami disetujui. Saat itu kami memutuskan ini waktunya untuk punya anak. Apalagi mami saya selalu tanya kapan punya anak...nanti saya keburu tua, dll.

Singkat cerita akhirnya Januari 2012 saya hamil dan hari perkiraaan lahirnya adalah 14 September 2012. Artikel ini tentang proses kelahiran anak pertama saya Deogratias Heavearth Tan (Deo) pada tanggal 21 September 2012. Petter sudah menulis juga tentang kelahiran deo di sini dan sini. Namun saya harus menulis dari sudut pandang saya. Ceritanya dimulai sekarang:

Jumat, 21 September 2012

02:00 
Saya mulai merasakan mulas2. Saya ga yakin itu kontraksi atau bukan jadi saya coba untuk tidur lagi tapi tiap 15-20 menit mulas itu datang. Akhirnya saya telpon Midwife (bidan)  hotline. Midwife hotline adalah no telpon yang bisa saya telpon kalau saya merasa waktu melahirkan sudah tiba. Bidan yang menerima telpon saya menjelaskan bahwa saya mungkin sudah mulai proses melahirkan tapi karena baru awal2, saya disuruh tetap di rumah. Untuk mengurangi rasa sakit, dia menyarankan untuk minum panadol dan mengkompres perut dengan heat pack (kompres panas) atau berendam di bath tub. Saya berusaha untuk tidur lagi tapi tidak bisa karena mulasnya terus datang.

09:00
Saya ada janji di RS karena saya sudah 7 hari telat dari hari perkiraan lahir. Karena saya merasa mulasnya masih panjang jaraknya (tiap 15 menit), saya bilang ke Petter kalau saya bisa ke rumah sakit sendiri dan dia mendingan tetap berangkat kerja. Saya pergi ke RS yang jaraknya sekitar 20 menit jalan kaki. Kenapa ga naik angkot or taksi? Karena di sekitar rumah saya tidak ada angkot apalagi bajaj, ojek dan sebagainya.Mau telpon taksi pun belum tentu langsung datang jadi saya putuskan mendingan jalan kaki saja toh saya masih kuat. Eh waktu saya baru aja jalan 5 menit dari rumah tiba2 mulai mulas2 lagi dan saya berhenti2 di pinggir jalan. Tiba2 di depan saya ada mobil berhenti dan om2 keluar dari mobil itu  bertanya apakah saya baik2 saja. Saya bilang saya mau pergi ke RS. Dia menawarkan tumpangan dan saya pun dengan penuh rasa syukur masuk ke mobil dia. Kalau ini terjadi di Jakarta, saya pasti bakalan bilang, "ga usah....saya bisa sendiri". 

Untung ada si om ini kalo nggak saya tidak yakin bisa sampai ke RS dalam waktu dekat. Sampai di RS, detak jantung bayi saya diperiksa apakah masih normal. Selain itu saya di USg (ultrasound) untuk mengecek apakah air ketuban saya masih banyak. Selama pemeriksaan saya merasakan mulas2nya tambah parah dan jaraknya udah sekitar 10-15 menit sekali. Rasa mulasnya mirip mulas diare. Saya bilang kalau saya merasa mulas2. Saya pikir sudah bukaan 2 dan seterusnya...Ternyata waktu dicek..jreng 12345x baru bukaan 1 dan dokter yang memeriksa saya bilang mungkin 2 hari lagi saya baru lahiran. Saya disuruh pulang dan bersantai di rumah, banyak jalan2 supaya proses bukaannya lebih cepat. 

12:00

Selesai pemeriksaan di RS sayapun jalan kaki pulang ke rumah sambil berharap ada yang memberi tumpangan lagi tapi sayangnya tidak ada. Sampai di rumah mulas2 saya tambah parah dan saya pun mengikuti saran bidan untuk berendam di bath tub.

15:00
Mulas2 saya tambah parah..kali ini rasanya kaya mulas diare dicampur sakit mens dan seperti ada tekanan di bagian bawah perut saya. Terus terang baru kali ini saya merasakan mulas yang lebih parah dari waktu saya sakit maag. Bahkan lebih sakit daripada menahan boker di jalan tol Jakarta waktu macet. Kontraksinya sudah sekitar 6-10 menit sekali. Sekali kontraksi sekitar 30-45 detik. Saya mencoba telpon Midwife lagi tapi dia bilang tadi siang jam 12 saya baru bukaan 1 jadi ga mungkin saya sudah maju banyak. Kalaupun saya ke rumah sakit sekarang dan dicek ternyata bukaan saya baru bukaan awal2, saya juga akan disuruh pulang. Di sini kalau bukaan masih awal2 disuruh menunggu di rumah supaya lebih relax daripada menunggu di RS. Bidan menyuruh saya untuk menahan sakit selama mungkin...kalau sudah tidak tahan baru telpon lagi.

Sekitar sejam kemudian saya telpon bidan lagi karena sakitnya tambah parah. Sialnya si bidan tidak percaya kalau kontraksi saya sudah sakit banget karena suara saya masih terkendali. Dan dia menyuruh saya untuk tetap di rumah dulu selama mungkin. Harusnya lain kali saya pura2 teriak2 aja ya biar dia langsung heboh menyuruh saya datang ke RS.

16:30
Waktu Petter pulang ke rumah, dia heran menemukan saya di bath tub sambil mengaduh2. Saya menyuruh Petter untuk menelpon bidan lagi. Kali ini kontraksinya sudah 5 menit sekali. Bidan pun bilang ayo ke RS sekarang (dari tadi kek). Petter pun menelpon taksi yang tidak kunjung datang sampai pukul 17:30. Padahal dia bilang mo datang dalam 15 menit. Saya sudah marah2 dan teriak2 karena sakitnya tambah parah. Bahkan berendam di bath tub pun sudah tidak mempan. Sudah mau mati deh rasanya. 

17:30
Saya menyuruh Petter keluar rumah untuk menunggu taksinya siapa tahu taksinya nyasar. Waktu Petter lagi celingukan cari taksinya, tiba2 ada mobil berhenti di depan rumah. Kakek2 umur 60 an keluar dr mobil mau tanya alamat. Saya langsung keluar dr rumah mau nyuruh Petter minta tolong si kakek antar ke RS. Namun melihat saya kesakitan, si kakek langsung buka bagasi dan nyuruh kami masuk ke mobilnya. Benar2 Puji Tuhan, dalam sehari saya bisa dapat tebengan dua kali. Saya sampai tak habis pikir di negeri antah berantah yang katanya orangnya cuek2 ini, kami bisa mendapatkan pertolongan di saat yang tepat.

18:00

Kakek menurunkan kami di depan emergency RS. Saya sempat membuat kehebohan di ruang tunggu emergency karena mulas2 saya benar2 sudah parah deh. Rasanya saya sudah mo mati. Petter saya cubit2 dan saya marahin sambil menunggu bagian administrasi memanggil orang dari Maternity Ward (bangsal kelahiran). 5 menit kemudian datang seorang perawat dengan kursi roda untuk membawa saya ke Birthing Suite.

Sampai di birthing suite, seorang bidan sudah menunggu saya. Saya bilang sakitnya sudah tidak tertahankan dan saya minta obat penahan sakit segera!!!! Eh rupanya si bidan sudah biasa mendengar rengekan ibu2 hamil jd dia tenang2 aja padahal saya sudah sekarat. Dia bilang harus mengecek detak jantung bayi dan bukaan saya sudah sejauh mana. Ternyata saya sudah bukaan 5!!! Pantesan rasa sakitnya merajalela. Pinggang saya sudah mau patah dan kaya ad batu di dalam pantat saya. Pengen saya maki2 dokter yang siang tadi bilang saya lahiran baru dua hari lagi. Karena sudah bukaan 5, saya dipindahkan ke delivery room..kamar buat lahiran ditemani seorang bidan bernaman Ashlee.

Di sana saya minta obat penahan sakit dan saya diberi masker gas yang efeknya bisa bikin "melayang". Tetap saja saya merasa tidak ada efeknya. Kemudian saya diberi obat penahan sakit yang bentuknya suntikan di paha. Namun memang melahirkan sakit itu sudah kodrat wanita, keduanya tidak banyak membantu. Pilihan terakhir adalah epidural tapi saya berusaha menghindarinya. Menurut pengalaman teman saya yang pakai epidural, tulang belakangnya jadi sering nyeri karena epidural disuntikkan di tulang belakang. Selain itu epidural bikin pinggang ke bawah mati rasa jadi saya nanti kesulitan mengira2 waktu saatnya mengejan.

Tadinya saya ada rencana untuk water birth tapi tidak bisa karena saya disuntik obat penahan sakit yang efeknya bikin melayang itu, saya tidak memungkinkan untuk melahirkan di air.Tidak jadi pengalaman baru deh padahal kata Ria kalau saya lahiran di air pasti bayinya langsung bisa berenang.

20:00
Setelah 2 jam rasanya mau mati, Ashlee bilang sudah waktunya bayinya akan lahir. Dia sudah bersiap2 pakai celemek plastik dan sarung tangan dan menyiapkan tempat tidur bayi segala. Ashlee menyuruh saya mengejan setiap kali kontraksi datang. Saya sudah berusaha mengejan sekuat tenaga namun kepala bayinya tidak keluar2. Untungnya Ashlee dan Petter berusaha menyemangati saya.

Selama 2 jam saya kembali menderita karena mengejan tak henti2 dan bayinya tak juga keluar. Saya bilang sudah tidak sanggup lagi. Saya sudah mau menyerah untuk cesar aja or bayinya divakum. Padahal sebelumnya saya sudah bersikeras tidak mau divakum karena beberapa orang bilang dan ada yang pengalaman pribadi juga kalau divakum nanti bayinya jadi kurang pintar (alias telmi).

Ashlee benar2 bidan teladan. Dia sangat sabar dan dia berusaha mencari segala macam posisi yang bisa membantu mengejan. Walaupun sampai hampir jam 10 malam juga belum berhasil. O iya...seharusnya jam 9 malam shift Ashlee sudah berakhir karena sudah datang bidan pengganti namanya Jean, cowok dari Filipina. Jangan tanya kenapa saya tidak malu buka2an di depan bidan cowok karena boro2 mo ingat rasa malu...yang diingat supaya penderitaan ini cepat berakhir.

21:58
Setelah mencoba berbagai cara dan bayinya masih tidak keluar juga, Jean mengambil keputusan untuk menggunting "miss x" saya. Kenapa ga dari tadi aja ya..sama2 akhirnya digunting juga. Dan pada pukul 21:58 tibalah saat yang ditunggu2....lahirlah Deo dengan selamat walaupun hidungnya pesek dan kepalanya panjang kaya alien. Menurut mami saya kepala Deo masih lumayan daripada sepupu saya ada yang lahirnya divakum sampai kepalanya panjang seperti pepaya.

Welcome aboard baby Deo..semoga jadi anak yang berbakti ya karena maminya penuh perjuangan 20 jam melahirkan dia.


Saturday, September 22, 2012

Yang menarik dari Jakarta

Saya tidak bohong, Jakarta adalah kota yang sangat menarik. Memang benar, polusi dan macetnya bisa bikin kita keriput di jalan, sakit bengek, panuan, bintitan, herpes, seluruh badan bau asem keringetan dan paru-paru berkabut karena debu dan asap rokok. Tapi itu semua tentu saja tidak sebanding dengan hal-hal menarik yang ditawarkan ibukota metropolitan ini.

Jakarta adalah tempat terbaik untuk menonton film. Saya nggak lagi ngomongin XXI. XXI itu sangat membosankan. Semua filmnya sama dari ujung Tangerang-Bekasi sampe pertigaan Depok-Cikampek. Itu-itu saja. Bahkan satu film diputer di dua-tiga teater sekaligus di satu bioskop. Babar blas enggak kreatip. Gantinya juga lama, mungkin nungguin semua orang di Jakarta nonton dulu baru diganti. Akibatnya, film untuk awal tahun ini baru diputer sekarang (bagus juga sih buat orang yang suka ketinggalan film baru kayak saya). Jadi yang saya bicarakan adalah bioskop Mulia Agung di perempatan Senen. Bioskop ini sangat fantastis karena lain dari yang lain. Film-filmnya beda, sampai2 kita nggak yakin itu film beneran apa enggak karena judulnya sangat bombastis. Misalnya, "Hantu jeruk purut ketabrak becak" atau "Suster ngesot nyebrang terowongan kasablanka". Mereka juga menyediakan midnight show. Lebih asyik lagi dinikmati pas malem jumat kliwon sambil ngemil menyan (karena popcorn sudah terlalu pasaran).

Sebagai penumpang setia busway dan angkutan kota lainnya, saya sering banget berlama-lama di perempatan Senen cuman untuk ngantri angkutan ke Blok M. Semua pengantri di terminal ini (bukan cuman saya) sering terpesona oleh gambar2 yang dipajang di layar bioskop ini. Hari ini yang dipajang adalah film "Kutukan arwah santet: kisah nyata asu gancet yang heboh" (saya tidak mengada-ada, ini faktual banget. Kalo gak percaya coba telpon temen yang tinggal di daerah Senen dan minta bacain film apa yang lagi maen di Mulia Agung teater). Gambar yang dipajang adalah gambar wajah yang berdarah-darah, dengan hewan mirip kirik tapi matanya ijo, trus ada sepasang kaki yang satu buluan dan seorang cewek pake bikini lagi di kolam renang. Film lain yang katanya dibintangi oleh Ozi Syahputra adalah "Bangkitnya Suster Gepeng" dengan gambar suster berwajah seram yang kegencet pintu lift. Serius deh, kenapa nggak kegencet yang lain? Kegencet truk cargo ato buldoser itu lebih masup akal. Saya juga pernah kegencet lift karena salah pencet (biasa, orang desa gitu lho) dan badan saya masih aja bulet. Saya yakin secara mistik maupun statistik tidak pernah ada orang yang gepeng karena pintu lift. Kadang-kadang khayalan Raam Punjabi kedengeran lebih oke plus wagu daripada khayalan saya (sedih karena kalah jayus).

Selain bioskop, DVD bajakan di Jakarta juga oke punya. Gambarnya singkat, padat dan jelas. Subtitlenya tidak ngaco, terutama subtitle yang bahasa Arab dan Rusia (karena saya nggak ngerti kalopun ngaco). Film-film terbagus dan terbaru biasanya dari DVD, karena film yang bagus biasanya film lama yang mungkin nggak pernah mampir di bioskop dan film terbaru di bioskop biasanya ngantrinya lama.

Dulu (beberapa minggu yang lalu), saya dibilang kliatan bukan orang Jakarta karena saya turun dari bis pake kaki kanan. Apa pasal? Katanya bakal gampang jatoh kalo pake kaki kanan duluan sementara bis cuman memelan nggak bener2 berhenti grak. Sekarang, setelah sebulan lebih tinggal di Jakarta, kemampuan saya naik turun bis cuman beda dikit ama kernet angkot Kopaja. Saya bisa lompat turun ato naik di bus yang berhenti segan jalan tak mau. Jakarta melatih kemampuan saya untuk siap siaga dan cepat menyerang, terutama kalo rebutan tempat duduk di bis yang antriannya sepanjang karawang-bekasi. Dulu saya selalu berusaha jangan sampai nyenggol orang, kalo nginjek kaki orang selalu minta maap. Tapi Jakarta membuat semangat nyodok saya menyala-nyala. Sekarang saya pintar mendorong, menyikut dan menyerobot sampai saya dapet tempat duduk di depan. Ini sebenernya cuma untuk pembuktian diri, bahwa sebagai orang kampung saya nggak kalah kampungannya ama orang2 lain yang nggak peduli apakah orang di depannya bakal baik-baik aja (idup) ato nyungsep ke aspal dengan muka di bawah. Setelah saya dapet tempat duduk, biasanya saya kasihin juga bangku ini buat nenek2. Harapannya, dengan begini dosa saya diampuni karena sudah bikin orang di depan saya lebam biru-biru kesodok ransel.

Adik saya selalu bawa mobil di Jakarta, dan saya selalu mengeluh karena tarip parkir dan jalan tol bisa dua-tiga kali lipat lebih mahal daripada naik angkutan umum.
"Kalopun kita berdua naik angkot, biayanya masih lebih murah daripada biaya parkir per jam-itu pun belum termasuk bensin- plus kita nggak perlu muter2 karena lupa parkir di lantai mana," protes saya suatu kali.
Katanya itu hal yang wajar.
"Setidaknya kita kan naik mobil," jawab adek saya.
Saya nggak paham ama jawaban ini, tapi karena saya cuma nebeng ya sudahlah.
"Nggak semua orang bisa pergi seenak jidat karena nggak ada jam kantor," tambah adek saya lagi.
Oke, untuk yang satu ini saya tidak bisa membantah. Lagian alasan saya tidak bawa mobil yang paling utama adalah karena SIM A saya sudah kedaluwarsa sebelum sempat dipakai. Ibaratnya layu sebelum berkembang. Seperti kata pepatah, bagai bunga kembang tak jadi. Bagai pinang dibelah duren (betapa saya cinta pepatah!). Lagipula dengan keadaan lalu lintas Jakarta yang luar biasa memukau penonton, kalau saya nyetir saya bisa mengakibatkan lebih banyak korban jiwa daripada kalo kali Ciliwung kebanjiran. Saya bercita-cita suatu saat nanti kemampuan menyetir saya bisa setara dengan tukang bajaj. Bisa berkelok-kelok di gang paling sempit dan padat, bisa bermanuver lebih keren dari navy air show di jalan yang penuh orang. Kata temen saya, kapan si bajaj mau belok, cuman Tuhan dan supir bajaj yang tahu. Kalau dipikir-pikir, di Jakarta saya sudah naik alat transportasi apa saja. Dari kopaja, mayasari, damri, bajaj oranye, bajaj biru, angkot biru, angkot enggak biru, taksi (yang jelas maupun abal2), kereta api, kereta komuter, mobil temen, ojek, ojek sepeda, naik sepeda jengki sampai naik gerobak karena kebanjiran. Mungkin yang belum adalah naik truk angkut pasir, ambulans, kontainer pertamina, becak, delman sama nebeng mobil pick up patroli polisi (amit2 deh, ini mah banci kena garuk).

Jakarta sedikit mirip dengan buku favorit saya waktu kecil, Donal Bebek. Eh, buku yang lain ding, saya baca waktu udah gede, Alice in Wonderland. Dalam buku ini, Alice melihat banyak pintu yang masing-masing membawanya ke dunia yang berbeda. Di Jakarta, pintu-pintu nyata. Saya tinggal di salah satu kamar kost di salah satu gang sempit di Kuningan dan di depan kost2an ini ada banyak tukang jual makanan yang menaruh gerobaknya di atas selokan yang ditutup. Kanan-kirinya adalah rumah-rumah yang rapat dengan jemuran baju, WC dan kamar mandi yang berdempetan, berjejalan, bertumpukan. Tapi saat saya nyebrang jalan dan membuka pintu Plaza Indonesia, rasanya seperti berada di 'dunia lain' tanpa presenter Hari Pantja. Di sini berjajar toko-toko punya mas bro Fendi dan bang Yves serta restoran haute cuisine yang menunya pake bahasa perancis. Yang biasa saya lakukan adalah makan di dunia yang pertama (warteg deket gang) dan cari koneksi internet di dunia yang kedua (tempat apapun yang ada tulisan 'free wi-fi'). Biasanya saya beli minuman apapun yang paling murah dan duduk 1 jam ngenet, sambil melihat makhluk-makhluk tampan berseliweran- maklum, namanya juga dunia lain pasti ada penampakan-yang hitung2 lumayan daripada digangguin tukang ojek. Berhubung saya jarang pesen apapun lebih dari 1 gelas minuman, saya biasanya mengunjungi tempat yang berbeda-beda dan tidak satu jua supaya tidak mudah dikenali satpam (kayak maling pakaian dalam aja).

Topik lain yang ingin saya tulis adalah tentang Kristina yang baru saja melahirkan anak cowok yang mirip ande2 lumut hari ini. Selamat Kristina dan Piter, semoga kalian tetep eksis di dunia meskipun sibuk ngurus bayi. Saya berdoa semoga anak kalian cepet kuliah jadi kita bisa main bersama lagi!!!! *doa yang infantil tapi semoga dikabulkan. Amiiin. Amiiin. Amiiin*

Monday, August 27, 2012

Kampung Sendiri vs Kampung Seberang

Seperti kata pepatah, air beriak tanda tak dalam. Eh, maksud saya air cucuran atap jatuhnya ke perlimbahan jua. Apa air setitik rusak susu sebelanga yak? Pokoknya, ternyata beda tempat itu beda cara berpikirnya (nah lho, itu dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung apa berakit-rakit ke hulu ya? Peribahasa memang bukan perkara gampang!).

Beberapa hari yang lalu saya datang ke resepsi pernikahan adek perempuan saya (lihat gambar ;-p). Di ruangan yang penuh dengan orang-orang sekampung, sanak sodara dan keluarga, ternyata menjawab pertanyaan-pertanyaan biasa sama susahnya kayak njawab kuis siapa berani ato kuis "who wants to be Sir Richard Branson" (tua, jenggotan, ubanan, tapi tetap Virgin). Saya punya jawaban yang sama untuk penanya dari kampung sendiri maupun dari kampung sebrang. Tapi respon yang saya terima kadang lebih beda daripada kathok dan kothak (kathok bisa kothak2 tapi kothak nggak bisa kathok2). Heheheh. Sekarang apa beda Siti sama Soto? Jawabannya setelah saya beri contoh pertanyaan di bawah ini.

Contoh:
Tanya (T) : Ria sekarang tinggal dimana?
Jawab (J) : Pindah-pindah Tante, kemarin dari Papua, sekarang di Jakarta sebentar, minggu depan kembali ke Limpung trus ke Enggres.
Kampung sendiri (Ina) : Kok pindah-pindah terus sih? (Kelayapan terus kapan nikahnya?)
Kampung sebrang (Sbr): Wah hidupnya sangat menarik dan enggak monoton.

T : Ria lagi ngapain nih sekarang?
J : Ah nggak ngapa-ngapain cuman lagi nulis-nulis penelitian aja.
Ina : Oh pengacara ya? Pengangguran banyak acara? (Pasti dia malu karna kerjaannya itu-itu aja dan nggak nikah-nikah)
Sbr : Wah calon researcher yang rendah hati!

T : Ria pacarnya siapa nih sekarang? Kok gak dibawa?
J : Ha-ha. Aduh pertanyaannya menakutkan Om.
Ina: (Pasti dia malu karena nggak ada)
Sbr: (Wah dia orang yang bisa jaga privasi dan nggak suka mengumbar urusan pribadi)

T : Ria rencana ke depan habis ini ngapain?
J : Belum tahu juga Om, mungkin traveling sambil kerja di NGO.
Ina: Kok udah umur segini masih nggak jelas rencananya sih? Kapan nikah, kapan punya rumah, kapan punya anak?
Sbr : Wah dia sangat open-minded, easy-going dan berjiwa petualang.

T: Kamu baru dari Papua ya? Kok tambah gendut aja?
J : he-he (ketawa garing). Ya gimana di Papua kalo nggak banyak makan katanya bisa kena malaria....
Ina: (dari Papua jadi tambah item dan gemuk. Pantesan gak laku-laku)
Sbr: (Wah mantap sekali berani pergi ke tempat terpencil yang banyak malarianya)
 
T: Kamu ngapain di Papua?
J: Penelitian malaria Om.
Ina: Oh, gajinya berapa? Kenapa sampe Papua? (Kurang kerjaan banget sih, emang penghasilannya besar ya? Harusnya cari kerjaan yang bagus, biar bisa nabung, buat nyicil rumah, beli mobil, asuransi. Ngapain juga jauh-jauh di Papua, kaya di Jawa nggak ada lowongan aja)
Sbr: (Wow. Keren banget meneliti malaria, cuman beda 1 level ama Sir Ronald Ross.) --> hehe, ngarep. Padahal sebenernya cuman ketawa-ketiwi sambil nusukin orang dengan alesan riset.

T: Kamu selama ini kesibukannya apa aja?
J: Ya belajar sambil jalan-jalan, Om. Cari pengalaman mumpung masih muda...
Ina: Jangan kelamaan lho nanti keburu tua! (ini anak kok nggak ada tanggung jawabnya sih. Gak mikirin masa depan)
Sbr: (Orang ini cool dan bisa menikmati hidup sepenuhnya.)


T: Kamu kapan nyusul????
J: *Wataw!* Hehehe, tunggu aja Tante (ketawa lebih garing dari emping yang dijemur setaon).
Ina: (Kok nikah diduluin adeknya bikin malu aja, pasti kebanyakan pilih-pilih)
Sbr: (Wah cewek yang mandiri dan punya prinsip)

Nggak semua yang saya tulis itu bener seperti kenyataannya, karena banyak kata-kata yang diedit -- terutama bagian saya misuh-misuh pas habis diceramahin ato dimarahin padahal sudah menjawab dengan jujur, he-he.Sebernernya kalo harus bilang dengan jujur, saya adalah orang paling bahagia kedua karena adek saya menikah. Orang pertamanya adalah nyokap, dia hepi banget karena terbukti anaknya bukan hombreng.

Banyak yang tanya gimana rasanya dateng ke nikahan adek sendirian. Tadinya saya mikir bakal fun aja, pesta adalah pesta: saya akan makan banyak dan makan enak. Tapi setelah merasakan ditanyain ratusan tamu undangan, 'kapan nyusulnya' saya jadi berubah pikiran. Menurut saya sekarang, rasanya, persis kayak kata Kristina, seperti domba yang dicukur bulunya. Banyak orang juga bilang saya harusnya minta pelangkah dari adek saya, tapi saya bilang nggak usah karena biaya yang dia keluarkan udah banyak, ya namanya juga memulai hidup baru. Saya justru nawarin, kalau mau honeymoon yang murah meriah biar saya urus aja kan saya agak ahli dibidang itu ha-ha. Tapi sekarang saya jadi mikir bahwa ide bayar pelangkah itu masuk akal banget, bukan karena diduluin nikah tapi karena ganti rugi akibat ditanya-tanyain ratusan kali dalam sehari. Jadi, saya minta tiket PP ke kepulauan Karibia, kelas bisnis ya! :-D

Inti dari contoh-contoh di atas sih, bahwa melihat hal yang sama bisa ditafsirkan berbeda tergantung siapa dukunnya. Menurut primbon mbah jambrong, siapa diri kita tergantung pada kepribadian sendiri bukan dari pendapat orang lain. Sebab nilai-nilai orang itu berbeda-beda tapi tidak satu jua. Kalau kata peribahasa lagi, Lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya. Jangan membuang sampah sembarangan dan silahkan pipis pada tempatnya. Sekian.

PS. Beda antara Siti dan Soto adalah Soto mienya putih. Kalo Siti, bisa jualan Soto. Kalo salah tebak gapapa toh nggak ada hadiahnya.

Saturday, July 14, 2012

Panduan Singkat ke Raja Ampat

Jadi ceritanya, saya datang ke Papua sebagai seorang penghisap darah, alias penusuk jari ibu-ibu hamil untuk dites malaria. Untuk melakukan tes ini sebenernya sangat cepat, dijamin pemeriksaan sudah selesai sebelum pemirsa selesai mengucapkan ayat kursi dan pembukaan UUD 45. Tapi berhubung untuk melakukan ini saya butuh surat dari Dinas Kesehatan (SIM=Surat Ijin Menghisap darah) akhirnya saya berhasil dibikin nganggur sebulan sambil nepokin nyamuk lewat, terimakasih pada birokrasi kita yang njelimet, lelet dan nggak senikmat nasi liwet.

Berhubung ngupil sambil nonton youtube kalo terlalu lama bisa ambeiyen, saya pun memutuskan lebih baik 'sambil menunggu, menyelam' (ini temennya peribahasa 'sambil menyelam, minum aer'). Berhubung lagi menyelam di bak kamar mandi tidak memungkinkan (baknya pake ember), saya pun memutuskan untuk menyelam di Raja Ampat, deket Sorong, Papua Barat. Saya tanya kanan kiri atas bawah depan belakang di balik bantal dan di kolong lemari, kalo ada yang mau ikut saya ke Raja Ampat, barangkali bisa bantuin gotong ransel sama-sama. Tapi ternyata lebih gampang cari temen nimba ato ngepel daripada temen menyelam. Kata Mbah Jambrong, "menunggu sampai ada temen untuk pergi maka nggak akan pernah sampe tujuan," jadi berdasar primbon yang terpercaya ini, saya pun pergi ke Sorong tanpa dijemput dan pulang tanpa diantar.



Saya terbang dari Timika ke Sorong naik merpati yang anjut-anjutan kaya naik delman. Biasanya kita selalu disambut saat mendarat dengan...penumpang yang muntah. Oke, saya emang agak sadis dalam ngasih penilaian buat maskapai yang satu ini, tapi sumprit bin jin iprit kepecirit, saya nunggu 3 jam di bandara dan pas di pesawat cuman dikasih klepon ama aer putih. Ini kan ter...la...lu! Berkali-kali pesawat garuda yang jadwalnya belakangan sudah terbang duluan dan saya berkali-kali nanya kapan kita boarding, tapi mbaknya pramugari malah bilang,
"Merpatinya baru aja dateng mbak, belom dapet tempat parkir," Halah ini pesawat apa bis kopaja sih?
Bapak di sebelah saya yang mau terbang ke Manado (pesawat yang sama, rutenya Timika-Sorong-Manado) menghibur saya dengan bilang,
"Telat itu biasa mbak, sudah syukur berangkat, wong kadang penerbangan dibatalkan kok," Hah? Jangan sampe batal dong ya, saya sudah terlanjur njemur kasur, nyuci seprei dan mbalikin motor pinjeman sambil dengan bangga bilang,
"Saya bakal tinggal di Sorong seminggu ke depan," tengsin kalo sampe balik lagi...tidur dimana nanti saya?
Meskipun begitu saya tetep salut sama merpati karena terbang ke tempat2 yang nggak ada pesawat lain yang terbang, misalnya Alor, Bajawa, Ende, Buol, Luwuk, Mamuju, Toli-toli, Bau-bau dan tempat-tempat menarik tapi tidak dikenal yang lainnya.

Dari bandara, segera ke pelabuhan karena feri berangkat sekitar jam 1 ato jam 2 siang. Biasanya ada 2 kapal yang berangkat dari Sorong ke Waisai, ibukota Raja Ampat. 1) feri biasa (Fajar Indah, Rp. 100,000) dengan sleeper berth, lebih lama, 3 jam 30 mnt tapi lebih tenang dan nyaman krn bisa tiduran. 2) kapal cepat (Marina Rp. 120,000) AC dan lebih cepat sayangnya harus nunggu ampe penumpang penuh alias ngetem. Iya, saya juga bingung apa bedanya feri ama angkot yak?

Waisai adalah kampung nelayan yang gak terlalu istimewa, pantainya agak jorok dan dinamai WTC (Waisai tercinta, katanya). Karena hari sudah sore, saya langsung cari penginapan terdekat dan berakhir di Najwa Indah. Tarip per malem Rp. 200,000 dan buat saya cukup saja asal bisa tidur. Tapi bajigur makan bubur sudah berjamur, tetangga kamar saya adalah cowok2 yang bicara dengan suara keras seolah2 lagi ngumumin bahwa hutan lagi kebakaran, padahal mereka tyt cuman lagi nonton piala Euro. Saya nggak bisa tidur pulas sama sekali. Jadi berdasar pengalaman buruk ini saya nggak merekomendasikan Najwa Indah. Pertama, temboknya tidak kedap suara, bener2 dari ayam bertelor dan kambing berantem kedengeran kayak di sebelah kuping. Kedua, secara saya di raja ampat, dengan goblok saya nanya ama resepsionis,
"Mas, kalo mau ke laut gimana caranya?"
Masnya malah nanya balik, "Laut? Laut apa Mbak?"
Lhah, setau saya di wikipidia Raja Ampat (RA) itu tempat wisata laut dengan gugus-gugus kepulauan yang audubilah bagusnya. Masak saya dateng ke sini demi ngeliat pembangunan jalan di kabupaten pemekaran yang baru? Emangnya saya dari DPU? Resepsionis ini bikin saya yang udah kabur jauh2 ke Waisai jadi patah hati. Pastinya hotel Najwa Indah cuman penginapan buat sales ban serep dan minyak rem.




Malam kedua saya nginep di Waiwo dive resort, pilihan termurah dengan fasilitas lumayan drpd lumonyong. Resort di pinggir laut ini setidaknya bikin saya terasa seperti liburan: tidur dengan bunyi ombak, bangun dengan matahari di cakrawala dan jalan ke dek dengan ikan2 yang kelihatan jelas dari permukaan. Kamarnya cukup luas dengan kamar mandi, wastafel, jemuran dan beranda, tapi air showernya kecil. Hati-hati! Waspadalah! Karena kita berenang seharian jadi bakal masih banyak butiran pasir nyangkut di ketek ato pantat. Tiap malam rate Rp. 450,000 full board alias makan 3 kali sehari plus snek sore. Tiap diving 1-4 kali 550rb, 5-10 kali 450 rb dan lbh dari 10 kali 350rb udah termasuk biaya kapal. Oya, dari depan penginapan ini saya liat serombongan lumba-lumba yang lewat. Manis!

Pas berangkat saya sesemangat FPI membakar video porno bahwa saya mau menyelam, tapi walhasil kerjaan saya di RA adalah...mengganyang ikan bakar yang masih megap2 dari laut. Cuman diving 2 kali berhubung budget lebih tipis daripada pisau cukur merk Gillete. Saya makan ikan 3 kali sehari selama seminggu sampe2 saya takut sepulang dari RA nanti jari dan tangan saya bersirip. Euh. Ada pulau kecil tempat orang biasa mbakar ikan, namanya Sairo. Saran saya, kalo ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi. Kalo kita punya cukup uang lebih baik pergi ke pulau-pulau lagi. Saya nggak sempet ke Wayag karena kurang orang buat patungan kapal. JAdi, saya punya alasan buat ke RA lagi, huehehehe. Pulau terapung dekat Kri Eco resort punya pasir yang lebih putih dari kulit Shinta maupun Santi yang pake citra bengkoang, airnya warna ijo turkois dan sangat tembus pandang sampai kita bisa liat kaki kita sendiri terbenam di pasir di bawah laut. Sangat direkomendasikan! Diving di RA menurut saya bagus, tapi tidak istimewa. Ini karena pas saya ke sana (Akhir Juni, tanggal 20an) arusnya lebih deras dari arus mudik lebaran. Saya yang cuman penyelam amatiran tentu saja jadi nggak menikmati pemandangan karena sibuk hanyut. Singkatnya di sana banyak stingray, sweetlips, turtle, surgeon, angel dan clown fish. Tapi selebihnya coral biasa. Saya nggak sempet liat manta :-(

Uniknya dari pergi sendiri pake ransel adalah perlakuan orang2 terhadap saya. Dari yang tanya kenapa pergi sendiri sampe yang minta poto bareng seolah2 saya ini anggota grup band Trio Macan dari Jakarta ("Iwak peyek! Iwak peyek!" *kibas2 rambut*). Jadi jangan kaget kalo ada poto2 saya di album BBnya mas2 penarik motor boat *hadeh*. Satu peristiwa yang paling aneh adalah ketika kebanyakan tamu hotel sudah cek-out dan saya jadi satu2nya tamu yang menempati satu blok di penginapan itu. Jam 12.45 ada yang ketok pintu kamar. Saya bangun dengan males banget karena saya udah tidur pules, maklum berenang itu melelahkan buat orang yang kerjanya cuman ngupil sambil nonton youtube, iya kan? Di depan pintu kamar, ada Bapak tua yang kulitnya lebih item dari langit yang mau turun badai.
"Ibu tidur di sini sendiri? Kok pintunya tidak dikunci?"
"Pintu saya nggak pernah dikunci, saya nggak pernah dikasih kunci, tapi selama ini aman2 saja kok Pak. Kenapa?"
"Ibu, di sini tidak ada tamu lain. Semua bungalow ini kosong. Kalo kamar ibu nggak dikunci, biar saya jaga di luar. Saya tidak akan tidur, saya akan jaga di depan bungalow ibu, sampai pagi,"
"Oh tidak usah Bapak, saya tidak apa2. Saya mau tidur dulu," saya jawab sambil ngantuk.
"Biar saya jaga di sini,"
Terlalu capek buat berdebat, saya balik tidur lagi. Malem itu turun hujan, saya kebangun pagi2 dan saya yang tadinya nggak takut malah jadi curiga sendiri karena ada yang ketok2 pintu tengah malem. Bukan, saya nggak mikir setan. Saya lebih takut malaria daripada pocong. Tapi saya kan jadi kepikiran ini orang maunya apa.
Celingak-celinguk, buka korden, tidak ada tanda kehidupan di luar bungalow kamar saya. Tapi tunggu dulu, Bapak ini (bukannya rasis) lebih item dari pantat belanga yang dimasak pake kayu bakar. Saya intip pintu, yaelah, Bapak ini tidur melingkar di atas keset pintu...

Paginya si Bapak minta maap karena bikin saya takut. Emang maksud dia cuman jagain karena saya satu2nya cewek yang nginep di bungalow sendirian ketika resort lagi kosong!

Kapal ke Sorong berangkat dari pelabuhan tiap jam 2 siang. Petualangan di RA pun berakhir tapi Sorong juga bukan tempat yang jelek2 amat. Duduklah di "tembok" sepanjang jalan Ahmad Yani sore2 makan jagung bakar sambil melihat matahari terbenam. Papua indah bukan kepalang.

Jam

Sejujurnya, inilah Ria dan Kristina...

Ria dan Kristina, sama-sama punya ide-ide yang nggak masuk akal saking nggak bangetnya pikiran kami berdua. Obrolan kami ini, berkat kemajuan jaman dan menjamurnya aplikasi internet (hiduplah Indonesia Raya!), kami sekarang bisa tuangkan di blog. Dulu kami suka ngetik-ngetik pake mesin ketik manual di belakang kertas HVS A4 bekas fotokopian. Tapi tetep aja kami tidak berhenti menulis. Kata pepatah: setipis-tipisnya tinta masih lebih tajam dari ingatan manusia. Kata Pramoedya: menulis berarti memetakan sejarah. Halah, kalo tulisan kita mah sebenernya gak ada hubungannya ama sejarah. Cuma mengukirkan betapa masa muda kami ini sangat indah. Dan jelas nggak mutu isinya. Jadi, mending kalo sisa-sisa waktu dan pengen baca yang tidak terlalu berguna sajalah baru buka blog kami... Tapi apapun komentar, masukan dan pendapat teman-teman, semuanya adalah cendera mata yang indah buat kami...

Ria dan Kristina (hualah, koyok undangan penganten. Amit2 deh. Lesbong juga pilih-pilih ah...)

About Us

My photo
pindah2..tergantung mood, Indonesia
Sri Riyati Sugiarto (aka Ria) adalah cewek kelahiran limpung..(pinggiran kota Pekalongan)..habis sekolah di SMU St. Bernardus Pekalongan trus kuliah kedokteran di Undip Semarang..sementara Kristina Melani Budiman (aka Kristina) juga lahir di Pekalongan trus satu SMU ama Ria dan kuliah di Atma Jaya Jogjakarta. kami kenal di kelas 3 SMU tapi mo duduk bareng selalu ga bisa gara2 terlalu cerewet dan kalo duduk sebangku selalu bikin keributan karena hobinya menggosip jadi terpaksa sampai sekarang tidak pernah duduk bareng..untungnya kita ga satu kampus :p